Alika keluar kamar dengan wajah tertekuk. Tubuhnya telah terbalut dress berwarna ungu pastel yang dipilihkan oleh Lina. Make up sederhana namun cantik tidak bisa menyembunyikan bagaimana perasaan Alika. Gadis itu tidak bahagia.
"Alika sayang, senyum, dong. Masa mukanya cemberut gitu. Nanti cantiknya ilang, lho."
Lina hendak mengelus pipi Alika. Akan tetapi, Alika terlebih dahulu menyingkir.
"Ngapain juga cantik-cantik," gerutu Alika.
Lina yang mendengar itu hanya dapat menghela nafas. Alika pasti sangat kesal sekarang. Bagaimana tidak? Tempo hari dia marah besar mengetahui ayahnya dijodohkan, namun malam ini dia malah harus bertemu dengan wanita itu.
Lina yang dibantu Bhumi memaksa Alika agar mau bertemu Kalani, setidaknya sekali. Lina ingin Alika melihat betapa baiknya Kalani. Mungkin dengan begitu, Alika bisa luluh dan mau menerima Kalani.
Tebakan Lina salah! Tentu salah! Sejak berangkat, Alika telah membuat tameng baja. Dia tidak akan memberi simpati sedikit pun pada perempuan itu. Tidak selama dia masih berkemungkinan menggantikan posisi bunda.
Alika berjalan di belakang keluarganya dengan malas. Acara makan malam super tidak penting. Jika hanya untuk bertemu, tidak perlu makan malam di restoran mewah seperti ini, kan? Mana kakek, nenek, dan orang tua perempuan itu turut hadir, lagi.
"Linaaa."
Cici berdiri dari kursi dan memberi pelukan untuk Lina.
"Cantik banget, sih."
Cici tersipu mendengar pujian Lina.
Hutama dan Hendry kemudian bergabung dengan obrolan istri-istri mereka. Keempat orang itu saling berjabat tangan.
"Kalani," sapa Lina pada wanita di sebelah Cici.
"Malam, Tante, Om."
Kalani menyalami Lina dan Hutana sopan.
"Cih!"
Alika menatap Kalani tidak suka. Dia pasti sedang cari perhatian Lina dan Hutama. Pura-pura sopan tapi aslinya busuk.
"Tante Kala!"
Alika menoleh ke Faya di sebelahnya. Melihat reaksi Faya yang tampak senang bertemu dengan Kalani, Alika langsung melotot. Jika tidak ada ayahnya, mungkin Alika akan mencubit lengan Faya.
"Faya." Kalani tersenyum pada bocah itu. Kemudian, Kalani menoleh ke Alika. "Kita kemarin sempat ketemu, kan?"
Alika hanya terdiam. Tangan Kalani yang menggantung di udara tidak ia indahkan.
"Alika," bisik Bhumi pelan. Tangan Bhumi mengelus punggung putrinya pelan.
Akhirnya Alika dengan perasaan tidak ikhlas menjabat tangan Kalani. Kalani hanya tersenyum canggung menyadari itu.
"Eh, ini siapa?"
Lina beralih ke tiga orang lain yang duduk berderet di sebelah Kalani.
"Ini Langit, anakku yang paling tua. Itu istri sama anaknya."
Tiga orang yang disebut Cici langsung tersenyum dan menyalami Lina.
"Kebetulan mereka lagi di rumah, terus ikut sekalian. Eh, kalian duduk, yuk," pinta Cici kepada keluarga Hutama.
"Rumah sakit gimana, Pak?" tanya Hendry pada Hutama.
"Baik. Kemarin kita baru ada pengadaan alat-alat baru. Rencananya sih kita mau bangun bangunan baru buat satu bangsal sama lobi. Soalnya kan banyak pengunjung jadi lebih enak kalau lobinya kita besarin. Nanti Pak Hendry aja ya yang bikin desainnya."
Hendry tertawa.
"Waduh, saya udah jarang gambar. Nanti deh saya minta arsitek saya yang paling jago. Oh, atau nggak mending langsung ke Newdee aja. Biar nanti dipegang sama Kalani. Iya, kan?"
Kalani tersenyum.
"Boleh. Kalau emang jadi nanti om tinggal bilang sama saya aja."
"Makasih, lho, Kal. Ada untungnya ya kamu reuni sama teman-teman kamu."
Hutama mengelus tangan Lina. Sementara itu, yang lain tergelak mendengar ucapannya.
Alika mendengus. Dia benci sekali ketika melihat Kalani tersenyum atau tertawa. Pasti itu tidak tulus!
"Alika," panggil Langit. Alika yang tadinya menatap Kalani tidak suka lantas menoleh.
"Iya?"
Bola mata Alika melirik ke ayahnya kebingungan. Ada apa gerangan?
"Kamu kelas berapa sekarang?"
"Kelas delapan, Om."
"Sekolah di mana?"
"Di Padmaraja."
"Iya?" tanya Diana, istri Langit bertanta antusias. "Sama kayak Saka, dong."
Alika melihat ke arah anak laki-laki di sebelah Langit.
"Kamu kenala nggak, Ka?"
Saka menggeleng.
"Saka kan udah SMA, Ma, jadi nggak terlalu kenal yang di SMP. Lagian SMP sama SMA Padmaraja kan gedungnya beda."
"Yah, padahal kalau kalian kenal pasti asyik. Jadi kalian bisa temenan."
"Iya, bener, tuh. Kalian mulai sekarang saling temenan. Siapa tahu besok lusa jadi sepupu."
Alika menoleh ke Lina dengan tatapan tak suka. Bukan hanya Alika, tapi Bhumi juga. Pria itu berdehem tidak nyaman.
"Makanan tante kok beda?" celetuk Faya.
Faya menatap piring Kalani yang memang sedikit berbeda. Hanya dia yang tidak memiliki udang di atas piringnya.
"Beda gimana, sayang?" tanya Cici lembut.
"Punya tante Kala nggak ada kecoak lautnya."
"Kecoa laut?" Kalani tersenyum geli.
"Maksud Faya udang. Katanya udang mirip kecoa, jadi dia nyebutnya kecoa laut."
Kalani tertawa pelan.
"Ya ampun, ternyata udang. Tante nggak makan soalnya tante alergi udang."
Alika memutar bola matanya. Dia sangat yakin jika Kalani hanya mengads-ads. Pasti dia sengaja agar mendapst perhatian. Seolah-olah lemah karena alergi udang.
"Alergi itu apa, Yah?"
Faya menoleh ke Bhumi.
"Alergi itu, kalau kita nggak bisa makan sesuatu. Faya kalau makan kiwi lidahnya jadi gatel-gatel, kan? Itu termasuk alergi."
"Oh, tante Kala kalau makan kecoak laut lidahnya gatel juga?"
"Ayah, Alika mau ke kamar mandi, ya."
Alika tiba-tiba berdiri dari kursinya.
"Mau nenek antar?"
"Nggak usah, Nek. Nanti Alika tanya sama pelayan aja."
Bhumi hendak mencegah Alika dan mengatakan bahwa itu tidak sopan, namun Alik telanjur bangkit dari kursinya.
Sampai kamar mandi, Alika tidak masuk ke bilik. Itu hanya akal-akalan saja agar Alika bisa pergi dari sana. Alika kini mencuci tangannya di wastafel.
"Tante alergi udang," ucap Alika menirukan Kalani dengan nada mengejek. "Caper."
Tempo hari ketika melihat Kalani, first impression Alika sebenarnya baik. Kalani terlihat cantik dan modis. Dia juga tampak dekat dengan Faya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, Kalani terlihat memperhatikan semuanya. Iya, semuanya. Termasuk kuku tangannya.
Benar juga. Waktu itu Alika melihat Kalani memakai kuku palsu. Tadi juga Kalani memakai kuku palsu. Bhumi memang belum mengonfirmasi langsung, tapi fakta ini membuat Alika jadi yakin jika kuku palsu yang ada di mobil ayahnya adalah milik Kalani.
"Iiih!"
Alika mengambil beberapa lembar tisu dengan kasar. Apa yang telah dilakukan Kalani dan ayahnya? Kenapa mereka bisa berduaan? Atau jangan-jangan mereka sudah saling ada rasa?
Alika keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberut.
"Segitu nggak sukanya sama tante Kala?"
Alika menoleh dan sedikit terkejut mendapati Saka bersandar di dinding sebelum kamar mandi.
"Kenapa ya, Kak?" tanya Alika sopan.
"Cara lo ngeliat tante Kala, cara lo ngerespons apa yang dilakuin tante Kala, lo benci sama dia?"
Alika menelan ludah. Ia dengan gerakan ragu-ragu menggeleng pelan.
"Ng... Nggak, kok. Mungkin perasaan Kak Saka aja."
Saka tersenyum miring.
"Mungkin.Toh perasaan gue nggak pernah salah," ujar Saka dengan nada menyindir. "Gue cuma mau bilang aja kalau lo nggak suka sama tante Kala, lo rugi banget. She is the nicest person I've ever meet."
Alika memejamkan mata sejenak.
"Kalau ternyata buat gue nggak rugi gimana?"
"Anak kecil nggak usah lo gue."
"Terserah," ujar Alika mulai kesal.
"Gini ya, gue nggak suka aja cara lo bersikap di meja makan. Sekalipun lo nggak suka sama tante gue, lo jangan seenaknya. Lo kira sikap lo nggak kelihatan? Nggak bikin tante gue ngerass nggak nyaman?"
"Kalau dia nggak nyaman, berarti tante lo aja yang baper."
"Lo yang nggak sopan."
"Nggak ada manfaatnya gue sopan ke orang yang godain ayah gue."
Saka melipat tangannya di depan d**a.
"Ngegodain? Tante gue ngegodain ayah lo?"
"Iya ngegodain."
"Lo tahu kan mereka dijodohin? Mereka dikenalin terus diminta buat ngelakuin pendekatan..."
"Ayah gue nggak akan mau deket-deket kalau tante lo nggak ngegoda. Ayah gue cinta sama almarhum bunda dan nggak akan ada yang bisa gantiin dia."
Saka terkekeh pelan.
"Alika sayang, dengerin, ya. Jangan terlalu yakin gitu kalau ayah lo cuma cinta sama bunda lo. Laki-laki kan semua sama aja. Mungkin di masa depan tante gue sama ayah lo nggak berjodoh. Mungkin ayah lo nggak akan pernah nikah lagi. Tapi emangnya lo yakin dia nggak akan 'jajan' di luar?"
Alika mengerutkan dahi.
"Jajan?"
"Oh iya." Tubuh Saka yang tadi bersandar di dinding kini tegak. "Lo kan masih kecil, mungkin belum mens, jadi nggak akan ngerti yang kayak gini," ucap Saka sebelum pergi terlebih dulu untuk kembali ke meja.
Alika berdecih kesal. Tante dan keponakan sama saja!
***
Usai makan, para orang tua masih asyik mengobrol. Entah bisnis, kesehatan, atau kegiatan menanam, mereka seperti punya dunia sendiri dan selalu nyambung. Bhumi yang tadinya turut bergabung kini izin undur diri. Dia hendak menyusul Faya dan Alika.
Faya, Alika, Saka, dan Kalani tadi pergi ke arena bermain yang ada di bagian luar restoran. Meski mengenakan dress yang tidak nyaman untuk bermain, Kalani tetap mengiyakan ajakan Faya ke taman bermain.
Dari kejauhan, Bhumi melihat Kalani sedang membantu Faya menaiki perosotan. Saka di sebelahnya tersenyum dan ikut tertawa saat Faya turun.
Sebenarnya, Bhumi punya alasan kenapa mau diajak makan malam bersama keluarga Kalani. Bhumi ingin menolak perjodohan ini. Bhumi ingin menyampaikan langsung kepada Cici dan Hendry jika dia tidak bisa meneruskan niat mereka untuk membuat Kalani jadi istrinya. Bhumi adalah pria dewasa dan telah berkeluarga, jadi dia memiliki hak penuh untuk melakukan itu.
Akan tetapi, Bhumi mengendurkan niat saat melihat mata berbinar Faya yang menyapa Kalani. Dia juga bisa melihat bagaimana kakak Kalani sangat menyayangi adiknya. Rasanya tidak pantas jika Bhumi menyampaikan penolakan itu sekarang.
Bhumi berjalan mendekat ke mereka. Sejenak, Bhumi menyadari jika satu putrinya tidak ada di sana. Bhumi menoleh ke beberapa arah. Dia baru bernafas lega saat melihat Alika duduk di ayunan sendirian.
Bhumi berjalan menghampiri putrinya. Dia duduk di ayunan yang kosong, berhadapan dengan Alika. Alika yang tadinya menatap ke Kalani, Saka, dan Faya langsung beralih ke ayahnya.
"Kok nggak nemenin adiknya main?"
"Kan udah ditemenin sama mereka."
Bhumi menyatukan tangan dan sedikit menunduk.
"Kamu masih nggak nyaman, ya?"
"Masih? Ayah nggak berencana nurutin maunya nenek, kan? Yah, Alika nggak mau dan nggak butuh ibu baru. Ngapain, sih?"
"Bukan gitu maksud ayah. Tapi kalian kan baru ketemu dua kali. Kamu harus sopan, Kak. Jangan langsung judge gitu."
"Udah kelihatan, kok. Faya bisa deket gitu pasti karena tante Kalani caper."
"Alika."
"Keponakannya juga nyebelin."
Alika menatap Saka dengan tatapan kesal.
"Emang kalian pernah ngobrol? Katanya di sekolah belum pernah kenal."
"Tadi nggak sengaja ketemu habis aku dari toilet."
Bhumi turut melirik ke Saka.
"Saka bilang apa sampai kamu bilang dia nyebelin?"
"Dia bilang... Emm... Nggak jadi, deh.x
Alika tidak mungkin membahas Saka yang tidak terima jika Alika bersikap tidak sopan pada Kalani. Tentu saja ayannya akan setuju dengan Saka.
"Ayah pokoknya harus ngomong sama kakek sama nenek."
"Ngomong apa?"
"Ngomong kalau ayah nggak mau dijodohin. Kenapa nenek maksa banget, sih? Kalau ayah nggak mau ya harusnya jangan maksa lagi. Iya, kan?"
Bhumi hanya tersenyum miring. Alika tahun ini baru genap tiga belas tahun, tapi tidak pernah kesulitan menyampaikan pendapatnya pada Bhumi.
"Atau jangan-jangan ayah mau, ya?"
"Kamu ngomong apa, sih, Kak?"
"Ayah bohong, kan. Kuku palsu yang di mobil ayah punya tante Kalani, kan? Ayah belum jelasin kenapa kukunya ada di sana. Ayah jalan sama tante Kalani?"
"Waktu itu ayah diminta makan siang sama tante Kala. Kamu tahu nenek kalau udah maksa kayak gimana. Di sana, tante Kalani nggak sengaja ketumpahan minum gara-gara pelayan. Dia pamit ke kamar mandi, tapi pas balik dia udah nangis."
"Nangis kenapa?"
Bhumi mengedikkan bahu.
"Ayah juga nggak tahu karena tante Kalani nggak cerita. Karena kondisi nggak memungkinkan, jadi ayah nganterin dia pulang."
"Tuh kan!"
Alika menghentak salah satu kakinya ke ayunan.
"Tante Kalani pasti lagi caper sama ayah. Dia pasti mau kelihatan lemah biar ayah simpati sama dia."
"Nggak boleh ngomong gitu, Kak."
"Lagian kemarin nenek bilang ayah dijodohin biar ada yang jagain aku sama Faya. Perasaan tante Kalani nggak kelihatan bisa jaga anak. Dia umurnya juga kayaknya jauh sama ayah. Alika nggak mau punya ibu baru yang jaraknya deket sama Alika."
Bhumi dan Alika bertatapan sejenak.
"Ya tapi Alika nggak mau punya ibu baru yang jarak usianya jauh. Pokoknya Alika nggak mau punya ibu tiri! Selama ini kita baik-baik aja, kan, Yah? Kita nggak butuh orang lain lagi."
Bhumi mengangguk pelan. Ia meraih tangan Alika.
"Ayah juga nggak berniat nikah lagi. Selama ayah masih bisa ngurusin kalian berdua, kita nggak perlu ada orang lain lagi."
Bhumi membawa punggung tangan Alika dan mengecupnya pelan.
Alika tersenyum. Dia selalu bisa percaya pada sang ayah. Sekeras apapun usaha Kalani untuk caper pada Bhumi, pasti ujung-ujungnya gagal. Alika tahu jika Bhumi sangat mencintai Desita. Dan selamanya harus begitu. Alika tidak mau ada orang asing yang masuk ke keluarganya.