"Sekarang kamu jelasin semuanya ke abang." Aletha menghela nafasnya.
"Ok Letha bakalan cerita tapi abang jangan potong dulu sebelum Letha selesai ngomong." Nathan mengangguk mengiyakan.
"Sebenernya Letha udah jadi model disana dari Letha umur 10 tahun. Tapi disini Letha dikenal dengan nama Enzy, model idola abang itu." Aletha terlihat menyeringai ke arah Nathan.
"WHAT? KAMU ITU ENZY? KOK BISA? Pantesan aja banyak temen-temen abang yang bilang kalo abang itu mirip sama Enzy, ternyata itu kamu toh. Jahat sih Dek gak bilang ke Abang." Nathan menjitak Aletha.
"Ish jangan jitak Letha dong Bang. Dan tadi Letha bilang apa? Jangan potong omongan Letha sebelum Letha selesai ngomong kan?" Aletha mendengus kesal dengan abangnya itu.
"Yaudah diem. Mau dilanjutin lagi gak?" Nathan sontak saja mengangguk.
"Abang tau beberapa restoran, salon, boutique, sama cafe yang namanya 'Purple Star' kan?" Nathan kembali mengangguk.
"Itu punya Letha semua." Nathan melongo. Ia terkejut mengetahui bahwa adiknya cukup sukses.
"Dan yang terakhir jangan kaget ya, LA Group itu perusahaan milik Letha." Aletha menyeringai, Nathan melongo beberapa detik.
"WHAT?!" Teriaknya.
"Abang telat kagetnya." Aletha memutar bola matanya malas.
"Abang kaget dek, perusahaan itu kan perusahaan terbesar kesebelas di dunia dan perusahaan terbesar kedua di Indonesia, bahkan Storm Group perusahaan papi aja kalah sama perusahaan itu. Dan banyak perusahan lain yang berusaha jatohin perusaan itu tapi selalu gagal."
"Iyalah bang, gak bakalan ada orang yang bisa jatohin perusahaan itu soalnya Letha selalu main bersih sama cerdik hadapin perusahaan lain. Dan Letha juga punya orang-orang yang bisa diandelin buat pertahanin perusahaan Letha."
"Abang baru tau kalo kamu sekaya itu di umur kamu yang baru 18 tahun. Abang bangga dek." Nathan mencium kening Aletha.
"Makasih bang." Aletha tersenyum.
"Kamu ada masalah apa sama Lexa?" Tanya Nathan. Aletha mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela mobil.
"Abang tau Gary pacar Letha kan? Dia selingkuh sama Lexa." Aletha menghela nafasnya untuk kesekian kalinya hari ini.
"Kamu jangan sedih dek, harusnya kamu bersyukur berarti Gary itu bukan yang terbaik buat kamu. Laki-laki tuh bukan cuma Gary doang, banyak yang lebih baik dari dia. Kamu harus kuat ya." Nathan memeluk Aletha dan mengusap rambutnya.
"Tapi kenapa harus Lexa bang? Lexa itu kembaran Letha. Apa sih salah Letha sama dia bang? Kok dia selalu ngambil semua yang Letha punya? Apa Letha gak pantes buat bahagia? Letha udah kehilangan kasih sayang orang tua dari Letha kecil, sekarang saat ada orang yang sayang sama Letha orang itu juga diambil sama Lexa. Sebenernya apa sih maunya Lexa bang? Apa dia gak puas buat hidup Letha menderita gini? Letha juga punya batas kesabaran bang. Kalo gini terus lama-lama Letha gak bakalan kuat.
Letha selalu dibandingkan sama Lexa. Lexa selalu di cap baik sama orangtua kalian, dan Letha selalu di cap jelek. Letha dibilang anak gak tau di untung, anak gak tau diri, pembuat onar, troublemaker, bad girl,dan banyak sebutan jelek yang mereka kasih ke Letha, sakit bang hati Letha dibilang begitu sama mereka. Emang mereka pikir Letha begini tuh karna apa? Karna mereka juga, Letha cuma mau sedikit perhatian dari mereka. Kalo Letha dapet surat panggilan yang dateng pasti Mang Ujang atau Bi Sari. Mereka bahkan gak pernah ngambil raport Letha bang, coba kalo Lexa? Mereka ngambil rapot Lexa berdua. Sedangkan Letha? Raport Letha Bi Sari yang ngambil. Mereka jahat bang. Mereka gak pernah sayang sama Letha.
Mereka juga sering bilang, kenapa Letha gak bisa membanggakan kaya Lexa? Lexa punya banyak penghargaan, piala, medali sama piagam. Dan tanpa mereka tau, Letha punya banyak semua itu bahkan lebih banyak dari punya Lexa. Mereka gak mungkin tau soalnya yang ada di pikiran mereka tuh cuma Lexa, Lexa, dan Lexa. Letha kapan bang? Kapan?
Letha suka iri sama temen-temen Letha yang disayang banget sama orang tua mereka. Kapan mereka bisa sayang ke Letha bang? Letha capek bang, capek." Tangisan Aletha pecah di dekapan Nathan. Ia mengeratkan pelukannya pada Aletha.
"Keluarin semua air mata kamu dek, keluarin semua emosi kamu. Jangan kamu pendem terus, itu sama aja kamu nyiksa diri kamu sendiri. Abang selalu ada buat kamu dek, kalo kamu lagi butuh tempat buat bersandar kamu bisa hubungin abang kapanpun kamu mau." Nathan sedih melihat adiknya menangis seperti itu.
"Makasih bang, cuma abang yang tulus sama Letha. Cuma abang yang Letha punya, abang jangan pernah ninggalin Letha ya? Letha gak tau apa yang akan terjadi sama Letha kalo abang sampe ninggalin Letha." Aletha sangat takut jika Nathan juga ikut meninggalkannya.
"Sama-sama dek, yaudah kamu masuk gih. Kerja yang bener, jangan buat ancur studionya ya." Nathan terkikik melihat Aletha yang memgerucutkan bibirnya.
"Yaudah Letha masuk ya bang." Aletha mencium pipi Nathan.
"Hati-hati Dek." Nathan mengecup kening Aletha sayang.
"Ok bang." Aletha segera keluar dari mobil Nathan.
Aletha memasuki gedung dengan senyum yang selalu ia tunjukkan kepada siapa saja. Banyak pula yang menyapanya dan ia balas menyapa.
Aletha masuk lift dan memencet angka 21. Setelah sampai, Aletha langsung memasuki salah satu ruangan. Di ruangan itu sudah ada Varo, managernya sedang mengobrol dengan orang yang sedang membelakanginya lalu ia menghampiri Varo.
"Kak Varo, Enzy gak telat dong sekarang. Buktinya Enzy dateng setengah jam sebelum pemotretan." Bangga Aletha pada Varo tanpa memperdulikan seorang yang sedang berdiri disampingnya sambil memegang camera.
"Tumben Zy, biasanya kamu dateng 15 menit setelah jadwal pemotretan ditentuin." Sindir Varo.
"Ih kak Varo mah gitu jahat banget sama Enzy." Cibir Aletha.
"Letha?" Ucap orang yang sedari tadi memperhatikan perdebatan mereka.
"Lo kok bisa tau nama asli Enzy sih Vid?" Varo mengerutkan keningnya.
"Letha satu sekolah sama gue kak." Jawab David.
"Lo kok bisa disini Vid? Jangan bilang lo fotografer baru yang gantiin kak Lintang?" Aletha menunjuk wajah David dengan jarinya dengan wajah pongonya.
"Gue emang fotografer pengganti kak Lintang, Letha sayang." David menyeringai.
"Haduh nambah lagi cobaan gue hari ini." Aletha menghela nafasnya.
"Udah udah, Letha kamu make up dulu sana jangan pacaran terus sama David." Ucap Varo sambil tersenyum jahil.
"Letha gak pacaran sama David kak, apa jangan-jangan kak Varo cemburu ya?" Aletha mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan ngaco deh Leth, gak mungkin kakak suka sama adek kecil kakak yang manja ini." Varo mencubit kedua pipi Aletha hingga dia meringis kesakitan.
"Ish sakit kak."
"Ahaha maaf Leth, yaudah kamu ganti baju sama make up dulu sana."
"Siap captain." Aletha segera berjalan menuju ruang make up.
"Astaga anak itu, udah dewasa tapi masih manja." Varo menggelengkan kepalanya.
"Kakak udah lama kenal Letha kak?" Tanya David penasaran.
"Kakak udah jadi manager Letha dari dia pertama jadi model pas umur dia 10 tahun. Jadi ya cukup lama. Dan kakak udah nganggep Letha udah kaya adek sendiri." Jelas Varo. David hanya menganggukkan kepalanya.
Setengah jam kemudian, Aletha sudah selesai ganti baju dan make up. David terpesona melihat Aletha yang sangat anggun dan imut sehingga ia terlihat feminin, dan tentu saja semakin cantik. Saat di sekolah saja Aletha tidak memakai make up sudah terlihat cantik apalagi sekarang, ia menjadi sangat cantik.
"Bisa mulai sekarang?" Tanya Aletha.
"B-bisa bisa." Jawab David yang mendadak tergagap.
Pemotretan dilakukan selama dua jam. Dan karena keadaan hati Aletha sedang tidak baik, ia banyak tidak konsen saat melakukan pemotretan. David dan Varo menyadarinya.
"Leth kamu kenapa? Lagi ada masalah? Gak biasanya kamu banyak miss gitu." Tanya Varo khawatir.
"Letha gapapa kak, Cuma lagi gak enak badan aja," dusta Aletha.
"Jangan bohong Leth, kakak udah lama kenal sama kamu."
"Letha gapapa kak, beneran kok. Letha udah selesai kan? Yaudah Letha pergi ya kak, bye kak, bye Vid." Aletha langsung pergi agar Varo tidak bertanya macam-macam pada Aletha.
Aletha keluar dari gedung lalu menyetop taksi. Ia pergi ke ke sebuah danau ya tidak terlalu ramai yang ada di kotanya. Ia butuh menenangkan diri.
Aletha berjalan dan duduk di bawah pohon tempat biasa ia menenangkan pikirannya. Ia memejamkan matanya sejenak dan menghela nafasnya.
"Gue tau lo pasti kenapa-kenapa Leth." Tiba-tiba David sudah duduk di sebelah Aletha. Ternyata dia sedari tadi mengikuti Aletha.
"Lo ngikutin gue?" tanya Aletha tanpa menoleh dan matanya masih terpejam.
"Bisa dibilang begitu." Aletha menghela nafasnya.
"Lo sebenernya kenapa Leth? Gak biasanya lo diem kaya gini."
"Udah gue bilang gue gapapa Vid."
"Gue tau lo bohong Leth."
Aletha menghela nafasnya lagi. Ia merasakan beban yang sangat berat di kepalanya. Hingga tanpa sadar ia menyenderkan kepalanya di bahu David. David terkejut dan menoleh ke arah Aletha.
'Lo sebenarnya kenapa Leth? Mata lo yang sembab tadi sebelum di make up itu gak bisa bohongin gue. Gue mohon Leth, jangan nangis, jangan sedih, gue gak bisa liat lo sedih.' Batin David. Ia mencium puncak kepala Aletha.