Satu
Seorang siswi berambut ungu-pink sedang berjalan santai di koridor sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi, sedangkan sekolah masuk pukul 7 pagi. Ia sudah terbiasa dan tiada hari tanpa terlambat sepertinya.
Siswi itu bernama Aletha McKenzie Storm, tapi di sekolah itu dikenal dengan nama Aletha Aurelia. Ia juga dikenal sebagai anak beasiswa. Ada alasan tersendiri mengapa ia tidak mau memakai nama keluarganya yang bisa dibilang cukup terpandang.
Dia anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia memiliki saudara kembar bernama Alexa McKenzie Storm. Bisa dibilang ia tidak begitu menyukai saudaranya karena iri. Ya, dia sangat iri pada saudara kembarnya yang selalu mendapat kasih sayang dan selalu di bangga-banggakan oleh kedua orang tuanya. Tapi entah mengapa ia tidak bisa membenci saudara kembarnya itu, mungkin karena Aletha terlalu baik.
Aletha juga mempunyai kakak laki-laki bernama Nathan McKenzie Storm. Ia sangat menyayangi Aletha karena Nathan tau Aletha tidak pernah mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tua mereka. Umur Nathan 23 tahun, sedangkan Aletha dan Alexa 18 tahun.
Aletha dan Alexa bersekolah di sekolah yang sama. Tapi tidak ada satupun murid disana yang tau bahwa mereka adalah saudara kembar. Untung saja wajah Aletha dan Alexa sama sekali tidak mirip walaupun mereka adalah saudara kembar. Dan warna kulit Alexa lebih putih dari Aletha.
Walaupun keduanya adalah anak yang pandai dan beberapa kali mengharumkan nama sekolah, tapi sifat mereka benar-benar berbeda. Alexa bisa dibilang cukup feminine dan tidak banyak berulah, sedangkan Aletha kebalikannya. Aletha adalah langganan guru BP dengan segala tingkah lakunya.
Saat ini Aletha sedang berjalan menuju kelasnya. Ia langsung memasuki kelasnya tanpa mengetuk pintunya dulu, ia sudah biasa melakukan hal itu. Seisi kelas menoleh kearahnya.
"Aletha lagi Aletha lagi." Bu Dita, guru sejarah menggelengkan kepalanya. Aletha hanya mengeluarkan cengiran tiga jarinya.
"Kali ini apa alasan kamu Aletha Aurelia?" Bu Dita melipat tangannya di depan dadanya sambil menatap Aletha malas. Ini sudah hal yang sangat biasa baginya.
"Emm anu Bu, kemaren saya kan laper terus saya bingung mau makan apa jadi ban motor saya, saya buat sate. Jadi saya telat ke sekolah gara-gara jalan kaki, kan ban motornya udah saya makan. Dan btw Ibu mau nyumbang ban motor buat saya gak?" Jawab Aletha polos, kelewat polos malah.
Krik krik krik
Keadaan kelas seketika hening ....
"HAHAHA." Tawa anak-anak kelas XII MIA 1 pecah karena ucapan yang kelewat polos Aletha. Aletha selalu memberikan jawaban yang sangat wajar, menurut Aletha sendiri pastinya, dan itu selalu membuat guru menggelengkan kepala mereka.
"Aletha ...." Bu Dita memijit pelipisnya dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan murid pintar tapi cukup menjengkelkan itu.
"Apa Bu?" Aletha masih memasang wajah sok polosnya.
"Pusing Ibu hadapin kamu. Kamu itu maunya apa sih? Dan itu juga kenapa rambut kamu? Ibu kan udah suruh kamu ganti warna kemarin." Bu Dita bertolak pinggang dan sepertinya juga cukup sakit kepala menghadapi muridnya itu.
"Gini ya Bu Dita yang cantik tapi of course masih cantikan saya, saya saranin deh mending Ibu harus sabra aja, daripada Ibu nanti struk mendadak gimana? Kan gaswat, dan untuk rambut saya, kemaren kan waktu rambut saya warna hijau, Ibu nyuruh saya buat ganti warna rambut yaudah saya ganti warna rambutnya. Terus salah saya dimana coba? Terus rambut saya ini keren loh Bu, BENER KAN GENGS?" Aletha menjawab dengan tenang plus dengan wajah innocent andalannya dan diakhiri dengan teriakan untuk semua teman sekelasnya.
"BENER BANGET LETH!" Koor semua murid di kelas itu.
"Tuh denger kan Bu? Rambut saya keren." Ucap Aletha bangga sambil mengibaskan rambutnya ala-ala iklan shampoo.
"Aletha sekarang kamu lari keliling lapangan 10 putaran!"
"Sekarang Bu? Males ah, gimana kalo lapangannya aja yang disuruh muterin saya?" Aletha mengeluarkan puppy eyes miliknya.
"Nanti kalo Nicky Minaj nyanyi lagu religi. Dan gak ada nego ya Letha, kasian nanti lapangannya capek kalo disuruh lari." Semua murid di kelas itu tertawa mendengar ucapan Bu Dita.
"Oh yaudah saya duduk aja kalo gitu." Aletha berjalan menuju tempat duduknya lalu duduk dengan anggun.
"Sekarang Aletha!" teriak Bu Dita yang sudah geram dengan tingkah laku murid ajaibnya itu.
"Sekarang? Tadi Ibu bilang nanti kalo Nicky Minaj nyanyi lagu religi."
"ALETHA AURELIA!"
"SIAP BUUU!" Aletha segera bangkit dari tempat duduknya menuju lapangan untuk menjalankan hukumannya.
"Astaga tensi darah auto naik dah ini." Bu Dita menggelengkan kepalanya melihat tingkah murid ajaib itu lalu ia segera melanjutkan materi yang sempat tertunda karena ulah Aletha.
Sedangkan Aletha sedang menjalankan hukumannya, yah walaupun dengan setengah hati. Ia baru menyelesaikan 2 putaran tapi ia sudah malas mengerjakan hukumannya lagi. Biasanya juga ia selalu kabur saat diberi hukuman.
"Ah capek gue, dan sejak kapan seorang Aletha Aurelia mau jalanin hukuman? Mending gue ke lapangan basket godain Pak Steve." Seketika semangatnya terkumpul lagi. Aletha segera melangkahkan kakinya menuju lapangan basket.
Pak Steve adalah pelatih basket di sekolah itu. Ia masih cukup muda dan umurnya saja masih 23 tahun, yang pastinya tampan. Oleh karena itu ia menjadi sasaran empuk Aletha untuk ia goda. Ayolah, wanita mana sih yang tidak suka dengan orang tampan?
Terlihat lapangan basket di depan mata Aletha. Dan yang pasti disana ada Pak Steve yang sedang melatih basket untuk pertandingan melawan sekolah lain. Aletha segera berjalan menuju lapangan basket dengan semangat membara.
"Pagi Pak Steve yang ganteng." Aletha mengedipkan sebelah matanya. Anak-anak basket yang sedang latihan hanya menggelengkan kepala mereka dan sudah memaklumi apa yang dilakukan oleh Aletha karena itu sudah biasa Aletha lakukan.
"Pagi Leth, dihukum lagi hem?" Pak Steve tersenyum dan membalas sapaan Aletha.
"Hehe kaya gak tau Letha aja Pak." Aletha mengeluarkan cengiran andalannya.
"Ada-ada aja kamu itu." Pak Steve menggelengkan kepalanya maklum. Ini sudah biasa terjadi dan pastinya sangat sering.
"Aduh Pak keringetan banget sih sini Letha elapin keringetnya. Yah walaupun kalo Bapak keringetan tuh kadar kecoganannya auto nambah hehe." Aletha mengeluarkan sapu tangan yang selalu ia bawa di saku almamaternya lalu mengusap wajah Pak Steve yang berkeringat.
"Leth gue mau juga dong dielapin keringetnya." Celetuk Adam, kapten tim basket.
"Kita juga mau Leth." Tambah semua anak-anak basket.
"Gue lap pake kain pel terus nanti gue campurin oli mau?" Ucap Aletha dengan wajah imutnya. Semua anak basket mendengus mendengar ucapan Aletha. Sedangkan Pak Steve hanya terkikik geli melihatnya.
"Leth tanding yuk?" Ajak Adam. Aletha tampak berfikir sebentar.
"Boleh deh lagian gue males juga balik ke kelas. Tapi gue ambil baju basket gue dulu ya di loker." Adam dan teman-temannya mengangguk.
Untung saja Pak Steve cukup baik dan bisa mentolerir Aletha yang kabur dari jam pelajaran. Jika ditanya, ia biasa menggunakan alasan jika Aletha juga membantu melatih muridnya karena Aletha cukup mahir permainan basketnya.
Aletha segera mengambil baju basket nya di loker khusus anak basket. Ya, Aletha adalah kapten tim basket putri di sekolah mereka jadi ia lumayan dekat dengan anak-anak basket.
Beberapa menit kemudian ia sudah siap dengan pakaian basket benomor punggung 8 dan bertuliskan nama 'Letha' lengkap dengan sepatu basket putih miliknya.
"Ready?" tanya Pak Steve sambil memegang bola.
"Readt!" jawab Aletha dan Adam serempak. Pak Steve segera melempar bolanya ke udara lalu segera ditangkap oleh Adam karena tubuhnya yang lebih tinggi dari Aletha. Tapi tidak bertahan lama karena Aletha segera merebutnya.
Pertandingan berlangsung sangat seru. Bahkan para murid yang tidak sengaja lewat ikut menonton pertandingan itu. Permainan mereka beda tipis tapi dimenangkan oleh tim Aletha dengan skor 12-10.
Aletha dan semua anak basket duduk di lapangan karena kelelahan. Pak Steve memberi mereka semua minum dan langsung diterima dengan senang hati oleh mereka semua.
"Kalian keren."
"Tentu dong pak, kita kan selalu keren."
"SETUJU SAMA ALETHA!"
KRIING KRIING
Bel istirahat sudah berbunyi. Aletha meringis mendengarnya karena ia melewatkan pelajaran lagi seperti biasanya.
"Kayaknya gue ngelewatin pelajaran Bu Dita lagi. Tapi gapapa deh gue udah pinter jadi ga perlu belajar lagi." Semua anak basket tertawa mendengar ucapan Aletha yang kelewat sombong, bahkan Pak Steve juga tertawa.
"Guys gue ganti baju dulu ya, gerah nih."
"Ok Leth, besok telat lagi aja ya biar kita tanding lagi hahaha."
"Yee kurang hasyem lu Dam, tapi leh ugha sarannya haha." Semua yang berkumpul disana tertawa.
"Guys, Pak Steve, Letha ganti baju ya mau ke kantin sama Lady Queen. Jangan kangen ya, bhay!" pamit Aletha.
"Ya sudah sana." Ucap Pak Steve dan beberapa anak basket.
Aletha segera mengganti baju basketnya menjadi seragam sekolahnya lalu segera ia berjalan menuju kantin. Ia mengedarkan pandangannya ke kantin dan menemukan ketiga temannya disana.
Aletha menghampiri meja itu lalu langsung duduk di tempat yang biasa ia tempati. Di meja itu sudah ada Audy, Serena, dan Oliv. Mereka biasa dikenal dengan nama 'Lady Queen'. Mereka adalah teman Aletha sejak SMP, jadi hanya mereka yang mengetahui jati diri Aletha.
Lady Queen diketuai oleh Aletha tentunya. Mereka semua adalah para troublemaker di sekolah itu, tapi sekolah berat jika harus mengeluarkan mereka karena mereka semua bisa dibilang memiliki kecerdasan diatas rata-rata dan sering mengikuti lomba serta olimpiade antar sekolah bahkan antar provinsi.
Lady Queen juga sering membully para murid yang mencari masalah pada mereka. Mereka tidak akan membully jika orang itu tidak mencari gara-gara terlebih dahulu.
Tapi sebenarnya Lady Queen adalah murid yang baik dan setia kawan. Tapi entah mengapa banyak yang takut pada mereka. Mungkin karena mereka pernah membully para murid yang ditakuti oleh hampir seluruh sekolah itu, kecuali Lady Queen tentunya.
"Darimana aja lo Tha? Kok keringetan gitu? Lo mah ngeselin nih bolos ga ngajak kita," dengus Audy sambal memasukkan sepotong bakso ke mulutnya.
"Tau tuh lo gak tau apa kalo gue hampir mati mengenaskan di pelajaran Bu Dita? Tulung ya otak gue tuh menjerit kalo harus inget-inget masa lalu," ucap Oliv dengan nada yang sangat mendramatisir dengan pelajaran sejarah yang diajarkan Bu Dita.
"Yee lebay lo dih." Aletha menoyor kepala Oliv.
"Huwaaaa Aletha noyor kepala gue yang cantik nan imut bin kiyut ini huwaaaa nanti kalo kecantikan gue berkurang gim-..." Sebelum Oliv menyelesaikan ucapannya, Serena buru-buru membekap mulut cemprengnya itu.
"Berisik." Dengus Serena.
"Bagus Ser, coba kalo lo ga bekep mulut itu anak pasti nyerocos terus." Audy memutar bola matanya malas, jengah dengan kelakuan Oliv yang sangat tidak bisa diam barang sedetikpun.
"Dan gue udah males dengernya." Tambah Aletha. Sedangkan Oliv hanya mengerucutkan bibirnya. Tapi setelah itu mereka semua tertawa.
Mereka semua memesan bakso dan minumnya jus jeruk lalu memakannya sambil mengobrol dan bercanda. Sedang enaknya mereka makan, tiba-tiba kantin menjadi riuh karena kedatangan 'Lord King'.
Lord King adalah geng yang terdiri dari David, Nando, Dimas, dan Glen yang diketuai oleh David. Mereka adalah empat pria dengan tampang diatas rata-rata. Lord King sebenarnya tidak ada masalah dengan Lady Queen, tapi entah kenapa Lady Queen tidak terlalu suka dengan Lord King.
Lord King juga troublemaker sama seperti Lady Queen, tapi mereka bisa dikatakan lebih waras jika membully murid. Lord King menghampiri meja yang diduduki Lady Queen lalu langsung duduk tanpa meminta izin pada Lady Queen.
"Hi girls." Ucap Lord King serempak sambil mengedipkan sebelah mata mereka. Lady Queen memutar bola mata mereka malas.
"Ngapain kalian disini? Pindah sana, ganggu pemandangan aja." Aletha memutar bola matanya malas.
"Kalian ganggu tau." Dengus Serena.
"Tau ih jangan disini coba," usir Audy.
"Hi juga ganteng." Oliv juga ikut mengedipkan sebelah matanya pada Lord King. Lord King hanya terkikik.
"Oliv!" Altha, Serena, dan Audy memutar bola mata mereka.
"Lady Queen jangan jutek-jutek dong, tapi gapapa deh kalian jadi tambah cantik." David mengedipkan sebelah matanya.
"Ish pergi sono lo semua ganggu aja hus. Dan tanpa lo bilang kita cantik, kita semua tuh emang udah cantik. Dan kita semua gak ada yang mempan sama gombalan lo semua. Kecuali Oliv sih dia kan otaknya Cuma seprapat, itupun kayaknya masih kurang sih." usir Aletha.
"Leth jangan gitu nanti lo kecantol sama David lagi." Goda Dimas.
"Gak mungkin lah." Aletha ingin sekali melempar Dimas dengan mangkok yang saat ini ia pegang, tapi niat itu diurungkannya.
"Gak ada yang gak mungkin Leth." ucap Nando dengan seringaiannya.
"Leth, entah kenapa gue kali ini setuju sama ucapan dia-dia pada," ucap Audy uang diangguki oleh Serena dan Oliv.
"Gak akan." Aletha tetap pada pendiriannya.
"Jangan terlalu percaya diri Aletha baby." David mengeluarkan seringaiannya.
"Lo yang jangan terlalu percaya diri David sayang, gue gak akan pernah suka sama lo." Aletha segera berdiri dan meninggalkan mereka semua.
Lady Queen dan Lord King saling pandang lalu tersenyum misterius.