Pukul 5 sore Aletha baru saja sampai di rumahnya. Ia terlambat pulang karena mengurus perusahaannya terlebih dahulu. Dan lagipula Aletha juga tidak betah berada di rumahnya, jadi sebisa mungkin ia selalu pulang terlambat.
Di umur Aletha yang bisa terbilang muda ia sudah memiliki perusahaan yang ia bangun dengan uangnya sendiri. Ia mendapatkan semua uang itu dari hasil pemotretan, iklan, dan beberapa endorse lainnya. Ya, Aletha adalah seorang model yang bisa dibilang sangat terkenal. Dan tentu saja bayarannya cukup tinggi.
Seluruh keluarga Aletha tidak tau jika Aletha adalah seorang model yang bisa dibilang sedang naik daun dan juga memiliki perusahaan yang cukup maju untuk perusahaan pemula seperti miliknya. Seluruh anggota keluarganya tidak tau karena Aletha dikenal dengan nama Enzy sebagai model, dan Letha Aurelia sebagai pemilik LA Group. Cukup banyak juga namanya.
Aletha sudah menjadi model dan membintangi beberapa iklan sejak umurnya 10 tahun dan sudah membangun perusahaan di bidang pariwisata sejak umurnya 16 tahun. Cabang perusahaannya juga sudah tersebar di beberapa kota yang ada di Indonesia dan beberapa juga ada yang di luar negeri. Dan tentu saja ia dibantu dengan beberapa orang yang dipercayanya.
'Welcome to my hell.’ Aletha menghela nafasnya. Jika bisa, ia tidak ingin menginjakkan kakinya lagi disini.
Aletha menghela nafas lalu membuka pintu dan langsung masuk tanpa mengucap salam. Dia melihat kedua orang tuanya sedang menonton TV di ruang keluarga dengan Alexa sambil bercanda ria dan tertawa lepas. Aletha tersenyum sinis melihatnya.
'Kapan kalian bisa ketawa lepas sama Letha kaya kalian ketawa lepas sama Lexa? Letha juga anak kalian. Tapi kalian kaya gak perduli sama sekali ke Letha. Mungkin kalo Letha mati kalian juga gak bakalan peduli, bahkan mungkin kalian bakal berpesta pora atas kepergian Letha,' batin Aletha miris. Bahkan ia tidak sadar jika Nathan sudah pulang dan berdiri di belakangnya. Nathan adalah satu-satunya alasan dirinya mau tinggal di rumah itu.
"Jangan sedih Dek, kamu masih punya Abang yang sayang sama kamu. Abang yakin suatu saat nanti mereka bakalan sadar dan sayang sama kamu. Kamu kalo mau nangis ya nangis aja dek jangan ditahan, Abang gak mau kamu selalu nahan tangisan kamu. Keluarin semua emosi dan kesedihan kamu, jangan selalu dipendem sendiri, Dek." Nathan memeluk Aletha dari belakang. Ia membalikkan tubuh Aletha hingga Aletha menenggelamkan kepalanya di d**a bidang Nathan.
"Letha bersyukur punya Abang disini, cuma Abang yang Letha punya. Letha juga gak perduli lagi mau mereka sayang sama Letha atau enggak yang penting Letha punya Abang aja udah cukup buat Letha. Dan Letha juga gak bakalan nangis bang, bahkan udah gak bisa nangis lagi, air mata Letha udah kering gara-gara dulu selalu nangis setiap hari."
Benar, Aletha sudah tidak pernah menangis lagi sejak 7 tahun lalu saat ia hampir diusir gara-gara dia tidak sengaja mendorong Alexa dari kasurnya saat Alexa hendak membangunkan Aletha untuk sekolah hingga tangannya berdarah tergores gunting yang ada di meja kecil yang ada di kamar Aletha. Bahkan Aletha sampai dipukuli oleh kedua orang tuanya sampai hampir pingsan. Mungkin jika Nathan tidak membawa pergi Aletha, ia benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi padanya.
Setelah kejadian itu Aletha benar-benar menyesal dan menangis selama 3 hari. Tapi orang tuanya tidak perduli, bahkan mengecek keadaan Aletha pun tidak. Aletha bahkan tidak mau makan selama 3 hari itu. Nathan terus membujuk Aletha untuk makan tapi Aletha tetap tidak mau. Hingga sampai hari ke empat, Nathan berhasil membujuk Aletha makan. Itu pun Aletha makan dengan setengah hati.
Sejak saat itu, Aletha hidup mandiri dengan menjadi model karena kebetulan ada yang menawarinya menjadi model saat Aletha tengah mengupload fotonya di salah satu media sosialnya. Ia tidak pernah menyentuh sedikitpun uang dari kedua orang tuanya. Dan mulai saat itu ia tidak pernah lagi merengek dan manja pada kedua orang tuanya. Ia juga menjadi orang yang berhati dingin pada orang tuanya dan sering berbuat ulah di sekolahnya. Tapi walaupun begitu, Aletha banyak mengumpulkan piala, piagam, dan medali untuk sekolahnya jadi sekolah itu merasa rugi jika mengeluarkan orang seperti Aletha.
"Kamu gak boleh gitu Dek, gimanapun juga mereka itu orang tua kamu. Mereka pasti sayang sama kamu." Nathan mengelus kepala Aletha, Nathan tau jika Aletha merasa di anak tirikan oleh orang tua mereka, padahal Aletha dan Alexa kembar yang harusnya mendapat kasih sayang yang sama.
"Mereka gak pernah sayang sama Letha, Bang, mereka cuma sayang Lexa sama abang," ucap Aletha dingin dan melepaskan pelukannya.
"Abang tau, tapi kamu harus selalu inget ya kalo ada Abang disini yang sayang sama kamu. Walaupun menurut kamu kalo mama sama papa gak sayang sama kamu, tapi kamu masih punya Abang yang bakal lindungin kamu." Nathan tersenyum hangat dan mencium kening Aletha.
"Makasih Bang, Letha gak tau apa yang bakal terjadi sama Letha kalo Letha gak punya Abang di sisi Letha. Cuma Abang satu-satunya alasan Letha mau tinggal disini." Aletha memeluk Nathan. Nathan membalas pelukan Aletha dan mengusap punggung adik kesayangannya.
"Yaudah kamu mandi sana, badan kamu bau." Nathan melepaskan pelukan mereka lalu menutup hidungnya seolah Aletha benar-benar bau.
"Ish Abang nyebelin." Aletha mengerucutkan bibirnya lalu pergi meninggalkan Nathan dengan menghentak-hentakkan kakinya. Nathan terkikik melihat kelakuan adiknya.
Aletha berjalan melewati kedua orang tuanya yang sedang bercanda ria dengan Alexa tanpa menoleh dan mengucapkan satu kata pun. Seperti tidak menganggap mereka ada, toh mereka juga tidak pernah menganggap dirinya.
"Gak punya sopan santun ya? Ada orang disini malah langsung mau naik tangga aja." Sinis Farah, mama Aletha.
"Sopan santun? Kayaknya gak punya, gak ada yang ngajarin soalnya," jawab Aletha dingin tanpa menghadap pada lawan bicaranya, sudah sangat muak sepertinya.
"Oh untuk apa Papa nyekolahin kamu tinggi-tinggi kalo kamu gak punya sopan santun? Apa gunanya guru disana? Kok gak bisa ngajarin muridnya gini," tambah Dedi, papa Aletha. Aletha membalikkan tubuhnya menghadap kedua orang tuanya dan Alexa. Ia tersenyum manis tapi tatapan matanya sangat dingin.
"Kalian nyalahin guru di sekolah Letha? Kok bisa ada orang kaya kalian? Lah terus gunanya kalian sebagai orangtua tuh apa? Cuma pajangan yang numpang ngelahirin doang gitu? Kalian pernah didik Letha apa? Pernah ngajarin apa aja? Kalian pernah nyayangin Letha? Bacain dongeng buat Letha pas sebelum tidur? Gak usah jauh-jauh deh ya, kalian bahkan gak pernah hadir buat ambil rapor Letha. Terus kalian tiba-tiba nanyain soal sopan santun?
Yang kalian pikirin tuh cuma Bang Nathan dan Alexa. Sedangkan Letha tuh kalian abaikan dan kalian anak tirikan. Bahkan Letha sering berfikir 'ah mungkin aku anak angkat' tapi kayaknya gak mungkin soalnya mata wajah Letha itu perpaduan dari wajah kalian berdua. Ah indah banget kan ya hidup Letha?" Aletha tersenyum sinis. Kedua orang tua Aletha terkejut mendengar ucapan Aletha. Mereka langsung terdiam dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, sedangkan Alexa tidak menunjukkan sikap apapun, ia hanya memandang Aletha sebentar lalu mengalihkan pandangannya.
Aletha langsung masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandinya. Yang ingin ia lakukan adalah mendinginkan kepalanya dengan air dingin.
"Yang kalian pikirin cuma Alexa, Alexa, dan Alexa. Letha kapan? Letha juga mau kalian perhatiin Letha juga, jangan cuma Alexa sama Bang Nathan. Letha iri sama temen-temen Letha yang disayang sama orang tuanya." Aletha tersenyum miris.
Aletha keluar dari kamar mandinya tanpa mengeringkan tubuhnya serta mengganti seragamnya yang tengah basah. Ia berjalan ke sebuah lemari yang ada di kamarnya lalu membuka lemari itu. Di dalam lemari itu terisi berbagai macam piagam, piala, dan medali miliknya. Ia melihat semua itu sambil tersenyum miris dan barang-barang di depannyapun seperti tidak berarti baginya.
"Bahkan kalian aja gak tau kalo Letha termasuk siswi yang berprestasi. Penghargaan Letha aja lebih banyak dari yang dipunya Lexa, tapi kenapa kalian cuma bangga sama Lexa? Bahkan kecerdasan Lexa masih di bawah Letha. Kalo gini caranya, Letha gak kuat lagi tinggal di keluarga ini." Air mata Alexa menetes. Ia sudah tidak kuat menahannya lagi.
"Letha, lo itu cewe yang kuat. Lo gak boleh nangis cuma karna ini doang! Lo itu udah biasa kaya gini. Jadi lo gak boleh nangis, ok? Lo harus kuat Letha, lo harus kuat!" Aletha menyeka air matanya kasar dan menyemangati dirinya sendiri.