“Dasar menantu gila! Tidak sopan sekali sama mertua!” Saking emosinya, aku kelepasan berteriak. Kubanting kasar ponsel ke atas ranjang. Sialan sekali istrinya Bayu yang sekarang! Semakin kurang ajar saja sikapnya. Berani-beraninya dia berkata-kata kasar dan sinis pada Lia? Awas saja dia! Nanti akan kubejek-bejek jika ketemu nanti. “Ma, kenapa teriak-teriak, sih?” Mas Anwar tiba-tiba masuk ke kamar tidur kami. Pria yang berpakaian rapi dengan kaus berkerah motif kuda dan celana jins biru itu membuka celah pintuku semakin lebar. Aku yang salah tak mengunci pintu tadinya. Lihat, pria tua itu akhirnya masuk juga, kan! “Oh, maafkan aku, Pa. Ini. Menantumu. Menyebalkan sekali.” Aku bangkit dari tepi ranjang. Buru-buru bergerak ke arahnya dengan lenggok anggun. Pengusaha tekstil dan pemilik pet

