“Ada sosok apa, Shil? Kenapa peta itu tiba-tiba jatuh. Padahal kan gak ada angin,” bisik Gladys kepada Ashila.
Ashila tidak langsung menjawab pertanyaan Gladys, ia terus memperhatikan ke arah depan. Makhluk itu menatap marah kepada... Gladys?
“Ada sosok nenek tua Glad, sepertinya dia keganggu sama lo, karena dari tadi sosok itu terus ngeliatin lo,” jawab Ashila, Gladys terkejut dengan fakta yang disebutkan Ashila barusan. Kenapa harus dirinya? Bahkan, Gladys sendiri baru satu hari menjadi murid di sini.
“Kenapa gua?” tanyanya.
Ashila hanya mengedikan bahu tanda ia juga tidak tahu mengapa makhluk itu menatap Gladys. “Gua juga gak ngerti.”
“Mohon tenang anak-anak, mungkin itu hanya terkena angin saja, jangan panik. Bapak tinggal dulu yah, jangan pada ribut. Sampai jam istirahat berbunyi,” ucap kepala sekolah itu.
“Baik, Pak!” serempak semuanya.
***
Kegiatan belajar mengajar harus ditunda sebentar, karena bel pertanda istirahat sudah berbunyi. Gladys merapihkan buku tulisnya, lalu menyimpannya di kolong meja.
“Mau istirahat?” tanya Ashila kepada Gladys.
Bukannya menjawab, Gladys justru balik bertanya. “Shil, lo udah lama kan sekolah di sini?”
“Hmm, iya udah lama, kenapa?”
“Jadi lo pasti tahu dong sejarah sekolah ini, kenapa bisa dibilang sekolah horror?” tanya Gladys.
“Yakin lo mau denger?”
“Serius lo tahu? Mau dong, mau banget!”
“Jadi gini, dulu tuh...”
“Ashila!” teriak seorang lelaki dari luar kelas. Ia diikuti oleh dua lelaki lainnya.
“Nevan, kenapa sih teriak-teriak kayak gitu?” tanya Ashila.
“Emang gak boleh?”
“Malu-maluin!” tekan Ashila.
“Gua gak malu tuh.”
“Gua yang malu!” bentak Shila.
“Kenapa malu? Diteriakin sama most wanted kayak gua kok malu.”
“Justru itu, karena lo yang paling dicari di sini, nanti mereka mikir apa kalau tahu lo temenan sama gua.”
“Gua gak peduli soal itu.”
“Apa sih, berisik sekali kalian!” sentak Ivan. “Urusan rumah tangga jangan dibawa-bawa ke sekolah dong.”
“Mau gua aduin ke Velly, terus di bogem lo Van?” tanya Ashila.
“SSST! Berisik banget sih kalian. Sampai gadis secantik ini di anggurin,” ujar Gaga.
“Lo anak baru kan?” tanya seorang lelaki yang berkulit putih, Gaga.
“Iya, kenalin nama gua Gladys.” sambil mengulurkan tangannya.
Dengan senang hati Gaga membalas uluran tangan Gladys. “Gaga, ini temen-temen gua, Ivan sama Nevan,” jawab lelaki bernama Gaga itu.
“Ehh hai, gua Gladys.” sambil tersenyum kepada kedua cowo itu.
“Gua ivan.”
“Gua Nevan.”
Setelah acara kenal-kenalan, mereka semua kembali ke pikiran masing-masing.
“Mereka sahabat gua juga, tapi beda kelas. Ada satu lagi, sih, sebenarnya temen gua yang cewe, namanya Velly. Nanti gua kenalin,” ujar Ashila.
“Oh gitu,” jawab Gladys sambil menatap mereka bergantian. Ternyata Gladys salah, ternyata Ashila tidak sendirian selama setahun ini. Ia memiliki sahabat yang sangat baik seperti mereka, syukurlah.
Mereka hanya mengangguk membalas pertanyaan Gladys. “Pindahan dari mana?” tanya Nevan.
“Bandung.”
“Wih, bisa bahasa Sunda dong?” seloroh Ivan. Gladys senang bisa cepat akrab dengan mereka semua, walaupun baru pertama kali bertemu, mereka semua tidak canggung dan membuat Gladys nyaman.
“Sedikit, hehe...."
“Maneh teh geulis pisan¹?” Ivan mulai berbicara.
“Naha atuh, da biasa wae urang mah².”
Mereka yang tidak paham, hanya menatap aneh kepada keduanya.
“Kayaknya gua bisa nih, gombalin lo pake bahasa sunda.” Ivan terkekeh. “Mereka mah gak ada yang ngerti.”
“Lo asli mana emang?” tanya Gladys.
“Garut, is my home!” Nevan menampol lengan Ivan yang sedari tadi berisik.
“Naon sia³?!" tanya Ivan sewot.
“Karena gua gak ngerti lo ngomong apa, jadi gua cuma mau ucapin, semoga amal ibadahnya diterima.” Mereka semua tertawa mendengar penuturan Nevan. Sedangkan Ivan, ia hanya menampilkan wajah dongkol.
“Nilai bahasa Sunda lo berapa sih?” tanya Ivan sewot.
“Dua puluh.” Nevan menjawab dengan sangat santai.
“Makanya, pas pembagian otak tuh datangnya subuh-subuh! Biar gak b****k otak lo.”
“Itu sih masih lumayan, daripada gua dapet telor ceplok.”
“Sekarepmu!”
“Tadi kayanya lo mau cerita deh, Shil.” Gaga menghentikan obrolan unfaedah teman-temannya.
“Ih iya, lo kan tadi mau kasih tau gua tentang masa lalu sekolah ini.” Gladys menatap Ashila. “Terusin dong, gua pengen tau apa aja yang udah terjadi di sini.”
“Kalian mau ikut dengerin juga, kan?” tanya Gladys, mereka semua justru tertawa.
“Lah, kok pada ketawa sih,” bingung Gladys.
“Mereka udah tahu kali Glad, cuma lo doang yang belum tahu,” jawab Ashila.
“Oh iya!” Gladys menepuk jidatnya. “Kalian kan udah lama sekolah di sini, Lola banget sih otak gua.”
“Yaudah kalau gitu ceritain, biar gua tahu.”
“Oke jadi gini. Sebenernya tujuh belas tahun yang lalu, sebelum sekolah ini dibangun ada sebuah rumah sakit dan beberapa pasien disana, katanya ada juga seorang ibu hamil yang melahirkan anak kembar tapi sangat disayangkan salah satu anak kembarnya harus tewas di rumah sakit itu.” jelas Ashila.
“Iya, katanya juga nih, ruang anak yang meninggal itu tepat di gudang sekolah kita. Maka dari itu selalu ada satu orang murid bunuh diri setiap bulannya di gudang sekolah.” Gaga menghentikan ucapannya. “Mitos nya sih dia di bisikin gitu sama arwah anak yang meninggal, untuk itu para guru tidak mengizinkan para murid untuk masuk ke gudang sendirian.”
“Pernah waktu itu ada seorang murid yang katanya sering kena bully di sekolah ini, terus dia masuk ke dalam gudang bermaksud untuk menenangkan diri, bukannya tenang justru ia harus merenggut nyawa saat itu juga,” sambung Nevan.
“Juga nih Glad, ruangan yang dilarang untuk di datengin yaitu gudang sekolah, sama taman belakang.” Ivan ikut hanyut dalam pembicaraan itu. “Katanya penunggu ditaman belakang adalah seorang nenek, yang mukanya hancur penuh darah yang menjadi penunggu ditaman belakang itu.”
Ashila menepuk bahu Ivan, bermaksud agar tidak terlalu menakut-nakuti Gladys. "Apaan sih, Shil?" sewotnya.
"Nggak apa-apa."
“Hmm gua jadi penasaran deh, kenapa mereka gentayangan di sekolah kita?”
“Mungkin ada urusan yang belum selesai di bumi, makanya mereka belum bisa tenang.” Ashila menyahut.
“Kalian pernah kepikiran buat mecahin misteri ini gak, sih?” tanya Gladys.
Mereka semua menggeleng. “Gak pernah kepikiran.”
“Gua justru langsung kepikiran, gimana kalau kita cari tahu misteri apa yang ada di sekolah ini, sampai-sampai sekolah ini di cap sebagai sekolah horor.”
Mereka berempat saling menatap satu sama lain. Sedang berbicara lewat telepati.
"Gak ada salahnya buat coba," ujar Ashila.
“Oke gua setuju, supaya sekolah kita itu aman.” Gaga menyetujui.
"Aku sih, yes."
"Gua juga setuju, Glad."
“Okey, berhubung semuanya udah setuju, nanti kita bakal tentuin gimana dan kapan harus menjalankan misinya.”
Mereka semua mengangguk.
Tiba tiba....