Misteri-2

1102 Kata
Masih lapangan sekolah... Tiba tiba... Pandangan mata Ashila kosong dan menatap lurus ke depan, lalu kini berganti menatap ke arah gadis di sebelahnya—Gladys. “Bulu kuduk gua kok... tiba-tiba merinding gini ya, Shil?” tanya Gladys, sambil mengusap belakang lehernya. “Sebaiknya kita langsung ke kelas gua aja dulu deh, Glad,” ucap Ashila, karena dirinya baru saja melihat sosok tak kasat mata. Menatap marah kepada keduanya. “Kenapa?” tanya Gladys penasaran, karena tatapan Ashila seperti menyiratkan sesuatu. “Nanti gua bakal ceritain di kelas. Ayo buruan kita masuk,” ujar Ashila menarik lengan Gladys menuju kelasnya. “Y-yaudah ayo,” balas Gladys. Ia masih bertanya-tanya dalam hati, kenapa teman barunya ini terlihat sangat aneh sekali. *** Ashila mengajak Gladys untuk duduk di tempatnya, dua bangku yang hanya di isi oleh satu orang. Ya hanya Ashila seorang. Entah kenapa tidak ada yang mau menemani gadis itu. “Ini tempat duduk lo?” Ashila mengangguk. “Lo duduk sama siapa?” tanya Gladys, lagi. “Sendiri.” “Sendiri? Kok bisa?” Ashila terkekeh. “Ya bisa lah, orang gak ada yang mau berteman bahkan duduk sama gua.” Gladys terkejut mendengar penuturan dari Ashila. “Jadi... Selama setahun ini, lo duduk sendiri?” Lagi-lagi Ashila hanya mengangguk. “Gak ada temen sama sekali?” tanya Gladys penasaran. “Kebangetan banget sih mereka, kok bisa sih, Shil?!” ujar Gladys jadi emosi. “Santai dong, gua aja biasa aja kok.” “Pokoknya, kalau kita sekelas, gua bakal duduk sama lo.” Final Gladys, Ashila hanya mengangguk. “Thanks, ya, Glad.” Gladys kembali teringat, lalu dirinya menanyakan kembali apa yang Ashila lihat saat keduanya berada di lapangan tadi. Tidak lama, Gladys jadi teringat akan sikap aneh Ashila yang tadi. Yang menarik dirinya untuk segera menuju kelas, ada apa sebenarnya? Kenapa dengan teman barunya ini? “Shil? Sebenernya apa sih, yang lo liat tadi pas di lapangan?” tanya Gladys. “Raut muka lo tiba-tiba keliatan panik gitu, pas narik tangan gua.” Gladys masih penasaran dengan apa yang dilihat oleh Ashila. Padahal dirinya tidak melihat apa-apa tadi. “Kalau gua cerita, mungkin lo gak akan percaya. Tapi memang ini yang gua lihat tadi,” jawab Ashila. “Kenapa gua gak percaya?” “Karena semua orang yang denger cerita gua pasti berakhir gak percaya, makanya gua ragu.” “Kalau masuk akal, mana mungkin gua gak percaya? Udah cerita aja!” balas Gladys, tidak sabaran. “Tadi... Pas kita dilapangan, gua lihat sosok makhluk yang mukanya hancur banget. Makanya gua tarik tangan lo, takut dia berbuat jahat sama lo.” Ashila menjelaskan dengan hati-hati. Ia menangkap raut wajah Gladys yang merasa aneh. “Makhluk? Makhluk apaan? Kok gua gak liat?” tanya Gladys, Ashila tersenyum. "Kok lo malah senyum sih, Shil?!" sewot Gladys. “Karena hanya orang khusus yang bisa lihat dia,” jawab Ashila. Lagi-lagi, Ashila menangkap raut wajah bingung dari temannya ini. “Tunggu... Ini maksudnya apaan ya?" “Gua bisa melihat mereka, yang kalian tidak bisa melihatnya.” Ashila menjeda ucapannya. “Mereka yang kalian sebut sebagai... Hantu,” ujar Ashila tenang. Gladys melotot, tidak percaya. "Jadi maksudnya... Lo, indigo?” tanya Gladys dengan muka yang serius, takut, takjub menjadi satu. Ashila terkekeh. "Gak percaya, kan lo? Gua juga awalnya gak percaya, tapi kelebihan ini udah ada sejak gua kecil." “Sumpah, Shil. Gua gak nyangka punya temen indigo. Baru kali ini lebih tepatnya,” ucap Gladys kepada Ashila. "Karena kelebihan ini, banyak orang yang anggap gua ini aneh, gila dan sebagainya.” “Bahkan, keluarga gua sendiri juga gak percaya setiap kali gua cerita tentang 'mereka'," ujar Ashila lirih. Raut wajahnya berubah sendu, jadi seperti itu tanggapan orang lain terhadap anak indigo. Gladys baru mengetahuinya sekarang. “Di rumah yang dulu, semua orang yang lihat gua pasti langsung buru-buru masuk, lihat gua seperti mereka lihat hantu.” “Makanya gak ada yang mau temenan sama gua di sekolah ini, kecuali sahabat gua yang sekarang sih, nanti gua kenalin sama mereka.” Gladys melihat mata Ashila yang mulai berkaca-kaca, tetapi tetap berusaha untuk senyum. “Ssst... udah,udah. Nggak usah di terusin. Mungkin sekarang mereka gak percaya sama lo, tapi lo harus yakin, terus buktikan sama mereka bahwa anak indigo juga layak di hargai. Buktikan juga kalau lo itu sama seperti manusia biasanya bukan orang aneh atau apapun.” Gladys berusaha untuk menenangkan Ashila. “Setelah lo tau ini, lo gak bakal jauhin gua seperti yang mereka lakuin, kan, Glad? Lo percaya kan, kalau 'mereka' itu ada?” tanya Ashila. “Teman macam apa gua kalau sampai jauhin lo cuma gara-gara lo punya kelebihan kayak gini. Justru gua merasa spesial bisa kenal sama lo,” balas Gladys. “Walaupun gua belum pernah melihat 'mereka' yang kata lo itu ada, tapi gua percaya kok,” ujar Gladys sambil tersenyum. “Makasih ya Glad. Lo baik, pasti banyak yang mau temenan sama lo di sini.” Ashila tersenyum ramah. “Justru gua yang makasih sama lo, karena lo satu-satunya temen yang gua punya di sekolah ini sekarang." “Nanti gua kenalin sama teman gua yang lain.” Ashila tersenyum. “Mereka juga awalnya heran sama gua, bahkan mereka juga sempet takut setiap kali gua bahas soal hantu.” Gladys mengangguk. “Ya, udah. Gua ke ruang guru dulu yah,” ujar Gladys, sambil mengenakan tasnya kembali yang sempat di buka tadi. “Semoga kita sekelas yah Glad,” balas Ashila. Gladys tersenyum, lalu meninggalkan kelas Ashila. “Dadah, Shil.” --- Seluruh pasang mata yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing tertuju ke depan. Kepala sekolah berjalan menuju depan kelas, diikuti dengan gadis cantik berambut panjang di sampingnya. “Pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Dia pindahan dari Bandung, berteman dengan baik ya,” ujar kepala sekolah. “Silahkan perkenalkan diri kamu,” ucap kepsek tersebut. “Nama saya Gladys Aurora Alexandra, kalian boleh panggil saya Gladys. Saya pindahan dari Bandung, saya harap teman-teman bisa membantu saya mengejar pelajaran.” Gladys tersenyum sangat manis. “Gladys, kamu silahkan duduk di sebelah Ashila.” Setelah kepsek mengucapkan itu, semua murid bisik-bisik, ada pula yang terang-terangan melarang. “Jangan mau, Glad. Ashila itu aneh,” ujar gadis dengan rambut sebahu. “Selama ini, gak ada yang mau temenan sama dia.” “Bener tuh, Glad. Ashila kadang suka ngomong sendiri," timpal yang lainnya. “Kalau bukan kita yang nemenin, siapa lagi? Ashila juga sama seperti kalian yang punya perasaan, gimana perasaan kalian disaat gak ada teman sama sekali?” ujar Gladys panjang dan menohok. “Tapi Ashila itu aneh, kalau gua jadi lo, gua lebih milih duduk di lantai daripada harus duduk sama dia.” Gladys geram mendengar penuturan tersebut. Tangannya terkepal, itu benar-benar sangat menghina sekali. Gladys menarik lalu menghembuskan napasnya pelan, ia harus meredam emosinya. Di depan sana masih ada kepala sekolah yang memperhatikan mereka. “Nggak apa-apa, kok. Selagi Ashila gak buat kalian celaka, kenapa gak coba untuk berteman?” Gladys tersenyum, lalu berjalan menuju tempat Ashila. “Kalau begitu, bapak tinggal dulu yah. Jangan ribut sampai guru bidangnya masuk.” Sebelum kepsek itu beranjak keluar, tiba-tiba saja peta yang berada di kelas tersebut jatuh ke lantai. Semua perhatian tertuju ke depan, Gladys yang heran dengan kejadian itu akhirnya meng-kode Ashila untuk lihat ada makhluk apa? Jangan ditanya, ya mereka itu sekelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN