Misteri-1

1044 Kata
Gladys Aurora Alexandra, gadis cantik dengan bola mata indah, kini resmi menjadi murid baru di SMA Kebangsaan. Sekolah yang dipercaya sebagai sekolah horror di daerah ibu kota. Selalu ada korban yang merenggut nyawa setiap bulannya. Entah apa yang terjadi di masa lalu, hingga membuat sekolah itu diyakini sebagai sekolah horror. Bagaimana kisahnya? Disinilah cerita dimulai. Di mana Gladys, bersama kelima sahabatnya mencoba untuk memecahkan misteri tersebut. -MISTERI SEKOLAH BARU- ---- Di lapangan sekolah yang terlihat menyeramkan, di sinilah Gladys berada sekarang. Pepohonan yang kering, juga akar tua yang merambat di setiap tembok sekolah. Ada hawa takut tersendiri dalam dirinya, cukup lama Gladys memperhatikan bagian demi bagian dari bangunan tinggi yang ada dihadapannya. Bangunan yang tua, juga cat putih yang sudah mengelupas membuat sekolah itu terlihat sangat seram. Tiba-tiba... “Gladys?” seseorang menepuk pundak Gladys dari arah belakang, membuat sang empu terkejut. “Ehh, iya kenapa?” Gladys menoleh ke belakang dan... “Aaaaa!” teriaknya. Gadis cantik itu terbangun dari tidurnya, dengan keringat yang mengucur deras di dahinya. Ternyata cuma mimpi. “Lo kenapa sih de?!” tanya Refo panik. Ia buru-buru masuk ketika mendengar teriakkan adiknya tersebut. “Gua mimpi buruk bang,” jawab Gladys, yang masih berusaha menormalkan kembali detak jantungnya yang semula berdebar luar biasa. “Mimpi buruk apaan? Coba cerita.” “Katanya, kalau mimpi itu gak boleh diceritain sama siapa-siapa bang,” jawab Gladys polos. “Kalau sama gua, boleh. Buruan cerita," ujar Refo sedikit memaksa. “Tadi... gua kayak lagi ada di lapangan sekolah gitu, terus tiba-tiba ada yang nepuk pundak gua.” Refo mengangguk, tidak sabar mendengar lanjutan cerita adiknya itu. “Tapi pas gua nengok, ada gadis yang..." ucapan Gladys terpotong oleh Refo. “Gadis? Cantik gak tuh? Kenalin lah,” kata Refo, sambil menaik turunkan alisnya. “Cantik gundulmu! Orang mukanya... Aaaa! serem banget Bang!” jelas Gladys dengan suara yang sedikit bergetar. “Makanya, kalau tidur tuh baca doa. Udah deh, buruan mandi gih, nanti telat loh. Ini kan hari pertama lo masuk sekolah di sini,” ucap Refo mengingatkan adiknya. “Oh iya! Yaampun gua lupa, kalau sekarang gua bakal masuk sekolah baru!” seru Gladys, sambil menepuk jidatnya. “Masih muda, tapi udah pikun.” Refo terkekeh. Sudah menjadi kebiasaannya, meledek Gladys—adiknya. “Pikun? Enak aja lo ngatain gua pikun! Yang ada lo yang pikun, kan lo lebih tua dari gua.” gadis itu justru tertawa puas. “Adek laknat lo, dasar. Buruan mandi!” “Ya lo keluar dong!” Gladys mengusir. “Eh tapi nanti anterin ya, ke sekolah nya.” Gladys menampilkan wajah sok imutnya. “Iya, iya. Udah buruan sana mandi, gua juga ada kelas pagi ini,” ucap Refo. *** Tidak terasa, kini keduanya sudah berada di depan gerbang SMA Kebangsaan. Karena jam masuk kuliah sudah mepet, untuk itu Refo hanya mengantar adiknya sampai di depan gerbang. “Masuk gih sono, nanti telat.” “Nanti pulangnya gua jemput,” ujar Refo, bersiap untuk pergi. “Iya, hati-hati lo, Bang. Jangan kebut-kebutan. Kalau lo mati nanti gua gak ada temen buat berantem,” ucap Gladys, sambil tertawa. “Yeeu! Yang ada, kalau gua mati nanti, orang yang bakal gua gentayangin pertama itu elo De!” balas Refo tak mau kalah. “Udah deh, kenapa jadi ngomongin mati sih. Kalau gitu gua masuk dulu bang,” ucap Gladys sambil melenggang pergi. Setelah Gladys benar-benar masuk, barulah Refo melajukan motornya menuju salah satu kampus di daerah ibu kota, tempat dirinya menimba ilmu. Entah kenapa bulu kuduknya tiba-tiba merinding ketika berada di sekolah itu. Kaki jenjang milik Gladys tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia seperti dejavu dengan bangunan yang ada dihadapannya sekarang, seperti dirinya pernah melihat tetapi tidak tahu di mana. Gladys terus memperhatikan bagian demi bagian dari bangunan yang menjulang tinggi dihadapannya sekarang. “Bangunan ini... kayak gak asing lagi. Kayaknya gua pernah lihat ini, tapi dimana yah? Ohh iya...” Monolognya. Tiba tiba ada yang memegang pundak Gladys. Mirip seperti.... “Hai,” sapa seseorang yang memegang pundaknya itu, kepada Gladys. Gladys menoleh, lalu mendapati wajah manis seorang gadis. Gadis itu tersenyum manis, menampilkan lesung pipit yang dimilikinya. “Ehh, iya kenapa?” balas Galdys. Ternyata feeling Gladys salah, kini dia baru menyadari sesuatu. Bahwa sekolah ini, merupakan sekolah yang berada di mimpinya semalam. Bahkan kejadiannya pun sama persis seperti di mimpinya semalam. Apa maksud dari semua ini? Batin Gladys. Yang membedakan hanyalah, gadis yang menepuk pundak nya kali ini adalah gadis berwajah cantik, manis, juga lesung pipit yang indah. Bukan muka yang hancur, penuh darah, dan menyeramkan. Seperti di mimpinya tadi malam. “Gua Ashila, lo anak baru yah?” ujar gadis itu, sambil mengulurkan tangannya lalu tersenyum. “Gladys, iya anak baru. Lebih tepatnya murid pindahan sih, karena sebelumnya gua sekolah di Bandung. Lo anak baru juga?” ujar Gladys, Ashila menggeleng. “Ini merupakan tahun kedua gua sekolah di sini.” Ashila tersenyum. Entah kenapa Gladys melihat ada yang aneh dari diri Ashila. “Oh ya? Salam kenal kalau gitu," ujar Gladys  membalas uluran tangan Ashila. “Mau gak temenan sama gua?” ujar Ashila takut-takut. Entah kenapa Ashila mengajaknya untuk berteman. Tetapi, tidak salah juga kan? Masih bagus ada yang mau berteman dengannya. “Mau dong, kenapa nggak?” balas Gladys sambil tersenyum manis. “Lo asli Bandung?” tanya Ashila basa-basi. “Iya. Mamah asli Bandung, kalau ayah...” Gladys tidak bisa melanjutkannya lagi. “Gua gak tau ayah dimana.” Gladys tersenyum getir. “Kok bisa gak tau?” Gladys mengedikan bahunya. "Terakhir gua ketemu ayah pas umur sepuluh tahun, tapi entah kenapa sekarang gua gak inget apa-apa lagi tentang ayah.” “Lo sempet kecelakaan?” tanya Ashila. Tiba-tiba sakit kepalanya muncul lagi, seperti ditusuk-tusuk. Sakit sekali. “Gladys? Lo kenapa?!” tanya Ashila panik. “Gak apa-apa, Shil. Udah sering seperti ini,” ujar Gladys. “Sering?” “Iya, gua sama sekali gak inget tentang ayah dimana. Gua juga gak ngerti apa yang terjadi sama diri gua.” “Mungkin lo... Amnesia?” tanya Ashila hati-hati. “Amnesia? Tapi gua masih inget sama mamah, sama Abang gua.” “Itu bisa aja terjadi. Ada yang namanya amnesia ringan, dimana korban hanya mengingat orang-orang terdekatnya saja,” ujar Ashila. “Tanpa bisa mengingat apa yang terjadi di masa lalu. Atau mungkin, lo kurang deket sama ayah lo?” Gladys tidak bisa menjawab. “Sorry, lupain aja. Itu bisa aja terjadi, lo bisa tanya sama keluarga lo." “Gitu, ya?” “Keluarga lo gak pernah cerita emang?” tanya Ashila. “Gua pernah nanya sama mamah, tentang apa yang terjadi sama gua. Tapi dia selalu bilang kalau gua baik-baik aja,” balas Gladys. “Oh mungkin emang bener kali. Maaf kalau gua udah sok tau,” ujar Ashila. “Santai aja, Shil.” Tiba-tiba saja tercium bau sesuatu yang sangat menyengat, bau anyir yang sangat pekat. Bulu kuduk Gladys juga tiba-tiba berdiri semua. Ada apa ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN