Pagi demi pagi Gladys lalui dengan rasa penasaran yang semakin besar, karena ia merasa ada yang ditutupi oleh keluarganya sendiri. Namun, kenapa mereka melakukan itu? Apa salah Gladys? Sampai mereka merahasiakan itu semua darinya! Mereka berdua selalu punya alasan klasik setiap Gladys bertanya tentang fakta, apa yang sebenarnya terjadi? “Pagi,” sapa Gladys, sambil menuruni anak tangga satu-persatu. Gladys mendudukkan diri di hadapan Refo, abangnya terus memandang dirinya dengan tatapan datar. “Pagi, sayang. Sini sarapan dulu, Dis.” Tasya menyambut Gladys sambil tersenyum. Kemudian ia menyajikan roti yang barusan dirinya olesi dengan selai kepada Gladys. “Makasih, Ma.” Gladys menatap abangnya sekilas, lalu menyantap roti buatan mamanya. Karena banyak sekali pertanyaan dalam pikirannya,

