Misteri-19

1197 Kata
Bel tanda berakhirnya pelajaran berdering, tidak lama guru bidang hari ini pamit undur diri. Ashila dan Gladys segera bergegas menuju parkiran, dimana teman-temannya yang lain sudah menunggu. “Hai, guys!” sapa Ashila, lalu mereka semua melambaikan tangannya ke arah mereka berdua. “Gimana pelajaran hari ini, Shil?” tanya Nevan. “Ya seperti biasa lah. Lo gimana?” tanya Ashila balik. Nevan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung harus menjawab apa. Nyesel gua nanya, batinnya. “Nev, kok bengong?” tanya Ashila. “Oh, atau lo cabut ya pas pelajaran terakhir?” Ingin sekali Nevan mengatakan tidak, tetapi tebakan Ashila memang tepat sasaran. Dirinya dan Gaga hari ini bolos pelajaran terakhir. “Tuh kan, bener.” “Hehe, baru sekali kok, Shil.” “Boong tuh, Shil,” ujar Gaga kompor. “Heh, k*****t! Lo juga bolos ya,” balas Nevan tidak terima. “Kalian bolos? Kok nggak ngajak-ngajak,” celetuk Ivan. “Males!” jawab Keduanya bersamaan. “Jahat!” “Udah-udah, kalian mau ngobrol sampe kapan di sini?” tanya Velly. “Panas, tau!” “Iya-iya. Dis, mau pulang sekarang?” tanya Gaga. Gladys menoleh ke arah teman-temannya, ia merasa tidak enak. “Udah sana duluan,” ujar Ashila dengan senyum penuh arti. “Iya, Dis. Duluan aja sana,” tambah Velly. “Jangan macem-macem, ya, kalian.” “Dedek Gaga gak ngerti soal itu, masih polos.” Gaga berbicara dengan nada sok bocah. “Najis! Inget sama umur,” tukas Ivan. “Kenapa? Umur gua masih muda kok, cocok sama muka gua yang masih babyface kayak gini.” “Bodoamat, Ga.” Gaga terkekeh, kemudian pamit kepada yang lainnya, begitupun dengan Gladys. “Kita duluan, ya,” ujar Gaga. “Hati-hati, kalian.” “Jagain sahabat gua, Ga!” teriak Ashila yang mendapat acungan jempol dari Gaga. Sedangkan Gladys hanya tersenyum kikuk. “Duluan ya, semua.” Mereka semua menatap mobil Gaga yang semakin menjauh, sambil terus terkekeh mengingat tingkah malu-malu Keduanya tadi. “Pulang, yuk. Panas nih,” keluh Velly. Lalu mereka semua memasuki mobil Nevan, dengan Ivan yang menjadi sopir. “Kenapa jadi gua yang nyetir sih?” gerutu Ivan. “Masih mending gua suruh nyetir, daripada gua suruh pulang jalan kaki? Pilih mana?” tanya Nevan santai. “Kejam!” “Suka-suka yang punya mobil lah.” Nevan terkekeh, ia semakin gencar menyudutkan Ivan. Bukan ingin sombong, tetapi tidak membully Ivan sehari saja, rasanya seperti ada yang kurang. Nakal ya anak emak! “Sabar, Ivan. Ivan kan baik hati dan tidak sombong.” Ivan mengelus dadanya. Mereka semua menjadi tertawa dibuatnya. *** Ketika sedang belajar bersama, tiba-tiba angin kembali bertiup sangat kencang. Membuat buku-buku mereka terbalik dengan sendirinya, juga kertas-kertas yang beterbangan tertiup angin. Ada apa lagi ini, pikirnya. “Kenapa lagi, ini?” tanya Velly yang sudah geram dengan kejadian seperti ini, sebenarnya apa yang di mau oleh makhluk itu! Tiba-tiba, semua kertas yang kini berhamburan di lantai terdapat tulisan. 'Tolong segera selesaikan misi ini. Selamatkan sekolah kalian.' Semua kertas bertuliskan seperti itu. Bahkan di meja, di lantai, semua bertuliskan seperti itu. Siapa sebenarnya yang menulis ini semua? Gadis itu, atau nenek tua itu? “S-siapa yang nulis ini? Apa maksudnya ini semua, siapa yang harus ditolong?” tanya Gladys. Mereka semua menggelengkan kepalanya, tanda tidak tahu. Sebuah tanda tanya besar kembali muncul, mereka harus memutar otak agar bisa segera menyelesaikan misi ini. Hanya mereka yang bisa memecahkan misteri itu. Ashila beranjak berdiri, membuat temannya yang lain menatap heran kepadanya. “Mau kemana, Shil?” tanya Nevan. “Kita harus cari tahu sekarang! Gak boleh di tunda-tunda lagi,” ujar Shila. “Serius? Kita gak ada persiapan sama sekali, Shil.” “Terus, apa kalian mau diteror kayak gini terus?” tanya Ashila, mereka semua menggeleng. “Maka dari itu, ayo kita cari tahu sekarang!” Mereka semua beranjak berdiri dari rumah Gladys, tanpa membereskan kertas yang berserakan itu. Gaga dengan segera melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolah mereka semua, karena Ashila yang menyarankan agar kembali ke sekolah itu. “Dis, lo bawa bukunya, kan?” tanya Ashila. Gladys mengangguk. “Bawa, Shil.” “Cari tahu di halaman selanjutnya, siapa tahu ada petunjuk.” Gladys dengan segera menuruti permintaan Ashila. “Nggak ada apa-apa, Shil. Hanya lembaran kosong." “Terus, kita harus gimana?” tanya Velly. “Apa kita kembali ke gudang aja? Kalian inget kan pas kejadian hari itu, suara langkah kaki itu membawa kita semua ke gudang.” Gladys mengusulkan. “Sepertinya semua masalahnya ada di sana.” “Yakin nggak apa-apa, Dis? Maksud gua, terakhir kali kan lo hampir celaka di sana,” ujar Gaga. “Nggak apa-apa, Ga. Gua bakal hati-hati kok,” balas Gladys. Sebenarnya apa yang ada di gudang tersebut? Kenapa menjadi tempat paling horor, juga menjadi tempat rawan bunuh diri. Bisakah mereka mengetahui semuanya? “Gua baru inget,” ujar Gladys. “Apa, Dis?” tanya mereka. “Pas kejadian di rumah lo waktu itu...” Ashila mengangguk ingin mendengar lanjutan cerita dari Gladys. “Malam hari, gua liat Abang sama Mama gua masuk ke kamar itu lagi. Terus mereka menutup pintunya, seakan gak ada yang boleh masuk selain mereka.” Gladys menjelaskan. “Padahal sebelumnya Mama udah larang Bang Refo buat masuk kamar itu, tapi kenapa sekarang mereka malah seperti merahasiakan sesuatu dari gua.” “Lo denger apa aja pas kejadian itu?” tanya Ashila. “Gua gak denger jelas, yang gua denger cuma mamah gua terus ucapin kata maaf sambil terus nangis.” “Apa ini semua ada hubungannya sama keluarga lo?” tanya Ashila. “Gua nggak tau. Tapi yang gua heran, kenapa mereka berdua nyembunyiin itu semua dari gua?” Mereka semua terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Gladys. “Apa kita perlu selidiki kamar itu juga?” tanya Nevan, membuat Gladys terenyuh. “Boleh aja, sih. Tapi kalau ketahuan gimana?” ujar Gladys ragu. “Itu udah resiko, Dis. Kita berani mencoba sesuatu, harus berani juga menanggung resiko nya.” Mereka semua membenarkan ucapan Gaga. “Oke, deh. Tidak lama, mereka sudah sampai di sekolah. Lalu segera mereka menuju ke gudang sekolah, tempat yang masih menyimpan banyak misteri sampai saat ini. Namun tiba-tiba Ashila memegang kepalanya, dan... “Di mana ini? Gladys sama yang lainnya mana?” tanya Ashila kepada dirinya sendiri. Tidak lama muncul makhluk nenek tua itu, ia menatap Ashila lalu mulai berjalan dihadapan Ashila seperti ingin memberi petunjuk. Ia membawa Ashila ke tempat penyimpanan bayi—inkubator. Di situ hanya ada dua bayi kembar yang sangat lucu terlihat. Ashila menajamkan penglihatannya, ia melihat nama bayi itu. Grace Aurora Alexandra. Namun, belum sempat Ashila melihat nama bayi yang satunya ia kembali ke dunia nyata. “Kenapa, Shil? Apa yang lo liat?” tanya Gladys. “Nama panjang lo apa, Dis?” tanya Ashila tergesa-gesa. “K-kenapa emang?” jawab Gladys. “Nama panjang lo apa?!” tanya Ashila sekali lagi. “Gladys Aurora Alexandra. Kenapa, sih?” tanya Gladys bingung. “Gladys Aurora Alexandra sama Grace Aurora Alexandra. Mirip banget, kan?” tanya Ashila. “Hah? Grace, siapa dia?” tanya Gladys. “Nama lo mirip banget sama bayi yang gua liat tadi, bayi itu kembar dan salah satu dari mereka namanya Grace.” “Terus? Siapa nama bayi yang satunya?” tanya Gaga. “Nggak tau, gua gak liat nama bayi satu lagi. “Kenapa namanya bisa mirip sama gua?” tanya Gladys bingung. “Apa jangan-jangan, ini ada hub—” Belum sempat Ashila melanjutkan ucapannya, terdengar teriakan sangat melengking. Mereka semua menoleh ke sumber suara, namun tidak terlihat apa-apa. Bahkan, Ashila pun tidak bisa melihat makhluk apa itu. Saat menoleh ke bawah, terdapat jejak kaki dari darah yang sangat merah. Mereka terus mengikuti kemana jejak kaki itu membawanya, dan tiba di depan gudang. Lagi-lagi gudang! Saat memasuki gudang, angin bertiup sangat kencang dan menerbangkan daun-daun kering yang kemudian membentuk kata 'TOLONG' “Tolong?” Mereka semua bingung, kenapa akhir-akhir ini mereka sering sekali diteror dengan kata tolong. “Siapa yang harus kami tolong?!” teriak Ashila, namun tidak ada makhluk apapun yang muncul saat itu. “Siapa yang harus di tolong?!” teriak Ashila sekali lagi. “Percuma, Shil. Mending sekarang kita pulang dulu, karena kita juga gak ada persiapan sama sekali buat misi malam ini,” ujar Nevan. Mereka semua menyetujui usul Nevan kali ini, akan terlalu berbahaya jika mereka nekat melanjutkan misi malam ini. Setelah mereka keluar dari gudang, jejak kaki dan juga daun-daun hilang seketika. “Siapa Grace yang lo maksud, ya, Shil?” tanya Gladys. “Kenapa nama dia mirip banget sama gua.” “Gua juga nggak tahu, Dis.” “Kenapa banyak banget teka-teki yang sulit untuk dipecahkan, sih!” “Satu-persatu, kita pasti bisa.” “Semangat!” Mereka tersenyum melihat Gladys yang sangat antusias sekali untuk memecahkan misteri ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN