Ashila Amandita, gadis indigo yang kini tengah berada di lorong rumah sakit. Namun, bukan rumah sakit yang sewajarnya. Rumah sakit ini terlihat seperti rumah sakit tua, cat dinding nya pun sudah mengelupas. Penuh debu, juga sarang laba-laba yang berada di setiap dinding.
Kursi tunggu di rumah sakit itupun sepertinya sudah sangat lama, dan terlihat sangat rapuh. Rumah sakit macam apa ini? Kenapa dirinya bisa berada di sini sekarang?
Ashila berjalan sendiri menyusuri lorong rumah sakit tersebut, tanpa membawa alat penerangan sama sekali. Auranya sangat mencekam, membuat bulu kuduknya berdiri.
Tiba-tiba ia mendengar suara lenguhan panjang milik seseorang, seperti seorang wanita yang sedang melahirkan. Ia terus mencari tahu dimana sumber suara itu. Ashila berhenti di depan ruangan bersalin, ia melihat dari jendela rumah sakit ada seseorang ibu muda yang sedang melahirkan. Ibu itu hanya di dampingi oleh dokter dan suster, tanpa ada suaminya. Kemana suaminya?
Seharusnya momen seperti ini adalah yang tidak boleh terlewatkan oleh seorang suami, ia harus menemani istrinya yang sedang berjuang melahirkan buah hati mereka.
Ashila tersadar lalu menatap Gladys. Saat ini mereka semua tengah berada di kantin sekolah.
“Ada apa, Shil? Lo lihat apa?” tanya Gladys yang sudah paham perilaku Shila.
“Iya, Shil. Apa yang lo liat?” Velly menambahkan.
“Gua seperti di bawa masa lalu,” ujar Ashila.
“Hah, maksudnya gimana?” tanya Gladys.
“Tadi gua ada di sebuah rumah sakit, tapi sepertinya itu rumah sakit jaman dulu. Soalnya, barang-barang yang gua lihat di sana seperti barang lama dan rapuh semua.”
“Terus, apa yang lo liat di sana?” tanya Velly.
“Awalnya gua denger suara seseorang, gua ikutin terus dan gua lihat ada seseorang yang sedang melahirkan di sana. Ibu tersebut hanya ditemani sama dokter, tanpa ada suaminya.”
“Kok bisa, Shil? Di mana suaminya?” tanya Gaga.
“Nah, itu dia. Gua juga gak tahu. Setelah itu gua gak liat apa-apa lagi.”
“Apa penglihatan lo itu adalah petunjuk?” tebak Gladys.
“Sepertinya sih kayak gitu,” balas Ashila.
“Lalu, apa hubungannya itu semua dengan misi kita?” tanya Velly “Jangan-jangan, itu semua ada hubungannya sama foto keluarga yang ada di buku itu?”
“Dia melahirkan bayi kembar, Shil?” sambar Gladys.
“Gua gak tau, gua gak liat sampe sejauh itu.”
“Sepertinya semua penglihatan lo itu emang petunjuk, shil.” Gaga menambahkan.
“Mungkin.”
“Nanti kita omongin lagi masalah ini, ya,” ujar Gladys.
Tidak lama, bel pertanda istirahat telah selesai berbunyi di seluruh penjuru koridor. Mereka semua menyelesaikan obrolan sampai di sana. Lalu mulai berjalan menuju kelas masing-masing.
“Bye, pulang sekolah kita ketemu lagi.” Velly dan Ivan berjalan masuk ke kelasnya.
“Dadah Velly, Ivan!” ujar semuanya.
Tinggal mereka berempat yang masih berada di koridor untuk menuju kelas masing-masing.
“Sampai ketemu pulang sekolah, Ga. Nevan juga.” Gladys dan Ashila tersenyum kepada kedua lelaki itu.
Mereka semua berbeda-beda kelas, hanya Ashila dan Gladys yang satu kelas. Awalnya Ashila dan yang lainnya itu sekelas, karena setiap tahunnya pasti akan ada perubahan. Jadilah mereka beda kelas sekarang.
Walaupun beda kelas, tetapi persahabatan mereka patut diacungi jempol. Setelah Gladys mengucapkan itu, dia dan Ashila pamit untuk masuk ke kelas mereka.
“Tunggu, Dis.” Gladys kemudian menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Gaga.
“Kenapa lagi, Ga?” tanyanya.
Gaga berjalan mendekat ke arah Gladys. “Pulang, dijemput sama Abang nggak?” tanya Gaga sambil tersenyum.
“Eoh? Nggak, nggak di jemput,” ujar Gladys. “Bang Refo ada kelas sore soalnya, jadi gak bisa jemput.”
Ingin rasanya Gaga loncat-loncat sekarang, tapi malu sama umur euy!
“Pulang bareng gua aja gimana?” tanya Gaga.
“Lah, emang biasanya juga seperti itu, kan?” tanya Gladys. “Bareng sama temen-temen juga?”
“Nggak, Dis. Hari ini mereka pulang sama gua aja, gua bawa mobil soalnya.” Nevan menyambar, dia sangat tahu keinginan teman lelakinya itu.
“Oh, gitu. Serius nih?” tanya Gladys.
“Serius lah.” Gaga terkekeh. “Jadi, mau kan?”
Gladys masih bingung, antara mau sama tidak enak juga kepada teman-temannya yang lain.
“Udah mau aja, Dis. Kita semua nggak apa-apa kok kalau ikut sama Nevan,” ujar Ashila. “Siapa tau nanti nggak jomblo lagi.”
“Apaan sih, Shil. Serius kalian nggak apa-apa?”
“Duarius.”
“Oke, kalau gitu. Gua mau.” Gladys tersenyum. “Tapi...”
“Tapi apa?” tanya Gaga.
“Nggak ngerepotin, kan?” Gaga terkekeh, kirain apaan.
“Ya nggak lah, Dis. Kan gua yang ngajak, masa ngerepotin.”
“Oke, deh.”
“Ya, udah. Kita masuk dulu ya,” pamit Ashila. Setelah Ashila dan Gladys masuk, barulah kedua lelaki itu melanjutkan langkahnya menuju kelas mereka.
“Awas, jangan lo apa-apain anak orang di dalam mobil,” ujar Nevan sambil terkekeh.
“Si kunyuk! Ya kagak lah, gua masih inget dosa woi.” Gaga meninju lengan Nevan.
“Btw, gua males masuk kelas, Ga.” Nevan mengeluh.
“Sama,” jawab Gaga.
“Cabut?”
“Skuy lah, gaaas!” Gaga terkekeh.
“Ssst! Kita cabut diem-diem, pas pulang baru tinggal ambil tas.”
“Tau gua juga! Kayak baru pertama kali cabut aja lo,” ujar Gaga.
“Lets go!”
Cowok kalau bosen gitu, ya? Suka cabut. Siapa yang sering begitu? Jangan ditiru ya apa yang dilakukan sama mereka berdua, hehe.
---
“Shil...,” panggil Gladys ketika mereka sudah sampai di kelas.
“Hmm. Kenapa, Dis?”
“Lo ngerasain yang gua rasain nggak, sih?”
“Apa tuh?”
“Entah kenapa, gua kok ngerasa hantu nenek yang sering muncul itu baik, ya. Tapi, kenapa dia selalu neror sekolah kita?” tanya Gladys. Ia mengecilkan volume suaranya, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Nah, iya. Malah dia sering kasih kita petunjuk gitu, ya, kan?” tanya Ashila. “Soal buku itu contohnya.”
“Iya, bener banget. Apa dia butuh bantuan kita juga, ya?”
“Bisa jadi, Dis.”
“Tapi apa bisa?” tanya Gladys. “Maksud gua, kasus ini aja belum selesai. Masa mau ditambah lagi.”
“Waktu itu kan lo sendiri yang bilang sama Ivan, kalau mau bantu itu jangan setengah-setengah, harus ikhlas.”
“iya, sih. Semua pasti baik-baik aja, kan?”
“Betul. Yakin deh, semua pasti berlalu. Semua akan kembali tenang pada waktunya.”
“Sip.”
“Oh iya, kemarin hantu gadis itu muncul lagi di rumah sakit. Tepatnya di ruangan dimana Papa gua di rawat.”
“Hah?!” Gladys sedikit berteriak, membuat teman-temannya yang lain menoleh.
Gladys tersenyum kikuk lalu meminta maaf. “Sorry, kelepasan.” Gladys terkekeh.
“Kok bisa, Shil? Mau apa dia di sana?”
“Dia... Dia bilang, mau bunuh Papa gua.”
Gladys melotot tidak percaya. “Hah? Papa lo jadi incaran makhluk itu juga?”
Ashila mengangguk. “Iya, Dis.”
“Dia juga selalu menginginkan gua mati, Papa lo juga. Sebenarnya apa hubungannya gua, Papa lo, sama makhluk itu. Kenapa kita selalu menjadi incaran dia.”
“Gua juga nggak tahu, Dis. Bahkan, makhluk itu juga sempat bilang pengen bunuh gua juga.”
“Dia juga selalu bilang Papa lo pembunuh, kan?” tanya Gladys.
Ashila mengangguk membenarkan. “Gua gak ngerti apa yang sebenarnya terjadi, maka dari itu kita harus segera pecahkan misteri sekolah ini, Dis.”
“Gua setuju, gua juga penasaran sama apa yang sebenernya terjadi.”
“Soal sakit kepala lo, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ashila.
“Kata Mama, sakit kepala gua ini sudah diderita sejak gua masih umur sepuluh tahun. Tapi udah lama banget gua gak ngeluh soal sakit kepala lagi, tapi akhir-akhir ini aja gua sering ngeluh sakit lagi.”
“Lo pernah nanya nggak, apa kalian dulu pernah kecelakaan?” tanya Ashila hati-hati. Takut sakit kepala Gladys timbul lagi.
“Iya, kata Mama dulu kami semua pernah kecelakaan. Ayah gua gak tertolong saat itu,” ujar Gladys.
“Terus, sebelum kejadian itu, lo inget nggak pergi sama siapa aja?” tanya Ashila.
“Nggak, gua gak inget.”
“Jangan-jangan, lo am—”
Tokk...
Tokk...
Belum sempat Ashila menyelesaikan ucapannya, guru yang bertugas ngajar hari ini sudah ada di ambang pintu dengan kotak pensil di tangannya.
“Lo mau ngomong apa, Shil?” bisik Gladys.
“Nggak jadi, nanti aja.”
Gladys mengangguk, lalu mulai mengeluarkan buku dan alat tulisnya. Pelajaran berlangsung sangat hening.