Sementara, Papa Ashila sudah dipindahkan ke ruang rawat namun masih dalam keadaan koma. Karena ia mengeluarkan banyak darah akibat kejadian hari itu.
Mama Ashila masih setia menunggu ayah dari anaknya itu, ia tidak pernah pulang ke rumah sejak suaminya dilarikan ke rumah sakit. Bahkan, makanan dan pakaian ganti pun Ashila yang membawakan.
“Pa, Papa kapan sadar?” tanya Risma, sambil memegang tangan suaminya.
“Mimpinya indah banget, ya, Pa? Sampai Papa gak bangun-bangun...” ujar Risma lirih. Ia kembali menitikkan air mata ketika melihat kondisi lemah suaminya.
“Papa gak bosen apa, tidur terus.” Risma terus saja mengajak bicara suaminya, walaupun ia tahu tidak akan mendapat balasan.
Pesan dokter memang seperti itu, ia harus banyak-banyak mengajak ngobrol pasien, dengan harapan itu semua bisa membuat pasien segera sadar.
“Papa kapan bangun?” ujar Risma, mamah Ashila. “Kalau Papa gak bangun, nanti Mama harus jelasin gimana sama Ashila tentang ini semua, Pa.”
“Mama gak bisa kalau harus sendirian, Pa.”
---
Sementara, Ashila tengah berjalan di koridor rumah sakit. Ia hendak menuju kamar Melati, di mana ayahnya di rawat. Baru saja ingin membuka knop pintu, Ashila mendengar penuturan sang Mama yang membuatnya bingung.
“Kalau Papa gak bangun, nanti Mama harus jelasin gimana sama Ashila tentang ini semua, Pa.”
“Jelasin apaan?” gumam Ashila. “Apa mereka nyembunyiin sesuatu dari gua?”
Entahlah, ia rasa ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal seperti itu. Yang terpenting sekarang, ayahnya sadar dan keluarganya bisa seperti dulu lagi. Ceria.
Ashila kemudian membuka pintu kamar ayahnya di rawat, ia menemukan Risma tengah menangis sambil memegang tangan ayahnya.
“Ma...,” panggil Ashila.
Risma menoleh, lalu kemudian tersenyum. “Kamu udah datang, gimana sekolahnya?”
“Baik-baik aja, kok. Cuma Gladys masih syok akibat kejadian semalam.”
“Memangnya kenapa sama Gladys, sayang?” tanya Risma berusaha menahan tangisnya.
“Gladys hampir mati terbunuh gara-gara makhluk itu, Ma. Dia kehabisan napas di cekik oleh dia.” Ingin sekali Ashila menyuarakan isi hatinya, namun melihat kondisi Mamahnya ia menjadi tidak tega.
“Nggak apa-apa, Ma.” Ashila menaruh plastik bawaannya. “Papa belum sadar, Ma?”
“Belum, sayang. Kayaknya Papa mimpi indah deh,” ujar Risma.
“Mama yang sabar, ya. Shila yakin Papa pasti bakal sembuh lagi.” Ashila mengusap-usap punggung mamahnya.
“Papa koma, Shil. Mama takut terjadi sesuatu sama Papa kamu.”
“Mama gak boleh ngomong gitu, kita harus doain yang terbaik buat Papa.” Ashila berusaha terlihat tegar di hadapan mamahnya. “Papa pasti sembuh kok, Ma.”
Ashila berusaha sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh, ia tidak mau menambah beban mamahnya. Ia harus menjadi penguat disaat sedang seperti ini.
“Iya, Shil.”
Tiba-tiba, lampu dalam ruangan tersebut mati. Lalu hidup kembali, mati lagi. Seperti itu terus menerus. Disusul oleh aura yang tiba-tiba mencekam dan angin yang berhembus menggerakkan tirai jendela.
Ashila yang sudah sering mengalami hal seperti ini saja kaget, apalagi Risma. Ia masih syok saat dimana Ashila kerasukan, hingga akhirnya ayahnya berakhir di rumah sakit seperti ini.
“Mau apa lagi, kamu! Jangan ganggu keluargaku!” ujar Ashila kepada makhluk gadis kecil itu. Makhluk itu terus saja muncul dimana-mana. Sebenarnya apa yang di mau oleh makhluk itu?
Makhluk itu tidak mendengarkan penuturan Ashila, dia terus berjalan mendekat ke arah Papa Ashila yang terbaring lemah. Makhluk itu berusaha untuk menarik selang infus yang menempel di tangan pasien. Juga selang oksigen yang menempel di hidung.
“Jangan! Jangan di lepas, aku mohon,” pinta Ashila. “Apa yang mau kamu lakukan terhadap Papa saya?!”
“AKU INGIN DIA MATI, AKU INGIN PUNYA TEMAN. AKU KESEPIAN, SENDIRIAN, AKU MAU DIA IKUT BERSAMAKU!” teriak makhluk itu.
“Kenapa kamu menginginkan Papa saya mati? Apa hubungannya dia dengan kematian kamu? Apa hubungannya kamu dengan keluarga saya!” teriak Ashila, karena angin belum juga berhenti.
Sedangkan Risma, ia hanya berdiam diri menatap Ashila. Ia hanya menyaksikan kekalutan putrinya, karena ia juga tidak tahu siapa yang sedang berdebat dengan putrinya.
“Tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?” tanya Ashila. “Apa hubungannya kamu, keluarga saya, dan keluarga Gladys!”
“Kamu yang sering menghantui kami, bahkan kemarin kamu hampir membuat teman kami celaka. Kenapa hanya kami berdua yang di teror oleh kamu!”
“Siapa kamu sebenarnya?!”
“PADA WAKTUNYA, KALIAN SEMUA AKAN MENGETAHUI SIAPA AKU, DAN SIAPA DIA.” Makhluk itu menunjuk Papa Ashila, lalu kemudian menghilang sepenuhnya dari hadapan Ashila.
“Kamu bicara sama siapa, sayang?” tanya Risma.
“Nggak, bukan siapa-siapa, Ma.”
Ashila melihat mamahnya yang tiba-tiba diam saja, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Entah kenapa Ashila merasa memang ada yang disembunyikan oleh mamahnya.
“Ma? Mama kenapa? Ada yang lagi mama pikirin?” tanya Ashila.
“Ngga, Shil. Mama gak apa-apa,” ujar Risma. Baiklah, untuk saat ini lebih baik Asha berpura-pura untuk percaya saja.
“Ya, udah. Kalau gitu, Shila pamit pulang dulu. Ada teman Shila yang mau datang soalnya.” Ashila berpamitan. "Mama yakin gak mau pulang dulu?”
Risma menggeleng. “Nggak, sayang. Mama di sini aja.”
“Mama keliatan capek banget loh, Mama juga keliatan kurang tidur. Pulang ya, Ma.” Ashila masih berusaha membujuk.
“Mama baik-baik aja, kok.”
Baik-baik apa yang dimaksud oleh Mama? Kurang tidur, jarang makan, itu yang disebut baik-baik aja? batin Ashila.
“Ya, suda. Kalau emang Mama gak mau pulang, Shila gak bisa maksa.” Ashila menyalami tangan Risma. “Shila pulang dulu, ya, Ma.”
“Iya, Shil. Hati-hati,” ujar Risma. Ashila mengangguk lalu beranjak keluar dari ruangan itu.
---
Saat sampai di rumah, Ashila segera bergegas untuk mandi terlebih dahulu. Lalu mulai menyiapkan kue di meja ruang tamu. Sebentar lagi teman-temannya pasti datang.
Setelah selesai mandi, yang dilakukan Ashila hanya duduk sambil menonton televisi di ruang tamu sambil menunggu mereka semua datang.
Tok...
Tok...
Ashila beranjak dari tempat duduknya menuju pintu depan, ia tersenyum mendapati teman-temannya yang sudah datang, dengan Ivan yang membawa dua plastik besar.
“Ashila!” teriak Velly.
“Berisik, Vell."
“Suka-suka gua lah, Papan!”
“Masuk dulu, yu.” Ashila mempersilahkan mereka semua untuk masuk. Tidak baik mengobrol di depan pintu.
Mereka semua duduk, lalu Ivan menyerahkan barang bawaannya kepada Ashila.
“Apa ini, Van?” tanya Shila.
“Rahasia.” semuanya terkekeh.
“Oke-oke, makasih, ya.”
“Papa lo gimana keadaannya, Shil?” tanya Velly.
Ashila menjelaskan setenang mungkin. “Papa koma, Vell. Tapi udah dipindahkan ke ruang rawat, kok.”
“Semoga Papa lo segera sadar, ya. Gua masih ngerasa bersalah kalau ingat itu,” ujar Gladys.
“Udahlah, Dis. Yang lalu biarkan berlalu,” ujar Velly.
“Iya, Dis. Papa gua kuat kok, dia pasti bisa lewatin masa kritisnya.”
“Tapi tetap aja, ini gara-gara gua. Papa Ashila koma karena nyelamatin gua,” ujar Gladys gusar.
“Dis, ini bukan salah lo. Oke? Kejadian itu murni kecelakaan,” ujar Ashila menenangkan.
“Iya, Dis. Mereka berdua bener,” ujar Nevan menambahkan.
“Maafin gua, Shil. Maaf...” ujar Gladys lirih.
“Gua udah maafin lo, gak usah khawatir.” Ashila tersenyum manis.
Gladys kemudian memeluk Ashila. “Lo emang gadis yang baik, Shil. Bodoh mereka yang gak mau temenan sama lo.”
“Yang penting sekarang, gua udah punya kalian, gua bahagia banget.”
“Gua gak di peyuk juga?” tanya Velly.
“Sini-sini,” ujar Ashila.
Kemudian Velly ikut berhambur memeluk kedua sahabatnya. “Uwu, ciwi-ciwi ku.”
Sedang yang lelaki hanya tersenyum melihat semua sahabat wanitanya.