Misteri-16

1206 Kata
Di lembaran tersebut terdapat foto dua anak kembar yang sekiranya masih berumur lima tahun. Sangat menggemaskan. “Kayaknya, gua gak asing sama foto ini.” Gladys menatap lekat kepada foto itu. “Lo kenal, Dis?” tanya Shila. “Akkhh!” Gladys tiba-tiba meraung kesakitan sambil memegang kepalanya. Buku itupun langsung dijatuhkan oleh dia. “Gladys!” teriak semuanya panik. “Lo kenapa, Dis?” tanya Gaga. “Sakit banget...” ujar Gladys lirih. “Lo kenapa sering sakit kepala seperti ini, sih?” tanya Ashila. Gaga menahan tubuh Gladys yang lemah, gadis itu masih meraung kesakitan. Tubuhnya lemas, kalau bukan ditahan oleh Gaga, mungkin Gladys sudah tidak kuat untuk berdiri. “Gua hubungin Bang Refo dulu, soal misi ini belakangan, yang terpenting Gladys dulu.” Gaga terlihat sangat panik. Semuanya mengangguk. Saat Gaga akan menelepon Refo, ada sebuah tangan yang menghentikan pergerakannya. “Nggak usah, Ga. Gua udah nggak apa-apa,” ujar Gladys. “Kalau Bang Refo tahu, gua gak bakal boleh buat keluar lagi.” “Tapi, kalau lo kenapa-napa gimana, Dis?” tanya Velly. “Nggak apa-apa, kalau misalnya lo gak boleh keluar, misi ini biar kita semua yang handle.” “Nggak bisa gitu lah, Vell. Gua gak enak, lagian gua udah nggak apa-apa kok.” “Kalau misalnya lo kenap—” “Kalau gua kenapa-napa, kan masih ada kalian yang bisa tolongin gua.” Gladys mengerling jail. “Itupun kalau kalian anggap gua temen.” “Ngomong apa sih, lo! Kita itu bukan temen...” ujar Velly menggantung. “Tapi keluarga.” Mereka tertawa mendengar penuturan Velly. Gladys merasa beruntung sekali bertemu dengan mereka semua, yang tidak memandang teman sebelah mata. Mereka selalu menghargai satu sama lain. Gladys kemudian memungut kembali buku yang sempat dijatuhkan olehnya, ia meniup-niup agar tidak ada debu yang menempel. “Kita lanjutin misi ini, gua udah nggak apa-apa.” Namun, saat ingin membuka halaman selanjutnya, terdengar suara langkah kaki yang di seret. Mereka semua menoleh ke sumber suara. Saat sampai di koridor, suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas. TAP TAP TAP Mereka terus mengikuti kemana langkah kaki itu akan membawa mereka, Gaga berada di posisi paling depan. Sedangkan Nevan berada di paling belakang. “Lo kenapa ada di tengah kayak gini, sih! Cowok bukan lo?” tanya Velly sewot. “Cowo, lah! Mau gua buktiin?” tantang Ivan. “Berisik Vell, Van!” tegur Ashila. “Ivan ngeselin soalnya, Shil.” “Ngeselin apaan sih, yaampun. Gua daritadi diem aja loh,” ujar Ivan. “Bagi gua, diem nya lo juga ngeselin!” “Salah terus gua, heran.” “Muka lo ngeselin, minta di tabok.” “Tabok dah.” “Stop!” Setelah Gladys mengatakan itu, barulah keduanya tidak berdebat lagi. Suara langkah kaki itu masih terdengar samar-samar, mereka terus mengikuti kemana arahnya. “Sebenarnya itu langkah kaki siapa, sih?” bisik Velly kepada Ashila. “Kepo,” celetuk Ivan. “Gua gak nanya sama lo, Papan!” “Gua juga nggak tahu, Vell. Gua gak bisa lihat siapa pemilik suara langkah itu.” “Masa sih, Shil?” Ashila mengangguk. “Aneh banget, kan?” Mereka semua tiba di depan gudang sekolah, suara langkah itu terdengar masuk ke dalam dan pintu gudang tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Gaga memberi isyarat dengan kepalanya, agar mereka semua masuk. Dengan ragu akhirnya mereka semua masuk. Braakk! Pintu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya, padahal tidak angin apapun. Gaga mencoba untuk membuka, tetapi tidak membuahkan hasil, mereka terkunci di dalam. Tidak lama, terdengar suara tawa yang sangat melengking. Jika saja suara itu berasal dari manusia, mungkin tidak akan menjadi semenakutkan ini. Suara itu sukses membuat bulu kuduk mereka semua berdiri. Lalu tercium bau yang sangat amis bercampur dengan bau tanah. Mereka semua menoleh ke belakang, namun tidak ada siapapun di sana. “Pergi! Jangan ganggu kami!” teriak Ashila. Yang lain memang tidak bisa melihat, namun berbeda dengan Ashila. Ia melihat makhluk gadis itu lagi. Bau amis bercampur tanah itu berasal dari makhluk itu. Ivan berlari mengumpat di belakang Nevan. Ashila maju beberapa langkah, berusaha untuk menggapai makhluk itu. Tetapi, Ashila justru malah terpental menghantam tembok. “Ashila!” teriak Nevan, lalu menghampiri Ashila. Ashila berusaha berdiri kembali dengan bantuan dari Nevan, ia kembali menghampiri makhluk itu. Makhluk itu berjalan mendekat ke arah Velly, lalu memasuki tubuh gadis itu yang sedari tadi melamun. Velly sangat ketakutan, untuk itu ia diam saja daritadi. “Mundur! Itu bukan Velly!” teriak Ashila. Mereka semua mundur, karena ruangan yang sempit, mereka menghantam dinding pembatas. Sedangkan makhluk itu terus mengikik melalui anggota tubuh Velly. “KENAPA DIA TIDAK MEMBIARKAN AKU HIDUP! AKU KESEPIAN DI SINI, AKU TIDAK BISA TENANG! AKU INGIN HIDUP, KENAPA AKU DI BUNUH!” teriak Velly, lebih tepatnya makhluk yang merasuki tubuhnya. Mereka semua terkejut, siapa yang dimaksud oleh makhluk itu? Siapa pembunuhnya? Lalu untuk apa dia menghantui mereka semua. “Keluar dari tubuh teman saya! Kami semua tidak ada sangkut pautnya dengan itu semua!” Ashila berteriak. “Siapa yang membunuh kamu! Biarkan kami menolong kalian!” “Vell sadar, Vell!” teriak Ivan. “Kami akan membantu, jika kamu memberitahu kami! Jangan seperti ini!” Gladys ikut berteriak. “Aku juga tidak tahu apa yang membuat kamu, selalu menginginkan aku MATI!” “AKU KESEPIAN, AKU INGIN HIDUP! KENAPA DIA MEMBUNUHKU!” Makhluk itu terus saja meneriakkan kata itu. Sebenarnya siapa dalang dibalik ini semua? Velly berjalan mendekat ke arah Gladys, saat ini tatapan Velly sangat kosong karena tubuhnya sudah dikendalikan oleh raga lain. Velly terus saja berjalan mendekat ke arah Gladys, sedangkan Gladys terus mencari jalan untuk menghindari Velly saat ini. Kemudian kedua tangan Velly terjulur ke depan, dia terus saja berjalan mendekat ke arah Gladys. Gladys sudah tidak bisa mundur lagi, lalu Velly berhasil menaruh tangannya di kedua leher gadis itu. Gaga dan yang lainnya sudah membantu melepaskan cekikan Velly, namun tenaga Velly tidak bisa tertandingi. Akibatnya Gladys menjadi terbatuk-batuk karena cekikan itu semakin mengerat. Keringat mengucur deras di pelipis Gladys,  gadis itu sangat ketakutan saat ini. Ia sudah berpikiran macam-macam ketika cekikan itu semakin mengerat, membuat sesak napas. Rasa takutnya semakin bertambah kala melihat teman-temannya tidak berdaya. “Velly sadar! Gladys temen kita, dia bisa mati!” Ashila terlihat putus asa. “ITU YANG AKU MAU, AGAR AKU PUNYA TEMAN!” Tidak, tidak boleh terjadi. Gaga kembali berdiri, namun tubuhnya kembali terpental. “Tolong lepaskan teman kami! Apa sebenarnya yang kamu mau?” Makhluk di tubuh Velly menoleh ke arah Ashila. “KALIAN MATI, DAN PEMBUNUH ITU JUGA MATI!” “Apa maksudnya kalian? Kamu ingin membunuh saya juga?” tanya Ashila. Makhluk itu tidak menjawab, ia kembali menatap Gladys. “Kenapa kamu begitu menyimpan dendam kepada Gladys, apa yang sebenarnya hubungan kalian berdua?” “Arghh!” pekik Gladys memegang kepalanya. “Gladys!” teriak mereka semua. “Lepaskan dia, kami mohon!” Tidak, makhluk itu terlihat sangat menyimpan dendam kepada Gladys. Keadaan Gladys sangat mengenaskan, sakit akibat cekikan, ditambah dengan sakit kepala yang tiba-tiba menyerang. Kurang apalagi penderitaan kamu Gladys! Gladys memejamkan matanya erat, dia sudah pasrah. Kalaupun dia harus mati di sini, biarlah. Kalau dirinya yang dijadikan tumbal agar semua kembali tenang, Gladys akan menerimanya. Ia menyerahkan hidupnya kepada makhluk itu. Air mata mengucur dari pelupuk matanya, semakin lama semakin deras. Gladys sesegukan. Dia sudah pasrah, sepasrah-pasrahnya. Namun tidak di sangka, cekikan itu perlahan mengendur dan terlepas sepenuhnya dari leher Gladys. Tidak lama, Velly jatuh pingsan dengan badannya yang sangat lemah. Makhluk itu sudah keluar dari tubuhnya. Syukurlah! Gladys ikut menjatuhkan tubuhnya karena lemas, sambil terus menangis sesegukan. Kemudian Gaga menghampiri Gladys berusaha untuk menenangkan pikiran gadis itu. Sementara yang lain, berusaha untuk membantu menyadarkan Velly. “Sadar, Vell.” Ashila menepuk-nepuk pipi gadis itu. “G-gua masih hidup kan, Ga?” tanya Gladys di sela-sela tangisnya. “Lo bakalan tetep hidup.” “Gua takut banget, Ga. Velly mau bunuh gua.” “Ssst! Velly cuma dirasuki arwah gentayangan, itu bukan salah Velly, Dis.” “Gua ta-kut... Hiks....” “Lo aman sekarang, kita bakal jaga lo mulai sekarang.” Gladys kemudian menyandarkan tubuhnya pada Gaga. Gaga mengusap-usap punggung gadis itu. Kemudian di tembok muncul tulisan dari darah yang mengalir. KELUAR! SEBELUM KALIAN SEMUA MATI! Saat itu pula, pintu terbuka dengan sendirinya. Mereka dengan segera keluar sebelum pintu kembali terkunci. Setelah berada di luar, barulah mereka semua bisa bernapas lega. Velly yang masih pingsan, di gendong oleh Ivan menuju mobil Gaga. Mereka semua memutuskan untuk segera mengakhiri saja misi kali ini. Akan sangat berbahaya jika mereka terus melanjutkan. Sementara....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN