Misteri-15

1075 Kata
Malam hari, Gladys tengah bersiap-siap untuk kembali menemui teman-temannya yang akan melanjutkan misi. Sesuai rencana, mereka akan bertemu di jalan dekat rumah Gladys. Gladys buru-buru keluar, tidak mau temannya menunggu lama. Namun, ia merasa seperti ada yang kurang. Gladys langsung menghentikan langkahnya ketika teringat sesuatu, ia lupa membawa buku yang disuruh oleh Ashila. Gladys kembali memasuki rumah, namun gadis itu lupa manaruh bukunya dimana, ia terus mengacak-acak lemarinya untuk mencari buku tersebut. “Duh, ke mana, ya?” Gladys tidak berhenti, ia terus membuka satu-persatu laci lemarinya. Finally! Setelah membuka laci terakhir, Gladys akhirnya menemukan buku tersebut. Gladys tersenyum riang ketika mendapatkannya, seperti menemukan air di padang pasir. “Kemana aja sih, lo! Nyusahin aja,” omel Gladys kepada buku itu. “Pokoknya, hari ini kita semua gak boleh gagal. Kita harus bisa menyelesaikan misi ini.” Gladys hendak melangkah keluar, namun ia di kagetkan dengan tulisan dibalik pintu kamarnya. “Segera selesaikan misi itu,” eja Gladys. “Siapa yang nulis, nih?” tanya Gladys pada dirinya sendiri. “Bang Refo? Gak usah iseng deh, Bang!” teriak Gladys. “Eh iya, Bang Refo kan masih main di rumah temennya.” Gladys menepuk dahinya. “Terus, kalau bukan dia, siapa dong?” “Bodoamat, lah! Yang terpenting sekarang gua harus segera ketemu mereka.” Gladys tiba-tiba mematung ketika melihat makhluk nenek itu berdiri tidak jauh darinya. Gladys mundur ketakutan, namun makhluk itu justru tersenyum lalu langsung menghilang. “Rumah gua kenapa jadi horor kayak gini, dah.” Gladys dengan segera berlari keluar kamarnya. Tidak lupa juga membawa buku usang di tangannya. “Tau, ah! Gua harus cepet-cepet sampai ke sana, pasti mereka udah nunggu lama.” --- “S-sory, ya, gua telat.” Gladys datang dengan napas tersengal. Karena ia berlari dari rumahnya, sampai ujung jalan. Tempat mereka bertemu. “Lo ketiduran atau gimana, sih? Kok lama banget,” ujar Ashila. “Ketiduran mata lo! Orang gua dari pagi gak bisa tidur, padahal tadi siang ngantuk banget, tapi tetep aja nggak tidur.” Curhat, Buk? “Terus, kenapa bisa lama?” tanya Ivan. “Yaelah, Van. Gua cuma telat lima menit doang.” “Waktu adalah uang, Dis. Kita gak boleh buang-buang waktu, itu sama aja kayak kita buang-buang uang.” “Iye-iye, hampura. Lagian dari rumah gua sampai sini kan jauh, jadi ya maaf kalau telat dikit.” “Its okay, no problem.” “So Inggris lo, kunyuk!” “Sirik aja lo, Nev!” “Ora sudi.” “Ada masalah apa emang, Dis?” “Nggak apa-apa, tadi gua cuma lupa naro bukunya dimana. Makanya gua cari dulu,” ujar Gladys. Gaga menghampiri Gladys dengan sebotol air mineral di tangannya. “Minum, Dis. Kayaknya lo capek banget.” Gladys menerima air itu di tangan Gaga. “Makasih, Ga.” “Sama-sama.” “Oh iya...” Gladys merogoh saku celananya, mengambil sesuatu yang tadi sempat dirinya robek. “Tadi, pas gua mau kesini, ada yang tempel ini pintu kamar gua.” Gladys menyodorkan secarik kertas yang berisi tulisan misterius. Ashila menerima sodoran itu, lalu temannya semua berkumpul untuk mengetahui apa isi surat tersebut. “Segera selesaikan misi itu,” eja Ashila. “Maksudnya apa, Dis?” “Jadi gini, tadi pas gua mau ke sini, gua sempet cari bukunya dulu, kan. Karena gua lupa naro di mana. Nah, pas mau keluar, tiba-tiba udah ada tulisan ini.” “Awalnya gua mikir ini ulah iseng Abang gua, tapi saat itu Abang gua lagi nggak ada di rumah.” Gladys menjelaskan. “Gua juga sempet lihat nenek itu, Shil. Dia senyum sama gua.” “Senyum?” tanya Ashila kaget. “Dia senyum sama lo? Itu artinya lo bisa lihat dia?” “Iya, Shil. Gua juga gak tau keahlian darimana sehingga bisa melihat mereka yang tidak bisa terlihat.” “Apa mungkin, nenek itu ada hubungannya sama kasus ini?” tanya Velly. “Bisa jadi,” balas Gladys. “Atau mungkin, nenek itu juga sebenarnya butuh bantuan kita?” “Kita harus bantuin nenek itu juga?!” tanya Ivan syok. “Nggak, deh. Satu aja belum kelar, masa mau nambah lagi.” “Van! Kalau mau bantu itu jangan setengah-setengah, harus ikhlas.” “Gua ikhlas, Dis. Masalahnya, kita juga kan harus fokus sama sekolah.” “Gua tau itu, tapi kita bisa kok lanjutin misinya pas pulang sekolah, atau pas malam kayak gini.” “Tapi, Dis—” “Van!” Gladys sedikit membentak. “Terserah kalian, deh. Gua ikut,” ujar Ivan pasrah. “Yakin, deh. Semua pasti akan baik-baik aja,” ujar Nevan memukul pelan bahu Ivan. “Iya, Nev.” “Loyo banget sih, lo!” tukas Velly. Ivan menegakkan tubuhnya. “Gua semangat, kok!” “Gitu dong! Itu baru namanya Ivan,” ujar Nevan. “Lah, emang daritadi nama gua apaan?” “Papan!” “Bully aja terus!” Semuanya tertawa melihat raut kesal Ivan, ada-ada saja tingkah lelaki itu. Tetapi, berkat Ivan pula cerita mereka menjadi lebih lengkap, tidak terlalu monoton pula. Ivan si gesrek, Velly tukang marahin Ivan, Gaga yang santai, Gladys yang ramah, Ashila si anak indigo, dan Nevan tukang bully Ivan. Lengkap. *** Setelah berdebat cukup panjang kali lebar, akhirnya mereka semua memutuskan untuk segera menuju sekolah. Tidak lama, mobil Gaga berhenti di depan gerbang SMA Kebangsaan. Karena jarak dari rumah Gladys ke sekolah lumayan dekat, jadi mereka tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di jalan. Suara jangkrik dan binatang lainnya bersahut-sahutan, ditambah dengan pohon beringin yang menjulang tinggi membuat kesan sekolah ini menjadi berkali-kali lipat lebih horor. Gaga menggelengkan kepala sekali, memberi tanda agar mereka semua segera masuk ke dalam. Akhirnya mereka mencoba memberanikan diri untuk segera masuk. “Dis, kenapa kita gak coba buka buku itu? Siapa tau ada petunjuk di dalamnya,” ujar Nevan. Mereka semua mengangguk setuju. Gladys menoleh ke teman-temannya, setelah mereka semua mengangguk, barulah Gladys mencoba membuka buku itu. Gladys gemetar saat akan membuka halaman pertama buku tersebut. Lagi, angin kembali bertiup sangat kencang, membuat mereka semua menyilang kan kedua tangan. Sebenarnya apa yang terjadi? Jika memang mereka ingin dibantu, lalu untuk apa mereka menghalangi misi ini? “Tetep buka, Dis. Lo bisa!” teriak Gaga. Gladys berusaha untuk bisa membuka buku itu, walau sedikit terhalang oleh rambut panjangnya yang terus saja menutupi mata tertiup angin. Akhirnya Gladys berhasil membuka lembaran pertama dari buku itu, di sana terdapat sebuah foto keluarga. Ayah, ibu, dan anak kembar. Namun, wajah ayah dan ibunya tercoret oleh pena. Membuat mereka tidak mengetahui siapa keluarga itu. Teka-teki baru. Beruntung, angin sudah sedikit mereda saat ini. “Shil, sini deh!” panggil Gladys. Ashila menghampiri Gladys, begitupun dengan teman-temannya yang lain. Mereka penasaran apa yang terdapat dalam buku itu. “Foto apaan ini, Dis?” tanya Ashila. Gladys menggeleng. “Gua juga gak tau Shil, mereka itu siapa.” Gladys menatap satu-persatu temannya, berharap mereka semua mempunyai pendapat yang berbeda. “Kalian tau, mereka ini siapa?” “Tunggu... Kayaknya, bayi ini kembar deh. Iya, kan?” tanya Velly, merebut buku yang berada di tangan Gladys. “Iya, bener. Lihat aja sepatunya,” ujar Ivan. “Kok lo malah salfok sama sepatunya, sih?” tanya Velly. “Daripada salfok sama yang lain.” “Hish!” “Coba buka halaman selanjutnya, Dis.” Gladys menuruti apa yang dikatakan oleh Gaga. Saat Gladys membuka halaman selanjutnya, terdapat tulisan yang sedikit agak memudar karena bukunya sudah terlalu usang. Semoga kalian baik-baik saja, mamah menyayangi kalian.... Dua putri kecil kesayangan mamah, yang kelak akan tumbuh dewasa. Terimakasih sudah menjadi pelengkap keluarga ini.... Mereka semua saling menatap satu sama lain, meminta jawaban atas tulisan tersebut. Siapa keluarga yang berada di foto itu, lalu apa hubungannya dengan ini semua? Karena tidak mendapat jawaban, Gladys akhirnya membuka lembaran selanjutnya. Di lembaran tersebut, terdapat....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN