Saat tiba di rumah sakit, Papa Ashila langsung dilarikan menuju UGD, Mama Ashila disuruh untuk menunggu di luar saja. Agar dokter bisa lebih fokus melakukan tugasnya.
“Mama yakin, Papa pasti kuat.” Mama Shila harap-harap cemas ketika menunggu.
Mama Ashila sendiri bingung, kenapa ini semua bisa menimpa keluarganya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubungannya ini semua dengan keluarga mereka?
Mama Ashila masih terus menangis, sembari menggosokkan kedua tangannya, berharap agar suaminya segera sadar.
“Pa, kenapa Papa jadi seperti ini. Kenapa Papa harus menyelamatkan anak itu? Memangnya siapa dia.”
“Semoga cepat sadar, Pa.”
***
Sedangkan Ashila dan yang lainnya masih berada di rumah, karena mereka benar-benar syok mengalami hal seperti ini. Apalagi bagi Ashila dan Gladys, kedua gadis itu pasti sangatlah syok.
Ashila tersadar dari pingsan, ia mencoba untuk duduk namun di tahan oleh Velly. “Lo tiduran aja, Shil. Lo pasti syok banget tadi.”
Ashila menuruti perintah Velly, ia mengerjapkan matanya dan mendapati semua temannya berada di sisinya.
“Kalian kok ada di sini?” tanya Ashila. “Kenapa gak sekolah?”
Ashila berbaring di tengah, dihimpit oleh Velly dan juga Gladys. Sedangkan Gaga, Ivan, dan Nevan mereka duduk di kursi panjang dekat kasur Ashila.
Gladys sedari tadi terus menundukkan kepalanya. Gaga menatap cemas ke arahnya. “Dis, gak usah terlalu dipikirin.”
“Gak bisa, Ga!” bantah Gladys.
“Shil, gua bener-bener minta maaf. Gua gak bermaksud buat Papa lo celaka,” ujar Gladys penuh penyesalan.
“Papa gua kenapa, emangnya?” tanya Ashila langsung bangkit dari tidurnya.
“Papa lo dilarikan ke rumah sakit, Shil. Dia celaka gara-gara nyelamatin Gladys,” ujar Velly.
“Kok bisa?” tanya Ashila panik.
“Gua bener-bener nyesel, Shil. Harusnya gua bisa jaga diri gua sendiri.” Gladys kembali menangis.
Ashila memeluk Gladys, berusaha untuk menenangkan nya. “Gak apa-apa, Dis. Papa gua kuat kok, hehe.”
Ashila bisa menghibur orang lain, sedangkan dirinya sendiri juga sebenarnya sedang butuh hiburan. Papanya celaka, bagaimana bisa dirinya tenang sekarang.
Velly paham posisi Ashila juga sebenarnya sedang butuh hiburan, ia kemudian ikut berhambur ke pelukan mereka berdua. Mengusap-usap punggung keduanya bergantian.
“Papa lo pasti gak apa-apa kok, Shil. Gua yakin.” Velly tersenyum. “Lo juga, Dis. Gak usah terlalu dipikirin masalah ini. Itu semua murni kecelakaan.”
“Iya, Dis. Anggap aja lo nggak liat kejadian tadi.” Ashila melepas pelukannya, lalu menatap mereka berdua bergantian.
“Gua mau liat keadaan Papa, kalian mau anterin kan?” tanya Ashila.
Gladys menoleh kepada Gaga dan yang lainnya. “Tapi, lo kan masih lemes, Shil.” Nevan angkat bicara.
“Gua udah nggak apa-apa, Nev.” Ashila memohon. “Pliiiis, anterin gua.”
“Lo yakin?” tanya Nevan.
“Yakin, Nev. Gua kuat kok.”
“Ya, udah kalau gitu. Ayo,” ajak Gaga yang punya mobil.
Saat mereka sedang bersiap untuk pergi, tiba-tiba saja lukisan di kamar Ashila terjatuh. Lalu disusul oleh lukisan lainnya yang.mengeluarkan darah. Lagi-lagi, angin bertiup sangat kencang. Mereka semua segera berlari keluar kamar, sebelum terjadi sesuatu hal yang lain.
Ashila menghentikan langkahnya, ia melihat hantu nenek itu lagi. “Nenek mau apalagi?!” teriak Ashila. Yang lainnya sudah tidak heran lagi dengan tingkah Ashila.
“BUKU ITU, BUKA BUKU ITU! SELESAIKAN MISI KALIAN!” Setelah mengucapkan itu, arwah nenek tersebut langsung menghilang.
Ashila menatap Gladys dan Gaga bergantian. “Buku, mana buku itu, Dis?” tanya Ashila.
“B-buku yang mana?” Gladys balik bertanya.
“Buku itu. Buku usang yang waktu itu kalian tunjukkin sama kita, yang kalian temukan di perpustakaan sekolah.” Ashila sangat semangat mengatakan hal itu .
“Oh buku itu, bukunya ada di rumah gua, Shil.” Gladys heran. “Memangnya ada apa di dalam buku itu?”
“Gua juga nggak tahu, tapi nenek itu selalu nyuruh gua buat buka buku itu.”
“Nenek?” beo Ivan.
“Nenek penjaga taman belakang sekolah,” ujar Ashila. Ivan langsung menegang seketika, ternyata mitos itu benar? Ternyata benar-benar ada seorang nenek yang menjaga taman belakang sekolah?
“Yang bener, Shil?” tanya Ivan.
“Gua gak bohong, Van.”
Sedangkan angin belum juga berhenti, mereka semua menyilangkan kedua tangan di depan wajah akibat angin yang semakin kencang. Lalu munculah makhluk gadis itu lagi, ia berjalan menghampiri Gladys hendak mencekiknya. Namun, ditahan oleh Ashila.
“DIA HARUS MATI! AKU TIDAK INGIN SENDIRIAN DI SINI, AKU MAU PUNYA TEMAN!”
“Alam kita sudah beda! Kamu harus bisa menerima kenyataan bahwa kamu berbeda dari kami! Biarkan kami hidup tenang, stop menghantui sekolah kami!” teriak Ashila.
“KAMU HARUS MERASAKAN, APA YANG AKU RASAKAN!”
“Stop menyimpan dendam, karena itu yang akan buat kamu semakin susah buat kembali ke alam yang sesungguhnya!” Entah keahlian darimana, kini Gladys bisa melihat sosok gadis itu.
“Apa yang membuat kamu dendam sama saya? Kenapa kamu selalu menginginkan saya mati? Kenapa!” bentak Gladys.
“AKU INGIN KAMU IKUT BERSAMA KU, LALU KITA BERBAHAGIA DI SANA.”
“Stop! Alam kita sudah berbeda, kamu halus, sedangkan kami kasar. Apa yang diinginkan halus kepada kasar?” Gladys terlihat lelah. “Buang semua dendam kamu di dunia, karena itu yang menghambat kamu untuk kembali ke alam kamu.”
“Kalau memang kamu butuh bantuan, beritahu kami! Maka kami akan membantu. Jangan seperti ini, karena ini semua membuat kami semakin membenci kalian!”
“Alam kita sudah berbeda, kamu harus bisa menerima takdir. Mungkin takdir kamu menikmati dunia hanya sampai di situ, tenanglah di alam kalian, jangan pernah menganggu kami yang berada di dunia.”
Makhluk itu seketika menghilang, tidak tahu kemana. Barulah angin mereda, dan mereka semua bisa bernapas lega kembali. Tidak menyangka kalau misi mereka akan menjadi serumit ini.
Ingin rasanya berhenti saja, tetapi tidak mungkin. Mereka baru memulai, tidak mungkin hanya karena masalah ini mereka akan berhenti. Mau tidak mau, mereka harus maju demi kebaikan bersama.
“Gengs, gua gak mau nunda-nunda misi ini lagi. Malam ini, kita harus segera cari bukti lain, supaya teror seperti ini nggak ada lagi,” ujar Ashila.
“Gua setuju.”
“Gua gak mau ada yang celaka lagi, cukup Papa gua sama Gladys aja.”
“Gua harap juga begitu,” tambah Gladys.
“Soal buku tadi?” tanya Gladys.
“Kita cari tahu, apa yang ada di dalamnya. Sepertinya itu adalah petunjuk, tapi tidak yakin juga sih.”
“Bisa jadi, Shil. Lo bilang, nenek itu selalu meminta lo buat buka buku itu, kan?” tanya Nevan.
Ashila mengangguk. “Iya, Nev.”
“Bener kata Nevan, Shil. Siapa tau itu bisa membantu kita selesaikan misi ini,” tambah Ivan.
“Tumben bener lo, Van.”
“Yakali gua gesrek terus, author nya juga masih kasihan sama gua, Vell.” Ivan terkekeh. “Dia gak mungkin buat scene gua di bully terus.”
“Iya-iya, untung authornya masih baik ya, sama lo.”
“Iyalah.” Ivan tersenyum bangga. “Nuhun, thor. Hehe.
“Berisik, Van!” ketus Nevan.
“Apa? Iri bilang bos!” balas Ivan.
“Cih!”
“Mereka bener, Shil. Gak ada salahnya kita coba dulu, jangan nyerah sebelum mencoba dong.” Velly menambahkan.
“Oke. Jadi kalian semua setuju, ya, buat lanjutin misi malam ini?” tanya Ashila.
“Setuju!” balas mereka serempak.
“Kalau gitu, kalian pulang dulu aja. Kita gak jadi ke rumah sakit hari ini, gua juga mau istirahat aja.” Ashila tersenyum.
“Lo beneran nggak apa-apa ikut lanjutin misi nanti malam?” tanya Nevan. “Muka lo aja masih pucet, Shil.”
“Ngga, Nev. Gua nggak apa-apa.”
“Ya udah, deh.”
“Nanti malam kita ketemuan di dekat jalan rumah Gladys aja,” ujar Ashila. “Lo harus bawa buku itu, Dis.”
“Siap, Shil.”
“Semoga misinya segera tuntas, agar sekolah juga tenang.”
“Tapi tunggu...” Velly menginterupsi.
“Kenapa lagi, Vell?”
“Kalian ngerasa aneh nggak sih sama bokap Ashila tadi?” tanya Velly. “Kenapa dia ngorbanin dirinya untuk menyelamatkan Gladys.”
“Gua setuju sama, Velly.” Ivan menambahkan.
“Ikut-ikutan aja lo, kunyuk!”
“Heh, gua lagi serius ya.” Ivan menoleh ke arah Ashila. “Apa mungkin, ini semua ada hubungannya sama keluarga kalian? Secara makhluk itu selalu meneror kalian berdua.”
“Gua setuju, sih. Selama ini cuma kalian berdua yang selalu dapat teror, sedangkan kita semua gak pernah.” Nevan menambahkan.
“Dia juga punya anak gadis. Mungkin aja, ayahnya Ashila melakukan itu semata-mata hanya karena naluri seorang ayah yang ingin menyelamatkan anaknya.”
“Bisa jadi. Mungkin bener apa yang dikatakan sama Gaga,” ujar Gladys. “Tapi, tetep aja gua ngerasa bersalah.”
“Itu udah berlalu, Dis. Gua yakin ayah kuat kok,” ujar Ashila tersenyum. “Kita gak tahu endingnya gimana, yang terpenting sekarang kita semua baik-baik aja.”
“Yang lalu, biarlah berlalu, Dis. Sekarang, kita hanya perlu mendoakan agar ayahnya Ashila segera pulih,” ujar Ivan.
“Semoga ya, Van.”
“Amin!”
“Amin.” Ashila tersenyum. “Thanks, guys. Semoga doa kalian di dengar sama yang di atas.”
Mereka semua tersenyum. Karena dirasa sudah tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, mereka semua akhirnya berpamitan untuk segera pulang. Tidak jadi untuk menemui ayahnya Ashila yang berada di rumah sakit.