Asap tebal menyelimuti pandangan seorang gadis, gadis itu hanya berdiri sendiri. Ia terus berusaha mencari tahu dimana dirinya sekarang. Dia berjalan menyusuri tempat gelap ini. Tunggu... Ini adalah sekolah nya, sekolah yang penuh misteri tersebut.
“Kenapa tiba-tiba gua ada di sekolah?” tanya gadis itu pada dirinya sendiri.
Ia mengamati dirinya sendiri, saat ini ia masih mengenakan piyama tidurnya. Gadis itu adalah Ashila, si anak indigo.
Ashila terus menyusuri koridor gelap sekolahnya, ia terus mengikuti arah langkahnya yang akan membawa kemana. Tiba-tiba, langkahnya terhenti di depan gudang. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba dirinya berhenti di tempat ini.
Dengan ragu, Ashila membuka pintu gudang. Gelap, sangat gelap. Ashila berjalan tanpa membawa damar ataupun lilin. Namun, saat dirinya memasuki ruangan gelap itu, tiba-tiba kursi dan meja tidak terpakai bergerak-gerak sendiri menimbulkan suara bising di kegelapan.
“Siapa di sana? Tolong tunjukkan diri kalian, aku tidak takut sama kalian!” teriak Ashila.
Ashila seperti merasakan ada seseorang yang lain, selain dirinya di belakang. Saat Ashila menoleh, ia mendapati seorang nenek tua.
“Nenek siapa?” tanya Ashila memberanikan diri. “Atau, mitos itu emang bener? Nenek yang selalu menghantui sekolah ini, tempat nenek di taman belakang sekolah?”
Makhluk itu tidak menjawab, ia terus memperhatikan wajah Ashila lekat. Muka pucat, juga badan yang sedikit bungkuk. Tidak ada bagian tubuh yang hancur, hanya saja kening nenek itu yang mengeluarkan darah.
“BUKA BUKU ITU!” teriaknya. Ashila bingung, buku apa yang dimaksud oleh dia?
“B-buku apa? Buku yang mana?”
“BUKA BUKU ITU, AYAH MEREKA, AYAH KALIAN!” Makhluk itu seperti memberi petunjuk satu persatu kepada Ashila.
Ia mencoba mengingat buku apa yang dimaksud oleh nenek ini. Tiba-tiba ingatannya tertuju kepada buku yang ditemukan oleh Gladys waktu itu. Ashila yakin, pasti buku tersebut yang dimaksud oleh nenek ini.
“Apa buku itu yang dimaksud oleh ne—” Saat Ashila menoleh, makhluk itu sudah tidak ada ditempatnya. Ashila kembali menatap ke depan, namun tiba-tiba tubuhnya terpental jauh dari tempatnya.
“Siapa kamu!” Ashila berusaha bangkit. Ia mendapati makhluk gadis yang belakangan ini selalu mengganggu dirinya dan juga Gladys.
“Arghh!” erang Ashila. Akibat dorongan yang tiba-tiba, jidat Ashila mengeluarkan darah karena kerasnya benturan.
Ashila bangkit kembali sambil berusaha menahan nyeri di jidat dan punggungnya. Namun, tiba-tiba tubuh Ashila terpental kembali hingga terdengar suara sangat bising. Tangannya mengeluarkan darah yang sangat banyak, karena Ashila membentur besi yang berada di sana.
“Argh! Stop! Apa yang kamu inginkan dari saya? Saya akan membantu jika kamu membutuhkan pertolongan!” Ashila berteriak.
Makhluk itu kembali berjalan ke dekat tubuh Ashila yang lemah, namun tiba-tiba ada suara yang membuat makhluk itu menghilang seketika.
“Ashila, bangun Shil. Kamu kenapa, Sayang?” Suara mamah Ashila, lah yang membuat makhluk itu tiba-tiba menghilang.
Risma terlihat sangat panik, kenapa putrinya bisa mengeluarkan banyak sekali darah, padahal dirinya sedang tertidur.
“Bangun, Shil. Kenapa banyak darah seperti ini, nak. Bangun, Shil!” teriaknya membuat Ashila langsung terbangun dari tidurnya.
Ashila dibuat terkejut dengan keadaannya saat ini, kenapa darah itu bisa sampai terbawa ke dunia nyata? Ia menatap mamah dan papahnya yang terlihat sangat cemas dengan keadaannya saat ini.
“Shila, nggak apa-apa.”
“Nggak apa-apa bagaimana, darahnya banyak banget sayang. Mamah obatin dulu, ya.”
“Coba cerita sayang, kenapa kamu jadi seperti ini?” tanya Risma di sela-sela mengobati luka Ashila.
“Kalau aku cerita, apa kalian bakal percaya?” tanya Ashila.
Keduanya saling menatap, lalu diam kembali tanpa menjawab pertanyaan Ashila.
Ashila tersenyum sinis. “Kalian diem, kan? Kalau gitu, apa gunanya Shila cerita sama kalian?” Ashila beranjak ke kamar mandi ketika mamahnya sudah selesai mengobati lukanya.
Orang tua Ashila langsung keluar dari kamar putrinya. Lain hal dengan Ashila, baru saja gadis itu tiba di kamar mandi, tiba-tiba saja sabun mandinya terjatuh.
Ashila mengambil sabun itu dengan cara kedua kaki di lebarkan, namun saat hendak mengambil ia melihat gadis berambut panjang di antara celah kedua kakinya yang terbuka lebar. Ashila kembali berdiri tegak, gadis kecil itu berjalan mendekat ke arah Ashila.
Ashila merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, ia sadar, tetapi rasanya tubuhnya sedang dipermainkan oleh raga lain. Ya, gadis itu yang telah masuk ke tubuh Ashila dan mengendalikan tubuhnya.
Ashila keluar kamar mandi dengan tubuh yang sudah dikendalikan oleh gadis kecil itu. Ia pergi menuju ruang tamu, dimana papah dan mamah Ashila berada di sana.
“KAMU HARUS MATI!” Ashila tiba-tiba mencekik leher papahnya. Dengan tatapan nyalang, Ashila terus mencekik papahnya. Membuat lelaki itu terbatuk-batuk.
“Lepasin, Shil! Kamu kenapa, sayang?” tanya mamahnya.
“DIAM!” geram Ashila, lebih tepatnya makhluk yang mengendalikan tubuh Ashila.
Risma berusaha melepaskan cekikan pada leher suaminya, namun ia justru malah terpental karena tenaga Ashila jauh lebih kuat.
“PEMBUNUH! AKU TIDAK AKAN BISA TENANG SEBELUM JASADKU DI TEMUKAN!” teriak makhluk itu.
“AKU KESEPIAN, AKU INGIN KAMU MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN! AKU INGIN KAMU MATI!”
“Kamu kenapa, Shil? Ini papah kamu, lepasin dia nak.” Mama Ashila masih berusaha memohon.
“DIAM KAMU! AKU BUKAN ASHILA, AKU BUKAN ANAK KAMU!” makhluk itu menggeram kepada Risma.
Ashila kembali menatap tajam papahnya. “KENAPA KAMU MEMBUNUHKU? APA AKU TIDAK LAYAK UNTUK HIDUP?!”
Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, membuat pintu rumah Ashila terbuka sangat lebar. Daun-daun kering beterbangan masuk ke dalam rumah, lampu ruang tamu Ashila bergoyang-goyang seperti ada yang memainkan.
Lalu, Gladys dan yang lainnya datang, awalnya mereka ingin mengajak Ashila untuk berangkat bersama ke sekolah. Namun, mereka malah melihat kejadian ini.
“Ashila!” teriak Gladys dan Velly. Mereka berdua langsung menghampiri Ashila, sambil berusaha melepaskan cekikan di leher papahnya.
Cekikan itu berhasil terlepas dari leher lelaki itu, kini Ashila menatap nyalang ke arah Gladys. Ia terus menatap Gladys tajam, lalu mendorongnya hingga Gladys terpental menghantam meja besi, akibatnya tangannya kini mengeluarkan darah. Yang lain berusaha membantu Gladys, namun mereka justru ikut terpental.
Mereka tidak berhenti sampai di situ, ia terus menghadang Ashila yang terus mendekat ke arah Gladys, ia yakin kalau ini bukan Ashila. Kemudian Velly menelpon seorang ustadz untuk menangani kasus seperti ini.
Ashila kembali menghampiri Gladys yang tertunduk, karena ialah yang mengeluarkan darah paling banyak. Angin masih bertiup sangat kencang, membuat lampu hias yang menggantung di atas tubuh Gladys terombang-ambing. Lampu itu hampir terlepas dari tempatnya, semuanya berteriak ketika lampu itu hendak jatuh.
“Gladys awaaaas!!” teriak mereka semua, kecuali Ashila yang masih di rasuki. Gladys menoleh ke atas dan melihat lampu yang akan terjatuh menimpa dirinya.
“Glad, awaaaas!” Gaga berlari hendak menyelamatkan Gladys, namun terlambat.
Braaak!!
Lampu itu sudah terjatuh, namun Gladys tidak merasakan apa-apa pada tubuhnya. Ada apa ini? Ia membuka matanya yang sebelumnya terpejam, Gladys panik ketika lampu itu justru menimpa Papa Ashila.
“OM!” teriak Gladys.
Karena, sedetik sebelum lampu itu jatuh, Papa Ashila langsung berhambur menghampiri Gladys, lalu merengkuh tubuh gadis itu. Entah naluri apa yang ia rasakan ketika melakukan itu, lelaki itu merasa itu sudah menjadi kewajibannya menjaga Gladys.
Mama Ashila panik, ia langsung menghampiri suaminya yang tidak sadarkan diri. Gladys justru menangis sambil menyalahkan dirinya sendiri.
“Om, maafin Gladys. Hiks..” Gladys menangis sambil menutup mulutnya tidak percaya.
“Harusnya om gak usah nyelamatin Gladys, Gladys minta maaf...” ujar Gladys lirih.
“Pah, bangun pah.” Mama Ashila terus menggoyangkan tubuh suaminya.
“Maafin Gladys tante, Gladys gak bermaksud buat om kayak gini.” Gladys terus menangis. “Gladys minta maaf.”
Mama Ashila hanya menatap Gladys sekilas, lalu kembali menatap suaminya.
“Ssst! Ini bukan salah lo, Dis.” Gaga menghampiri Gladys yang masih menangis.
“Papa nya Ashila seperti ini gara-gara nolongin gua, Ga.”
“Tapi lo nggak minta, kan? Ini bukan salah lo,” ujar Gaga menenangkan Gladys.
“Tetep aja, Ga. Ini salah gua.”
“Ssst! Udah, ya, ini bukan salah lo.” Gaga mengusap-usap punggung Gladys, berharap gadis itu bisa tenang.
Tidak lama, ustadz yang tadi telepon oleh Velly pun datang. “Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam, Pak tolong teman kami,” ujar Velly panik.
“Kalian mundur, ya.”
Lalu ia langsung membacakan surat-surat Al-Qur'an yang bisa membuat makhluk itu tidak tenang, dan segera keluar dari tubuh Ashila. Benar saja, tidak lama tubuh Ashila langsung terkapar lemas di lantai.
Velly langsung memeluk Ashila, jujur ia sangat panik dengan ini semua, apalagi Gladys yang celaka. Sedangkan Papa Ashila sudah dilarikan ke rumah sakit, karena pendarahan di kepalanya tidak mau berhenti. Sungguh pagi yang mengenaskan!
Akibat kejadian ini, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Mereka semua memilih untuk menjaga Ashila di rumah. Khawatir jika kejadian ini terjadi lagi bilamana Ashila ditinggal sendiri.