Setelah Gaga pulang, Gladys segera beranjak dari ruang tamu lalu menaiki tangga menuju kamar Refo. Ia teringat pesan Gaga tadi untuk menanyakan sesuatu yang mungkin saja Refo sembunyikan.
Krieet!
Suara dari gagang pintu yang dibuka terdengar sangat nyaring, tentu saja Refo juga tahu kalau adiknya memasuki kamar dirinya. Namun, ia masih fokus pada stik playstation di tangannya.
“Bang...,” panggil Gladys. Refo menoleh sebentar, lalu kembali menatap layar di depannya.
“Kenapa, Dis?” tanya Refo.
Gladys berjalan mendekat ke arah Refo, ia mendudukkan diri di samping Abangnya. “Gua mau nanya sama lo. Tapi pliiis, jawab yang jujur.” Gladys menyatukan kedua tangannya di depan dada
Refo menghentikan aksi bermainnya, lalu menatap fokus kepada adik kecilnya itu. “Kenapa, De? Apa yang mau lo tanyain?”
“Gua mau jujur, gua harap lo gak anggap ini semua sebagai lelucon atau karangan. Karena ini fakta, gua yang alamin.”
“Iya-iya, kenapa?”
“Akhir-akhir ini, gua sering mimpiin hantu seorang gadis, dia mirip banget sama gua, cuma dia masih muda banget.” Gladys mulai bercerita.
“Anehnya, kenapa dia cuma gentayangin gua sama Ashila doang, yang lainnya nggak. Setiap habis mimpi itu, pasti sakit kepala gua langsung kambuh lagi. Apa lo tau sesuatu tentang itu? Jujur, gua tersiksa Bang.” Gladys menundukkan kepalanya.
Raut wajah Refo mulai berubah ketika mendengar cerita adiknya, ia bingung harus menjawab apa agar adiknya tidak seperti ini. Ia harus menjawab apa agar adiknya percaya. Sakit kepala itu? Kenapa muncul lagi, padahal sudah lama sekali Gladys tidak mengeluh tentang sakit kepalanya.
“Bang! Gua nanya itu karena gua butuh jawaban, bukan cuma buat liatin lo bengong doang.”
“O-oh itu, gua gak tahu apa-apa soal itu.” Refo terlihat gugup.
“Entah kenapa, gua ngerasa ada yang aneh sama lo, Bang.”
“Aneh kenapa?” tanya Refo.
“Ya, aneh. Setiap gua tanya masalah ini, lo pasti bengong. Semacam ada hal yang takut ketahuan sama gua.”
“Masa?” tanya Refo.
“Jujur, Bang! Lo nyembunyiin apa dari gua? Apa yang gua gak tahu?” desak Gladys.
“Gak ada, Dis. Gua gak nyembunyiin apapun,” balas Refo. “Berapa kali lagi gua harus bilang?”
“Tap—”
“Gladys!” panggil seseorang dari bawah. “Bantu bawain belanjaan mamah, Sayang!”
“Nanti gua tanya lagi. Gua mau nyamperin mamah dulu,” ujar Gladys, kemudian segera bergegas turun untuk menemui mamahnya.
“Huft!” Refo menghela napas lega. Entah kenapa ia jadi begitu gugup sekali ketika adiknya menanyakan hal seperti itu. Kalian merasakan ada keanehan sama Refo?
Sudahlah, biar waktu yang akan menjawabnya.
***
Malam hari, Gladys sudah rapi dengan setelan santainya, ia tengah menunggu kedatangan teman-temannya. Namun tidak datang-datang, padahal sudah lewat dari jam perjanjian.
Gladys kemudian mengeluarkan handphone dari sakunya. Gladys menunggu jawaban dari seberang sana.
“Ga, lagi di mana?” tanya Gladys ketika panggilannya sudah tersambung.
“Lagi di jalan, Dis. Menuju rumah lo. Bentar lagi juga sampe,” jawab Gaga di seberang sana.
“Sama temen-temen?”
“Iya, Dis. Mereka ada sama gua,” balas Gaga.
“Oke, gua tunggu. Kalian hati-hati.” Setelah itu, Gladys langsung memutus sambungannya.
Tidak lama, ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Tokk...
Tokk...
“Perasaan tadi bilang masih di jalan,” gumam Gladys. Ia dengan segera bangkit dari duduknya, hendak membukakan pintu.
“Tunggu!”
“Kalian sudah sam—” ucapan Gladys terpotong ketika melihat yang datang bukan Gaga, tetapi gadis dengan rambut panjang dan dress putih.
“Ashila? Lo gak bareng temen-temen?” tanya Gladys. Namun, gadis itu tidak menoleh sama sekali.
Gladys jadi bingung sendiri, apa benar yang dihadapannya sekarang ini adalah Ashila? Tapi kenapa ia datang hanya sendiri, Gaga bilang kan tadi sedang bersama semuanya. Atau jangan-jangan....
“Shil?” panggil Gladys sekali lagi. “Kok cuma sendirian? Lo gak bareng sama yang lain?” Gladys terus mencecar gadis itu dengan pertanyaan.
Tetapi, gadis itu terus membelakangi Gladys, tidak menoleh atau bergerak sedikitpun. Aneh, pikir Gladys.
“De? Lo lagi ngomong sama siapa?” tanya Refo yang menghampiri Gladys dari arah belakang.
Gladys menoleh ke arah Refo. “Ini, Bang. Gua lagi ngomong sam—” Saat Gladys berbalik lagi, gadis yang tadi dihadapannya sudah menghilang, entah kemana.
Refo celingak-celinguk, terlihat bingung. “Sama siapa? Orang gak ada siapa-siapa.”
“Loh, kok gak ada?” Gladys keluar mencari gadis tadi. “Tadi ada, Bang. Sumpah, tadi dia di sini, kok sekarang gak ada ya?”
“Lo mimpi sebelum tidur? Atau, halu di malam hari kayak gini?” tanya Refo.
“Nggak, Abang! Beneran, tadi ada.”
“Udah gak usah malu, gua tau lo itu tukang halu, De.”
“Hish! Gua telen juga lo, Bang!”
Ditengah perdebatan adik kakak tersebut, tiba-tiba ada suara deru mobil yang mendekat. Tidak lama suara klakson mobil terdengar nyaring.
Muncul Gaga dan teman-teman Gladys yang lain, termasuk... Ashila.
Gladys melotot tidak percaya. Kalau Ashila baru sampai, lantas yang tadi itu siapa? Batin Gladys bertanya-tanya.
“Malem, Dis. Bang Refo,” sapa Ashila ramah, sambil tersenyum.
“Malam juga, Ashila.” Refo balas tersenyum.
“Shil?” Gladys menatap heran kepada Ashila.
“Hmm, kenapa?”
“Lo... Baru sampai?” tanya Gladys.
Ashila terkekeh. “Lo kenapa, sih? Ya, iyalah gua baru datang.”
Belum sempat Gladys bertanya lagi, Refo sudah memotong duluan. “De, gua masuk dulu, ya. Ajak mereka masuk, jangan ngobrol depan pintu kayak gini.”
“Iya, Bang.”
“Ya, udah. Masuk dulu yuk,” ajak Gladys. Setelah mereka semua duduk dengan tenang, barulah Gladys menceritakan kejadian yang dialaminya barusan.
“Tadi sebelum kalian datang, ada yang ketuk pintu gua. Gua kira itu kalian, makanya gua langsung bukain.” Gladys tampak serius. “Tapi pas gua buka, ada gadis dengan rambut panjang banget, gua kira itu elo Shil.”
“Heran nya, pas Abang gua datang, gadis itu malah hilang gak tau kemana. Aneh banget gak, sih?”
“Gadis? Seumuran kita?” tanya Velly.
“Nggak, Vell. Dia masih terlihat seperti anak-anak, perawakannya seperti Ashila, kecil.”
“Makanya lo kira itu Ashila?” Gladys langsung mengangguk membenarkan ucapan Velly.
“Dia, datang lagi,” gumam Ashila.
Semuanya terkejut, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ashila. “Dia? Dia siapa, Shil?”
“Gadis itu, gadis yang sering gua ceritain sama lo, Dis. Gadis yang selalu menghantui gua, termasuk elo juga, kan?” tanya Ashila.
“Dia juga gadis yang gua liat di gudang sekolah, pas waktu pertama kali kita melaksanakan misi itu.”
“Gadis itu, Shil?” tanya Gladys.
“Iya, dia gadis itu. Ayah gua juga selalu teriak-teriak gak jelas di kamarnya, tapi gua gak tau apa penyebabnya.”
“Serius?” Ashila mengangguk.
“Waktu di gudang, lo bukannya bareng sama Nevan, Shil?” tanya Velly.
“Iya, emang gua bareng sama Nevan. Tapi, Nevan kan gak bisa liat mereka. Cuma gua yang bisa,” balas Ashila.
Gaga berdeham. “Dis, lo udah ceritain belum apa yang terjadi sama lo semalam?”
“Tentang darah itu?”
“Tentang apa yang mamah lo lakuin juga,” balas Gaga.
“Kalau soal darah, gua udah cerita sama Ashila doang. Ternyata lo juga dapet teror yang sama kan, Shil?”
“Iya, bener banget. Semalam ada yang minta tolong sekaligus ngancem yang ditulis pake darah gitu.”
“Sama persis,” ujar Gladys.
“Hanya itu?”
“Iya, kalau masalah itu gua belum cerita sama mereka.”
“Masalah apa, Dis? Kok cuma Gaga doang yang tau?” tanya Ivan.
Gladys kemudian menceritakan kejadiannya secara detail kepada mereka.
“Aneh banget, sih,” ujar Velly.
“Justru itu, gua juga ngerasa ada yang aneh sama itu semua.”
“Kenapa Gaga tahu duluan?” tanya Ivan lagi.
Velly memukul Ivan pelan. “Kepo banget sih, lo!”
“Apa salahnya, sih, Vell?”
“Stop! Gitu aja debat,” lerai Ashila.
“Tadi pagi, Gaga ke rumah gua, balikin bandana punya gua yang ketinggalan. Sekaligus isengin gua juga,” ujar Gladys sambil melirik Gaga sinis.
Gaga hanya terkekeh. “Hampura.”
“Belajar bahasa Sunda dari siapa, lo?”
Gaga menunjuk Ivan. “Si kunyuk.”
“Yeu! Udah diajarin, bukannya terimakasih kek apa,” sinis Ivan.
Malam semakin larut, mereka terlalu asik membahas hal lain, sampai lupa untuk membahas rencana malam ini.
“Jadi gimana, lanjutin misi sekarang atau nggak?” tanya Velly.
“Kayaknya jangan dulu, deh. Udah terlalu malem banget, besok aja,” balas Ashila. “Sekarang, kita coba fokus sama kamar yang dimaksud oleh Gladys dulu. Atau, gimana kalau misalnya kita bagi tugas aja?”
“Bagi tugas gimana, Shil?” beo Velly.
“Gini, jadi kita para cewek tugasnya di sini, cari tahu tentang kamar itu. Nah, kalian para cowok, tugasnya cari bukti lain di sekolah. Biar kita dapat banyak bukti, gimana?”
“Ke sekolah serem itu lagi?” tanya Ivan.
“Iya, Van.”
“Lebih serem muka lo kok, Van.” Kata Velly santai. “Pasti setannya juga langsung ngibrit pas ketemu lo.”
“Sakate-kate lo, ya, kalau ngomong!”
“Emang bener kok.”
“Yang ada muka lo, noh yang mirip nenek lampir!” Ivan tertawa sinis.
“Wah! Ngajak war lo, Van? Ayolah, gua jabanin!” Velly menatap Ivan garang.
“Ayo, siapa takut!” Ivan bersiap menggulung lengan bajunya.
“Lo kira, gua juga takut? Sini lo!” tantang Velly.
Saat keduanya sedang sibuk berdebat, Gladys dan yang lainnya menuju ke luar rumah. Mereka semua memutuskan untuk segera pulang saja, karena malam sudah terlalu larut.
“Biarin aja biarin,” ujar Nevan. “Tinggalin aja, Ga. Gak usah nunggu mereka.” Yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua anak manusia tersebut.
“Gak jadi deh, Van. Capek gua, pengen istirahat. Guys, pul—” ucapan Velly terhenti ketika melihat teman-temannya sudah tidak ada di tempat.
“Loh, kemana mereka?” tanya Velly.
“Lo nanya gua, gua nanya siapa?” balas Ivan.
“Pikir sendiri!” sentak Velly, kemudian ia segera menyusul keluar. “Tungguin woi!”
“Makanya jangan berantem terus,” ujar Ashila.
“Ivan yang mulai, noh.”
“Gua aja terus yang di salahin!”
“Ya emang elo!”
“Ya udah, deh. Kita pulang ya, Dis. Hati-hati di rumah, jangan lupa buat kunci pintu, jendela, semuanya.” Gaga mengingatkan. “Kalau ada apa-apa, langsung kabarin gua.”
Gladys tersenyum. “Iya, Ga. Thanks.”
“Sama-sama.”
“Kalian hati-hati. Ga, jangan ngebut bawa mobilnya,” ujar Gladys.
“Sip.”
Setelah kepergian mereka semua, Gladys langsung mengunci pintu, seperti apa yang disuruh oleh Gaga tadi.