Misteri-9

969 Kata
Setelah berhasil keluar, keduanya bertemu dengan Gladys dan Gaga di koridor. Namun tidak dengan AshilaNevan. Kemana mereka berdua? Velly menormalkan deru napasnya yang tidak teratur karena berlari dari ruang guru menuju koridor. Ia membungkukkan badannya dan menopang tangannya di kedua lutut. “Glad!” panggil Ivan sambil melambaikan tangannya kepada Gladys. “Lo kenapa, Vell?” tanya Gaga. “Capek,” sahut Velly. “Abis ngapain emang lo, sampe ngos-ngosan gini?” “Lari dari ruang guru sampe koridor, takut banget gua anjir!” Velly menegakkan tubuhnya. “SMA kita serem banget kalau malam begini.” “Semua sekolah juga pasti serem Vell kalau malam,” balas Gladys. “Iya, gua juga tau. Tapi ini tuh lebih dari serem, ditambah hujan yang tiba-tiba banget kayak gini, kan tambah horor jadinya.” “Glad, guru kita gak punya uang atau gimana sih?” tanya Ivan tiba-tiba. “Kenapa emang, Van?” “Masa penerangannya pake lampu warna kuning, gua rasa kepala sekolahnya kekurangan duit deh.” “Hush! Pak Bara orang punya kok keliatannya, masa iya buat beli lampu aja gak punya.” “Serius, Glad. Kalau lo nggak percaya, liat aja noh ruang guru. Horor banget pake lampu kayak gitu.” “Oke nanti kita cek.” “Ashila sama Nevan mana?” tanya Velly yang merasa ada yang kurang dari anggota mereka. “Mereka di UKS,” jawab Gladys. “Uks? Ngapain mereka di sana, apa terjadi sesuatu sama mereka?” Gladys mengangguk. “Nevan chat gua tadi, katanya Ashila di serang sama makhluk tak kasat mata. Gua juga gak ngerti kenapa itu bisa terjadi sama Ashila.” “Kok bisa, sih? Terus Nevan gak bisa ngapa-ngapain dong?” tanya Velly. “Makanya itu, kalau orang sih mungkin Nevan bisa lindungin Ashila, sedangkan mereka kan bukan orang.” Gladys berucap. “Cuma Ashila yang bisa lihat mereka.” “Kasian sahabat nila gua.” Velly tersenyum kecut. “Kalau gitu, ayo kita ke sana.” Mereka semua mengangguk dan berjalan menuju Uks sekolah. --- Mereka berempat berlari menuju tempat dimana Ashila berada, karena hujan yang tak kunjung berhenti, dan malam semakin larut mereka memutuskan untuk segera mengakhiri misi malam ini. Sebelum sampai di UKS, mereka melewati ruang guru terlebih dahulu. “Stop! Itu ruangan yang paling horor!” teriak Ivan menghentikan langkah mereka. “Kok pintunya ketutup sih, Van? Terakhir tadi bukannya kebuka ya?” Ivan mengangguk menyetujui ucapan Velly. “Gua juga gak tau, Vell.” “Coba deh kalian cek, lampunya warna kuning banget!” saran Ivan. “Lebih serem perpustakaan, Van. Di sana gak ada pencahayaan sama sekali.” Gaga terkekeh. “Tuh kan! Emang bener kekurangan duit gua rasa,” ujar Ivan. Gaga memegang knop pintu lalu memutarnya. Terdapat cahaya putih sangat terang dari dalam sana. “Lampunya warna putih kok,” ujar Gaga. Velly dan Ivan melotot tidak percaya. “Kok bisa!” ujar mereka bersamaan. “Mata kalian udah gak normal kayaknya.” Gaga terkekeh. “Tapi beneran, tadi tuh lampunya bukan warna putih!” bantah Velly. “Udah-udah! Kita harus ke UKS sekarang, terus kembali ke rumah. Sekolah ini emang banyak keanehan, makanya kita harus cepat-cepat keluar dari sini.” “Gladys bener.” Gaga menyetujui. Mereka melanjutkan langkahnya kembali, lalu sampai di depan pintu UKS. Terlihat Nevan yang sedang mengobati kening dan pipi Ashila yang berdarah. “Shila! Kok bisa?” tanya Velly panik. Diantara yang lain, Velly adalah orang yang paling khawatir jika terjadi sesuatu kepada temannya sendiri. “Ya bisa lah,” ujar Ashila terkekeh. “Lo gak apa-apa? Ada yang luka selain ini” Ashila menggeleng. “Nggak ada, Vell. Cuma luka kecil doang kok, lo nggak usah khawatir.” “Keadaan lo yang buat gua jadi khawatir,” sahut Velly. “Bisa diem dulu nggak sih kalian! Gua gak selesai-selesai ini obatin lukanya.” Nevan mendelik. “Iye, iye. Buruan obatin, yang bener ya!” titah Velly. Setelah Nevan mem-plester dahi dan juga pipi Ashila, barulah mereka menanyakan kembali apa yang terjadi pada keduanya. “Kenapa bisa terjadi kayak gini, Shil?” tanya Gladys. “Mereka nyerang gua, Glad.” “Lo kenapa gak bantuin dia, sih? Lo kan cowok!” omel Velly. “Gua mana tau siapa yang nyerang Ashila, orang mereka semua nggak keliatan!” bantah Nevan. “Mereka bukan orang.” “Ya seenggaknya lo tarik dia kek atau apa gitu, jangan malah biarin Ashila kayak gini.” “Gua udah coba narik Ashila saat itu, tapi badan gua malah terpental jauh.” “Iya,Vell. Ini bukan salah Nevan kok, mereka emang gak keliatan. Cuma gua yang bisa liat mereka.” Ashila membela Nevan. “Disini posisi Nevan gak salah.” “Ya udah, yang penting lo nggak apa-apa.” “Kalian dapet petunjuk apa?” tanya Ashila. “Gua sama Ivan gak dapet apa-apa. Di ruang guru gak ada bukti apapun, malah ada kejanggalan di sana.” “Kejanggalan?” beo Ashila. Velly mengangguk. “Lampu yang tadinya warna kuning, tiba-tiba malah berganti jadi warna putih.” “Serius?” Velly mengangguk. “Gimana sama kalian berdua? Dapet petunjuk apa di perpustakaan?” tanya Ashila menunjuk GladysGaga. “Gua sama Gaga nemu buku ini. Tapi pas Gaga mau buka bukunya, tiba-tiba aja angin bertiup kencang banget, hujan juga tiba-tiba turun deras banget.” Gladys menjelaskan sambil menunjukan buku usang berwarna kecoklatan. “Buku apa itu?” beo Velly. Gladys hanya menggelengkan kepalanya tanda ia juga tidak tahu. “Apa mungkin itu petunjuk tentang sejarah sekolah ini?” ujar Ashila. “Bisa jadi, Shil.” “Coba buka, Glad. Siapa tau ada petunjuk di sana, biar kasus ini bisa segera kita pecahkan.” Gladys mengangguk, lalu mulai membuka halaman depan bukunya. Namun lagi-lagi angin tiba-tiba bertiup sangat kencang sekali, menerbangkan barang-barang ringan yang berada di UKS, termasuk gorden yang terbang tertiup oleh angin. Wuuusshhh! Braakk! Pintu UKS terbuka sangat lebar, Ashila bisa melihat ada makhluk yang melayang menghampiri mereka semua, rambut terjuntai sangat panjang, wajah yang menyeramkan, juga kain putih yang sangat lusuh. Mereka semua menyilangkan kedua tangan di depan wajah masing-masing. Angin bertambah kencang, membuat daun-daun kecil berterbangan masuk melalui celah jendela UKS. “Ini ada, Shil! Kenapa tiba-tiba anginnya gede banget!” teriak Gladys sambil memegang erat buku itu. “Dia ada di sini, Glad! Dia ada di sini!” Ashila balas berteriak. “Dia siapa, Shil?!” “Makhluk yang nyerang gua! Kita harus cepet keluar dari sini, kalau nggak mereka akan semakin marah!” Ashila berteriak. “Gua gak mau kita celaka gara-gara ini, kita harus cepet keluar, karena teman-teman 'Dia' mulai berdatangan!” Ashila panik lalu membawa teman-temannya untuk keluar dari UKS. “Terus, misi kita gimana?” tanya Gladys. Ashila menggelengkan kepalanya kuat. “Jangan sekarang, Dis. Terlalu berbahaya. Yang penting sekarang, kita harus selamat dulu!” Mereka menuruti perkataan Ashila. Ke-enam sahabat itu berlari menyusuri koridor yang gelap, tidak lupa juga terus saja menoleh ke arah belakang, untuk mengetahui makhluk itu ikut mengejar atau tidak. Akhirnya setelah berlari di sepanjang koridor, mereka telah sampai di depan mobil milik Gaga. Gaga segera melaju sangat cepat untuk membawa mereka pulang, dan melanjutkan misi besok malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN