Ana terduduk lesu di lobby kantor. Ia benar-benar lelah dengan hari ini, semua karena ulah Gama yang tiada henti-hentinya membebankan Ana.
Ana termenung sesaat, ia sebenarnya ingin langsung pulang ke rumah. Tetapi tadi Gama mengiriminya pesan untuk menyuruhnya menunggu di lobby.
Ana tidak tahu apa alasan Gama, tetapi ia tetap melaksanakan perintah Gama. Gama terkadang tetap membebaninya di luar jam kerja.
Ana merogoh ponselnya, ia sampai lupa mengabari adiknya bahwa sepertinya ia akan pulang lambat hari ini.
[Kakak pulang lambat kayanya. Kamu duluan aja, ya makan. Gapapa, 'kan?]
Ana kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas nya. Masih terus menunggu Gama yang entah kapan akan datang menemuinya.
Ana menoleh ke arah kiri, saat ia mendengar suara hentakan kaki disusul dengan rengekan wanita.
's**t! Dasar bos gila! Gue nunggu lama-lama gini, dia malah happy-happy sama gebetannya. Maksudnya apa, sih?! Benar-benar minta disantet, nih bos!'
Ana segera berdiri dari duduknya, menyambut kedatangan dua insan itu. Gama dan wanita itu langsung berhenti tepat di depannya.
Wanita yang sedang memeluk lengan Gama tersenyum ramah ke arah Ana, dan dibalas tak kalah ramah oleh Ana.
Ana pikir, kekasih Gama akan galak dan judes. Ternyata tidak.
"Tidak jadi. Saya akan jalan dengan kekasih saya. Kamu boleh pulang."
Gama dan wanita itu pergi berlalu dari sana setelah ia mengucapkan kata-kata yang benar-benar ingin membuat Ana menghancurkan ratakan kantor ini.
"Gila! Bos stres! i***t! Bos sialan! Benar-benar b******k, b******n! Iblis! Dajjal lo!" Ana tak henti-hentinya menyumpah-serapahi Gama yang terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Lo benar-benar nunggu gue santet, ya! Benar-benar sialan lo!"
Lihatlah, Ana seperti orang gila saat ini. Ia mengumpat sendirinya di tengah-tengah kesepian. Tak lupa dengan tangan yang mengepal kuat, ditambah dengan hentakan kaki yang begitu kesal.
Muka Ana memerah karena perlakuan Gama. Bukan memerah karena malu atau apa. Tapi karena marah.
Ana sudah menunggu dua jam lebih, ditemani kelelahan, rasa bosan, lapar, haus dan lainnya. Tapi tiba-tiba Gama datang dengan tampang menyebalkan mengatakan bahwa tidak jadi.
"Awas lo! Pulang dari ini gue ke dukun buat nyantet lo! Benar-benar sialan tu orang!"
Ana melangkahkan kakinya menuju ke luar kantor,tetapi tiba-tiba ia berhenti sejenak. Ia sadar, penampilan wanita itu tadi berantakan dan ada tanda kissmark di leher wanita itu.
Itu tandanya ....
"Dasar m***m!"
Dosa Ana terus mengalir karena terus mengeluarkan kata-kata tidak baik untuk laki-laki b*****t seperti Gama.
Ana ingin menangis saja rasanya sekarang. Ana adalah tipikal orang yang akan menangis ketika telah berada di kekesalan yang tertinggi.
Mata Ana sudah memerah menahan tangis, ia malu jika menangis di sini. Masih ada beberapa satpam dan orang-orang yang berlalu lalang disore hari.
Ana segera menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan kantor, tetapi taksi itu tak berhenti. Sepertinya ada penumpang.
Oke, mungkin masih ada selanjutnya. Ana akan tetap menunggu. Terus menerus menunggu, membuat kaki Ana benar-benar lelah.
Apakah masih ada taksi? Ana yakin ada. Ia yakin.
Ana masih setia duduk menunggu taksi yang ia tak sepenuhnya yakin akan ada datang lagi. Lama menunggu membuat Ana benar-benar merasa sial hari ini.
Terutama karena Gama Harold.
"Kak, ayok!"
Ana menegakkan kepalanya saat mendengar suara yang begitu ia kenali. Itu adiknya. Adiknya benar-benar seperti malaikat.
Tanpa menunggu lama lagi, Ana segera menaiki motor adiknya itu.
"Nih, Kak. Pakai helm, biar aman." Galen, biasanya dipanggil Al.
"Deket, kok!"
"Kecelakaan gak mandang jauh atau deketnya, Kak. Udah ayok, pakai. Cari aman aja sekarang." Al tetap kekeuh untuk memaksa Ana memakai helm.
Dengan terpaksa Ana memakai helm itu. Ana risih sebenarnya memakai helm, itu membuat kepalanya berat dan nampak kepalanya seperti besar.