Wajah Ana cerah, sangat cerah. Ia berjalan dengan riang, menuju ke lantai atas tempatnya mangkal. Biarlah Ana menikmati kebahagiannya dulu, sebelum dihancurkan oleh Gama.
Ana memasuki lift yang hanya ada kisaran tiga orang di dalamnya, masih terlalu pagi. Sehingga masih sedikit yang datang.
Jam kantor masuk pada pukul 07.15, tetapi Ana yang menjabat sebagai sekretaris harus datang secepat mungkin supaya tidak disemprot Gama nantinya.
Ana menikmati kebahagiannya terlebih dahulu, sebelum nanti mukanya berganti masam karena ulah Gama.
Setibanya di lantai teratas, ia langsung duduk di mejanya. Hari ini, ia membawa sarapan dari rumah. Rasanya sangat malas untuk ke kantin kantor. Jauh.
Ana menikmati sarapannya dengan begitu tenang. Ditengah-tengah ketenangannya, Gama lewat dengan angkuhnya, tanpa melirik ke arah Ana.
Parfum Gama benar-benar wangi, sangat maskulin. Wangi itu menyebar hingga ke indra penciuman Ana. Ah, rasanya Ana ingin memeluk Gama.
Ana buru-buru mengeplak kepalanya sendiri. Bisa-bisanya ia berpikiran m***m seperti itu, terhadap Gama.
Ana kembali melanjutkan makannya. Ia bersyukur karena penyakit Gama tidak kumat dijam-jam segini.
Tak lama setelah itu,wanita yang kemarin ia temui datang kembali ke kantor.
"Ana ...," sapa wanita itu lembut dan ramah membuat Ana senang terhadapnya. Benar-benar wanita yang ramah.
"Iya, Mbak!" sapa Ana tak kalah ramah.
"Gama di dalam? Udah datang?" tanya wanita itu berhenti di depan meja Ana.
"Bos Gama udah datang kok, Mbak--"
"Gracella." Gracella menyambung ucapan Ana sebagai tanda pengenalan.
"Ah, iya, Mbak! Bos udah datang, baru masuk."
"Oke, saya masuk dulu, ya! Maaf mengganggu sarapanmu," ucapnya lalu berlalu pergi dari sana.
Ana mengangguk, lalu kembali lanjut menyantap sarapannya. Tak lama setelah Gracella masuk, mereka langsung keluar berdua. Sepertinya ingin ke kantin.
"Kamu mau nitip sesuatu?" tanya Gracella menghampiri Ana.
"Hah?" Ana masih cengo, belum sepenuhnya tersambung.
"Aku sama Gama mau ke kantin, kamu mau nitip?" tanya Gracella sembari menjelaskan.
Ana menatap ke arah Gama yang terus saja memperhatikannya sejak tadi. Aneh. Bos-nya ini memang ada gila-gilanya, pikir Ana.
"Eh ... gak usah, deh, Mbak! Makasih atas tawarannya."
'Nanti gaji saya dipotong lagi, Mbak!' lanjut Ana dalam hati.
"Ya udah, kami duluan, ya!" Gracella berlalu dari sana sembari menyeret Gama yang masih belum lepas menatapnya.
"Bos gila, sinting! Bisa-bisa Mbak Gracella nampak happy berada di dekat iblis menyebalkan kaya Gama. Gak darah tinggi tuh Mbak Gracella."
Heran, bisa-bisanya Gracella nyaman berada di dekat Gama yang sinting.
Oke, ini masih pagi. Tetapi mulut Ana sudah senam menyumpahi bos-nya.
***
"Ke ruangan saya, sekarang!"
Itu kata Gama barusan melalui telpon kantor yang terhubung dengannya. Ada apa? Ada yang salah? Tidak biasanya ia dipanggil.
Ah, sudahlah. Daripada menunggu lama mending ia langsung saja masuk, sebelum kena semprot.
"Bos---" Ucapan Ana berhenti saat melihat adegan di depannya.
Dimana Gracella duduk di pangkuan Gama dengan intimnya. Jangan lupakan, baju sebelah kiri Gracella sudah terbuka menampakkan tali bra-nya.
Bukan! Bukan itu yang mengagetkan. Tetapi adegan mereka berciuman yang membuat Ana benar-benar kaget dan tidak percaya.
Mereka berciuman begitu intim, jangan lupakan tangan Gama yang memegang bahkan meremas bagian d**a Gracella.
Dasar bos gila! m***m!
Jadi ini tujuannya untuk menyuruh Ana masuk ke dalam ruangannya? Memperlihatkan kepada Ana bagaimana ia bercinta? b******u?!
Cih, sampah!
Ana benar-benar kesal. Ia kesal karena harus menyaksikan adegan yang tidak senonoh di depannya saat ini.
Ia dapat melihat Gama tersenyum miring di sela-sela ciumannya. Senyum Gama benar-benar tampak puas, tapi begitu menyebalkan di mata Ana.
Tanpa menghentikan kegiatan mereka, Ana langsung keluar dari ruangan neraka yang tidak suci itu.
Kurang ajar pria itu! Ia kira ia tampan dengan melakukan hal tak senonoh di depan Ana?!
Dasar CEO stupid!