Permintaan

672 Kata
Telpon kantor yang terhubung ke Ana kembali berbunyi, membuat Ana ragu untuk mengangkatnya. Si sinting itu, baru saja kepergok langsung menelponnya. Apa ia tidak memiliki malu sedikitpun?! Ana tidak heran jika Gama sama sekali tidak memiliki malu. Manusia seperti Gama mana ada malunya! Muka dia, mah, tebal! [Ya, Bos?] Akhirnya Ana yakin untuk mengangkat panggilan itu. [Ke ruangan saya, sekarang! Tanpa bantahan, atau terima konsekuensinya jika menolak!] Telpon berakhir sepihak. Benar-benar stres. Bos-nya itu mungkin memiliki gangguan kejiwaan. Ana ragu untuk masuk kembali, mungkin ia akan melihat yang lebih parah dari yang tadi. Lihat, gara-gara Gama tadi pikiran Ana langsung pergi kemana-mana. Jauh. "Ayo, Ana! Lo harus bisa hadapin bos lo yang gila kaya gini! Daripada ntar dia ngelakuin hal yang gak pernah lo bayangin, mending lo ikutin aja kemauan gilanya!" Ana mengepalkan tangannya erat-erat, semakin deg-degan untuk masuk keruangan neraka itu. Ruangan tidak suci! Ana menempelkan kupingnya di pintu, ia tidak mendengar suara apa-apa. Berarti aman, bukan? Ya, mungkin seperti itu. Ana segera masuk, saat ia merasa tidak ada yang buruk. Hah? Meja bos-nya kosong. Kemana mereka? Ana menutup pintu secara refleks, karena mendengar suara haram dari kamar yang berada di ruangan itu. Heh! Yang benar saja jika suara haram itu adalah hasil dari perbuatan mereka yang .... Ana menutup telinganya, saat mendengat erangan kuat dari ruangan itu. Entah kenapa, ia tidak bisa bergerak sama sekali. Badannya benar-benar kaku. Bunyi-bunyi haram itu benar-benar terdengar di telinga Ana, bunyi yang sangat tidak pantas untuk dia dengar. Tapi badannya tak mau bergerak. Ana memejamkan matanya erat-erat, dengan kedua tangan yang menutup telinganya supaya tidak mendengar suara haram itu lagi, walaupun masih bisa ia dengar sedikit. Tiba-tiba pintu itu dibuka, keluarlah Gama dengan keadaan yang terbilang cukup berantakan. 'Dasar bos sinting! Dia nyuruh gue ke sini buat dengerin suara haram?! Dasar gila!' Gama menatap Ana yang juga menatapnya. Dengan santainya ia memasang kembali kemejanya tanpa merasa malu atau terganggu. Ia mendekati Ana yang masih berdiri tegak, diam. Tangannya menyerahkan dasi itu ke Ana. Ana belum mengerti. Maksudnya apa? Alis Gama terangkat sebelah, seakan-akan menyuruh Ana untuk menerima dasi itu dan memasangkan Gama dasi. 'Dia pikir gue istrinya? Gak waras emang, nih, orang!' "Daripada kamu mengomel-omel di dalam hati kamu, mending kamu pasangkan saya dasi. Membantu orang mendapatkan pahala. Membantu saya di ranjang mendapatkan bonus uang," bisik Gama disamping telinga Ana. 'Lo pikir gue cewek apaan?! Benar-benar minta dijahit tu mulut! Mulut sampah emang!' Ana menerima dasi itu ogah-ogahan. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Gama yang benar-benar random. "Itung-itung latihan. Ntar kalau udah jadi istri saya, kamu bakalan terbiasa buat masangin saya dasi." Tidak bisakah mulutnya yang seperti tidak dididik itu diam?! Perkataannya memang tidak ada baik-baiknya. Dan apa tadi? Istri? Ana jadi istri dia?! Sepertinya dia memang benar-benar gila. Ana mana mau jadi istri dia. Pria menyebalkan, m***m, bahkan banyak lainnya. Banyak minusnya si Gama. "Bos jangan halu, deh! Saya mana mau punya suami modelan kaya Bos!" pungkas Ana. "Heh? Kamu serius? Kamu tau? Di luar sana, banyak yang ngantri buat jadi istri saya. Justru kamu bangga kalau saya klaim kamu jadi istri saya." Gama benar-benar pria angkuh yang sombong. "I don't care! Itu bukan urusan saya, Bos! Lagipula mereka mau karena mereka hanya tau sikap Bos yang arogan, sombong, dan sok cool. Kalau mereka tau minus Bos yang lainnya, mungkin mereka menyesal karena telah pernah berharap Bos menjadi suaminya." Ana benar-benar tak ada takut dengan Gama. "Kamu ternyata menantang juga." Gama tersenyum miring. Ia kembali mengacak-acak dasi yang telah tapi Ana pasangkan. "Maaf, saya tidak sengaja. Saya rasa kamu perlu mengulanginya." Ana benar-benar ingin menghantam muka Gama yang benar-benar menyebalkan itu sampai hancur. Gama menarik pinggang Ana saat Ana hendak pergi keluar. "Selesaikan dulu, sayang. Baru keluar." Ana berdecak kesal. Ia langsung merapikan kembali agar ia cepat-cepat keluar dari ruangan kotor ini! Sebenarnya bersih, hanya saja kotor yang dimaksud adalah kotor karena tempatnya berbuat yang tidak senonoh. Setelah selesai, Gama mengecup bibir Ana dengan sedikit lumatan dan langsung pergi dari sana. Membiarkan Ana yang terdiam dengan wajah yang memerah. Menahan amarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN