Ana meringkuk di atas kasur, dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya yang merasa dingin.
Di atas meja kecil yang ada dalam kamarnya, ada semangkuk bubur panas dan segelas teh hangat. Tak lupa, ada beberapa jenis obat pil yang akan membantu Ana untuk sembuh.
"Kak, semua udah Al siapin di sini. Kakak gak apa-apa, 'kan Al tinggalin sendiri?" Al masih setia duduk di tepi kasur sang Kakak.
Masih tidak tega untuk meninggalkan Kakaknya yang sedang demam ini. Aneh, padahal semalam Kakaknya baik-baik saja. Bahkan Kakaknya berulang kali memukul bahunya.
Tiba-tiba pagi ini, Kakaknya sudah sakit saja. Memang, sakit tidak bisa diprediksi kapan akan datang dan pada siapa sakit akan datang.
Ana masih mencoba untuk tersenyum, menyakinkan sang adik bahwa ia tidak terlalu sakit seperti yang dibayangkan.
"Udah, kamu berangkat aja sana. Kakak gak apa-apa. Sana berangkat, ntar telat lagi," suruh Ana mengusir adiknya.
"Bener gak apa-apa, Kak?"
Aish, adiknya ini begitu nyinyir. Pertanyaan satu kali tak cukup bagi Al.
"Iya, Al! Gue gak apa-apa. Udah sana lo pergi! Telat ntar!"
Mendengar cara bicara Kakaknya yang tampak tak ada beban, membuat Al lega untuk meninggalkan Kakaknya.
"Kalau ada apa-apa telfon Al, ya, Kak!"
Ana hanya berdehem, dan menatap kepergian adiknya.
Eh, Ana lupa! Ia harus mengabari si bos sinting itu. Nanti bisa-bisa potong gaji jika ia tidak hadir tanpa izin.
***
Gama tertawa begitu kencang, hingga perutnya sakit. Ia yakin, ia tak salah baca pesan. Ana benar-benar mengiriminya pesan.
Isi pesan itu, Ana mengatakan bahwa ia tidak bisa masuk karena sakit.
Gama langsung berpikir jika Ana sakit karena ia cium kemaren.
Baiklah, sepertinya mengunjungi pekerjanya yang sakit tidak masalah, bukan?
Tidak ada yang aneh, 'kan? Ketika seorang bos menjenguk bawahannya.
Gama segera mengambil jasnya yang tadi ia tanggalkan, hari ini ia bebas kemana saja. Karena Gracella tidak datang melihatnya karena wanita itu sedang ada job.
Gama segera turun untuk pergi menuju ke rumah Ana. Menjenguk orang sakit tanpa membawa buah atau semacamnya benar-benar tidak epik.
Baiklah, Gama tau ia harus membawa apa. Buah-buahan tidak masalah, 'kan? Atau yang lain?
***
Ana benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran Gama yang ada di depan rumahnya. Bisa-bisanya pria itu mengetahui alamat rumahnya.
Lihatlah, dia berdiri dengan arogannya. Kedua tangannya menenteng dua paper bag bewarna coklat tua.
'Sekarang, apalagi yang ingin si i***t itu lakukan?'
'Gue gak yakin kalau dia datang tanpa adanya sesuatu kejutan yang benar-benar gila nantinya.'
Tanpa mengurangi rasa hormatnya, Ana segera menyuruh Gama untuk masuk.
"Silahkan masuk, Bos! Rumah saya sederhana begini. Kalau tidak nyaman keluar aja sekarang, gak apa-apa, kok. Malah saya seneng."
Sambutan yang benar-benar membuat Gama geram dengan Ana.
"Walaupun sakit gini, tapi mulut kamu tetap kuat, ya buat jahatin saya."
'Jahat? Sejak kapan gue jahatin lo?! Bukannya lo yang selalu jahatin gue?!'
"Ah, perasaan bos aja kali. Saya mah orangnya baik, sama bos aja saya baik. Sering muji-muji bos," balas Ana lalu terduduk lesu di salah satu sofa kecil.
"Nih." Gama menyerahkan dua paper bag yang sedari tadi ia tenteng. Ia meletakkan kedua paper bag itu di atas meja.
'Dia baik ternyata, guenya aja yang salah tanggap. Eh, tapi gue gak mau langsung percaya. Kali aja dia masukin bom ke dalam nih paper bag. Iblis kaya dia mana pernah baik.'
"Bos baik, banget. Kalau mau minum, buat sendiri di belakang, ya, bos. Saya kan lagi sakit," alibi Ana.
Ia sangat malas lama-lama meladeni Gama, ia pikir dengan cara seperti ini dapat membuat Gama tidak nyaman dan segera pulang.
Ana yang penasaran langsung membuka paper bag itu. Terkejut bukan main, saat ia melihat isinya.
Lingerie? Gila bukan?
Benar-benar tidak menyambung dengan apa yang terjadi dengannya. Kepala Ana dibuat pusing oleh apa yang telah diperbuat oleh Gama.
"Bos, bos gila, ya? Butuh saya antar ke rumah sakit? Saya pusing, nih, bos!"