Masuk

508 Kata
*** Hari ini Ana sudah bisa masuk kembali, setelah dua hari libur. Dihitung sejak Gama ke rumahnya membawa pakaian dinas itu. Ngomong-ngomong soal pakaian itu, Ana langsung membakar pakaian haram itu setelah Gama pergi dari rumahnya. Lagipula, buat apa sama Ana baju yang kurang bahan seperti itu? Ana berjalan sendirian di lobby kantor, senyumnya mengembang dengan sempurna. Tapi senyuman itu pudar ketika seseorang datang mengacaukan. "Sudah bisa masuk kamu?" tanya Gama yang sudah berada di sampingnya. 'Lo punya mata, lo udah lihat. Gak penting banget untuk gue jawab pertanyaan lo.' "Bos punya mata, 'kan? Jadi bos sudah tahu saya udah bisa masuk apa belum." 'Ish, galak ....' batin Gama tertarik. "Kamu galak-galak ntar saya tarik ke ranjang, lho ...," bisik Gama "Sinting!" gumam Ana yang tidak peduli Gama akan dengar atau tidak. Ana buru-buru melangkahkan kakinya ke arah lain, berusaha menjauhi Gama yang terbilang 'gila' itu. *** Jam makan siang sudah tiba, saatnya bagi para pekerja kantor datang ke kantin untuk mengisi perut yang sedang lapar. Ana merapikan beberapa kertas yang ada di mejanya, ia juga akan ke kantin. [Na, lo ke kantin, 'kan? Harus pokoknya. Wajib!] Ana hanya membaca pesan itu, mungkin sebentar lagi akan ia balas setelah ini selesai. Setelah siap dengan yang ia kerjakan, buru-buru ia membalas pesan itu karena ia sudah di spam beberapa kali oleh temannya. [Iya, tunggu gue, ya. Gue OTW, nih!] "Ayo makan siang bersama saya." Gama tiba-tiba datang tanpa diundang, membuat Ana mengerutkan keningnya. Bingung. Ana pikir bos-nya itu sedang menelpon menggunakan earbuds. Ana langsung saja pergi dari sana, karena ia pikir bos-nya tidak berbicara dengannya. "Heh! Kamu punya telinga masih berfungsi, 'kan?" Gama sedikit ngegas. "Bos ngomong sama saya?" Ana menunjuk dirinya sendiri. Menyakinkan. "Lalu? Kamu pikir saya ngomong sama siapa? Sama komputer kamu?" Garing. Bos-nya itu tidak cocok menjadi pelawak. Dia hanya manusia galak yang menyebalkan. "Ya ... mungkin aja, 'kan, Bos?" 'Soalnya si bos ada gila-gilanya.' "Udah, ayok makan siang sama saya." Gama berjalan mendekati Ana. "Bos, saya sudah ada janji sama teman-teman saya," bantah Ana menolak. "Sama saya aja. Sama saya kamu makan enak, bukan makan makanan kantin di kantor ini. Ayok!" Menyebalkan! Mau makan saja ada aja rintangannya. Dasar sombong! "Saya udah ada janji sama teman-teman saya, Bos!" Lagi-lagi Ana menolak. Apa kata orang-orang kantor nantinya jika ia makan siang bersama dengan Gama? "Ini perintah. Saya bos di sini." Seenaknya dia menggunakan jabatannya untuk memaksakan kehendaknya. *** Gama tersenyum puas dalam hati. Ia tidak tahu mengapa. Intinya dia bahagia saat Ana makan siang dengannya. Ia juga bahagia karena beberapa kali mengganggu Ana. Lain saja rasanya jika tidak mengganggu Ana. Oh, iya Gama sudah tidak lagi sedekat itu dengan Gracella semenjak ia telah dapat mencium Ana. Ah, rasanya menyenangkan dan Gama ingin mengulanginya. Tapi jika ia meminta secara langsung, tentu tidak akan dapat. Ia harus mendapatkan lewat jalur pemaksaan. Mata Gama terus menerus fokus ke arah bibir Ana yang begitu menggoda ketika mengunyah makanan. Gama geram karena ia ingin mencicipi itu lagi. Gama menepis perasaannya yang mengatakan bahwa ia mencintai Ana, ia pikir itu tidak mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN