Permintaan Mama

693 Kata
*** "Gama, kapan kamu akan menikah? Lihatlah, bahkan disaat usiamu sudah mau kepala tiga kamu masih sendiri. Apa-apa sendiri. Tidur sendiri, nyiapin baju juga sendiri. Apa kamu tidak ingin ada seseorang yang mengurus semua keperluan mu?" Gama tetap diam, tak membalas hanya mendengarkan semua ucapan Mamanya. Agatha. "Mama ingin anak Mama satu-satunya dapat pendamping sebelum Mama pergi. Setelah Mama pergi nanti, kalau kamu belum dapat pendamping, siapa yang akan liatin kamu?" Gama sedikit sensitif jika membahas tentang yang namanya 'kematian.' "Ma, Gama bakalan nikah. Tapi Gama gak tau kapan, Gama juga belum ada calon." "Gracella itu bagaimana? Mama lihat kamu dekat dengannya, walaupun kamu jarang membawanya bertemu dengan Mama." "Gracella hanya partner Gama, Ma. Gama sama sekali gak ada rasa apa-apa sama dia." "Partner yang kamu maksud---" Ucapan Agatha menggantung saat Gama mengangguk, seakan paham dengan maksud Mamanya. "Kamu gila?! Itu hubungan terlarang, Gama!" Agatha langsung tersulut emosi saat Gama hanya menjawab tenang. "Itu salah, Gama! Mama gak pernah buat ngajarin kamu ngelakuin hal yang tidak benar!" Ya Tuhan ... dosa apa yang telah Agatha perbuat di masa lalu sehingga anaknya begini. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Sesak rasa di dadanya saat Gama berubah. "Kamu gak mikirin Mama? Saat ini cuma Mama yang ngurusin kamu, cuma Mama, Gama! Kalau kamu kaya gitu, Mama ngerasa gagal ngajarin kamu. Papa pasti kecewa sama Mama." Air mata Agatha turun begitu saja. Almarhum suaminya pasti kecewa ketika ia gagal dalam mendidik anak mereka. Agatha terisak, menunduk dalam. Ia tak tau siapa yang salah disini. Ia atau Gama. Gama merasakan sesak di dadanya, saat Agatha menangis karena ulahnya. Apalagi sampai membawa almarhum Papanya. Gama mendekat ke Agatha, langsung memeluk Agatha yang benar-benar menolak pelukan darinya. "Ma ... maafin, Gama. Mama gak gagal dalam ngedidik Gama, serius. Mama adalah Mama yang hebat. Mama sama sekali gak gagal, Mama udah berhasil." "Kalau Mama berhasil, kamu gak akan ngelakuin hal yang salah kaya gitu, Gama!" Agatha masih membantah. Ia rasa ia memang gagal dalam mendidik Gama. Menjadi single parent memang tidak selalunya mudah. "Maafin, Gama, Ma ... Gama salah. Gama janji, ini yang terakhirnya. Gama gak akan ngulangin, dan Gama bakalan secepatnya buat cari calon istri." Agatha sudah tidak terisak seperti tadi, ia sedikit tenang dengan janji yang Gama ucapkan. Ia percaya bahwa Gama akan menepati janjinya, karena Gama bukanlah orang yang suka ingkar janji. "Mama gak peduli wanita yang akan kamu nikahi itu miskin ataupun apa, asal wanitanya baik, membantu kamu untuk sama-sama berjalan ke jalan yang baik. Yang paling penting attitude. Percuma cantik, kalau dia gak punya rasa menghargai atau gak sopan sama sekali sama orang-orang." Gama mengangguk. "Mama yakin, kamu bakalan bisa milih istri yang baik. Yang baik luar dalam." "Pesan Mama, jangan pandang harta atau cantiknya. Cantik dan kayanya seseorang belum bisa menentukan ia baik atau tidaknya. Mama yakin, kamu pasti paham dan bisa mengerti maksud Mama." *** Malam ini Gama kembali ke kantor. Ia malas untuk kembali ke apartemennya, karena semua berkas yang harus ia kerjakan berada di kantornya. Ternyata di kantor masih ramai, masih banyak orang-orang yang lembur. Soal berapa pekerja yang ada di kantor Gama, tak terhitung. Begitu banyak pekerja yang ada di kantornya. Kantornya seakan tak pernah sepi, karena banyaknya orang-orang yang lebih memilih untuk lembur agar cepat siap dan dapat segera berlibur. "Kamu belum balik?" Gama heran, ternyata Ana belum juga balik. Masih di kantor. "Eh, Bos! Belum, Bos. Masih ada yang mau dikerjakan," balas Ana seraya mensejajarkan langkahnya dengan Gama yang mendekatinya. "Bos sendiri? Kenapa balik lagi?" tanya Ana basa-basi. "Kaya kamu," balas Gama seadanya. "Kamu udah makan?" Ana mengernyit heran. Bos-nya ini kenapa? Sakit? Kata-kata yang sangat jarang dikeluarkan tiba-tiba ia ucapkan untuk seorang bawahan seperti Ana? Ana tertawa canggung, aneh. "Kalau malam belum, Bos. Bos sendiri?" "Saya juga belum. Ayo keluar dulu buat beli makanan," ajak Gama menyeret Ana keluar kantor. "Eh, Bos!" Ana ingin menolak. Ayolah ... dia sudah sangat lelah, ditambah dengan makan di luar. Pasti akan sangat menguras tenaga. "Kamu gak mau makan di luar? Ya sudah, makan di ruangan saya saja." Gama kembali mengajak Ana masuk, mengajaknya untuk makan di ruangannya saja. Ia juga sedikit malas untuk makan di luar. Pasti ramai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN