Abram terbangun pagi itu dengan keadaan tubuh yang sangat lemas. Tenggorokannya kering sekali dan amtanya berkunang-kunang. Saat dia melihat ke arah jam dinding, dia tahu kalau dia sudah terlambat untuk beragkat bekerja. Dia mencoba bangkit berdiri tapi kembali jatuh duduk di sofa dengan kepala yang terasa berputar hingga akhirnya dia harus memegangi kepalanya. Setelah mengumpulkan tenanga untuk bangkit, Abram menuju ke dapur untuk minum karena tenggorokannya yang terasa sangat sakit. Tapi kemudian dia mendengar langkah seseorang yang datang ke dapur juga. ”Nak Abram!” Abram menoleh dan tampak tidak terkejut dengan kehadiran seorang wanita paruh baya yang menggunakan daster dan membawa keranjang belanjaan di tangannya memasuki dapur lalu menabok lengannya. ”Aw, bi Sumi. Sa

