Pengkhianatan 2

1123 Kata
Hilda sudah berada di meja makan sarapan bersama pasangan Ayunda dan Louis. Ayunda makan dengan tenang, begitu pula Hilda dan Louis. “Sayang, besok kamu ingatkan, kita ada janji reuni. Teman-teman lama kita dulu juga relasi bisnismu kan?” tanya Ayunda sesaat setelah dia mengelap bibirnya dengan serbet selesai menghabiskan sarapannya, begitu pula dengan Louis. Tapi tidak dengan Hilda, dia masih belum menghabiskan makanannya dan hanya menyimak pembicaraan paman dan bibinya itu. “Ya, aku ingin,” jawab Louis. Hilda yang khawatir Louis akan pergi bersama Ayunda besok langsung mengangkat kakinya menyentuh paha dalam Louis dengan ujung kakinya, jarinya bermain membelai paha dalam Louis yang membuat Louis menoleh pada Hilda dan dibalas senyuman manis oleh Hilda. “Kenapa Paman?” tanya Hilda karena melihat Louis menatapnya. “Tidak ada, cepat selesaikan sarapanmu kita berangkat. Kurasa hari ini ada meeting untuk mengganti hari esok,” seru memperingatkan Hilda. “Tapi kita menginap besok itu, bagaimana? Hilda kamu berani tinggal sendirian di rumah untuk satu malam besok, sayang?” tanya Ayunda menatap Hilda. “Hemm? Ah ya Bibi tidak apa, aku berani kok. Ya diberanikan sajalah kan tidak mungkin aku ikut dengan kalian juga, walau ya agak takut kalau-kalau suara tadi malam aku dengar lagi, cukup seram juga,” ujar Hilda, dia sebenarnya tidak rela jika Louis pergi bersama Ayunda apalagi sampai bermalam. Mereka belum memulai apapun untuk hubungan baru mereka, bagaimana bisa Ayunda malah membawa suaminya pergi menjauhinya. “Suara apa?” tanya Louis penasaran. “Tadi malam itu loh Paman, pas tengah malam aku mendengar suara teriakan perempuan, seperti kesakitan aku jadi takut aku rasa itu suara makhluk halus entah apa yang sedang dia lakukan sampai dia menjerit seperti itu, aku takut kalau kalian tidak ada suara itu semakin menjadi-jadi nanti,” keluh Hilda dengan tatapan memelas pada Louis. Louis malah tersenyum dengan sedikit menahan tawanya, dia memandang Hilda kemudian Ayunda bergantian. Dia paham Hilda sedang menyindir Ayunda secara tidak langsung dengan bahasa yang ibarat. Hilda sendiri memintanya untuk bergaul dengan Ayunda untuk melampiaskan hasratnya saat itu. Kini malah Hilda menyindirnya. “Tidak akan ada suara itu lagi malam ini, kamu tenang saja. Lagi pula Paman dan Bibi besoknya akan pulang lagi, kami tidak lama di luar kota,” tutur Louis. “Iya, kan sudah Bibi bilang tidak ada makhluk gaib di rumah ini,” timpal Ayunda. “Ish Bibi dan Paman enak tidur berdua jadi tidak takut, kalau aku tidur sendiri takut aja dia menyelinap masuk ke dalam selimutku dan menarik kakiku,” keluh Hilda. Louis terkikik mendengar keluhan Hilda. “Sudah, ayo kita ke kantor. Kamu ingat JADWAL Paman hari inikan?” sanggah Louis dan menanyakan tentang jadwalnya pada Hilda dengan menekan kata Jadwal yang dia ucapkan. Hilda tersenyum mengembang. “Tentu saja, aku kan asisten handal jadi akan ingat jadwalmu hari ini Paman!” jawab Hilda dengan semangat. “Bersemangat sekali keponakan Bibi ini, ya sudah sana kalian berangkat,” seru Ayunda. “Baiklah, tunggu sebentar Paman, aku membereskan meja makan dulu setelah itu aku akan menyusulmu ke mobil.” Hilda berdiri dan membereskan bekas sarapan mereka. Membawa piring bekas ke wastafel untuk dia cuci. Setelah menyelesaikan berberesnya Hilda langsung berpamitan pada Ayunda dan beranjak menuju mobil dimana Louis sudah menunggunya. Hilda tampak riang gembira akan memasuki mobil Louis. Dia kesenangan akan berduaan dengan Louis. “Louis!” pekik Hilda saat masuk ke dalam mobil mendudukan dirinya di samping bangku kemudi tempat Louis berada. “Hmm.” Louis hanya membalasnya dengan deheman singkat. Sedikit kesal dia Hilda tidak menghargai kedudukannya sebagai pamannya Hilda. “Sayang~” panggil Hilda lagi. Tapi Louis hanya menoleh sebentar pada Hilda yang memandangnya dengan tatapan memuja Louis. “Bersikaplah seperti biasa, kita kerja harus professional,” seru Louis memperingati Hilda. “Tentu,” jawab Hilda. Mereka pun berangkat menuju perusahaan, selama di perjalanan Hilda diam saja begitu juga dengan Louis. Hilda tengah mempelajari jadwal lanjutan milik Louis pada hari ini yang seharusnya dia atur ulang karena Louis tidak akan masuk kantor besoknya. Setelah sampai ke kantor, Louis langsung masuk ke ruangannya sedangkan Hilda menuju mejanya. Hilda bukan sekretaris Louis tapi asisten, walau begitu tugas Hilda sama saja dengan tugas sekretaris. Hilda mengatur jadwal milik Louis, mempersiapkan bahan untuk meeting Louis, malah yang tidak dilakukan sekretaris dilakukan oleh Hilda karena Hilda adalah asisten. Hilda senang saja melakukan semuanya, menjalankan tugasnya menjadi orang yang paling dekat dengan Louis saat di kantor dan selalu pergi bersama kemanapun Louis pergi, baik itu untuk observasi, peninjauan lapangan, atau membantu Louis dalam riset untuk kerja samanya dengan perusahaan lain. “Pak, ini kopi Bapak,” ucap Hilda terlihat membawa nampan berisi satu cangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas membumbung ke udara. Hilda meletakkan cangkir kopi di atas meja dan dia tersenyum memperhatikan Louis yang tengah fokus pada pekerjaannya. “Kamu mau mengacuhkan ku ya?” batin Hilda sambil tersenyum licik. Mereka punya janji dan tanpa berpikir panjang. Hilda meletakkan nampan yang tadi dia gunakan untuk membawa cangkir kopi milik Louis. Hilda membuka kancing kemejanya dan melepaskan bra yang dia kenakan dan menarik ke atas rok span yang dia kenakan. Kini dirinya terlihat sebagaimana pakaiannya saat di rumah. Hilda tidak menggunakan bra dan menggunakan rok span sebatas 7 jari tengah pahanya. “Kamu mengacuhkan ku,” rengek Hilda menyindir Louis. “Aku tengah sibuk,” ujar Louis masih fokus pada pekerjaannya. “Kalau sibuk kenapa tidak berbagi denganku! Biar aku bisa membantumu agar cepat selesai pekerjaanmu, kita punya janji loh…, bagaimana? Suami sayangku...” goda Hilda tanpa dia menyentuh Louis sedikit pun, dia hanya berdiri di depan meja Louis dan berbicara sebagaimana yang harus dia bicarakan pada Louis. Louis akhirnya menyerah dan mengalihkan perhatiannya dari berkas yang sedang dia teliti di laptopnya. Melihat Hilda di depannya sangat menggoda, Louis menahan nafasnya sebentar lalu terdengar helaan nafas dari bos perusahaan itu. Louis menyerah dia tidak bisa mengabaikan godaan yang ada di depannya ini. “Kemari sayang,” panggil Louis member isyarat pada Hilda untuk masuk ke pelukannya yang masih duduk di kursi meja kerjanya. Hilda menghampiri Louis sambil tersenyum, dengan langkah kaki yang terlihat sensual Hilda masuk ke dalam pelukan Louis. Hilda memperhatikan guratan menua dan lelah milik Louis yang terdapat di wajah tampan Louis. “Kamu kelelahan sayang, tolong jangan bekerja terlalu keras yang membuat istirahatmu berkurang,” nasehat Hilda mengingatkan Louis. Louis tersenyum dia menikmati belaian Hilda pada wajahnya. Dia pun menikmati wangi Hilda yang menenangkan menurutnya. Kemudian Louis membenamkan wajahnya di belahan d**a Hilda yang syukurnya hanya tertutupi oleh kain kemeja yang dikenakan oleh Hilda, jika tidak Louis akan merasa tidak nyaman mendusal pada d**a montok milik Hilda. “Kamu wangi, aku suka. d**a kamu juga empuk dan nyaman,” ujar Louis masih membenamkan wajahnya di d**a Hilda, dan sekali-sekali dia mendusalkan wajahnya di belahan d**a itu. (s) ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN