“Kamu tidak mau mencobanya?” tanya Hilda sambil membelai surai hitam legam milik Louis.
“Apa boleh?” tanya Louis, dia hanya sekedar bertanya sedangkan dia tahu Hilda akan memberikannya untuk Louis.
“Tentu saja, itu milikmu,” jawab Hilda sambil tersenyum.
“Kamu sungguh manis,” puji Louis.
“Hanya manis? Aku tidak cantik ya?” protes Hilda dari pertanyaannya.
“Oh tentu tidak. Kamu itu sangat manis, cantik, dan ya kamu sexy.” Pujian-pujian Louis lontarkan untuk Hilda yang masih berada di dalam dekapannya.
“Lebih cantik dari Bibi Ayunda?” tanya Hilda yang seperti tidak puas dengan hanya pujian dari Louis tadi.
“Tentu saja, kamu juaranya.” Jawaban Louis membuat Hilda tersenyum dan terus mengusap surai hitam Louis yang masih menempelkan wajahnya di d**a Hilda.
“Kamu ini sangat pintar sekali menggoda, pasti ada maunya, kan?” Hilda balas menggoda Louis, Louis yang mendengar itu pun mendongakkan kepalanya hingga wajahnya berpisah dari d**a Hilda.
“Tidak! Itu tadi adalah pujian yang benar kenyataan!” bantah Louis, dia protes dan protesnya itu sangat lucu menurut Hilda.
Hilda menahan tawanya melihat wajah protes Louis tadi.
“Benarkah? Ah itu pasti karena aku lebih muda saja dari Bibi Ayunda, iya kan? Mengaku saja,” goda Hilda lagi, dia mengaku sungguh menyenangkan melihat wajah cemberut Louis yang Louis perlihatkan padanya. Wajah manja memohon itu membuat Hilda gemas sendiri.
“Iya Hilda muda, tapi Hilda memang sangat cantik!” sanggah Louis. ”Lagi pula Hilda punya janji pada Louis, Louis menunggu Hilda dari semalam,” ujar manja Louis pada Hilda.
Louis seakan tidak mengingat umurnya berapa, dia sungguh sudah bertekuk lutut pada Hilda.
“Hilda sangat mencintai Louis, ingat itu.” Hilda memperingatkan Louis padanya bahwa dia sangat mencintai Louis.
Louis menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dia tidak membalas ucapan Hilda tadi karena dia sendiri masih belum percaya dia ada affair dengan keponakan istrinya.
Bukankah itu adalah hal yang salah, hubungan mereka adalah hubungan yang salah bahkan Louis sulit percaya dan mengakui bahwa dia sangat jauh lebih tua dari pada Hilda. Bahkan umur dirinya dua kali lipat umur Hilda sendiri saat ini.
Saat ini Hilda sedang tertidur lemas mengistirahatkan tubuhnya yang baru saja berolah raga intim dengan Louis. Tubuh telanjangnya tertutupi kain selimut tipis membungkusnya yang terbaring di atas sopa ruang kerja Louis.
Sedangkan Louis saat ini masih tidak percaya, tapi dia tidak bisa menolak. Nafsu dan egonya ternyata dapat mengalahkan akal sehatnya. Louis pun masih mengingat bagaimana dia membuat ruangan kerjanya itu menjadi berhawa panas, dia akui itu sungguh berbeda dengan yang dia pernah lakukan dengan sang istri. Rintihan, teriakan, godaan Hilda sungguh membuatnya terngiang-ngiang, seakan pengalaman pertama mereka melekat erat diingatan.
Hilda benar-benar memanjakan Louis saat mereka bersama. Membuat Louis semakin nyaman dan jatuh pada obsesi Hilda yang sangat menginginkan Louis. Louis menuruti Hilda dan begitupun sebaliknya.
Tok tok tok
“Pak boleh saya masuk?!” teriak seorang wanita dari luar.
“Masuk!” sahut Louis yang sudah duduk di kursi di balik meja kerjanya.
Pintu coklat tinggi penghubung ruangan Louis dan lorong luar terbuka oleh seorang wanita berpakaian formal kantor.
“Astaga!” kagetnya hampir dia menjerit pertama kali masuk dia langsung disajikan dengan seorang wanita yang dia yakini telanjang sedang terbaring di sopa ruangan bos besarnya itu. Sekretaris Louis menoleh ke Louis dengan takut-takut dan hati-hati. Dia tidak berani untuk meminta penjelasan tentang apa yang dia lihat dan apa yang terjadi.
“Ada apa?” tanya Louis mengalihkan perhatian sekretarisnya itu padanya. Hal itu menyentak sekretaris wanita itu untuk sadar dari keterkejutannya dengan kondisi saat itu.
“Ah ini Pak, saya mau menyampaikan pesan dari manager pabrik distrik tiga tentang produksi di pabrik kertas distrik tiga mengalami kendala,” papar wanita itu. Matanya sekali-sekali mencuri pandang pada wanita yang asik tertidur di sopa itu. “Mmm maaf Pak? Kenapa Hilda bisa tidur tanpa busana di sopa?” pada akhirnya dia menyerah dan memberanikan diri untuk bertanya pada Ceo-nya itu.
“Dia habis olahraga bersama saya,” jawab Louis dengan santai.
“Olahraga seperti apa Pak?” tanya wanita itu lagi berlanjut.
“Olahraga yang membuat tubuh kami berkeringat, jika kamu ingin tetap menjadi sekretaris ku maka kamu diam saja jika melihat dia seperti itu,” tegur Louis pada akhirnya, nada tegurannya sangat dingin dan lirikan matanya yang tajam memandang sekretarisnya yang lancang bertanya tentang kegiatannya tadi.
“Lagi pula apa masalahnya kalau aku sedang bercocok tanam,” gumam Louis, sekretarisnya itu tidak mendengarnya, tentu saja suara itu sangat pelan sekali.
“Ada lagi yang ingin disampaikan?” tanya Louis menyadari sekretarisnya itu diam dalam beberapa saat setelah mendengar penjelasannya tadi.
“A-a-ah ti-dak Pak, kalau begitu saya permisi dulu Pak masih ada pekerjaan,” ucap sekretaris itu dengan cepat.
Ini adalah awal dari hubungan gelap Louis dan Hilda, hubungan mereka masih berlanjut dengan berbagai macam alasan dan kesempatan untuk mereka dapat berduaan dan bermesraan.
kediaman Hasbian Annie masa kini.
“Mbak? Kak? Loha?” panggil Aliana menyembulkan kepalanya sebatas leher dari pintu masuk untuk melihat ke dalam ruang kamar Erisa, Aliana melihat pada Erisa yang sedang duduk di meja belajarnya.
“Ya?” sahut Erisa, kemudian dia menoleh sedikit pada Aliana yang masih di ambang pintu. “Ada apa?” tanya Erisa pada Aliana.
“Mbak kita makan di luar malam ini ya?” nada itu lebih terdengar nada memohon pada Erisa sang kakak.
Mendengar permintaan Aliana, dahi Erisa berkerut karena merasa tidak biasa adiknya itu meminta sesuatu padanya.
“Tapi Papa sama Mama bilang kita tidak boleh berkeliaran di luar rumah jika tidak ada keperluan mendesak sampai Papa dan Mama pulang,” jelas Erisa mengingatkan pada adiknya itu.
“Iya Al ingat itu, cuma bahan makanan kita di dapur menipis Mbak.” Setelah mendengar ucapan Aliana barulah Erisa sadar bahwa stok makanan mereka memang menipis, dan dia melupakan itu.
“Astaga…, Mbak lupa itu. Gimana ya? Atau mending kita keluar belanja stok dapur aja dari pada makan di luar, tidak ada penolakan. Sana siap-siap sebentar lagi kita berangkat,” perintah Erisa langsung pada Aliana, tidak ada cela untuk Aliana menyela perkataan Erisa tanpa mengizinkan Aliana berbicara lebih dulu.
Aliana mengerjap beberapa kali menyadarkan dirinya sendiri, perkataan Erisa tadi terlalu cepat dan dia masih belum percaya. “Mungkin memang lebih baik begitu,” gumam Aliana, kemudian dia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar sebelah kamar Erisa.
Aliana masuk ke dalam kamarnya dan dia barulah teringat sesuatu, sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Andrean dan dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Andrean atau apa yang membuat seorang Andrean sibuk dengan urusannya.
Aliana meraih ponselnya.
Dering nada panggilan sedang menunggu di dapati Aliana saat menelpon nomor seseorang di dalam ponselnya.
“Hallo Nak, ada apa? Bagaimana kabarmu? Apakah kalian baik-baik saja?” deretan pertanyaan langsung Aliana dapatkan saat panggilan yang dia lakukan diterima oleh nomor tujuannya itu.
“Hehehe baik-baik kok Ma, Mama bagaimana?” tanya Aliana kepala Annie.
“Syukurlah, kami baik-baik saja. Doakan saja urusan di sini cepat selesai biar kami cepat pulang,” balas Annie pada Aliana.
“Bagaimana perusahaan di sana?” tanya Aliana lagi.
“Awalnya ada masalah dibagian kilang minyak tapi sudah diselesaikan oleh Papamu, semoga saja berjalan lancar, pekerjanya pun di sini sangat bertanggung jawab hanya mesin saja ternyata kurang dipantau jadi sedikit bermasalah,” jelas Annie pada anak bungsunya itu.
(t)
….