Berpura-pura

1161 Kata
“Aku tidak mengerti, tapi semoga kalian baik-baik saja di sana, aku merindukan kalian. Ma pulsa Al boros menelpon ke sana, sudah dulu ya… da Mama love you.” Setelah itu Aliana langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak tanpa mendengar dulu sahutan dari sang mama, kebiasaan Aliana seperti itu. Dia di kamar hanya berdiam diri tanpa melakukan yang diperintahkan oleh sang kakak tadi sebelumnya saat di kamar sang kakak. “Ada baiknya menghubungi Andrean juga,” gumam Aliana. Tanpa berpikir panjang, Aliana menekan kontak bernama Andrean di dalam ponselnya. Sama seperti sebelumnya dia menunggu beberapa saat untuk panggilan diterima oleh yang dia panggil “Al! buka pintunya dari tadi aku menunggu dan memencet bel tapi tidak ada yang membukanya!” bukan sapaan rama yang Aliana dapatkan saat pertama panggilan diterima oleh Andrean tapi sebuah teriakan yang ternyata Andrea nada di depan pintu utama rumah keluarga Hasbie itu. “Astaga mengagetkan saja,” gerutu Aliana menjauhkan ponselnya dari telinganya yang sedikit berdengung. “Al!” teriak Andrean lagi dari dalam panggilan yang belum terputus. “Iya iya sebentar And!” balas teriak Aliana dan mendengar suara keluhan dari dalam ponsel. “Rasain.” Aliana kemudian memutus panggilan itu secara sepihak, keluar dari kamar dan melangkah menuju tangga untuk turun ke lantai satu. Sampai di ruang penghubung pintu utama benar sana bel berbunyi heboh di ruangan itu, tentu saja ulah dari Andrean. “Sabar woy!” teriak Aliana dari dalam, hilang sudah sifat kalem Aliana jika menghadapi Andrean. Ceklek Suara kunci dibuka menghentikan pencetan brutal dari luar pada bel rumah Hasbiean. “Akhirnya…,” desah lega Andrean saat pintu sudah dibuka dan terilihatlah Aliana yang berdiri menatap datar Andrean di depannya. “Kenapa?” tanya Aliana sedikit nada ketus. “Tumben,” balas Andrean tidak sesuai dengan pertanyaan. Kemudian Aliana memberikan ruang untuk Andrean masuk ke dalam rumah melewati pintu. Andrean pun menyelonong masuk ke dalam rumah tanpa permisi terlebih dahulu pada tuan rumahnya. “Al kok sepi?” tanya Andrean yang sudah melangkah duluan di depan Aliana. “Kamu gak tau kalau Papa Mama pergi ke Dubai?” bukannya menjawab pertanyaan Andrean, Aliana malah balik bertanya pada laki-laki itu. “Tidak tau aku tuh Al, Paman Hasbie dan Bibi Annie tidak membuat laporan padaku mereka akan pergi kemana,” balas Andrean dengan nada dibuat-buat. “Kan tadi sudah kuberitahu kalau mereka pergi ke Dubai wahai Kisana…,” ujar Aliana dengan nada mengikuti cara bicara Andrean tadi. “Al sudah siap?” tanya suara Erisa dari arah tangga. Mendengar suara itu Aliana dan Andrean menoleh bersamaan melihat kearah tangga tempat Erisa berdiri di tingkat anak tangga ke 5 dari bawah. “Udah,” jawab Aliana singkat. “Eh ada Andrean,” sapa Erisa saat melihat keberadaan Andrean. “Iya Mbak baru datang,” jawab Andrean. “Kalian mau kemana Al?” tanya Andrean pada Aliana yang ada di belakangnya. “Ke mini market atau mungkin pasar, stok dapur kosong,” jawab Aliana. “Kamu datang tepat saat kami mau pergi, mau nunggu di rumah?” tanya Aliana. “Ya enggaklah, aku ikut biar bisa mengawasi kalian,” pinta Andrean. “Ayudah ayo Mbak aku ikut aja sekalian!” seru Andrean pada Erisa. “Yaudah biar ada yang jagain Aliana tuh,” balas Erisa yang mendapat delikan tidak suka dari Aliana. “Oh ya Brian ikut juga,” kata Erisa tiba-tiba. Andrean menyegitkan dahinya, “masa cuma pergi ke pasar rame-rame sih?” bisiknya pada Aliana. “Ya mana aku tau,” balas Aliana. “Kamu pakai mobil apa motor?” tanya Aliana lagi pad Andrean. “Motor seperti biasa,” jawab Andrean. “Yasudah kamu nyetir mobil Mama kalau gitu.” Setelah mengucapkan itu Aliana melangkah duluan menuju pintu penghubung ke garasi. “Andrean! Ayo!” teriak Aliana. Sedangkan Erisa memandang Andrean yang masih beradai ditempatnya semula. “Gitu tuh Aliana,” kata Erisa yang terkekeh melihat kelakuan adiknya. “Dia pakai kaos kebesaran gitu aja? Celana? Pendek banget ya Tuhan,” keluh Andrean, mengingat pakaian Aliana terlampau sederhana dan rumahan sekali. Terlihat Aliana sudah berada di dalam mobil di samping kemudi yang masih kosong. “Cepet banget gerak kamu Dek,” singgung Erisa. “Laper Mbak,” jawab Aliana. Andrean masuk ke dalam mobil tepat di bagian kemudi, sedangkan Erisa masuk ke bagian bangku penumpang di belakang. “Alas kaki kamu udah kamu gantikan Dek?” tanya Erisa mengingat Aliana juga orang yang sembarangan saat menggunakan alas kaki. “Sudah! Ini tadi udah ganti,” jawab Aliana sambil menunjukkan jika dia sudah mengganti sandal bulu rumahannya dengan sepatu sport miliknya. Belum juga mobil keluar dengan sempurna, ternyata Brian sudah menunggu di tepi pintu gedap garasi yang sudah dibuka secara otomatis sebelumnya. Tok tok tok Suara ketukan kaca yang dilakukan oleh Brian terdengar sayup dari dalam. “Ah Bri!” seru Erisa melihat Brian. “Eh ada Andrean jadi sopir, kirain mereka gak ada sopirnya,” celetuk Brian. “Kebetulan tadi,” balas Andrean. “Ya sudah aku ikut aja sekalian,” kata Brian kemudian dia mendudukkan dirinya di samping Erisa yang sudah menggeser duduknya untuk memberikan ruang Brian bisa duduk di sampingnya di bangku belakang. “Mmm.” “Sudah semuakan?” tanya Andrean sebagai sopir. “Sudah,” jawab Aliana dengan sikap dinginnnya. Mereka pun berangkat dengan mobil yang dikemudikan oleh Andrean. Sedangkan di sebuah gedung perusahaan besar di Indonesia. Tampak seorang pejabat daerah yang sangat terkemuka berkunjung tanpa sorotan media. Kunjung itu tanpa membawa statusnya sebagai pejabat Negara tapi membawa kekuasaan untuk melancarkan bisnis miliknya. “Selamat datang Pak Juan,” sapa para petinggi perusahaan itu. Hari ini Juan datang didampingi oleh beberapa bawahan dan juga Jessica di sisi Juan. Jessica merasa bahagia karena Juan hari ini membawanya kepertemuan penting itu. Hal inilah yang dinantikannya, walau sebenarnya dia hanya menggantikan posisi Lui yang tidak dapat ikut bersama Juan sebagai sekretaris Juan. “Selamat siang Pak David,” balas Juan menyapa pimpinan perusahaan itu. “Mari kita bicarakan kesepakatannya, tapi sebelum itu ada baiknya kita nikmati dulu sajian hidangan dari restoran terkenal milik kami,” tutur David. “Tidak perlu terburu-buru, jika benar-benar kesepakatan ini saling menguntungan tentu saja pihak saya akan menyetujui kesepakatan itu,” ungkap Juan. Pertemuan mereka dilakukan di sebuah restoran pusat perusahaan NDt Comp tepat di sebuah ruangan elite privat dengan fasilitas VIP mereka. Meja sudah di sajikan makanan-makanan kelas atas hasil masakan dari chef handal milik restoran tersebut. “Pasta ini sangat lembut di dalam mulut,” komentar Juan menyanjung makanan yang dia makan. “Terimakasih Pak,” balas chef yang memasak hidangan itu. “Tentu saja Pak Juan, mereka adalah Chef anak bangsa yang sudah lulus dengan sertifikat di Paris,” jelas David bangga pada chef miliknya. “Tidak diragukan lagi keterampilannya,” tutur Juan memuji. Dalam beberapa menit berikutnya, acara makan mereka selesai dan meja sudah dibersihkan dari alat-alat makan yang tadi digunakan. Sekarang meja berganti dengan berkas kesepakatan dua belah pihak. Sebuah kesepakatan yang pasti menguntungkan mereka tapi diduga akan merugikan masyarakat umum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN