“Apa pergerakan dia selanjutnya?” tanya Hasbie pada mata-mata miliknya mengabari dari sambungan telpon.
“….”
“Ow jadi dia belum melakukan pergerakan untuk pembebasan pulau itu. Bagaimana dengan serangan pada anak-anakku?” tanya Hasbie lagi.
“….”
“Ingat, selalu pantau dan berikan informasinya pada saya. Saya percaya pada anda. Kita harus menghentikan kejahatannya.” Suara tegas Hasbie menandakan dia serius dengan ucapannya tadi. Menghentikan kejahatan Juan Kelino adalah tujuannya saat ini.
Panggilan telah diselasaikan, tatapan tajam Hasbie masih terlihat. Dia sedang berpikir mengingat banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh satu orang bernama Juan Kelino itu.
“Tua Bangka itu harusnya tobat saat usianya sudah memasuki lebih dari setengah abad,” geram Hasbie. Dia sebenarnya orang yang tidak mudah dan tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain, terlebih lagi urusan berbahaya seperti yang dilakukan oleh Juan. Tapi keadaan memaksanya karena kakak kandungnya sudah meninggal dengan tragis dibunuh oleh orang suruhan dari Juan yang saat itu penuh dengan ambisi.
Hasbie yang awalnya memang muak dengan harta semakin muak saat harta dan kedudukan harus menghancurkan keluarga saudarinya, bahkan keponakan-keponakannya yang tidak tahu menau dengan urusan orang dewasa pun harus meninggal dengan cara yang sangat mengerikan, mereka pun meninggalkan satu orang putri yang awalnya tidak tahu apa-apa yang masih selamat, keberuntungan takdir menggariskan anak bungsu dari keluarga Yaksa masih bisa selamat dengan tidak diduga.
“Berapa banyak kejahatan lagi yang akan dia perbuat sayang?” tanya Annie yang selalu setia menemani Hasbie kemana pun dan apapun urusannya, dia bisa mengontrol emosi Hasbie dan dia juga bisa menjadi teman berbagi Hasbie tentang apa yang sedang membebani pikirannya.
“Kali ini dia akan membebaskan lahan perumahan masyarakat menengah kebawah untuk pembangunan pusat perbelanjaan lagi, masalahnya kali ini adalah tanah itu adalah tanah masyarakat bukan tanah merintah yang akan mereka layangkan pada media nanti. Mereka sudah mempersiapkannya dari sejak lama. Mereka sudah mengalihkan semua tanah pada merintah dalam program pembuatan surat tanah tempo lalu, itu yang menjebat masyarakat saat ini, mereka tidak akan bisa bergerak kecuali menuruti. Parahnya kali ini tidak ada ganti rugi, hanya ada uang lima puluh ribu rupiah di awal saat mereka menyerahkan data tanah mereka untuk dibuatkan surat tanah paslu itu,” jelas Hasbie panjang lebar mengeluarkan isi kepalanya berbagi pada Annie.
Annie menatap serius Hasbie yang tengah mengarahkan pandangannya kesegala arah untuk meredam amarahnya mengingat apa yang tadi dilaporkan oleh orangnya.
“Tua Bangka itu semakin jadi, bukankah kasus ini pernah dia lakukan sebelumnya?” tanya Annie sambil mengingat kasus yang sama sudah pernah terjadi sebelumnya pada masa periode pertama kepemimpinan Juan Kelino.
“Ya pernah saat pembebasan jalan tol yang bermasalah dengan tanah perkebunan masyarakat yang dituding sudah dikeluarkan dana ganti rugi tapi ternyata tidak sama sekali. Ini bisnis, bisnis mereka orang-orang berkuasa, jika tidak begitu mereka tidak akan kaya seperti saat ini,” papar Hasbie.
“Sekarang nasib yang sama akan mereka alami juga, apakah masalah ini tidak ada cara untuk menghentikannya sayang? Kita cukup beruntung tidak menjadi korban kejahatan mereka tentang masalah pembebasan seperti itu.” Annie yang memiliki hati yang lembut merasa kasihan dan tidak tega karena masalah kali ini menyangkut tempat tinggal masyarakat banyak berbeda dengan masalah dulu yang hanya lahan kosong tapi ini berbeda, ini akan memakan Korban jika mereka tidak mendapatkan evakuasi dan tempat berteduh yang menjadi tempat mereka berikutnya. “Apakah kali ini mereka akan diberikan pesangon setidaknya tempat tinggal baru untuk mereka?” tanya Annie lirih, dia tidak yakin tapi setidaknya dia memastikan terlebih dahulu.
Hasbie terlihat tenang dan menghela nafas pelan. Dia memandang istrinya sendu, dia tahu dan dia paham istrinya merasa kasih pada orang lain saat ini. “Tidak sama seperti dulu, dan kali ini keuntungan mereka lebih besar.”
Jawaban Hasbie membuat bahu Annie runtuh. Dia tidak membayangkan banyaknya anak-anak dan wanita yang akan kesulitan nantinya. Tangisan mereka mendengung di telinga Annie.
“Sayang, apakah tidak ada cara untuk menghentikan Juan dan para pebisnis itu?” tanya Annie lagi.
“Tidak ada untuk saat ini, kecuali−“ Hasbie menjeda ucapannya dan Annie menunggu dengan serius ucapan suaminya itu selanjutnya. “Kecuali kita hentikan langsung perbuatan Juan sama seperti tujuan kita sebenarnya.” Dia menatap Annie dengan tatapan memohon untuk istrinya bersabar dan tenang. “Untuk saat ini jangan pedulikan sekitar kita dulu, kali ini kita harus egois untuk tujuan kita yang lebih besar. Kamu mau terus menemanikukan?” pinta Hasbie pada sang istri.
Nafas Annie tercekat, dia merasa tidak bisa egois tenang orang-orang yang menderita di luar sana. Tapi untuk menemani suaminya itu kemanapun dan dalam keadaan apapun itu sudah menjadi tujuan hidupnya saat ini.
“Aku akan selalu menemanimu, kita akan saling melindungi,” ucap Annie, kemudian mendekat pada Hasbie dan memeluk Hasbie untuk memberikan energy kekuatan dari masing-masing mereka.
“Untuk anak-anak dan almarhumah Zura dan untuk almarhum Mas Yasa,” ucap Hasbie lirih dalam pelukannya bersama sang istri.
“Untuk apa sebenarnya dia yang sudah tua itu mengumpulkan banyak harta dan juga kekuasaan seperti itu?” tanya Annie dengan berpikir alasan seorang Juan hidup dengan bergelimang harta rampasan dan kekuasaan yang diagungkan masyarakat, dia bak ikan buntal tua yang menggemaskan tapi dia berbahaya sama seperti Juan Kelino. “Dia bahkan tidak menikah sampai umurnya sekarang ini, ck! jadi untuk apa harta dan kekuasaan itu,” gerutu Annie lagi.
Hasbie tersenyum dan hampir tertawa melihat wajah kesal sang istri. Dia sebenarnya tidak ingin mengikut sertakan sang istri ke dalam urusan berbahaya apapun jenisnya. Apalagi menyangkut orang yang licik seperti Juan.
Tapi bagaimana, sumber kekuatannya sendiri ada pada sang istri yang selalu ada di sampingnya. Dia sebenarnya tidak sanggup dipusingkan dengan segala urusan perusahaan besar yang sangat rumit, berat dan juga berbahaya penuh dengan resiko. Seperti salah hitung satu nol di belakang deretan angga besar untuk sebuah nominal yang harus diputuskan baik itu sebuah keuntungan, pengeluaran ataupun laporan.
“Itulah manusia, dia bahkan seperti tidak perlu dengan anak dan istri. Kamu tau sendirikan, selama ini temuan mayat gadis yang sempat hilang dan ditemukan mayatnya di luar kota, siapa lagi yang berulah kalau tidak dia. Bahkan kasus anak SMA hamil yang tertuduh adalah seorang guru itu saja bukan guru itu pelakunya. Pada akhirnya anak SMA itu hilang begitu saja,” papar Hasbie mengungkap kasus yang dilakukan Juan yang tidak hanya satu tapi ada banyak.
“Kasus anak SMA itu? bagiamana gurunya saat ini? Dipenjara?” tanya Annie memastikan informasi yang baru dia dapat dari suaminya itu.
“Ya, dia dipenjara karena orang tua dari korban tetap menuduh guru tersebutlah pelakunya. Tapi jangan mudah percaya, keluarga itu sudah disuap oleh seseorang dan sekarang anak itu hilang sedangkan keluarganya tetap santai saja, bukankah itu hal aneh?” Hasbie menatap sang istri sambil tersenyum. Informasi yang dia berikan membuat istrinya itu berpikir.
“Juan juga?” tanya Annie lagi, memastikan dugaannya.
Hasbie tersenyum. “Tepat sekali,” kata Hasbie.
“Sungguh b***t,” cibir Annie.
“Tidak mengherankan bagi kita, kecuali ada berita dia tiba-tiba menyerahkan diri dan mengakui kesalahannya. Tapi itu seakan mustahil.”
(w)
….