Saat ini Hasbie tenggah memikirkan ucapan dari Andrean, ia baru dapat berpikir setelah Andrean pergi dan semua orang sudah pergi beristirahat. Karena ia tidak mungkin untuk berpikir saat semua orang berkumpul tadi, apalagi untuk membahasnya karena itu sama saja membocorkan rahasia yang selama ini mereka tutupi.
Habie terduduk menerawang jauh ke masa lalu tapat ke 17 tahun yang lalu. Ia mengingat ada pembunuhan keluarga anggotan dewan depertemen pemerintah yang diancang akan menjadi menteri karena kinerja yang sangat baik yang ia miliki. Ia tidak menyangka bahwa pejabat yang kematiannya ditangani oleh kakak iparnya itu memiliki seorang anak laki-laki yang masih hidup. Dan sekarang ia datang menemui Aliananya.
“Pa?” sapa suara perempuan yang baru saja masuk ke ruang kerja Hasbie. Hasbie mendengar sapaan itu, langsung mengkat kepalanya dan melihat wanita yang umurnya beberapa tahun di bawahnya sedang memandangnya sendu sambil tersenyum sangat cantik.
“Kenapa kau tidak kunjung kembali ke kamar, kau pasti sangat lelah dari pagi tadi dan siangnya kau mencari keberadaan Aliana, dan larut malam begini juga kau tidak kunjung beristirahat,” tegur Annie pada suaminya itu. Kini ia telah duduk di bangku seberang meja kerja suaminya sambil menopang dagunya ia menatap langsung mata lelah suaminya tersebut.
“Aku tidak akan mengenal lelah untuk memikirkan kondisi Aliana dan perusahaannya. Aku tidak akan tega untuk membiarkan keponakanku itu tersakiti oleh tangan serakah manapun,” ujar Hasbie menatap balik mata istrinya yang berada tepat di depannya. “Maafkan aku jika aku membuatmu khawatir, tetapi aku sungguh sulit untuk mengabaikan ancaman-ancaman yang datang menghampiri Aliana, maafkan aku juga seakan aku mengabaikan anak kandung kita dan juga dirimu,” jelas Hasbie meminta maaf pada Annie dengan ekspresi bersalahnya.
Annie tersenyum membalas tatapan bersalah suaminya tersebut. “Tidak, kau tidak salah, aku akan terus mendukungmu dan membantu melindungi Aliana. Ingat dia juga keponakanku sekaligus anak angkatku, putri bungsuku yang tingkahnya sangat manis itu, aku tidak tega juga jika dirinya terluka,” ujar Annie.
Hasbie berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri tempat duduk istrinya. Ia memegang kedua bahu Annie dan mengangkatnya, kemudian ia memeluk tubuh istrinya itu dengan penuh perasaan sayang. “Aku beruntung memiliki kau di sampingku dan selalu mendorongku,” seru Hasbie. Ia menumpahkan semua lelah ditubuh dan dipikirannya saat memeluk sang istri. Annie juga membalas pelukan itu dengan hangat, ia juga memberikan Hasbie tepukakan punggung seperti seorang sahabat yang mencoba memberikan kekuatan pada sahabatnya.
Annie tersenyum dalam pelukannya. “Aku juga jauh lebih beruntung memiliki suami sepertimu sekaligus sahabat untukku,” balas Annie. Annie kemudian melepaskan pelukannya dari sang suami, lalu bertanya, “apakah ada yang ingin kau ceritakan padaku, dan merencanakan sesuatu. Aku harap kau tetap berbagi padaku, agar aku bisa membantumu,” pinta Annie pada suaminya sambil tersenyum ia menatap wajah sang suami yang berada di depan wajahnya berjarak beberapa senti.
“Tentu saja ada,” balas Hasbie.
Mereka kemudian duduk di kembali ke posisi masing-masing sebelumnya. Saling menatap kemudian Annie mengatakan sesuatu, “aku diberitahu oleh Andrean tadi, jika ada mata-mata di sekitar kita.”
Hasbie mengangguk menyetujui karena ia pun merasa ada seseorang yang mengawasi mereka dan memberikan informasi-informasi yang mereka lakukan kepada orang yang sedang memburu Aliana. “Aku setuju, seperti memang ada yang sedang mengintai kita, maka dari itu kita tidak bisa berbicara sembaranga lagi tentang Aliana jika tidak ditempat yang sangat aman,” ujar Hasbie.
Annie mengangguk setuju. “Mungkin inilah tempat aman, apakah perlu besok kita memasang pengedap suara agar suara kita tidak bocor keluar? Tetapi memasangnya secara diam-diam,” tawar Annie pada sang suami.
“Kau benar, aku setuju besok kita akan mencari alat meredam suara ruangan ini, karena kita tidak bisa mengambil resiko merasa aman untuk rumah kita sendiri,” balas Hasbie.
“Andrean tadi juga mengatakan untuk kita tetap bersikap biasa saja saat berada di luar dan bersikap seperti biasanya di sehari-hari kita, kurasa itu memang harus kita lakukan mulai sekarang sampai orang-orang itu benar-benar sudah memastikan Aliana adalah orang yang mereka cari,” tutur Annie.
“Iya aku setuju, hanya saja aku tetap harus memikirkan untuk keselamatan Aliana dan menjauhkan mereka dari Aliana. Aku tidak menduga mereka juga menargetkan anak satu-satunya dari keluarga yang mereka sudah bantai yang bahkan mereka tidak ketahui keberadaannya itu,” ucap Hasbie merasa heran dengan keserakahaan orang itu yang tanpa habisnya ingin menguasai lebih banyak lagi kekayaan orang lain dengan cara busuknya.
“Itu karena Aliana adalah satu-satunya pemegang stempel kekayaan Yaksa, walau Aliana tidak memegang stempel itu tetapi Aliana membawanya kemana pun ia pergi,” seru Annie, ucapan Annie tersebut membuat Hasbie tercengang pasalnya ia belum menceritakan tentang stempel perusahaan yang sudah ia atur menggunakan tangan Aliana.
“Kau mengetahuinya?” tanya Habie tidak percaya, ia menatap lurus wajah istrinya yang tersenyum.
“Ya, aku mengetahuinya. Stempel itu ada pada diri Aliana, bagian dari tubuh Aliana yaitu telapak tangan kiri Aliana dan satu telapak kaki kanan Aliana,” jawab Annie sambil ternseyum. “Jangan mencurigaiku membongkar data-datamu, aku mengetahuinya saat kau mengambil semua sampel tangan dan kaki Aliana saat tidur. Aku juga melihatmu saat kau mencobakan hasil karyamu pada Aliana tepat saat dia tidur lagi. Dan itu berhasil,” ungkap Annie menjelaskan.
“Aku kurang hati-hati,” ujar Hasbie.
“Tidak, hanya saja aku yang terlalu teliti dan bisa membaca keadaan yang sedang kau lakukan saat itu,” balas Annie. “Aku tidak marah kau menyembunyikan hal itu dariku, hanya saja aku khawatir pada Aliana dan takut mereka akan tega menyakiti Aliana,” seru Annie.
“Tidak akan kubiarkan itu terjadi, mereka menginginkan pulau milik keluarga Yaksa maka mereka harus mendapatkan stempel pengalihan agar dunia internasional mempercayai bahwa pulau itu sudah menjadi milik pemimpin serakah itu,” ucap Hasbie yang muak dengan segala kejahatan yang dilakukan oleh pemimpin daerah mereka yang sangat-sangat busuk tetapi terlihat indah dan berwibawa saat di depan masyarakat.
“Aku pun tidak mengira bahwa dialah pelaku yang sebenarnya, kita hanya sempat mencurigainya tetapi tidak mencari tau lebih lanjut,” ungkap Annie pada suaminya, memang mereka pernah mencurigai orang yang menjadi dalang atas semua keganasan yang menimpa keluarga kakaknya, tetapi mereka urungkan untuk mencari lebih lanjut agar Aliana tetap aman bersama mereka.
“Itu semua karena ia bermain tidak menggunakan tangannya sendiri tetapi tangan orang lain bahkan tidak semua pelaku pembantaian itu tertanggap karena solidaritas dari kawanan pembantai itu pas bos mereka, dan semua yang kita lakukan selama ini sudah benar, dan beruntung anak satu-satunya keluarga Darmian masih ada dan membocorkan semua yang kita belum ketahui dari masa lalu,” jelas Hasbie. “Aku yakin pelaku pengintaian itu tidak jauh-jauh dari pelaku pembantaian itu juga, mereka sudah pasti mempelajari silsilah keluargaku dan kini berakhir pada kita yang menjadi keluarga tersisa yang bersangtan langsung dengan korban yang telah dibunuh,” jelas Hasbie lagi.
(b)
….