“Ya, aku setuju. Mereka sudah pasti mengenal keluarga itu dan dengan itu juga Andrean dengan berani mengatakan ada seseorang yang mengintai kita, karena mereka curiga pada keluarga kita ini,” ungkap Annie menyetujui perkataan suaminya.
Diskusi mereka semakin panjang saat membahas semua keaman dari perusahaan Yaksa yang masih berjalan dan tetap berjalan walau pemegang seluruh saham perusahaan tidak diketahui keberadaannya. Karena staff pengoperasian adalah orang yang handal dan terpercaya mereka tetap dapat menjalankan perusahaan tanpa perintah langsung dari pemimpin mereka. Keamaan yang selektif dan berlapis membuat penyusup tidak dapat mudah untuk menembus sistem mereka atau ingin menyusup ke bagian kantor perusahaan Yaksa.
Semua itu adalah kerja tangan Hasbie yang secara diam-diam menjalankan semuanya, membuat semua tidak terlihat dan tidak tampak menonjol. Pemegang kunci sebenarnya ada padanya yaitu Aliana yang sama sekali tidak mengetahui bahwa ia adalah kunci dari perusahaan tersebut.
“Mereka adalah b***k dunia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia telah miliki dan tidak akan pernah puas untuk berbuat kejahatan dan merusak.”
Di sebuah kamar rumah besar bergaya modern. Tepatnya kamar Aliana, dia merebahkan dirinya di atas kasur empuknya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda sewarna dengan langit.
Aliana menerawang pada kejadian sebelumnya melihat ciuman antara Brian dan Erisa yang bukan pertama kalinya ia melihat itu.
Aliana tanpa sadar menghela nafas kasar mengingat hal tersebut.
“Bakalan susah perjalanan move-onku,” keluh Aliana berbicara sendiri tapi dia tidak sadar seseorang sedang mendengar ucapannya tersebut.
“Kamu mau move-on dari siapa Al?” tanya suara itu tiba-tiba dan itu berhasil mengejutkan Aliana, membuat Aliana langsung menoleh pada daun pintu berwarna putih kamarnya yang sudah terdapat seorang wanita yang usianya beberapa tahun di atas Aliana sendiri.
“Mbak? Dari kapan di situ?” tanya Aliana langsung melihat saudara angkatnya ada diambang pintu kamarnya sambil memegang ganggang pintu kamarnya.
“Dari tadi, kamu move dari siapa?” tanya Erisa kembali, kali ini dia melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke dalam kamar sang adik yang sudah duduk di atas kasurnya.
“Orang,” jawab Aliana singkat kali ini dia menjawab tanpa melihat Erisa yang sudah ada di dekatnya.
Terasa kasur sedikit bergerak pasalnya seseorang duduk di sisi sebelah Aliana masih di atas kasur Aliana.
“Iya spesifiknya siapa namanya gitu.” Erisa menuntut Aliana untuk mengatakan identitas orang yang Aliana maksud tadi.
“Gak mungkin aku kasih taulah, dia tau sendiri dari dulu.” Detak sebal Aliana hanya dipendam olehnya sambil sekilas melihat Erisa yang ada di sampingnya.
“Gak perlu tau,” jawab Aliana singkat. Kemudian Aliana kembali merebahkan dirinya di kasurnya lagi. Sedangkan Erisa tetap pada posisinya, kemudian dia berbalik dan memandangi adiknya yang sedang memejamkan mata.
“Besok kami mau jalan-jalan nge-mall, ikut gak?” tawar Erisa pada Aliana. Aliana diam sesaat saat Erisa menunggu respon dari adiknya itu.
“Sama Mbak Salsa?” Tanya Aliana memastikan, Aliana sudah membuka matanya kembali dan menoleh pada Erisa untuk memandangi Erisa.
“Iya, sama Brian juga,” tambah Erisa membuat raut wajah Aliana bertambah datar. Dia ingin ikut tapi bukan mengharapkan orang yang dia hindari itu juga ada, karena Erisa malas untuk melihat kemesraan Erisa dan Brian, ditambah Brian terkadang tidak segan-segan untuk berlaku jahat padanya.
“Kalau gitu gak jadi ikut.” Setelah mengatakan itu Aliana kembali memejamkan matanya.
“Loh kenapa? Dia bolehin kok kamu ikut mobil dia,” kata Erisa, Erisa tidak paham yang dimaksud Aliana bukan tentang soal Brian mau atau tidaknya membawa Erisa ikut di dalam mobilnya, tapi tentang Aliana yang memang tidak ingin bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu.
“Aku gak mau, kalau aku berubah pikiran aku bakal bareng Andrean,” ungkap Aliana agar Erisa berhenti untuk memaksanya atau malah menyadari perasaan Aliana.
“Oh…. Kamu sama Andrean itu jadi deket gini, Mbak kira dia jahat loh udah culik kamu bikin panik Papa sama Mama,” ujar Erisa antusias membahas sosok Andrean.
“Emang Mbak gak panik aku semalam diculik?” tanya Aliana sambil menoleh manatap Erisa kembali.
“Panik kok, cuma Mbak gak tau kalau kamu diculik,” jawab Erisa membuat dahi Aliana berkerut tampak berpikir.
“Gimana-gimana? Terus apa yang Mbak panikin kalau Mbak gak tau aku diculik?” cerca Aliana pada Erisa.
Erisa terkekeh menyadari kebodohannya dalam berucap tadi.
“Hahaha…, bukan begitu maksud Mbak, Mbak panik kok cuma telat karena semalam Mbak gak tau kamu diculik,” jelas Erisa pada Aliana. Aliana menghembuskan nafasnya ringan dan teratur.
Erisa menyadari jika adiknya itu tertidur dalam posisi kaki tidak sempurna berada di atas kasurnya.
“Dasar dia tertidur.” Erisa memandangi wajah tidur Aliana yang damai, tidak ada kerutan berpikir, tidak ada mata yang bekerja, tidak ada bibir yang bergerak berucap, karena semua damai pada tempatnya dan mengistirahatkan semua organ luarnya.
“Maafin Mbak Al,” ucap Erisa lirih, kemudian dia memusut pelan surai hitam milik Aliana yang tergerai dikepalanya.
Kemudian Erisa turun dari kasur milik adiknya itu, lalu membetulkan posisi tidur Aliana yang tidak terganggu sedikitpun saat dia mengangkat kaki untuk dinaikan ke atas kasur serta kepala yang diberi bantal oleh Erisa, Erisa juga memberikan selimut pada tubuh kurus itu agar tidak terganggu akibat dinginnya udara malam.
Erisa mengganti pencahayaan kamar Aliana menjadi mode sleep agar sang adik tidur dengan nyaman, setelahnya barulah dia keluar dari kamar Aliana dengan menutup pelan pintu kamar sang adik.
Keesokan harinya, tepat dipukul 05:30 waktu setempat Aliana bangun dari tidurnya. Merengangkan ototnya kemudian melihat kain tirai berbahan sipon berwarna putih gading penutup pintu kaca menuju balkonnya bergerak ditiup oleh angin. Cahaya diluar masih gelap jika dilihat dari dalam kamarnya, Aliana belum berniat untuk tirun dari kasurnyapun mengambil ponselnya dan memeriksa sesuatu yang dari semalam dia siapkan.
“Apa yang kamu lakukan Mbak?”
Aliana pun turun dari kasur dan menuju kamar mandi, setelah selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi Aliana keluar dengan wajah yang lebih segar.
Aliana kembali mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video dengan seseorang yang baru dia kenal beberapa hari yang lalu.
“Hmmh halo ada apa Al sepagi ini kamu melakukan panggilan video? Tidak tau mengganggu apa huh?!” kesal seseorang dari dalam panggilan video itu dengan muka bantal serta rambut yang berantakan bahkan matanya masih sipit saking malasnya dia membuka matanya sepagi itu.
“Bangunlah tuan pemalas,” tegur Aliana.
“Beri aku alasan,” tegas Andrean yang masih memejamkan matanya tapi dia merespon apa yang Aliana ucapkan.
“Kamu punya waktu luang tidak hari ini?” tanya Aliana pada Andrean.
Andrean masih belum membuka matanya. “Hmmh kenapa? Rindu padaku ya? Sudah kubilangkan aku ini mudah membuat rindu,” ujar Andrean dengan percaya dirinya.
“Ck! Aku tidak sedang memujimu. Tapi aku menagih janjimu semalam,” ungkap Aliana langsung.
Andrean terkekeh mendengar ucapan Aliana yang terdengar jengkel atau mengjengkelkan sesuatu yang Andrean sendiri tidak yakin untuk memastikannya.
(c)
….