Aliana menatap bosan dirinya dari pantulan cermin di dalam kamarnya. Setelah seminggu ia pulang ke rumah tidak ada kegiatan lain yang ia kerjakan selain makan, minum, tidur, menonton, membersihkan kamarnya, atau menggambar sketsa rancangan busana yang ada dipikirannya.
Rencana bekerja seminggu yang lalu dia ucapkan hanyalah mimpi belaka karena dia tidak izinkan untuk melakukan pekerjaan apapun yang membuat dia lama di luar rumah atau diluar pengawasan.
Saat keluar rumah pun yang selalu menemani Aliana adalah Hasbie atau sekali-sekali Andrean juga bersamanya tapi itu jika dia pergi bersama dengan Erisa, Salsa, dan juga Brian. Seperti yang terjadi pada lima hari yang lalu, seperti yang dikatakan Erisa bahwa dia akan jalan-jalan dan juga mengajak Aliana ikut bersama mereka, yang pada akhirnya Aliana memilih berangkat dengan Andrean menggunakan bus membuat mereka terpisah dari Erisa, Salsa, dan juga Brian.
Aliana duduk di ruang keluarga dengan sekali-sekali mengecek ponsel miliknya.
“Ayolah Al…, kamu berangkat sama Mbak aja. Mbak yakin Brian gak bakal marah kok,” pujuk Erisa melihat adiknya yang masih duduk di sopa sedangkan dia sudah akan berangkat karena Brian sudah mengabarinya di jalan depan rumah mereka.
“Mbak pergi aja, aku udah janji sama Andrean buat berangkat bareng. Ntar kami nyusul kok,” tolak Aliana dengan ]memberikan alasan untuk Erisa tidak terus memaksa dirinya ikut bersama kakaknya itu.
“Serius? Atau kita bareng aja sekalian masih muat kok mobil Brian buat kita berlima,” tawar Erisa kembali, tapi tetap Aliana pada pendiriannya yaitu beraangkat secara terpisah dari kakaknya itu.
“Ayolah Mbak…, gimana aku mau move-on kalau liat dia terus yang ada aku menyiksa diri ikut kalian,” batin Aliana, dia ingin mengatakan itu tapi jelas itu akan membuat Erisa menertawakannya mungkin.
“Sebaiknya Mbak ke depan segera, nanti Mas Brian marah nunggunya lama.” Aliana mengalihkan pembicaraan Erisa agar dia bisa bebas segera. “Lagipula kata Andrean dia udah dijalan menuju ke sini,” tambah Aliana, dia jujur Andrean sudah dekat dan hampir sampai.
“Bagus dong, kita bisa bareng.” Rupanya Erisa belum menyerah, tapi beruntungnya Aliana.
“Itu HP Mbak bunyi.” Dering panggilan masuk ke dalam ponsel Erisa mengalihkan perhatian Aliana.
“….”
“Iya sebentar…. Sabar ish aku udah siap kok Bri…,” ujar Erisa menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya, panggilan itu bisa ditebak itu dari Brian. Aliana sudah menduganya dari awal Brian tidak akan sangat sabar untuk menunggu Erisa membujuk Aliana ikut bersama mereka.
Setelah panggilan berakhir Erisa kembali memperhatikan Aliana. “Yakin gak bareng kami aja?” tanya Erisa sekali lagi.
“Iya, sudah sana, nanti pak dokter Brian marah-marah berisiknya sama aku, panas kupingku nanti,” keluh Aliana sambil menggosok-gosokkan tangannya ke telinga. Melihat kelakuan adiknya Erisa terkekeh tapi dia membenarkan bahwa Brian jika sudah dalam mode marah dia akan mengomel panjang lalu mengabaikan hingga berhari-hari.
“Kamu benar, yaitu Mbak duluan. Selamat PDKT sama mas crush!” Erisa berteriak untuk kalimat terakhirnya membuat Aliana merasa malu sendiri.
Sekitar 10 menit kepergian Erisa, bel pintu utama berbunyi menandakan seseorang sedang memencetnya di sana. Aliana yakin itu adalah Andrean, Aliana pun bergegas membuka pintu tersebut. Yang dia lihat pertama kalinya benar Andrean tapi Andrean dengan nafas yang sedikit terengah seperti baru saja berlari cepat.
Aliana menyengitkan dahinya melihat Andrean datang dalam keadaan terengah itu.
“Kamu habis berlari?” tanya Aliana duluan.
“Ya…, apa Paman dan Bibi ada di rumah?” tanya Andrean langsung.
“Hanya ada Mama, Papa sedang pergi ke pabrik,” jawab Aliana.
“Telpon Paman segera untuk pulang dan kamu sudah seharusnya keluar rumah, kita pergi jalan-jalan,” papar Andrean bicara dengan nada cepat.
“Bukannya… memang itu yang akan kita lakukan? Lalu untuk apa memanggil Papa pulang?” tanya Aliana, dia penasaran karena Andrean tidak menjelaskan alasannya.
“Astaga aku lupa. Begini aku baru saja mendapatkan panggilan telpon yang mengatakan Juan merencanakan pengkonfirmasian status pewaris Yaksa yang tersisa dan pihak komesaris menerima ajuan itu yang tertuju pada satu nama pewaris yang masih hidup sampai saat ini yaitu kamu. Maka dari itu kita harus mengembalikan semua ke posisi secara alami, jika memang harus terungkap tapi tidak untuk saat ini, kamu belum siap kita harus mengulur waktunya sedikit lagi,” jelas Andrean panjang lebar.
Aliana memperhatikan Andrean berbicara tanpa berkedip, dia paham dengan apa yang dijelaskan Andrean.
“Ternyata sudah dimulai,” batin Aliana tanpa disadari oleh Andrean Aliana tersenyum, tersenyum untuk sesuatu yang akan segera dimulai.
“Apa perang akan dimulai?” gumam Aliana dengan nada tanya.
“Huh?” Andrean tidak mendengar jelas dan dia ingin memastikan yang Aliana ucapkan tadi.
“Aku akan menelpon Papa.” Setelah itu Aliana benar-benar langsung melakukan panggilan pada Hasbie.
“Sebaiknya kita segera berangkat, aku yakin mereka sebentar lagi akan sampai.” Setelah mengucapkan itu Andrean langsung menarik tangan Aliana untuk segera pergi dari rumah setidaknya mereka terlihat masih berkeliaran dengan bebas tanpa menyembunyikan sesuatu dihadapan pada orang-orang yang akan datang bertamu tanpa undangan.
Mereka berjalan beriringan dengan langkah ringan dan santai, kelihatannya.
“Kamu mau kemana?” tanya Andrean lebih dulu memecah keheningan antara mereka berdua. Langkah menurun mengikuti bidang jalan yang miring karena posisinya adalah menuruni jalan menurun dari kompleks yang memang terletak di tanah bukit.
“Menyusul Mbak Erisa? Kamu tidak keberatankan?” jawaban Aliana ragu, bukan dia ragu Andrean keberatan atau bahkan menolaknya tapi hatinya sendiri yang berat, dia tidak ingin bertemu Brian apalagi dia sedang bersama Andrean.
“Kenapa ragu? Bukannya kamu bilang dia yang mengajakmu untuk ikut mereka?” tanya Andrean dan kini perhatiannya sekali-sekali memandang pada Aliana yang berjalan di sampingnya.
“Aku kira kamu gak nyaman kalau gabung mereka,” jawab Aliana memberikan alasan, alasan yang hanya memiliki seperkian persen dari total 100% alasan Aliana menolak untuk bergabung dengan Erisa dan Brian.
“Kamu suka Brian ya?” tanya Andrean tiba-tiba, tidak itu bukan pertanyaan tapi tebakan Andrean setelah melihat Aliana seakan menghindari tempat yang ada keberadaan Brian di sana.
Aliana mendengar itu dengan jelas, dia terkejut tapi dia tutupi dengan senyuman kecil. “Tidak,” jawab Aliana singkat. “Aku cuma mau jaga hati Mbak Erisa aja,” tambah Aliana.
“Dijaga buat apa? Gak usah jaga hati orang kalau hati sendiri tersakiti.” Ucapan Andrean yang seakan membaca keadaan Aliana sebenarnya menjelaskan sekali jika Aliana adalah orang yang selalu mengalah pada keadaan.
“Mbak Erisa-kan lagi mau PDKT sama Brian jadi sebaiknya aku gak datang ke sana,” jelas Aliana sangat jelas pula ittu hanya alasan untuk mengelak.
“Lalu Salsa apa perannya dalam kencan mereka?” tanya Andrean kali ini dengan nada suara yang sedikit lebih keras dari sebelumnya.
“Mbak Salsa sering dijemput sama pacarnya,” tambah Aliana dengan nada tidak peduli.
“Oh…. Jadi kita tetap misah?” tanya Andrean lagi.
Aliana menggeram mendengar pertanyaan Andrean barusan. Aliana terlihat melirik Andrean dengan sudut matanya tajam. “Jalan-jalan aja,” jawab Aliana singkat.
(a)
….