Pengungkapan Sang Pewaris

1137 Kata
Saat ini Andrean dan Aliana sedang menghabiskan waktu mereka berdua di dalam bus untuk membawa mereka menuju pusat kota, setidaknya ditempat dimana ada banyak pengunjung yang juga sedang menghabiskan waktu, yaitu daerah pertokoan. Aliana melihat ke luar jendela kaca bus yang membawa mereka, sedangkan Andrean ada di sampingnya sedang menatap lurus ke depan seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya terlihat melamun. “Kamu ada masalah?” tanya Aliana tapi wajahnya masih menghadap kearah jendela kaca memperhatikan jalanan di luar. “Sedikit,” jawab Andrean, dia jujur memang memiliki masalah tapi dia tidak mengatakannya seberapa berat masalahnya itu. Miracle on rain day “Kamu tidak berniat membaginya denganku?” tanya Aliana yang kini matanya tidak lagi fokus memperhatikan trotoar yang dilewati oleh bus kota yang membawa mereka. “Ada, tapi ini hanya pikiranku saja, jadi biarkan saja,” jawab Andrean terbilang cuek untuk dirinya sendiri, seakan dia tidak ingin memikirkan hidupnya sendiri. Aliana menghembuskan nafas sedikit kasar lalu dia menoleh ke samping tempat Andrean duduk di sebelahnya. “Kita adalah dua orang yang bernasib sama An, aku tidak ingin mengeluh mengatakan kau lebih beruntung karena pada kenyataannya tidak ada diantara kita yang lebih beruntung. Aku dan kamu tidak minta dilahirkan dari dua keluarga yang tidak terduga kekayaan dan kekuasaan yang mereka kumpulkan untuk hidup senang malah membinasakan mereka sendiri,” tutur AIiana yang tersirat nada sedih diucapannya. Jujur saja hatinya kesepian, dia tidak bisa berkata dirinya beruntung, dia bahagia dari sekedar bahagia karena dia mencoba bahagia dengan mencintai orang lainpun sama saja yang malah menorah luka, luka hati. “Membuat kita tidak bisa hidup sama seperti anak lain pada umumnya. Ya aku kadang iri tapi mau bagaimana lagi, ini hidup kita yang diberikan Tuhan, aku yakin Dia memberikan kita hidup seperti ini karena kita kuat dan kita sanggup,” timpal Andrean mencoba mengambil hikmah dari hidup dalam persembunyian dan pelarian mereka. “Sudahlah jangan mengeluh. Lebih baik kita jalankan misi kita, jadilah seperti orang pada umumnya-/” ucapan Aliana terpotong karena Andrean. “Memangnya apa yang dilakukan orang pada umumnya?” tanya Andrean menyela Aliana. “Jalan-jalan, makan diluar, membaca buku di perpustakaan, banyak lagi dan aku juga ingin berkerja rasanya,” ucap Aliana dengan semangat diujung ucapannya. “Yakin Paman akan mengizinkanmu?” tanya Andrean dengan pandangan menyelidik menoleh pada Aliana sambil tersenyum menggodanya. Aliana mendengus dan memutar bola matanya, dia sadar dia tidak akan berhasil memujuk Hasbie untuk hal bekerja diluar. “Ya aku tau aku akan kalah soal itu, enaknya jadi kau ya bisa kerja.” Aliana melipat kedua tangannya di d**a sambil menolehkan wajahnya keluar jendela di sampingnya. “Tapi kamu enak bisa sekolah,” sanggah Andrean. “Kau pikir aku masih sekolah saat ini? Ini juga gara-gara kau ya… meneror tidak beretika begitu sampai-sampai aku kembali dijemput pulang,” protes Aliana sambil hanya melirik Andrean lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada jalanan mereka. Andrean terkekeh sambil mengosok leher belakangnya karena dia merasa salah tingkah, bukan salah tingkah malu tapi lebih tepatnya merasa bodoh dengan kekoyolannya saat mengintipi menunggui Aliana di luar pagar sekolah dan asrama sekolah wanita tempat Aliana disekolahkan. “Ya maaf, kalau tidak begitu mana bisa aku ketemu kamu dan kita tidak bisa sedekat sekarang ini jika aku kemarin tidak menguntitimu,” balas Andrean tidak mau kalah. “Ya terserah kau saja. Kita sampai dipemberhentian, sudah sana keluar aku ingin keluar juga!” Aliana mendorong pelan bahu Andrean agar lekas berdiri dan keluar lebih dulu agar dia bisa keluar juga. “Iya iya sabar….” Andrean pun bangkit berdiri agar ada luang untuk Aliana keluar juga. Mereka keluar dengan Aliana yang lebih dulu keluar  di belakang barulah menyusul Andrean. Lalu pandangan pertama Aliana saat keluar ada gedung yang ada beberapa meter dari halte yaitu gedung Gramedia. Dia ingat Gramedia, karena dia sangat senang berada di sana. “Andrean,” panggil Aliana. “Hmm?” jawab Andrean dengan deheman. “Kita tidak jadi menyusul Mbak Erisa dan yang lainkan? Jadi bisa kita ke sana saja?” tanya Aliana sambil menunjuk gedung dengan bertulisan besar Gramedia. Andrean yang melihat arah tunjuk Aliana pada gedung berwarna silver biru itu pun menganggukkan kepalanya. Dia tidak gemar membaca tapi kalau untuk menemani Aliana menurutnya tidak masalah. “Baik, ayo….” Andrean berjalan lebih dulu di depan Aliana seakan dia adalah pemandu wisatanya saat itu. Baru beberapa langkah mereka berjalan, Aliana mengendus dengan keras bau yang baru saja menyapa indra penciumannya. “Andrean! Stop!” pinta Aliana dengan suara sedikit mengeras untuk menghentikan langkah Andrean. Andrean menoleh ke belakang mendengar suara Aliana tadi. Dia melihat Aliana yang masih mengendus udara sekelilingnya dan sekekali mengerjap. “Ada apa?” tanya Andrean memilih untuk menghampiri Aliana yang ada satu langkah besar di belakangnya. “Kau menciumnya tidak?” tanya Aliana dengan nada serius pada Andrean sambil terus mengendus. Andrean mengerutkan keningnya dia tidak mengerti. “Mencium apa?” tanya Andrean. “Bau,” jawab Aliana singkat tapi masih saja mengendus. “Iya bau apa Nek?!” tanya Andrean sekali lagi dengan mengganti panggilan Aliana menjadi nek. “Heh geli kau ini, Nek-nek kau mau ngondek ha?!” kesal Aliana pada Andrean karena baru saja memanggilnya dengan sebutan nek. “Ya… kau juga kutanya mencium apa tapi cuma jawab bau padahal aku hanya mencium baru makanan dan asap,” protes Andrean dengan berbicara sedikit cepat. “Nah! ya itu!” sanggah Aliana dengan suara cukup keras sambil tersenyum. “HUH?!” Andrean tidak paham. “Ayo makan aku lapar,” ucap Aliana kemudian menarik kupluk hoodie yang digunakan Andrean agar dia bergerak segera. “Al-Al-Al jangan kau tarik begini juga! Astaga! Anak orang ini sungguh membuatku hipertensi,” keluar Andrean berusaha lepas dari tarikan Aliana padanya. Sadar atau tidak, mereka sedeng menjadi pusat perhatian karena tingkah mereka berdua. Mereka melihatnya malah merasa lucu, iri, dan juga senyum lucu. “Al kau tidak malu dilihat orang aneh seperti ini, aku bisa jalan dengan benar Al… jadi lepaskan aku,” pinta Andrean. “Akukan mau normal, lagi pula kau ini pria atau bukan sih? Masa membuka menarik tanganku dari kuplukmu saja tidak mampu. Memalukkan sekali,” cibir Aliana yang tersirat ejekan diucapannya. “Normal? Apa selama ini kau suka perempuan ya? Tidak kusang-/” “Berisik! Kau yang suka perempuan, aku mah suka laki-laki,” potong Aliana menutup mulut Andrean yang masih berbicara dengan tangannya hingga ucapan Andrean tidak sampai selesai diucapkannya. “Kan kau tadi yang bilang begitu.” Andrean protes, “puth tanganmu habis pegang apa sih kok bau sekali dan asin tertinggal dibibirku.” Sambil menggorok-gosok bibirnya dengan tangan Andrean berjalan di samping Aliana. “Aku tadi habis pup sepertinya tidak bersih membersihkannya,” ucap Aliana dengan nada pasti. “Astaga! Jorok sekali kau ini, bibirku jadi kotor.” Ucapan Andrean terdengar seperti rengekan ditelinga Aliana, membuat Aliana terkikir sendiri. (b) ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN