“Biarlah bibirmu jadi busuk,” ucap Aliana asal.
“Lemah sekali bibirku kalau busuk hanya gara-gara itu,” sangkal Andrean.
Mereka sudah berada di pintu masuk Gramedia yang tadi mereka tuju.
“Langsung ke lantai atas?” tanya Andrean. “Jangan beli terlalu banyak ya, kau tidak bawa uangkan nanti malah minta bayar denganku.” Belum juga Aliana berbicara Andrean sudah lebih dulu menyelanya. Aliana jadi mencebikkan bibirnya kesal, padahal baru saja dia ingin meminta Andrean membayarkan belanjaannya nanti.
“Aku tidak ke lantai atas kok,” ucap Aliana dengan tatapan jahilnya. Lalu Aliana melenggos berjalan lebih dulu meninggalkan Andrean yang menatap curiga Aliana.
“Ah…. Siap-siap sajalah atmku banyak tagihan yang masuk, rip uangku.” Andrean pun menyusul Aliana yang nyatanya melewati tangga begitu saja, Aliana benar tidak naik ke lantai atas melainkan lurus menelusuri sela rak dan rak. Andrean bernafas lega merasa uangnya akan selamat.
Tapi Aliana berhenti tepat di bagian rak-rak cat dan perlengkapan melukis lainnya. Andrean menjadi melotot melihat sekelilingnya apa yang dia lihat adalah mimpi buruk. Andrean tahu benar, bahwa seni itu mahal, dan ini adalah alatnya seni rupa tepatnya sebagian besar diisi oleh seni lukis.
“Mampus aku, ini bukan lagi jebol tapi melebur,” keluh Andrean yang melihat Aliana dengan senyum berbinar melihat isi rak yang bersusun cat, kuas, brush, pen, dan macam-macam lagi.
Andrean melihat Aliana mengambil pensil mekanik berserta tabung isi ulangnya. Kemudian bergeser mengambil satu pack kertas, ralat Andrean melihat Aliana tidak hanya mengambil satu tapi sampai lima jenis kertas, ada yang berwarna hitam, coklat, dan juga putih gading dengan tiga jenis kertas, Andrean sendiri tidak tahu apa bedanya itu semua yang dia pikir itu semua sama saja, kertas.
“Kenapa kau mengambi banyak sekali kertas?” protes Andrean.
“Tidak kok, ini aku cuma mengambil lima jenis dengan merk dan jenis tekstur kertas yang berbeda-beda. Bersyukurlah aku hanya mengambil lima bukannya 10 atau bahkan lebih,” sanggah Aliana, membuat nafas Andrean tercekat.
“Apa bedanya sih sama saja kertas,” protes Andrean lagi, dia belum menyerah.
“Bedalah, aku sedang malas menjelaskannya jadi jika lain waktu ada kesempatan aku akan menjelaskannya padamu,” kata Aliana bermaksud menghentikan protesan Andrean padanya.
Kemudian Andrean melihat Aliana berpindah menuju rak yang lain, melihat-lihat melewati, mengambil satu barang dan membawanya bersama dengan kertas yang dia ambil tadi.
Andrean melihatnya hanya bisa menghela nafas lelah padahal mereka baru sebentar berada di Gramedia itu.
“Jangan berat gitu nafasnya, aku bayar sendiri kok,” seru Aliana melihat dari sudut matanya Andrean seperti merasa terbebani dengan belanjaannya.
“Memangnya kamu bawa uang? Jangan sok gaya nanti aku yang bayar,” kata Andrean dengan nada mengejek, tidak terima Aliana membayar sendiri belanjaannya.
“Ada, biar aku bayar sendiri. Aku gak mau punya hutang,” ujar Aliana lagi. Dia kembali menghampiri Andrean dengan membawa tidak banyak belanjaan ternyata yang dia bawa karena barang-barang yang dia ambil dalam bentuk kecil-kecil. “Aku bayar dengan uang dari hasil tabunganku sendiri saja,” kata Aliana lagi sambil memperlihatkan senyumannya pada Andrean.
Aliana jujur dia punya tabungan yang memang dia kumpulkan dengan tujuan untuk membeli alat gambar dengan uangnya sendiri.
Aliana berlalu menuju kasir untuk membayar belanjaannya sendiri.
“Biar aku yang bayar,” seru Andrean tiba-tiba. Tapi dengan segera Aliana mencegahnya menghentikan pergerakan Andrean yang ingin mengeluarkan uang cashnya dari dompet yang dia keluarkan dari sakunya.
“Jangan biar aku bayar sendiri,” sanggah Aliana sambil tersenyum pada Andrean.
“Udah biar aku aja yang bayar,” kata Andrean lagi.
Tapi sudah lebih dulu Aliana yang mengeluarkan kartunya untuk membayar di kasir.
“Kalau kamu masih mau bayarin mending bayarin makan aku aja nanti,” ucap Aliana, kemudian dia tersenyum pada Andrean.
“Ok boleh juga,” kata Andrean menyanggupi permintaan Aliana.
Aliana mengambil kantong belanjaannya yang disodorkan oleh penjaga kasir padanya. Sambil berkata, “ke tempat makan yang enak yang kamu tau aja.”
“Boleh juga, ayo kita ke sana sekarang.” Andrean menyambar kantong belanja Aliana dan membawanya melangkah mendului Aliana.
“Ck dasar.”
Kemudian dering suara notifikasi di ponsel Aliana mengalihkan perhatiannya yang semula pada Andrean yang sudah berlalu di depannya kini pada ponsel yang sudah Aliana rogoh dari saku jaket yang dia kenakan, dan terlihat di layar bercaya itu sebuah panggilan dengan nama Papa.
“Hallo Pa?” sapa Aliana lebih dulu saat panggilan itu dia terima.
“Hallo nak kamu dimana sekarang?” tanya Hasbie langsung saat suara putri bungsunya itu sudah dia dengar.
“Gramed sebentar lagi keluar untuk cari tempat makan, ada apa?” jawab Aliana member keterangan lalu bertanya pada sang papa.
Terdengar suara helaan nafas sedikit kasar. “Kamu harus pulang sekarang,” kata Hasbie mengintruksi.
“Kenapa?” tanya Aliana lagi, perasaannya tidak enak tapi dia sadar helaan nafas yang papa ada hubungannya dengan yang dikatakan Andrean sebelum membawanya pergi tadi.
Belum sempat Habsie menjawab Aliana lebih dulu menjawabnya, “baiklah aku pulang.”
“Bersikaplah santai sayang,” pesan Hasbie pada Aliana.
“Baik Papa,” ucap Aliana.
Lalu panggilan ditutup oleh Aliana lebih dulu. Lalu Andrean yang sadar Aliana tidak mengikuti langkahnya pun berbalik dan melihat Aliana masih berdiri di tempat mereka semula.
Andrean menunggu Aliana yang mulai menghampirinya.
“Kenapa lama?” tanya Andrean.
“Kita langsung pulang aja, Papa menelpon barusan,” seru Aliana langsung.
“Apa tidak apa-apa kamu bertemu langsung dengan komisaris?” tanya Andrean dia tampak ragu untuk membawa Aliana pulang karena sudah pasti mereka akan bertemu dengan komisaris dari perusahaan Yaksa secara fisik mereka jalankan.
“Sepertinya tidak, aku tidak akan ketahuan. Papa pasti punya rencana,” ujar Aliana, dia ragu tapi jika dikatakan ragunya akan membuat keputusannya berubah tentu saja tidak, karena yakin pada papanya. “Asal aku bisa berlagak seperti biasa, aku adalah Aliana Awari bukan Angel putri Yaksa,” ucap Aliana dengan suara pelan lalu melangkah.
“Ya…, lalu aku siapa ya?” tanya Andrean pada dirinya sendiri.
“Jatuh harga dirimu tidak ingat siapa orang tuamu,” sindir Aliana membuat Andrean menghela nafas kasar.
“Mulutnya pedas,” cibir Andrean dengan suara seperti berbisik.
Mereka pulang dengan menggunakan angkutan umum lagi, setelah memakan waktu kurang lebih 30 menit perjalanan pulang. Sampailah mereka di muka jalan kompleks perumahan yang berada di tanah perbukitan sehingga jalanannya pun menanjak.
“Kamu tidak apa Al?” tanya Andrean memastikan sebab diselama perjalanan pulang mereka Aliana hanya diam saja.
“Hmm, kurasa,” balas Aliana.
“Kamu ragu,” ujar Andrean lagi.
“Maka kamu harus temani aku,” kata Aliana yang terdengar seperti perintah.
“Tidak mau, mana tau mereka mengenalku.” Andrean menolak permintaan Aliana.
Terus berjalan Andrean terus mengajak Aliana untuk mengobrol ringan sampai tidak sadar mereka sudah ada di depan pintu pagar tanaman rumah orang tua Aliana. Terlihat terparkir tiga mobil tepat di depan pagar tanaman, tepatnya lagi dipinggir jalan.
“Mereka parkir memakan jalan,” cibir Aliana. “Nah kau kenapa masih di sini? Katanya tadi menolak menemaniku,” sindir Aliana dan menyadarkan Andrean yang masih berdiri di sampingnya dengan pandangan yang sama pada tiga mobil mewah pemakan jalan itu.
“Menemanimu,” jawab Andrean singkat.
(c)
….