Mereka duduk tegang dengan wajah serius. Sebelumnya Aliana dan Andrean masuk melewati pintu pagar sambil menapak tangga satu persatu untuk sampai di atas pekarangan rumah sambil tertawa seakan mereka sedang bercanda.
Itu hanya alibi agar mereka terlihat natural dihadapan para petinggi perusahaan itu. Para pertinggi culas.
“Sudah saya katakana berkali-kali ini anak saya, putri bungsu saya bukan Angel putri Yaksa pewaris itu.” Ucapan Hasbie hampir sama saja dengan ucapan-ucapan sebelumnya untuk membuat yakin para komisaris yang masih ragu dengan pernyataan Hasbie.
“Tapi kami mendapat laporan bahwa anak almarhum Yasa masih ada satu orang lagi dan dia ada di sini!” suara salah satu komisaris yang sudah terlihat tua.
“Kalian ini para petinggi tapi seperti orang bodoh yang percaya saja dengan laporan seperti itu,” sindir Annie dengan tatapan tajam menadang para petinggi perusahaan besar itu.
“Kami sudah menrapatkannya dengan para direksi lainnya, selama ini perusahaan berjalan dengan baik pada porosnya bukankah itu agak aneh, jadi tidak ada alasan untuk kami ragu dengan laporan itu,” ungkap komisaris lainnya.
“Dan kami tau anda adalah adik dari mendiang Nyonya Zura, tentu saja kami menaruh curiga,” kata pria tua berjas abu-abu tua duduk dengan tegap menghadap lulus pada Hasbie. Senyuman
“Apa hanya karena keluarga aku harus dicurigai dan anakku sendiripun menjadi sasaran kalian,” ucap Hasbie dengan nada dingin dan serius menatap orang yang ada di seberang sopa tempat dia duduk. “Lagi pula aku tau kebusukan kalian mencari-cari dan mengungkit tentang pewaris,” tambah Hasbie dan senyum miring terlihat dibibir tipis milik Hasbie.
“Apa yang anda katakan tuan Hasbie?!” tanya salah satu dari mereka berempat duduk di paling pinggi pada sopa single.
“Tidak perlu berbicara dengan keras di sini, jika seluruh asset Yaksa harus turun pada pewaris maka aku-lah orangnya,” seru Hasbie dengan nada serius tapi masih santai membuat empat orang petinggi perusahaan itu mengeram. Mereka panas mendengar ucapan dari Hasbie tadi.
Hasbie tersenyum tipis begitu pula Annie melihat kepalan tangan para petinggi perusahaan itu.
“Pa Ma, apa aku di sini diperlukan?” tanya Aliana tiba-tiba, sebab dari tadi mereka berdiskusi panas sedangkan Aliana dan Andrean hanya duduk diam mendengarkan dan memperhatikan mereka para orang tua.
“Tidak sayang, kamu pergilah dengan Andrean,” ucap Annie memberikan izin.
“Baiklah, aku pergi dulu. Aku sayang kalian.” Aliana mengecup pipi kedua orang tuanya dengan sayang.
Sedangkan Andrean menunggu Aliana, dia merasa lega karena mereka yang datang tidak seanarkis yang Andrean pikir.
Terlihat Aliana menghampiri Andrean tapi sebelum dia benar-benar berlalu dari para orang tua, Aliana berkata, “kalian jangan main-main dengan Papa dan Mamaku.” Setelah itu dia melangkah berlalu pergi keluar dari rumah.
“Kita akan kemana?” tanya Andrean.
“Tidak perlu jauh-jauh, aku hanya ingin menunggu mereka pergi barulah aku akan kembali ke rumah,” ujar Aliana. Terlihat Aliana berkeringat dingin dengan tangan yang memucat, beberapa kesempatanpun Aliana terlihat sedang membuang nafasnya dengan helaan lelah.
“Tenanglah, kamu pasti bisa melewatinya. Aku akan membantumu,” ujar Andrean dengan suara pelan berucap tanpa melihat kearah Aliana yang ada di sampingnya.
“Kuharap begitu,” ungkap Aliana.
“Ayolah semangat Al..., saat ini kamu malah terlihat seperti seorang yang baru saja patah hati….” Andrean mencoba untuk membuat Aliana kembali hidup dengan warna dari wajah pucat itu.
Aliana tersenyum kecil. “Kamu tau sendiri aku memang sedang patah hati,” gumam Aliana yang terdengar seperti sebuah bisikan.
“Huh?!”
Setelah seminggu kedatangan petinggi perusahaan Yaksa dengan tujuan mencari sang pewaris yang berakhir Hasbie mengaku bahwa dialah yang menjadi pewaris seluruh kekayaan Yaksa.
Aliana belum dizinkan untuk pergi kemana pun oleh Hasbie bahkan hanya untuk pergi ke rumah tetangganya, alasannya hanya karena mereka belum bisa menentukan siapakah mata-mata yang mengintai Aliana tersebut, mereka belum yakin dengan tuduhan mereka sendiri. Maka dari itu Aliana hanya dapat berkeliaran di dalam rumah dan di taman rumahnya seperti biasa tanpa kegiatan yang membuat curiga. Jika ia diminta untuk pergi ke rumah tetangga mereka. Maka Aliana akan memberikan alasan, “maaf, aku sedang sibuk dengan desain baruku. Lain kali aku akan berkunjung atau kembali jalan-jalan dengan kakak dan tante,” begitulah alasan dari Aliana. Atau ia akan mengatakan, “aku akan menjual desainku nanti jadi aku harus membuat beberapa desain lagi, maafkan aku tidak bisa bergabung,” ujar Aliana. Walau kenyataannya tidak sepenuhnya ia berbohong tetapi Aliana tidak yakin tentang hal ia akan menjual hasil desainnya. Kerena pikirnya, “siapa orang bodoh yang akan membeli desiannya, atau orang bodoh yang sedang kelebihan uang yang akan membelinya,” celetuk Aliana saat melihat semua hasil-hasil desainnya.
Harapannya hanyalah dia punya pekerjaan yang dapat dia kerjakan. Dia iri pada Erisa yang masih bisa kuliah dengan nyaman dan dijurusan yang memang menjadi tujuannya. Sedangkan Aliana hanya sebatas SMA. Aliana tidak melanjutkan pendidikan atau berlaku seperti biasanya?
Jawabannya tidak, Hasbie pada akhirnya memberikan ultimatum untuk Aliana bersabar berada di rumah saja. Keadaan perusahaan Yaksa memanas sehari setelah pengakuan Hasbie. Para petinggi perusahaan, pemegang saham, segara direksi pengkhianat bangkit membantu mengacaukan suasana. Mereka berlomba-lomba untuk mengambil alih saham tertinggi agar perusahan jatuh pada mereka. Semenjak itu pula Hasbie bertambah pusing, dia merasa salah langkah.
Hasbie merasa bahwa posisinya sulit, sulit untuk maju dan sulit pula untuk mundur. Aliana terancam, seluruh pertinggi menuntut untuk membuka daftar nama keluarga Yaksa agar pewaris perusahaan jelas namanya. Tapi jika itu Hasbie lakukan maka sama saja artinya dia membunuh Aliana.
Lalu pada saat ini dia hanya dapat bertahan, tapi tidak tahu sampai kapan dia mampu bertahan.
Sedangkan Andrean hanya dapat membantu menjaga Aliana sekali-sekali.
Aliana keluar dari kamarnya dan menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah gontai. Ia sudah beberapa hari harus sendirian berada di rumah, seperti sebelum-sebelumnya. Ia menjaga rumah sendirian, disaat Hasbie pergi bekerja, Annie pergi dengan urusannya, Erisa pergi kuliah, dan ia sendirian yang tertinggal. Seharusnya ia juga berada di universitas lebih tepatnya di fakultas kedokteran seperti yang ia idam-idamkan, akan tetapi karena kondisi dan sudah terlambat ia harus merelakan setidaknya jika ia tetap berkuliah maka ia hanya akan libur dalam 2 semester menunggu pendaftaran perkuliahan kembali dibuka.
Aliana duduk menopang dagu saat dirinya sudah mendudukan bokongnya di kursi meja makan. Dengan sambil menopang dagu Aliana memikirkan tidak mungkin ia tetap akan dalam keadaan seperti itu sampai beberapa bulan ke depan karena bukan saja kebosanan tetapi juga membuat tubuh Aliana semakin sedikit bergerak.
Aliana ingin sekali meminta izin kepada Hasbie untuk keluar setidaknya ia akan jalan-jalan disekitar jalanan kompleks saja. “Aku butuh bersosialisasi, tolong,” rengek Aliana sendiri sambil menelungkupkan kepalanya di sela kedua tangannya untuk menyembunyikan wajahnya.
Saat sedang termenung sendirian di meja makan, Aliana akhirnya berpikir bagaimana kaya rayanya ia hingga ia diburu oleh orang lain. Ia bahkan tidak pernah tahu tentang kekayaannya yang sangat melimpah itu.
Sedangkan Aliana tidak menyadari keluarnya ia dari rumah tadi sudah diikuti oleh seseorang yang berpakaian dark grey melangkah mengikuti langkah Aliana berjarak 5 meter di belakang Aliana.
()
….