Pelarian Ternyaman

1085 Kata
Aliana sedang berjalan sendiri keluar dari kompleks perumahan orang tuanya, jalanan menurun Aliana lalu untuk sampai ke jalan utama atau jalan besar agar ia bisa menemukan halte bus. Ia ingin pergi ke apartemen Andrean karena kebosanannya dan dia ingin mencari tahu tentang cerita orang tuanya lebih banyak pada Andrean. Kenapa tidak bertanya pada Hasbie atau Annie? Aliana tidak memiliki kesempatan untuk bertanya karena Hasbie dan Annie akhir-akhir ini menjadi lebih sibuk dari sebelumnya. Sibuk karena masalah petinggi perusahaan belum juga mereda. Hasbie harus menjadi kuat dan tangguh untuk itu dibutuhkan Annie agar dapat menyokong Hasbie menghadapi tingkah peculas-peculas itu. Hasbie menegaskan untuk tidak lagi mengadakan pembukaan krus pemilik saham, setelah pertama atas nama Hasbie, dia memenangkan kepemilikan saham yang memang menjadi sudah menjadi haknya. Seluruhnya dari harta kekayaan Yasa adalah milik pewaris. Tapi para pemegang saham dan petinggi berkilah mereka telah membeli, mereka telah bekerja keras dan sebagainya. Mengakui yang nyatanya adalah hasil kerja keras Hasbie dibalik layar selama ini. Ia sudah mengantongi izin untuk keluar tetapi tidak untuk perjalanan jauh salah satu yang dilarang adalah mendatangi apartemen Andrean. Lalu mengapa Aliana menggunakan kendaraan sendiri? Ingat Aliana baru saja naik umur 18 tahun, ia ingin mengemudi tetapi Hasbie dan Annie tidak memberikan izin pada Aliana untuk belajar mengmudi bahkan sepeda motor Aliana sudah tidak bisa dipakai lagi oleh Aliana sendiri. Karena apa sepeda motor berjenis metic itu saat ini kuncinya dipegang oleh Hasbie. Sehingga tidak memiliki pilihan lain lagi, Aliana mau tak mau harus berpergian menggunakan angkutan umum. Sudah beberapa minggu pun terror tidak lagi ada terlihat untuk menggangu Aliana. Dengan begitu Hasbie dapat merasa kondisi sudah aman, setidaknya untuk mereka lihat, tetapi tidak ada yang tahu apa yang sedang dipersiapkan oleh musuh yang memburu Aliana. Beberapa saat Aliana berjalan menelusuri jalan menurun di kompleks perumahannya tersebut, akhirnya ia sampai di muka jalan masuk kompleks. Ia membawa dirinya dengan langkah tegapnya ke arah halte bus terdekat dengan lokasinya. Sedangkan Aliana tidak menyadari keluarnya ia dari rumah tadi sudah diikuti oleh seseorang yang berpakaian dark grey melangkah mengikuti langkah Aliana berjarak 5 meter di belakang Aliana. Aliana tetap fokus pada jalannya tanpa memperdulikan perasaannya yang merasakan ada seseorang yang sendari tadi memperhatikannya dari arah belakangnya. Aliana melirik ke samping dari sudut matanya untuk merasakan keberadaan orang yang mengikutinya itu. Perasaan saat itu adalah perasaan tidak asing saat beberapa waktu yang lalu Ren terluka karena menyelamatkannya. Sedangkan di tempat lain, saat ini ada sepasang suami istri yang sedang berdebat dan saling menyalahnya. “Kau tau, aku sudah lelah sebenarnya begini. Dia anak baik bahkan dia tidak tau apapun tentang masa kecilnnya tentang keluarga kandungnya. Apa yang kita akan lakukan ini benar-benar sudah benar?” protes perempuan yang sebaya dengan laki-laki yang berada di hadapannya itu. “Aku tau dan mengerti. Tetapi apa kau rela keluarga kita yang hancur oleh tua Bangka itu?!” tegas yang laki-laki tetap pada pendiriannya. “Sungguh jika anak perempuanmu yang diintai dan diburu oleh orang jahat, apa kau terima? Bagaimana nasibnya? Aku bersyukur anak itu lebih tegar dan dia malah terlihat mandiri, aku heran mengapa tua Bangka itu tidak pernah ada puasnya! Nafsunya akan dunia menutupi jiwa manusianya hingga yang muncul adalah jiwa b******n, jiwa hewan,” maki yang perempuan karena sudah hampir 18 tahun kejadian dimana dosa terbesarnya ia lakukan “Jangan libatkan perasaanmu dalam pekerjaan kita. Dari dulu kita tidak pernah melibatkan perasaan karena itu akan membuat pekerjaan kita terhambat, kurasa kau ingat itu sayangku.” Laki-laki itu memperlihatkan senyum tipisnya. “Ini bukan lagi pekerjaan! Tapi p********n!” bentak sang wanita dengan keras. Di tangannya menggenggam satu pisau dapur yang tadi dia gunakan untuk memotong terung yang akan dia masak. “Sudah sayang, tenangkan dirimu. Jangan membuatku ikut emosi,” ucap sang laki-laki. Dari nada suaranya dia terdengar mencoba meredam emosinya yang hampir saja tersulut karena melihat istrinya membentaknya dengan memgang pisau yang hampir terangkat tertodong padanya. Dulu istrinya adalah orang yang ahli dalam mengendalikan emosi, dia adalah orang yang tenang dan tidak memiliki hati manusia. Jika dia ingin membunuh atau memerintahkan anak buahnya untuk membunuh maka tidak ada kata untuk menghentikan perintahnya itu, jika bukan anak buahnya yang membunuh maka dia sendiri yang akan turun tangan membunuh targetnya. Tak ubahnya dengannya, mereka sama saja. Mereka adalah pasangan pembunuh atau pembantai. Tapi misi terakhir mereka membuat mereka terjebat dengan satu tugas yang tidak berkesudahan pada bos besar mereka. Sebenarnya mereka bukanlah pembunuh yang terikat. Mereka adalah pembunuh yang bebas. Memiliki nama, dan siapa yang butuh jasa mereka makan dapat membayar mereka untuk melakukan tugas itu. Mereka tidak mengecewakan client mereka bukan hanya karena mereka adalah kelompok pembunuh besar tadi karena mereka juga terlatih dan handal dalam mengunakan senjata ataupun bela diri. Mereka pembunuh yang tidak memiliki hati, sangat senang mendapatkan misi dari client mereka yang sangat ingin melenyapkan satu keluarga pengacara konglomerat. Keluarga yang bahkan memiliki agen detektif sendiri, keluarga yang memiliki keamanan yang ketat, keluarga yang memiliki kekayaan yang sangat berlimpah, mereka adalah keluarga harmonis. Maka dari itu misi itu sangat menggiurkan untuk mereka, dan dengan senang hati mereka menerimanya karena upah yang mereka dapatkanpun sangat menjanjikan. Sesuai dengan harapan mereka mereka berhasil membantai habis seisi rumah besar keluarga yang menjadi target client mereka hingga tidak ada lagi kehidupan. Misi mereka terbilang sangat mudah, bahkan mereka dapat bermain-main terlebih dahulu sebelum menyelesaikan misi mereka. Mereka terlena untuk menyiksa keluarga itu sebelum satu keluarga itu benar-benar mati. Tapi siapa disangka terjadi pengkhianatan oleh client mereka. Orang yang membayar mereka menginginkan nama baik juga harta dari keluarga yang mereka bantai. Mereka terjebak dan salah satu anggota mereka tertangkap karena jejak s****a yang tertinggal serta DNA darah yang terdapat pada kuku salah satu korbannya. Mereka awalnya mengira orang yang membayar kelompok mereka akan membereskan masalah yang timbul pada media dan kepolisian, tapi nyatanya tidak sama sekali. Media gencar memberitakan tanpa sepengetahuan mereka kepolisian dan agen penyidik mengusut pembantaian satu keluarga itu. Korban mereka tidak dibunuh secara rapi tapi sangat tersiksa sebelum mati, dua putra keluarga itu diperkosa hingga tewas lalu ditembak melalui hole pembuangan sisa metabolisme makanan. Lima wanita yang diduga salah satunya adalah nyonya keluarga itupun tewas dalam kondisi mengenaskan. Tubuh yang tercabik, area kewanitaan yang rusak akibat diperkosa, jari tangan yang patah serta tembakan pun didapatkannya di mahkota wanitanya. Sedangkan kepala keluarga, mengalami patah dikedua kaki, dan dikedua tangan. Kepala yang terpenggal hampir putus memisahkan badan dan kepalanya. Pada tubuhnya pun banyak terdapat luka dan lebam-lebam. Mereka semua dibunuh dengan cara disiksa terlebih dahulu. Salah satu barang bukti didapatkan dan berhasil meringkus salah satu dari mereka. (a) ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN