Mereka harus lari untuk menghindari penangkapan dengan cara keluar negeri berakhir di Negara tetangga yaitu Singapore.
Orang yang membayar mereka memanfaatkan keadaan untuk mengancam mereka. Keadaan sungguh berbalik, orang itu memiliki bukti bahwa merekalah pembantai satu keluarga itu, tanpa mengyinggung namanya sendiri. Orang yang memerintahkan mereka itupun memiliki nama baik di mata masyarakat, sehingga aduan, dugaan ataupun narasi yang akan menyudutkan nama baiknya sangat sulit untuk dipercaya jika tidak memiliki bukti yang kuat.
Bukti transaksi pembayaran yang dilakukan pada mereka pun sudah dimanipulasi olehnya sehingga mereka kesulitan untuk membalikkan keadaan kembali.
Orang itu menang, karena mereka tidak dapat berbuat apa-apa jika tidak ingin ikut pada apa yang terjadi pada salah satu anggota mereka yaitu hukuman penjara seumur hidup yang nama lain dari hukuman mati secara perlahan.
Menyedihkan memang tapi itu adalah tanggungan atas apa yang telah diperbuat sendiri. Walau begitu tidak semua mendapatkan hukuman, buktinya pasangan kepala dari kelompok itu masih dapat berkeliaran bahkan mereka menikmati liburan ke luar negeri setelah tragedy pembantaian itu.
Di dalam Negara sibuk dengan pemberitaan dan penangkapan, mereka malah asik menikmati waktu liburan mereka bersama keluarga di luar negeri. Untuk beberapa waktu, karena setelah 1 bulan pemberitaan sudah mendingin tapi kasus masih belum ditutup hanya sedang diredam. Mereka para orang jujur masih mencari pelaku lainnya, tepat saat itulah keluarga yang berbahagia itu terancam oleh orang yang memberikan mereka upah. Orang itu menangih janji setelah perjanjian. Dia memberitahukan bahwa mereka harus bersiap dengan satu tugas penting lagi tapi waktunya mereka tidak dipastikan. Mereka hanya tahu mereka harus bersiap sampai perintah itu turun pada mereka. Sejak saat itu mereka tidak dapat lagi berdiri dengan sendiri seperti sebelumnya.
Sampai pada 2 tahun setelahnya mereka diberikan perintah untuk pindah rumah pada sebuah kompleks perumahan yang berada di atas perbukitan. Rumah di sana berjaka cukup jauh berbeda dengan kompleks perumah pada umumnya dan terletak sedikit lebih tinggi daripada jalanan. Perumahan yang unik dan nyaman. Mereka menempati rumah nomor 21, yang setelahnya rumah nomor 22. Sejak saat itu mereka hanya menurut tinggal di perumahan tersebut.
Anak-anak mereka meremaja, dan mendewasa sejak saat itu, mereka pun dekat dengan tetangga mereka khususnya keluarga di rumah nomor 22.
“Bun. Bunda, sampai kapan kalian akan pergi?” tanya anak tengah keluarga Fikra.
“Bunda sama Ayah akan pulang secepatnya, jadi kamu jaga Mbak Salsamu. Selama Ayah sama Bunda ndak ada di rumah, jangan keseringan keluar. Ingat pesan Bunda…?” Perintah itu mutlak harus di dengar oleh sang anak. Sang anak menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
“Baiklah Ibu Negaraku, kalian jaga diri,” pesan sang anak.
“Hmm. Ayah! Astaga cepatlah!” teriak Billa pada sang suami yang masih di kamar di lantai dua.
Terdengar suara derup langkah kaki yang sedikit tergesa dari arah tangga.
“Sebentar…, barangmu ini loh banyak banget, berat bawanya,” keluh sang suami yang ternyata sambil menenteng satu koper besar menuruni satu persatu anak tangga.
“Ey itu bukan hanya barangku yang ada di sana, tapi juga barangmu.”
“Sepatuku tidak kamu keluarkankan?”
“Aku keluarkan, yang benar saja kamu akan membawa tiga pasang sepatu? Cukup bawa yang kita pakai saja!” Billa mengomeli sang suami yang malah mempersiapkan tiga pasang sepatu masuk ke dalam koper mereka sebelum Billa membereskan koper tersebut dan berakhir Billa mengembalikan ketiga pasang sepatu itu pada rak sepatu mereka.
“Ayah mau fashion show atau pergi kerja?” Yakinlah ucapan dari sang anak itu sebenarnya adalah sebuah ejekan yang ditujukan pada sang kepala keluarga.
“Kompak sekali kalian ini,” gerutu Fikra. Sambil berjalan menyeret koper besarnya Fikra berkata, “jaga rumah selama Ayah dan Bunda tidak ada.”
“Hmm, sudah Bunda bilang tadi padaku, Ayah terlalu lama,” balas Brian.
“Hanya mengingatkan kembali,” ucap Fikra kemudian mendudukan diriya di sopa untuk memasang sepatu yang tadi sebelumnya dia ambil dari rak sepatu.
“Jaga diri kalian aku tidak mau mendapat berita buruk saat kalian di sana,” ucap Brian dingin. Brian mengetahui apa tujuan pekerjaan yang sebenarnya dimaksud oleh kedua orang tuanya itu hanya saja dia berpura-pura tidak mengetahuinya.
Ketiga orang itu kecuali Brian agak terkejut dan sedikit saling lirik.
“Apa sih kamu bilang ini. Kami tidak lama jadi tidak perlu khawatir sampai kamu berkata yang bukan-bukan.” Billa merespon lebih dulu ucapan sang putra dengan nada keraguan dan kecanggungan.
“Sudahlah, kami berangkat dulu.” Setelah mengucapkan itu Fikra berdiri dan melangkah menuju pintu utama sambil menyeret koper besar yang akan mereka bawa. Sedangkan Billa mengikutinya dari belakang sambil berbicara pelan pada sang putra masih dengan pesan-pesan yang tiada habisnya disampaikan olehnya. Dia masih merasa khawatir, dia ingin tidak pergi tapi percuma dia tidak memiliki pilihan di sini karena pilihan itu sudah habis sebelumnya.
Setelahnya Brian benar-benar melepaskan kedua orang tuanya untuk pergi memenuhi pekerjaan penting mereka yang sesuai dengan apa yang dikatui oleh Brian dan Salsa ketahui.
Salsa?
“Hallo Mbak, Ayah sama Bunda sudah berangkat. Pulang dijemput atau pulang sendiri?” tanya Brian pada seseorang yang dihubungi memalui ponselnya.
“….”
“Ok, aku tunggu di rumah. Kita harus bergantian menjaga rumah,” ujar Brian santai sambil mendudukan dirinya di sopa yang sebelumnya di duduki oleh Fikra.
“….”
“Hmm, hati-hati. Ya bye.” Setelahnya panggilan berakhir. Wajah datar Brian menatap ponselnya yang menampilkan daftar susunan organ dalam dengan bold pada beberapa tulisan.
“Kuharap kau tidak membuat kedua orang tuanya lebih sulit dari pada ini tua Bangka.” Tatapan tajap menelisik pada huruf dengan tulisan menebal di beberapa kata di wallpaper tersebut.
Sedangkan di rumah nomor 22, terlihat Andrean yang sedang berbicara pada Hasbie dengan serius.
“Paman…, kau harus segera mengirim Aliana…, dan aku akan menemaninya,” bujuk Andrean yang sudah berulang kali dia mengatakannya pada ayah sahabat barunya itu.
“Tidak sekarang Andrean…, kau tau jika gegabah mengambil keputusan Juan akan sangat mudah menyalip kita!” bantah Hasbie yang masih menolak usulan dari sahabat baru anaknya itu.
“Percayalah padaku, mereka sudah mulai bergerak. Jika tidak secepatnya Aliana pergi maka mereka akan datang ke sini atau dia sendiri yang akan datang.” Andrean masih belum menyerah untuk meyakinkan Hasbie. Tapi kelihatannya Hasbie belum juga menyetujui usulan dari Andrean.
“Belum saatnya, Paman masih mencari tempat yang aman untuk Aliana. Tidak sembarang Negara yang dapat Aliana datangi, saat ini perusahaan stabil untuk sementara tapi Paman yakin mereka sedang bekerja di perusahaan juga, tidak tahu di anak perusahaan yang mana mereka sedang bekerja,” jelas Hasbie. Sejujurnya dia setuju untuk Aliana segera berangkat, hanya saja dia masih harus menyelesaikan urusannya sebelum dia akan fokus pada keselamatan Aliana. Aliana adalah kuncinya, jika Aliana jatuh ketangan sang wali kota serakah itu maka seluruh asset keluarga yang selama ini mereka jaga akan jatuh ketangan orang itu yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya secara darah dengan keluarga Yaksa.
(b)
….