Saling Membantu

1173 Kata
“Sampai kapan?” tanya Andrean, dia duduk dengan tenang kali ini menatap Hasbie yang tampak berpikir keras menelisik pada ingatannya. “Mungkin dua minggi lagi, Paman yakin salah satu orang kepercayaan keluarga Yaksa juga terlibat dengan Juan. Nafsu mereka sama, sama haus akan harta dan kekuasaan,” tutur Hasbie. “Kenapa tidak dari dulu Paman singkirkan dia?” Andrean sebenarnya tidak mengetahui tentang ini, tapi dia mencoba memahami jalan permainan dari pamannya itu. Juan ternyata memiliki lebih banyak koneksi yang bahkan sudah menyebar di dalam nadi perusahaan Yaksa. “Mereka orang-orang yang lebih suka bekerja secara  halus, rapi, dan juga pintar. Tidak akan terlihat olehmu di luar perusahaan,” ungkap Aliana dengan wajah datar. “Tapi inti dari perusahaan keluargamu ada di Dubai bukan?” tanya Andrean. “Aku tidak tau pastinya, aku tidak pernah melihat daftar perusahaan milik Yaksa Family, dua puluh hotel bintang limanya saja aku tidak tahu ada di mana, miris sekali aku.” Kemudian Aliana terkekeh karena ucapannya sendiri. “Oh iya, kamu sudah tau kalau Paman dan Bibi akan pergi ke Dubai?” tanya Andrean yang sepertinya baru saja mengingat sesuatu yang penting menurutnya. Raut wajah Andrean menunggu dengan penasaran jawaban dari Aliana. “Tau, besok Papa dan Mama akan berangkat dan pulang setelah sepuluh dari berikutnya. Begitukan?” jawab Aliana kemudian dia kembali bertanya pada Andrean. Andrean tampak berpikir lalu bertanya kembali pada Aliana, “kamu tidak berniat untuk ikut dengan mereka?” andrean memandang wajah Aliana dengan tatapan bertanya. “Tidak,” jawab Aliana singkat seperti tidak tertarik sama sekali. Andrean melihat Aliana dengan kening berkerut. Aliana menghela nafasnya pelan. “Mereka sudah memintaku untuk ikut dengan mereka, tapi Erisa mereka tidak ajak sekalian. Jadi aku lebih baik tidak ikut saja, kasian Erisa tinggal sendirian di rumah,” jelas Aliana agar Andrean tidak salah paham pada kedua orang tuanya. Andrean terlihat mendesis mendengar penjelasan Aliana tadi. “Mereka sengaja tidak mengajak Erisa, dia kan kuliah Al sedangkan kamu tidak. Jadi lebih baiknya kamu ikut dengan mereka. Perusahaanmu ada di sana juga asal kamu tau,” tutur Andrean yang terlihat sedikit gemas dengan Aliana. “Aihh…, bukan apa-apa Andrean…. Jika aku ikut sekalian maka Erisa hanya akan sering berduaan dengan Brian, nanti kalau kakakku itu kenapa-kenapa bagaimana? Kalau kakakku nanti diculik bagaimana? Kalau kakakku nanti kesusahaan bagaimana? Kalau nanti kakakku pergi ke kampus ada apa-apa bagaimana?” papar Aliana dengan rentetan kalimat-kalimat tanya yang ditujukan pada Andrean. Andrean memutar matanya malas dengan helaan nafas yang terdengar jelas dari deru nafas Andrean. “Aku malas mendengarnya sebenarnya. Itu hanya alasanmu Al, kamu tidak ingin ikut bersama Paman dan Bibi karena tidak ingin Erisa dan Brian terus bersamakan. Eh tapi bukannya walaupun ada kamu mereka tetap selalu bersama?” tanya Andrean dengan nada menggoda Aliana. “Ya itu, tapi kan maksudku menjaga kakakku itu,” protes Aliana dengan raut wajah tidak terima. “Ya aku paham maksudmu biar mereka tidak kebablasan melakukan yang tidak-tidak bukan?” Andrean tersenyum tulusan pada Aliana, tidak tega juga dia melihat raut berpikir Aliana yang mencari-cari alasan agar Andrean berhenti salah paham padanya. Mendengarnya Aliana pun tersenyum. “Nah itu kamu tahu, aku tidak ingin Kakakku kenapa-napa.” Kemudian Andrean mendelik dengan wajah datar menatap Aliana. “Bukannya yang harus dikhawatirkan itu keberadaanmu? Kamu akan di rumah saja tanpa pengawasan Paman dan Bibi, ok iya biasanya pun kamu akan tetap di rumah sendirian saja tapi itu berbeda, Paman dan Bibi masih ada di kota ini tapi kali ini Paman dan Bibi akan jauh darimu! Apa kamu tidak khawatir dengan keselamatan dirimu sendiri? Mereka pasti akan mengambil kesempatan Al, aku yakin itu.” Terlihat jelas raut khawatir dari wajah Andrean saat mengatakannya pada Aliana. Tapi Aliana hanya tersenyum. “Kan ada kamu,” kata Aliana dengan senyuman manis terbit diwajahnya. “Kamukan bilang malah sudah berjanji pada Papa dan Mama, kamu akan menjadi penjagaku.” Lagi-lagi senyuman manis miliknya dia pampangkan pada Andrean tanpa rasa khawatir. Andrean menghela nafas kasar, sulit baginya membantah perkataan Aliana karena memang benar adanya dia berkata seperti itu dan dia harus bertanggung jawab atas perkataannya. Tapi dia ragu untuk itu saat ini, entahlah dia sendiri tidak paham dengan perasaannya. “Kamu itu terlalu baik,” ujar Andrean tertuju pada Aliana. “Terimakasih,” balas Aliana. “Aku tidak sedang memujimu bodoh!” caci Andrean, geram dia dengan anak bungsu keluarga Yaksa ini. Aliana malah tertawa dengan keras sehingga kepalanya pun ikut mendongak ke belakang menyandarkan tubuhnya pada sandaran sopa. “Tidak ada yang lucu!” ujar Andrean dengan ketus. “Raut wajahmu itu lucu, hahaha…. Kamu tidak cocok untuk marah-marah Andrean!” Aliana masih setia mentertawakan Andrean. Wajah Andrean semakin tertekuk tidak suka, kemudian tangannya terangkat lalu menutup mulut Aliana dengan tangannya, tangan Andrean hampir menutupi seluruh bagian wajah Aliana membuat Aliana terkejut. “Aaaaa Andrean lepas!” teriak Aliana memberontak. “Makanya diam,” kata Andrean seraya melepaskan tangannya dari menutupi wajah Aliana. “Aku serius,” sambung Andrean dengan wajah serius. “Iya iya aku juga serius, iya serius− eh iya iya serius aku tadi aku khawatir pada Erisa, aku kan tidak bisa egois untuk meninggalkannya sendirian di rumah,” ujar Aliana menjelaskan setelah melihat tangan Andrean kembali terangkat akan menutupi wajahnya lagi. “Sudah! jangan menatapku seperti itu! jangan lakukan yang tadi lagi nanti wajahku berjerawat karena tanganmu kotor,” kata Aliana dengan rengutan di wajahnya. “Biar saja berjerawat, tetap cantik kok.” Andrean memuji Aliana dengan suara lirih seperti gumaman. “Huh?! apa tadi? Coba katakan lagi?!” gesa Aliana. Tapi Andrean malah menggelengkan kepalanya dengan melihat kearah lain. “Andrean….” Desah kesal Aliana terdengar putus asa menghadapi Andrean yang hampir sama jahilnya dengan dirinya. “Apa?!” sahut Andrean. Mereka berdua benar-benar berlaku tidak jelas. “Sudahlah, aku akan tetap pada keputusanku, Papa dan Mama saja biasa saja aku tidak ikut dengan mereka,” tukas Aliana. “Iya iya terserah tuan putri Yaksa saja.” “Sttt…, jangan sebut nama itu bodoh! Kau sendirikan yang meminta berhati-hati karena ada mata-mata,” kesal Aliana mengomeli Andrean yang menyebut nama keluarga asli Aliana. “Iya iya, lagi pula tenang saja. Aku sudah mengetahui siapa mereka dan saat ini mereka sedang tidak ada di rumah. Jadi ya… sedikit banyaknya rasa khawatirku juga agak berkurang,” papar Andrean. “Serius? Kamu tau siapa mereka?” tanya Aliana, dia pun sedikit mendengar pada Andrean. “Iya. Ish sana jangan dekat-dekat denganku,” seru Andrean sambil tangannya mendorong tubuh Aliana yang agak condong padanya. “Ck katakan siapa!” Aliana pun memposisikan tubuhnya pada posisi duduk tegap seperti semula. “Penghuni rumah nomor 21,” tutur Andrean singkat, cepat dan tepat. “Huh?!” Aliana memandang Andrean dengan seksama, memperhatikan raut serius Andrean yang tidak terlihat kebohongan ataupun candaan. “Apa lagi? kan sudah aku jawab masa itu saja responmu, tidak terkejut seperti apa begitu? mengatakan apa gitu? Atau… kamu akan mengatakan aigo kamchagia atau sejenisnya.” Oceh Andrean protes dengan respon Aliana. (c) ….   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN