Model?

1068 Kata
“Bodoh! Aku masih berpikir tadi! Aku masih tidak percaya pada ucapanmu itu, aku yakin bukan mereka, aku kenal mereka dari aku masih anak-anak jadi aku tau mereka!” Jujur Aliana masih tidak percaya tapi dia masih memikirkan kemungkinan kebenaran dari ucapan Andrean barusan. “Terserah padamu jika tidak percaya pada ucapanku, fakta yang paling mudah untuk kamu buktikan adalah saat ini,” ucap Andrean dengan percaya diri. Tapi tentu saja Aliana masih belum percaya. “Apa? Saat ini apa?” tanya Aliana dengan nada tidak sabar. “Mereka pergikan? Mereka akan menemui Pamanku di luar kota, aku tau rencana itu,” ungkap Andrean. “Mana aku tau mereka pergi atau tidak. Tapi sungguh aku masih tidak percaya bagaimana bisa kamu mengatakan mereka adalah mata-mata! Apa tujuan mereka? Apa pekerjaan mereka selama ini kurang menghasilkan uang sehingga mereka menjadi pengintai begitu,” keluh Aliana, dia berpikir tapi pikirannya masih menolak untuk percaya karena fakta yang selama ini dia ketahui adalah keluarga itu adalah keluarga yang baik dan ramah padanya. Bahkan dirinya sangat dekat dengan orang tua di keluarga itu. “Ada banyak yang belum kamu ketahui, dan aku tidak bisa mengatakannya sekarang ini karena suatu saat kamu akan membuktikannya sendiri dan mengetahui fakta sebenarnya dari keluarga itu dan apa hubungannya dengan Pamanku.” Andrean berbicara sambil berdiri dari duduknya di sopa di samping tempat duduk Aliana. Aliana pun mengdongakkan kepalanya melihat Andrean yang tinggi menjulang dari tempat dia duduk. “Katakan saja sekarang,” pinta Aliana pada Andrean. “Tidak, kamu tidak akan percaya pada ucapanku. Jadi lebih baik kamu mengetahuinya dengan sendiri nantikan dari pada mengetahuinya dariku.” Andrean menatap Aliana dari posisinya berdiri. Sedangkan Aliana memperhatikan Andrean dari bawah. “Sudah dulu ya, aku harus pulang.” Andrean berpamitan pada Aliana. “Benar kamu mau pulang?” tanya Aliana memastikan, Andrean memperhatikan raut wajah Aliana kemudian Andrean tersenyum. .. Aliana membenarkan duduknya, memposisikan dirinya senyaman mungkin di dalam ruangan tersebut. Ruangan itu nyaman dan penuh dengan kemewahan dari sang seniman yang memiliki selera glamour tetapi masih nyaman dipandang oleh mata. Warna rose gold mendominasi ruangan itu dengan terdapat tirai-tirai berwarna senada. Sedangkan tempat yang Aliana duduki saat itu pun adalah sopa emput berwarna senada tetapi memiliki warna lebih halus dari warna rose gold lainnya. Kesan pertama kali saat dibawa ketempat itu oleh yang punya tempat adalah ‘mewah, nyaman, anggun, soft, dan menarik’. Sedangkan pemilik dari tempat itu ia orang yang sudah menyelamatkan Aliana untuk kedua kalinya dari kejaran penjahat yang memang memburunya, mereka yang menginginkan stempet yang mereka ketahui Aliana-lah yang menyimpan stempel tersebut. Aliana masih mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan tersebut. Terdapat manekin yang terbuat dari busa dan kain, meja panjang yang di atasnya terdapat tempat jarum yang ditancap-tancapkan, payet dan manic, gunting, pencil, dan juga ada dua gulungan kain yang sudah terbuka salah satunya. Ruangan besar itu juga terdapat satu mesin jahit yang Aliana tahu mesin jahit itu mesin jahit mahal dan sangat bagus. Aliana tidak penasaran dengan mesin jahit itu karena ia tidak bisa menggunakannya. Aliana penasaran dengan kertas-kertas yang berserakan di atas meja tersebut. Kertas-kertas yang berisikan design sang pemilik ruangan. Angin meniup tirai melewati pintu kaca yang terbuka tidak jauh dari tempat duduk Aliana. Setelah angin itu terasa pada membelainya, barulah ia sadar bahwa ruangan itu juga terdapat pintu kaca besar yang menampakkan pemandangan di sekitar gedung tempat ruangan itu berada. Di luar dari pintu itu terdapat balkon yang terdapat pohon kerdil setinggi Aliana sendiri di dalam pot yang di letakkan tidak jauh dari pintu. Karena sudah merasakan kebosanan akhirnya Aliana bangkit dari duduknya di sopa tersebut dan melangkankan kakinya membawa dirinya ke meja yang penuh dengan barang-barang milik pemilik ruangan. Aliana menyentuh kertas design, hasil karya sang pemilik ruangan. “Sangat indah” itulah ucapan Aliana pertama kali saat melihat design yang terdapat pada kertas yang ia pegang tersebut. Sebuah gambar gaun pengantin yang tidak memiliki banyak payet tetapi sangat menawan dan indah. Gaun itu juga akan membuat si penggunakan terlihat anggun dan tegas secara bersamaan. Lembut dari warna yang dipilih menyimpol wanita yang memakainya adalah wanita yang lemah lembut dan angun. Panyet yang diletakkan pada posisi pinggang dan bahu menandakan keglamoran sang pemakai gaun tersebut dan juga terdapat dibagian paha dari gaun yang di gambarkan di dalam design tersebut. Aliana terkesima dengan gaun yang akan dikerjakan oleh sang  pemilik ruangan. Ia merasa telah lancang sudah mengobrak abrik ruangan tersebut. Tetapi ia tidak bisa menghentikan rasa penasarannya walau rasa bersalah ada pada dirinya. Tangan Aliana sangat ingin mengambil pensil yang sedang ia sentuh saat itu dan satu kertas putih gading yang masih polos tanpa ada coretan. Maksud hatinya untuk membunuh rasa kebosanannya ia sangat ingin meluangkan pikirannya tentang gaun-gaun yang selalu ada di otaknya. Ia selalu saja terpikir akan membuat gaun yang sangat indah tetapi tidak pernah bisa karena ia hanya dapat menggambarkannya saja tanpa bisa membuatnya menjadi nyata hingga dapat digunakan. Aliana kemudian melangkah meninggalkan meja tersebut dan memilih untuk melangkahkan kakinya menuju pintu yang mebatasi dalam ruangan dengan balkon yang menampakkan gedung-gedung tinggi dan jalan di kota tersebut. Aliana saat ini dibawa pergi oleh seorang Kenan keluar negeri bermaksud menyelamatkan Aliana dari orang yang mengejarnya hari mereka bertemu untuk ke tiga kalinya. Aliana sedang asik melihati pemandangan di depannya, angin yang menerpa wajahnya pelan dan lembut serta menerbangkan anak-anak rambut Aliana sehingga bergerak membelas wajah Aliana. “Maafkan aku membuatmu menunggu begitu lama,” ucap suara seorang laki-laki dari balik tubuh Aliana. Aliana sontak kaget karena ia sama sekali tidak mendengar langkah kaki atau suara pintu terbuka di belakangnya. Aliana pun membalikkan badannya melihat orang yang memiliki ruangan tempatnya menunggu sendari tadi. “Tidak masalah, kau pasti sangat sibuk dengan acara besarmu itu,” balas Aliana. Kenan, dia Kenan yang masuk ke ruangan miliknya sendiri, tempat Aliana menunggu. Kenan adalah seorang designer terkenal di Inggris. Dia adalah seorang lulusan dari Parson, The New School For Design, Amerika Serikat. Kenan telah memiliki butik yang sudah diakui dan terkenal karyanya. Bintang Hollywood pun beberapa kali menggunakan gaun yang Kenan hasilkan. Jadi tidak heran jika Kenan sudah memiliki sebuah acara yang memamerkan pakaian-pakaian hasil designnya. “Kau masih merasa tidak aman bersamaku di sini?” tanya Kenan, karena ia merasa sorot mata dari Aliana bukan hanya soal kebosanan saja melainkan ada sorot mata lain yaitu entah kecemasan yang membuat ia tidak tampak cerita. Kenan duduk di sopa tempat Aliana duduk sebelumnya.    “Iya,” jawab Andrean singat.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN