Pejabat Negara

1133 Kata
Aliana masih berdiri di luar pintu tepatnya ia berdiri di balkon masih menikmati tiupan angin pada wajahnya. “Tidak aku tidak takut lagi, aku merasa cukup aman. Aku percaya kalian orang baik,” balas Aliana, ia percaya pada Kenan dan Aressa adalah orang-orang baik yang ingin menolongnya saja. Kenan melihat kearah punggung Aliana yang membelakanginya karena ALiana menatap ke depan bertumpu pada pagar besi yang membatasi balkon dan ketinggian dari gedung tersebut. Kenan melihat dengan senyum kecil, rambut Aliana tergerai menutupi punggungnya dan bahu sempit milik Aliana. “Begitu percayanya pada kami, jika aku ternyata adalah salah satu dari rekan kerja sama dari orang itu bagaimana?” tanya Kenan iseng menggoda Aliana. “Aku akan membunuhmu,” jawab Aliana tanpa melihat Kenan yang masih duduk di sopa miliknya. “Kau serius? Aku jadi ngeri menampungmu di sini,” canda Kenan tertawa kecil tanpa diketahui oleh Aliana sendiri. “Tentu saja,” balas Aliana ia bukan acuh tidak ingin melihat lawan bicaranya, ia hanya ingin menerawang lagi hari-harinya yang begitu sangat mengejutkan dan tidak terencana. Kemarin ia masih berada di Indonesia dan hari ini ia sudah berada di Inggris tepatnya London, ibu kota dari Negara Inggris. Apa yang Aliana lakukan di sini? Tentu saja tidak ada, ia hanya melarikan diri dari orang yang terus saja memburunya tanpa lelah. “Aku tidak akan sejahat itu padamu, kau sudah seperti adikku,” ujar Kenan yang saat ini sudah berada di samping Aliana dengan posisi yang sama dengan Aliana karena beberapa detik yang lalu ia berjalan menghampiri Aliana yang tampak sangat betah memandangi pemandangan dari atas balkon ruangannya itu. Bahkan ia setidak ada kerjaannya ia tidak pernah melakukan itu setelah dua tahun ia pindah ke London. “Ternyata pemandangan di sini tidak buruk juga,” celetuk Kenan setelah berada di samping Aliana. “Pemandangan di depankan?” tanya Aliana, dari sudut matanya tanpa malingkan tubuhnya ia dapat melihat Kenan bukan melihat ke arah depan melainkan melihat ke arahnya. “Tetapi kenapa yang kau lihat malah diriku?” celetuk Aliana dengan nada bertanya. “Karena keberadaanmu di sini menambah keindahan pemandangan di tempat ini, aku sungguh tidak pernah berada di tempat ini dan menghabiskan waktu hanya untuk melihat pemandangan di depan, seperti orang yang kekurangan kerjaan,” sebut Kenan sambil menyindir Aliana yang baru saja berada di tempatnya malah asik memperhatikan pemandangan kota dari pada dirinya. “Karena kau adalah orang yang terlalu sibuk berbeda dengan diriku ini, orang yang berlari ke sana dan kemari hanya untuk menyelamatkan nyawa. Sungguh benar harta tidak akan menyelamatkan nyawa jika begini jadinya, harta peninggalan orang tuaku malah ingin membunuhku atau lebih tepatnya penyebab diburunya aku,” jelas Aliana tentang kondisinya. “Memangnya kau keluarga siapa hingga kau diburu?” tanya Kenan penasaran dengan masalah hingga membuat Aliana diburu dan nyawanya terancam. “Aku satu-satunya Yaksa yang tersisa,” jawab Aliana singkat.    ... “Menarik,” seru Kenan. “Kau punya minat untuk menjual designmu ini padaku? Dan membantuku untuk membuatnya menjadi nyata, aku tertarik untuk mengikut sertakan gaun ini di acara nanti,” tutur Kenan membuat Aliana menghentikan kegiatannya dan mengangkat kepalanya untuk menatap Kenan yang berada di sampingnya masih di posisi yang sama, menopang tubuhnya dengan sebelah tangannya di atas meja yang sama dengan meja tempat Aliana menggambar. “Kau bercanda?” tanya Aliana memastikan, karena ia terkejut sekaligus tidak percaya dengan ucapan Kenan tadi. “Apa aku terlihat sedang bercanda saat ini Angel,” balas Kenan lagi dengan menyebut Aliana sebagai Angel. “Nama itu lagi,” batin Aliana. Tetapi ia tidak memperdulikan Kenan yang menyebut nama itu. Aliana mencoba senatural mungkin untuk tidak memperdulikan panggilan dari Kenan. “Baiklah… tetapi aku masih ragu apa designku ini benar-benar manarik dan cocok untuk bersanding di cat walk nanti bersama gaun-gaun rancanganmu, Ken,” ucap Aliana, ia sedikit minder dengan Kenan yang memang diakui sebagai seorang perancang busana professional dengan pendidikan yang ia tempuh pun tidaklah main-main. Berbedanya dengannya, seorang buruan, sekolah saja hanya lulus SMA dan tidak melanjutkan pendidikan lagi di bangku kuliah. “Aku memang kaya katanya, tetapi apa gunanya kekayaan aku saja tidak berpendidikan, sekolah saja aku tidak bisa,” pikir Aliana menyadari bahwa dirinya hanya seorang gadis yang baru saja berumur 18 tahun dan hanya lulusan dari SMA. “Jangan mider begitu nona Alia, aku bahkan berpikir jika kau itu pernah kursus dan diajarkan oleh seorang yang professional dalam bidang fashion sehingga gambarmu sebagus ini dan lagi gaun yang kau buat ini bukan main-main ini sangat bagus, memiliki rasa,” jelas Kenan sambil memperhatikan gambar Aliana. “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tetapi jika kau memang menginginkannya…ambillah,” ujar Aliana sambil memberikan kertas putih gading yang sudah terdapat sebuah design di atasnya. Kenan balas menatap Aliana dengan tidak percaya, “semudah itu kau memberikannya?” tanya Kenan tidak percaya. … “Ya, anggap saja ini balas budiku, kau sudah menyelamatkanku beberapa kali,” balas Aliana sambil tersenyum masih dengan tangan yang memegang kertas gambar itu menyodorkannya pada Kenan yang ada di sampingnya. Kenan menerima kertas milik Aliana tadi dengan senyum senangnya. “Kau sungguh baik the little sister Angel,” ujar Kenan sambil menyentuh kepala Aliana dengan telapak tangannya memberikan pusutan mengacak rambut Aliana. “Kau merusak rambutku!” kesal Aliana pada Kenan yang terkikik karena amukan dari Aliana.    Di sebuah mobil terdapat seorang laki-laki sudah hampir lanjut usia duduk tenang di kursi penumpang dengan seorang sopir yang mengemudikan laju mobil dengan kecepatan sedang. Laki-laki itu adalah seorang gubernur yang sudah menjabat sebanyak 2 periode, pada masa jabatannya habis maka ia pun juga akan terkena pension karena umurnya. Laki-laki duduk dengan tenang dengan wajah datar dan dinginnya karena kaca gelap mobil yang ia tumpangi berwarna hitam gelap sehingga orang-orang yang berada di luar tidak dapat melihat apa, siapa, kenapa, dan bagaimananya orang yang berada di dalam mobil itu. Sungguh tidak ada yang akan tahu itu. Suasana di dalam mobil itu sangatlah dingin, tetapi tiba-tiba berubah saat sang sopir menepikan mobilnya dan membuka kaca jendela mobil menampakkan sang gubernur yang berada di dalam mobil, berada di bangku penumpang belakang. Ialah Jaun, Juan Kelino gubernur 2 periode dengan segala kebijaksanaan dan wibawanya di mata masyarakat kota tersebut. Masyarakat melihat Juan berada di dalam mobil sambil tersenyum ramah dan sangat hangat pada masyarakatnya. Ia melambaikan tangannya karena tepat di depannya adalah sebuah pasar tradisional yang baru saja selesai dari renovasi dan penertiban agar pasar tersebut terlihat lebih rapid dan ramah saat dipandang. “Ingin turun Tuan,” tanya sang sopir. “Tidak, aku di dalam saja,” jawab Juan masih dengan senyum dan lambaian tangannya dari dalam mobil. “Apa kabar ibu-ibu? Apakah nyaman berbelanja di pasar yang baru ini?” tanya Juan mencari perhatian pada ibu-ibu yang menggeromboli mobilnya. Banyak masyarakat yang mengelilingi mobil tersebut, sekedar ingin bersalaman atau untuk mencium tangan sang gubernur.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN