“Lalu mau bagaimana lagi? Penjaga pintu kompleks akan menangkap kita kalau kita membawa anak itu begitu saja tanpa penyamaran. Sudah bagi bos membantu kita membuat tanda pengenal palsu agar bisa masuk ke dalam rumah ini tanpa dicurigai.”
Alis Aliana menukik tajam dengan kerutan di tengah dahinya. Dia salah perkiraan, ternyata yang diinginkan oleh kawanan itu adalah dirinya. Aliana paham dan sadar siapa yang sedang dia hadapi sekarang.
“Andrean.” Geraman Aliana menyebut nama Andrean dengan geraman tertahan. Yang teringat olehnya disaat seperti ini adalah Andrean, tapi sayang sekali kali ini Andrean tidak ada di sampingnya dan dia pun tidak dapat menghubungi Andrean karena Andrean sudah beberapa hari tidak dapat dihubungi, terakhir hanya memberikan kabar bahwa dia sibuk membereskan bisbis pamannya yang lagi-lagi menggunakan uang almarhum papanya untuk berbisnis haram.
Aliana bergegas berdiri dengan gerakan lembut untuk kembali ke kamarnya. Aliana tidak bisa menghadapi penyusup-penyusup itu sendirian dan dia tidak memiliki rencana untuk melawan mereka, sehingga mau tak mau Aliana masuk kembali ke kamarnya.
Pertama masuk ke dalam kamarnya yang dia lihat adalah pintu kaca tertutup gorden putih ringan penghubung balkon kamarnya.
“Brian.” Aliana mengingat Brian, dia yakin Brian belum berangkat ke kampusnya karena Aliana mengetahui jadwal kuliah laki-laki itu. Dia mencari tahunya dan dia mengingatnya kapan saja Brian kuliah, kapan saja Brian memiliki jadwal kuliah yang sama dengan kakaknya dan kapan saja Brian ada di rumah.
Aliana membuka pintu itu dengan digeser ke samping, melihat jarak balkon kamarnya dengan kamar Brian yang ada di seberang cukup jauh atau malah dapat dikatakan sangat jauh.
Aliana tidak habis akal, dia kembali masuk ke dalam kamar menuju pintu dan mengecek apakah pintu kamarnya terkunci dengan benar. Kemudian Aliana mengambil ponselnya dan segera mencari kontak Brian yang dia simpan. Dia memang menyimpan kontak Brian tapi sudah satu tahun tidak pernah dia sentuh untuk sekedar mengirim chat pada nomor kontak itu.
Beberapa kali dering Aliana tunggu untuk dijawab oleh Brian tapi dalam 30 kali deringan tidak juga mendapat jawaban dari Brian. Aliana kembali mencoba setelah yang ke 15 akhirnya panggilan itu disambut oleh Brian.
“Hallo.” Suara Brian terdengar berat dan
“Mmm Brian ini aku Aliana! ada orang asing masuk ke rumahku.”
“Mm.. lalu?” Brian terdengar tidak peduli dengan apa yang Aliana katakan padanya.
“Bantu aku bodoh! Aku tidak bisa mengatasinya sendirian. Mereka ada beberapa orang yang aku tau pasti suaranya ada dua tapi bisa saja ada lebih dari dua orang yang saat ini ada di lantai satu.” Aliana tidak sadar dia membentak Brian karena kesal dengan laki-laki itu.
“Harus aku?” Brian terdengar semakin menjengkelkan untuk Aliana.
Aliana menggeram ingin rasanya memaki Brian. Tapi tidak mungkin untuk saat ini, karena biasanya pun dia tidak dapat membentak Brian yang malah membuat dadanya bergemuruh gugup. “Kali ini aja! Tolong aku, lain kali aku tidak akan merepotkanmu,” kata Aliana akhirnya, dia tidak yakin Brian mau membuat tubuhnya repot untuk membantu Aliana karena dia tahu Brian itu membencinya, tidak menyukainya.
Terdengar oleh Aliana suara pintu di buka dan benar di seberang balkon Aliana lebih tepatnya rumah tetangganya nomor 21. Baru saja keluar seorang laki-laki dengan kaos rumahanny serta celana pendek selututnya, menempelkan ponsel pada telinga kanannya menatap ke seberang balkonnya yang terdapat Aliana.
“Bantu aku,” ujar lirih Aliana sambil menatap Brian diseberangnya.
“Tunggu.” Setelah satu kata itu Brian memutuskan panggilan dan masuk kembali ke dalam kamarnya.
Aliana menatap dengan harapan dimatanya. Dia tidak ketakutan hanya saja dia cemas karena dia tidak melihat bentuk orang asing yang masuk ke dalam rumahnya. Bisa saja orang-orang itu berbedan besar dan mengerikan maka nyali Aliana akan langsung ciut mungkin. Aliana itu tergolong anak yang pemberani, hanya saja dia tidak punya otot dan kemampuan untuk melawan dengan kekerasan.
“Apa yang aku siapkan?” tanya Aliana pada dirinya sendiri.
“Aku tidak mungkin menggunakannya sekarangkan Papa? Masih ada pilihan yaitu Brian, maafkan aku Bri.” Setelah mengucapkan itu Aliana hanya menatap datar dengan helaan nafas ringan. Kemudian dia melihat ke bawah memastikan apakah Brian sudah keluar rumahnya apa belum, dan yang dia lihat adalah Brian menuju pintu belakang rumahnya.
Brian memberikan isyarat pada Aliana.
“Kau bukakan pintu belakang.”
Aliana menganggukkan kepalanya. Dia ingin sekali tersenyum, tersenyum sangat lebar tapi tidak bisa, dia tahan senyuman itu karena jika Brian melihatnya maka Brian akan marah padanya.
Alina kembali masuk ke dalam kamar dan ingin membuka pintu kamarnya yang dia kunci tadi. Tapi sebelum dia menyentuh ganggang pintu, pintu di depannya itu malah terbuka lebih dulu dari luar yang membuat Aliana mau tak mau mundur beberapa langkah untuk menghindari pintu itu membentuk wajahnya.
Diambang pintu terlihat tiga orang dengan berbeda ukuran tubuh. Dua orang bertubuh besar dan tegap sedangkan satunya bertubuh kecil ramping tapi dia yakin mereka bertiga itu adalah laki-laki.
“Apa anak buah Juan itu semuanya harus good looking?” pikir Aliana, melihat garis wajah tiga orang tampan di depannya ini cukup menarik dimatanya.
“Sayang sekali,” gumam Aliana tanpa sadar.
“Apa yang disayangkan Nona?” tanya salah satu dari tiga orang itu, pria berbadan besar yang memegang ganggang pintu kamar Aliana.
“Kalian,” jawab Aliana singkat memandang luruh memperhatikan postur tubuh tiga orang di depannya dengan bergantian. Dua dari mereka tinggi melebihi Aliana, dan satunya tingginya malah mungkin tinggi beberapa senti dari Aliana. Aliana percaya itu.
“Sudahlah.” Putuskan oleh pria berbadan besar di belakang pria yang membuka pintu tadi.
“Nona harus ikut dengan kami.” Suara mengintruksi dengan dingin keluar dari pria berbadan ramping di belakang dua pria berbadan tinggi di depannya.
“Kenapa harus? Aku tidak mengenal kalian dan aku yakin kalian bukan orang suruhan dari orang tuaku,” ujar Aliana tidak kalah dinginnya.
“Ini perintah dari Tuan Besar. Tidak ada bantahan sebaiknya Nona tidak memberontak agar kita segera berangkat.”
“Aku tidak mau!” jawab Aliana cepat dan tegas.
“Aku menolak jawaban apapun dari Nona.”
Kemudian dua pria yang berbadan besar masuk lebih dulu ke dalam kamar mendekati Aliana.
“Brian kenapa lama sekali!” batin Aliana, dia lupa bahwa Brian tidak akan dapat masuk ke dalam rumah jika pintu belakang yang tadi Brian perintahkan pada Aliana untuk membukanya tapi Aliana tidak sempat membukanya.
Mereka sudah mendekat dan ada di depan Aliana, mereka ingin menggapai tangan Aliana tapi Aliana menghindarinya.
“Aku sedang tidak memegangnya, aku pun saat ini tidak bisa melakukannya pada mereka. Brian ada di sini, astaga aku jadi menyesal meminta bantuan Brian!” desah kebingungan Aliana membuncah dibenaknya.
Salah satu dari orang asing itu sudah dapat menangkap Aliana. Aliana memberontak tapi sulit baginya untuk lepas. Aliana tidak bisa bela diri jadi sulit untuknya bergerak menyerang.
“Lepaskan! Hey! Kalian tidak bisa menangkapku begini!” teriak Aliana meminta dilepaskanpun tidak diindahkan oleh dua pria berbadan besar yang sedang memeganginya. Membelit tangan Aliana ke belakang tubuhnya, sedangkan tubuh Aliana menempel pada d**a pria berbadan besar yang sedang memegangi tangannya.
(i)
…