“Tenanglah Nona, dia tidak akan menyakiti Nona.” Bisikan yang Aliana dengar dari telinga kanannya membuat Aliana merinding. Napas panas pria itu membuat darah Aliana memanas, wajah Aliana kini memerah, dia mencoba menggenggam erat tangannya menjadi sebuah kepalan. Aliana masih mencoba untuk melepaskan diri tapi tetap saja tenaganya tidak perpegaruh apapun pada pria yang membelit tangannya.
“Sudah ayo baru dia sekarang.” Pria berbadan ramping yang tadi masih berdiri diambang pintu mengintruksi dua rekannya untuk segera bergerak pergi.
Sedangkan Aliana, kini tidak dapat lagi mengeluarkan suaranya. Mulutnya diberi lakban hitam dengan dua lapis, menempel sangat ketat, itu ulah pria berbadan besar satunya lagi.
“Apa masih perlu untuk dimasukkan ke dalam koper?” tanya pria yang tadi memasangkan lakban di mulut Aliana.
“Tentu saja, dia begini akan membuat kita ketahuan,” ujar pria yang memegang tangan Aliana.
“Kau pintar sayang,” sahut pria berbadan ramping yang sebelum berbalik badan dia tersenyum menggoda pada pria yang ada di belakang Aliana, kedipan mata pun Aliana tangkap dari pria ramping itu.
Aliana memutar bola matanya. “Wae! wae? Wae?! Apa ini?! Astaga mereka pasangan?!” pikir Aliana langsung. Dia semakin ingin lepas, dia mengeliat mencoba lepas dari genggaman pria yang dia yakini kekasih dari pria berbadan ramping tadi. Tapi tanpa Aliana duga, tubuh tingginya melayang dan berakhir di bahu pria kekasih pria ramping tadi. “Astaga! Mati aku!” pikir Aliana kalut.
Tapi entahlah secara bersamaan Aliana juga merasa lega jika orang yang memanggulnya itu tertarik dengan pria artinya dia akan aman dari pelecehan seksual yang bisa saja dia terima dari pria berbadan besar itu. “Aku ini berpikir apa sih?! Jelas aku saat ini dalam bahaya!” pikiran Aliana bertengkar dengan hatinya.
Mereka menuruni tangga sedangkan Aliana masih mencoba turun dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang berada di bahu pria besar kekasih pria ramping. Aliana tidak habis pikir pria yang menganggulnya terlihat tenang saja memanggulnya tanpa merasa keberatan dengan berat badan Aliana yang terbilang juga bertubuh tinggi dan sedikit berisi, terlihat berisi karena tulang-tulang tubuh Aliana jauh lebih besar dari pada Erisa.
“Turunkan meraka!” suara penuh penekanan tapi tidak berteriak didengar oleh empat orang di depannya. Aliana yang tidak dapat melihat siapa orang yang bersuara itu mencoba memalingkan tubuhnya untuk melihat ke depan, tapi walau kesulitan dia yakin siapa pemilik suara itu.
Brian saat ini sedang berdiri di depan tiga orang pria dan satu wanita yang dipanggul di salah satu pria itu.
“Minggir Tuan muda,” kata pria yang berbadan ramping.
“Kau mengenalku?!” tanya Brian, dia heran tapi mengingat kedua orang tuanya dia sadar tiga pria itu adalah suruhan dari orang tuanya. “Ah kalian suruhan mereka. Mau kalian bawa kemana dia?” tanya Brian dengan santai.
“Bukan urusan Tuan muda,” balas pria ramping itu lagi.
“Kalau begitu aku perintahkan pada kalian untuk menurunkan dia,” titah Brian dengan nada santai pada ke tiga orang itu.
Aliana tidak bisa melihat yang sedang terjadi di belakangnya, dia tidak dapat berbalik untuk menyaksikannya tapi dia menyimak dari pendengarannya perdebatan empat orang itu, tapi Aliana tidak habis pikir. “Masa dia santai begitu malah berdiskusi?” pikir Aliana.
Aliana kira Brian akan melawan tiga orang itu dengan saling adu otot atau adu senjata. Tapi di sini Brian malah santai meminta ketiga pria itu untuk melepaskan Aliana. Aliana baru menyadari dari tadi pria ramping kekasih pria yang memanggulnya terus memanggil Brian dengan sebutan tuan muda.
“Ada hubungan apa mereka?” batin Aliana bertanya-tanya.
“Tidak bisa, kau tidak memiliki hak untuk memerintah kami. Menyingkir segera kami harus segera membawa dia ke Tuan besar.”
“Menyikir atau aku akan melukaimu,” ujar pria berbadan besar yang kini sudah maju menghampiri pria berbadan ramping, sedangkan Aliana masih dipanggul dan pria berbadan besar yang memanggulkan hanya diam saja.
“Silahkan, kalian tidak akan bisa membawanya.” Brian berucap dengan nada dingin. Sayang sekali Aliana tidak dapat melihat wajah pahlawannya itu saat ini. Jika Aliana melihatnya sudah dapat dipastikan Aliana gagal move on lagi pada Brian.
Pria bertubuh besar yang berada di depan pun langsung mencoba menyingkirkan Brian dari melanghalangi jalan. Dia akan mengambil koper yang tadinya dia tinggalkan di dekat pintu masuk.
Tapi tanpa diduga Brian dapat menangkis tangan pria bertubuh besar itu. Brian pun tidak lupa memberikan pukulan pada wajah pria itu. Dia terhujung kebelakang setelah sebuah bogem mengenai wajah tepat pipi kirinya.
“b*****t!” makinya pada Brian yang telah memukul wajahnya.
Dia kembali maju dan mencoba membalas pukulan Brian tadi dan di sana terjadi perkelahian Brian dengan pria tersebut. Sedangkan dua rekannya hanya menonton perkelahian itu. Lalu Aliana masih ada di bahu pria besar kekasih pria ramping.
“Bisakah turunkan aku dulu, ini sangat sakit, aku pusing kalau lama-lama begini.” Aliana tidak bisa mengatakannya langsung pada pria yang memanggulkan karena mulutnya masih ditutup lakban dengan sangat ketat. Tanpa pikir panjang apa akibatnya. Aliana menendang kakinya yang menggantung tepat mengenai perut pria itu. Kemudian kedua tangannya dia genggam erat dan mengangkat sikutnya untuk menghantam dengan keras punggung pria yang memanggulnya.
“Ughh!” lengkuhan terdengar dari mulut pria yang memanggul Aliana.
“Kena kau!”
Tapi detik berikutnya Aliana merasa tubuhnya terlepas dari panggulan itu tapi mendarat dengan keras di lantai.
“Aghh.” Lengkuhan tertahan Aliana terdengar karena dia mendarat di lantai dengan posisi menelungkup. Lutut, tubuh serta dahinya kesakitan karena menghantam lantai dengan keras.
“Kau! Rasakan apa enak menghantam lantai, Nona?” cemooh pria bertubuh besar yang memanggul Aliana tadi.
“Kalian,” geram pria ramping dan dia melewati perkelahian Brian dan rekannya untuk mengambil koper agar pekerjaannya cepat selesai. Tapi siapa sangka Brian merampas koper itu walau bahunya dipegang erat oleh lawan berkelahinya tadi. Wajah dan tubuh pria lawan berkelahi Brian sudah kalah tapi dia masih kuat. Brian mengangkat koper itu melayang tepat mengenai kepala lawannya dengan keras.
“b*****t!” kali ini teriakan pria ramping pun ikut menggema, dari tadi dia bersikap tenang dan santai tapi kali ini dia pun tersulut emosi.
Brian yang sadar dengan keberadaan pria ramping itu langsung menendang tubuh pria ramping itu dengan keras hingga pria itu terpental beberapa langkah ke belakang.
Melihat kekasihnya terluka akibat perutnya habis ditendang oleh Brian, dia pun menggeram dan ingin melayangkan pukulan pada Brian tapi sebelum dia melangkah maju Aliana lebih dulu menendang kaki pria itu dari bawah mengenai tulang keringnya dengan kakinya.
Sedangkan disaat yang bersamaan, Brian tengah memukuli wajah kekasih pria bertubuh besar tadi. Dia memukul tidak memberikan kesempatan untuk pria ramping itu membalasnya. Brian bergerak cepat dan tepat. Padahal mereka juga kuat tapi kali ini mereka lengah dengan anak bos mereka itu.
Aliana mendapatkan balasan tendangan dari pria yang tadi dia tendang kakinya. Tepat dibagian perut Aliana, tapi dia tidak bisa menghajar Aliana dengan terlalu keras atau sampai melukai wajah Aliana karena itu sama saja dia membahayakan diri mereka sendiri.
Kembali dia ingin membantu kekasihnya yang sudah tidak berdaya melawan Brian. Dia pun mengeluarkan pisau, Aliana melihatnya dia ingin memberikan peringatan pada Brian tapi dia tidak bisa berteriak karena mulutnya masih tertutup rapat. Sekuat tenaga Aliana menjerit walau hanya terdengar lengkuhan tertahan.
(j)
…