Brian Terluka

1225 Kata
Rupanya Brian pun sadar dengan lengkuhan itu. Dia berbalik dan tepat pisau akan mengenai punggungnya, kena tapi tidak dalam karena Brian masih bisa sedikit menangkis walau beberapa detik terlambat. Sambil menahan sakit dengan sedikit ringisan lolosan dari bibirnya saat meahan sakit dipunggungnya, Brian membalas. “Ugh.” Brian mengenyit menahan sakit setelah berhasil memberikan pukulan pada pria yang tadi menyerangnya. “Sialan kau!” geram pria besar yang masih terlihat baik-baik saja setelah Brian tinju bagian perutnya. “Pergi dari sini jika tidak ingin dia kubunuh!” ancam Brian memegang sebilah pisau, itu pisau milik pria tersebut yang menyerangnya tadi, kini dia arahkan para pria ramping yang sudah tidak berdaya, dia masih sadar tadi sulit untuknya bergerak. Brian benar-benar buas saat ini, dia dapat melumpuhkan orang-orang orang tuanya. “Brian kuat juga ternyata,” pikir Aliana yang melihat bagiamana jantannya Brian menghajar tiga orang yang akan menculiknya itu. “Tunggu saja Tuan Muda, dia akan marah padamu. Kalian pasti akan mendapatkan balasannya.” Pria itu menggendong pria ramping tadi dan membawanya keluar dan pria besar satunya berjalan terseok mengikuti langkah rekannya. Kakinya tadi habis dipatahkan mungkin oleh Brian. Brian mendekati Aliana yang masih tertelungkup dalam keadaan terikat dengan mulut dilakban. “Kau ini bodoh sekali, tidak melawan untuk menyelamatkan dirimu sendiri, eh?” cemooh Brian sambil melepaskan ikatan pada tangan Aliana. “Mhh.” Aliana hanya dapat mengeluarkan suara lengkuhan itu karena lakban pada mulutnya belum dilepaskan oleh Brian.  Sreett… “Ahhh…, leganya.” Lakban yang melekat pada mulutnya baru saja dibuka oleh Brian membuat Aliana mendesah nyaman karenanya. “Hehe terimakasih. Soal tadi, kalau aku bisa melawan mereka maka dari tadi aku sudah bisa bebas. Kamu lihat saja sendiri tadi badan mereka besar-besar dan tenaga mereka juga jauh lebih besar.” Aliana mengeluarkan keluh kesahnya karena Brian malah menyalahkannya. Brian memperhatian Aliana yang terus membicara keluh kesahnya. “Sudah?” tanya Brian sambil mencoba menyentuh punggungnya dan sekali-sekali melengkuh merasa sakit dan perih secara bersamaan. Punggungnya terasa sudah basah dan dia yakin itu darahnya sendiri yang membasahi baju bagian belakangnya. “Ugh.” “Oh astaga aku lupa! Kamu terluka!” jerit Aliana baru ingat jika punggung Brian tadi terkena tikaman. “Sudah tutup mulutmu jangan berbicara, aku akan mengobati lukaku dulu.”  Setelah mengatakan itu Brian berdiri untuk meninggalkan Aliana. “Heh tunggu dulu!” cegah Aliana melihat Brian berdiri, dia pun ikut berdiri untuk menghadang Aliana. Brian menghiraukannya. “Bri! Tunggu dulu!” Aliana menarik tangan Brian untuk mencegah Brian melangkah. Brian melihat tangannya yang dipegang oleh Aliana dengan tatapan sinis miliknya. “E-e-eh maaf-maaf. Aku tidak bermaksud menyentuhmu. Jadi gini− karena kamu membantuku maka aku juga akan membantumu setidaknya untuk mengobati lukamu,” ujar Aliana berkata dengan pelan-pelan agar Brian mengerti maksudnya dan tidak kabur begitu saja, dan tangannya sudah dia lepaskan dari pegangannya pada lengan tangan pria di depannya itu. “Tidak perlu, aku calon dokter dan aku bisa mengobatinya sendiri,” ucap Brian dingin. “Bri…. Iya aku tau sangat tau kamu itu calon dokter, tapi biarkan sekali ini aku bertanggung jawab atas lukamu,” kata Aliana memohon agar Brian membiarkannya untuk mengobati punggung laki=laki itu. “Kali ini saja,” sambung Aliana. Brian beberapa saat malah menatap Aliana dalam diamnya memperhatikan Aliana. Beberapa detik berikutnya, Brian menghela nafasnya melihat wajah memohon Aliana dia tidak tega juga ternyata. “Baiklah. Tapi ingat.” Brian menatap tajam Aliana, Aliana balas menatap dengan tatapan bingung bertanya. “Hati-hati dan pelan-pelan,” peringat Brian pada Aliana. “Yeah tenang saja Tuan muda….” Dengan nada mengejek Aliana mengucapkannya lalu mencoba melangkah untuk mengambil kotak obat. “Ugh.” Lengkuhan Aliana mengalihkan perhatian Brian yang tadi tidak memperhatikan kondisi Aliana sendiri. “Kamu kenapa?!” tanya Brian dengan nada tergesa. “Tidak, tidak apa-apa. Kamu bisa tunggu di meja biar aku mengambil kotak obat dulu.” Sambil menahan rasa sakit diperutnya, Aliana mencoba melangkah dengan pelan, perutnya terasa sakit akibat ditendang dengan keras oleh orang asing yang ingin menculiknya tadi. Aliana sendiri tidak menyangka kalau efeknya akan sesakit yang dia rasakan ini. Brian pun beranjak menuju kursi meja panjang di ruang tengah rumah itu. Dia duduk disalah satu kursi dan membuka kaos yang sudah bersimbah darahnya sendiri dan tinggallah tubuh bagian atasnya naked. Tidak berapa lama Aliana kembali. “Astaga!” kaget Aliana melihat kondisi Brian saat ini tidak menggunakan bajunya. Brian menoleh sebentar pada Aliana lalu dia kembali mencoba membersihkan lukanya yang dapat dia jangkau. “Kenapa bajunya dilepas sih….” Keluhan Aliana terdengar putus asa melihat Brian tidak menggunakan baju atasnya. “Kamu mau aku pakai baju penuh darah ini? Itu sama saja kotor, lagi pula apa salahnya aku bukannya telanjang bulat di depanmu,” seru Brian tidak peduli dengan keluhan Aliana yang protes. “Ahhh… baiklah, diam dulu aku mau lihat lukamu,” ujar Aliana mencoba tidak peduli dengan apa yang dia lihat. Seumur-umur baru kali itu Aliana melihat Brian tidak menggunakan bajunya setelah mereka sama-sama dewasa. Aliana ragu untuk menyentuh kulit Brian jadilah dia hanya mengamati luka yang masih basah itu tanpa menyentuh punggung Brian. Aliana tidak takut darah sangat tidak takut, dia hanya takut menyentuh Brian. “Kamu mau mengobati atau mengamati lukaku saja?” tanya Brian karena dia merasa hampa tidak terasa sama sekali sentuhan dari Aliana di punggungnya. “Iy-iya iya tungguh dulu aku lihat lukamu dulu seberapa parahnya dan ternyata sobek ya, duh punggungmu sekarang jadi lecet hahaha,” goda Aliana sambil tertawa kecil, membuat Brian merotasi matanya jengah. “Cepat obati! Kalau takut darah bilang saja jadi tidak perlu aku menunggu lama di sini! Tapi kamu harus bertanggung jawab atas lukaku.” protes Brian. Dahi Aliana berkerut, dari tadi juga dia bermaksud untuk bertanggung jawab tapi Brian terus saja mengeluh padanya. “Ish sabar dulu bisa tidak,” kesal Aliana. Aliana mulai membersihkan luka Brian dengan membasahi kain kasa dengan air infuse yang memang siap sedia di rumah ini. Brian tidak bereaksi apapun saat Aliana membersihkan lukanya. Sampai pada Aliana tanpa sengaja menekan lukanya. “Ergh.” Lengkuhan Brian terdengar pelan. “Ternyata dokter bisa sakit juga ya?” sindir Aliana sambil tersenyum kecil tanpa diketahui oleh Brian. “Dok-/” “Sudah tidak perlu dijawab!” sanggah Aliana cepat mendahului Brian yang ingin berbicara. “Dih tensian banget kamu,” sindir Brian sambil menyengit menahan perit dipunggungnya. “Siapa yang tensi.” “Itu tadi ngegas, orang mau jawab juga.” Nada bicara Brian berubah tidak sekaku sebelumnya. “Ya sudah kataku jangan dijawab.” “Aku mau jawab.” Mereka malah berdebat tidak berkesudahan. “Yaudah terserah.” Aliana malah terpacing tensi sendiri karena Brian. “Akukan manusia juga, perlu dirawat apalagi sama perawat yang cocok,” celetuk Brian dengan santainya. Aliana menyengit, “huh? gak nyambung.” Lalu tanpa alasan Brian malah berbalik saat Aliana masih membersihkan luka yang sebentar lagi dia akan tutup dengan kain kasa. “Eh eh eh! Kenapa berbalik sih!” kesal Aliana karena Brian bergerak berbalik malah menoleh padanya yang ada di belakang. Brian menjatuhkan pandangannya pada perut Aliana yang tertutup kaos putih tipis, pakaian rumahan Aliana. “Heh! Apa liat-liat!” tegur Aliana galak. “Siapa yang liat-liat tidak bermaksud juga, masih bagusan punya Erisa,” sindir Brian. Kemudian dia kembali menoleh ke depan. “Bagaimana perutmu? Kamu juga terluka tadi.” (k) ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN