Obsesi 2

1187 Kata
Hilda membantu memasak dan terkadang menyeterika pakaian kantor Louis dan kadang juga pakaian Ayunda sendiri. Seperti pekerjaan seorang asisten rumah tangga. Hilda pun terlihat terampil seakan sudah biasa melakukan pekerjaan tersebut padahal jika dilihat dari latar belakangnya, dia adalah seorang anak tunggal dari keluarga kaya raya. Lebel orang tuanya mengatakan Hilda adalah anak manja sekaligus pandai, pandai dalam melakukan segala hal yang dia inginkan. Dapat disimpulkan, apa yang sedang ia lakukan itulah adalah keinginannya sendiri. Suatu ketika, saat Ayunda menginap di rumah orang tuanya, nenek dan kakek Hilda maka Hilda yang mempersiapkan semua keperluan Louis dari makanan, air mandi, pakaian kantor hingga memasangkan dasi yang benar pada leher Louis. Posisi Hilda seperti seorang istri kedua untuk Louis. Awalnya hubungan mereka masih normal hubungan bos dan asistennya atau hubungan keponakan dan pamannya. Setelah satu bulan bekerja dan tinggal bersama kondisi pun masih sama, tidak ada perubahan. Walau diakui Hilda tidak lagi malu-malu seperti awal dia pindah ke kediaman bibi dan pamannya itu. Hilda yang pemalu sudah tidak sepemalu sebelumnya. Hilda pun sering bercanda dengan Bibi dan Pamannya itu. Hilda menjadi keponakan kesayangan Ayunda dan Louis, begitu pula pada Lui, dia merasa memiliki teman di rumahnya saat pulang ke rumah. Lui, dia jarang berada di rumah karena dia tinggal di asrama sudah sejak awal masuk STM. Karena itu juga dia bahagia orang tuanya membawa Hilda yang lebih tua darinya untuk tinggal bersama orang tuanya, pikir Lui setidaknya kedua orang tuanya memiliki teman lain di rumah untuk meramaikan suasana sunyi rumah. Rumahnya itu menurut Lui terlalu sunyi karena tidak ada pekerja rumah tangga atau asisten rumah tangga yang menetap. Jika Lui pulang ke rumah, rumah akan menjadi rumah hangat dengan keluarga kecil, tapi tiba saatnya Lui kembali ke asrama maka rumah itu akan sunyi karena hanya ada Ayunda dan Louis. Tapi tidak lagi untuk sekarang karena ada Hilda di sana. Lui jadi tidak terlalu khawatir lagi kedua orang tuanya merasa sepi. Hilda yang sudah bertingkah seperti anak kedua orang pemilik rumah itu pun merasa senang. Tapi ada perubahan yang Ayunda sedikit merasa risih pada Hilda. Yaitu tentang kebiasan Hilda yang sering berkeliaran di dalam rumah dengan pakaian minim. Terkadang Hilda ke dapur hanya mengenakan daster tipis yang kadang Ayunda dapati Hilda tidak mengenakan dalamannya. Terkadang mengenakan kaos putih tipis dan celana pendek longkar dan lagi-lagi Ayunda mendapati Hilda tidak mengenakan dalamannya sambil menonton acara televisi di ruang keluarga. Ayunda paham Hilda lelah setelah bekerja keras menjadi asisten Louis di kantor dan dia melepas lelahnya dengan bersantai menggunakan pakaian rumahannya. Ayunda mencoba paham dan mengerti kondisi Hilda. Dia pun sudah bertanya pada kakaknya tentang kebiasaan Hilda itu pada ibu Hilda. Ibu Hilda membenarkan kebiasaan anak gadisnya itu, hal itu karena dia terbiasa saat tinggal sendiri di kostannya jadi tidak ada segan untuknya tidak menggunakan pakaian sekalipun. Tapi Ayunda risih karena saat ada suaminya pun Hilda selalu berpakaian seperti itu. Dia khawatir pada Hilda, tapi dia tidak bisa mengatur Hilda tentang berpakaiannya karena ibunya sendiri sudah membenarkan itu adalah kebiasaanya anaknya. “Sayang, kamu tidak menggunakan dalaman ya?” tanya Ayunda pada Hilda saat sedang menonton televisi. Hilda baru saja turun ke ruang keluarga karena dia baru saja pulang dari kantor menyelesaikan tugasnya. Sedangkan Louis masih di dalam kamarnya. Hilda menoleh melihat bibinya itu. Hilda tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. “Hihihi…, aku emang sering begini Bibi. Aku tidak terbiasa kalau di rumah menggunakan pakaian lengkap, capek aku tuh,” keluh Hilda pada Ayunda. Tatapannya pun memeles pada Ayunda agar Ayunda membiarkannya seperti ini dan tidak menyuruhnya untuk menggunakan pakaian yang biasa dia gunakan untuk keluar rumah. “Tapi-/” “Yu…, kamu sudah memasak untuk hari ini?” tanya Louis saat baru sampai ke ruang keluarga menyusul istri dan keponakannya. Dia duduk di samping Ayunda sambil tersenyum pada Ayunda. “Belum Mas, kan belum waktunya. Lagi pula aku tadi mau keluar rencananya buat belanja bulanan ngisi kulkas,” jawab Ayunda menatap lembut seraya tersenyum pada suaminya. “Bibi mau keluar?!” tanya Hilda dengan antusias, sorot matanya berbinar menghadapkan tubuhnya yang duduk di sopa berbeda dengan pasangan Paman dan Bibinya. Otomatis Hilda menghadap langsung pada Ayunda dan Louis karena dia mengubah posisi duduknya tadi menyamping. Louis melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat di balik kaos putih tipis milik Hilda yang tertekan oleh bantal kecil sopa yang sedang dipeluk Hilda. Tampak menantang dan menggoda, karena ukuranya yang tidak dapat dikatakan kecil. Louis tergoda untuk menyentuhnya tapi itu tentu tidak mungkin dapat dia lakukan saat ini karena ada istrinya di sampingnya. Ayunda menyadari d**a Hilda tercetak jelas di balik kaos longgarnya. Buru-buru dia memancing pembicaraan. “Kamu mau ikut Bibi?” tanya Ayunda antusias. Hilda menatap Ayunda dengan raut berpikir. “Mau tapi Hilda capek banget, tapi tak apa deh Hilda menemani Bibi sekali-kalikan lagi Hilda dapat jatah pulang cepat dari Paman,” ucap Hilda sambil tersenyum menggoda menatap Louis. Louis menangkap tatapan Hilda dia pun membalas senyuman Hilda tanpa disadari oleh Ayunda. “Kalau begitu, ayo kita siap-siap,” ucap Ayunda, dia berdiri dari duduknya untuk bersiap-siap. “Mmm.” Ayunda pergi duluan menuju kamarnya, tinggal Hilda yang belum beranjak dari duduknya. Dia menoleh melihat Louis yang fokus pada acara yang disajikan di televisi. “Paman,” panggil Hilda. Louis menoleh dan menahan nafasnya melihat kondisi Hilda saat ini. Hilda nekat mengangkat sedikit kaos putih longgarnya ke atas dengan berpura-pura mengangkat kedua tangannya ke atas melakukan peregangan. Kaos longgar yang memang bentuk crop itu pun memperlihatkan bentuk perut ke bagian atas tubuh Hilda yang masih kencang. Louis sadar, dia tidak seharusnya melihat pemandangan di depannya itu tapi dia merasa sayang jika tidak dia lihat. “Ya?” sahut Louis masih memperhatikan Hilda bertingkah di depannya. “Itu Paman besar,” celetuk Hilda sambil tersenyum nakal, suaranya tidak keras tapi masih didengar oleh Louis. Louis reflek melihat ke bawah, dia menghela nafas putus asa. Dia melihat miliknya sedikit membesar dan mencetak jelas dari celana pendek rumahannya. “Hihihi….” Hilda cekikikan setelah melihat reaksi Louis yang tidak marah dengan kelakuannya tadi. Bagi Hilda, siapa yang akan menolak pemandangan yang dia sajikan, apalagi untuk laki-laki berusia 48 tahun di depannya itu. “Kamu nakal ya,” sindir Louis. Hilda langsung berlari menuju tangga, dia berhenti di anak tangga pertama dan menoleh memandang Louis kemudian tersenyum miring menggoda. Louis melihat Hilda berhenti dan tersenyum padanya. Firasat Louis dia akan mendapatkan sesuatu yang baru setelah ini yang pasti akan menyenangkannya. Louis menyentuh miliknya dan memusutnya. “Kau mau sarang baru junior? Tidak lama lagi kita akan merasakan sarang baru dan nyaman,” gumam Louis sambil tersenyum. Hari itu Louis tinggal sendiri di rumah karena Ayunda membawa Hilda untuk keluar berbelanja bahan makan dapur. Pada hari itu padahal Louis tersiksa karena melihat pemandangan yang semakin tidak biasa dari Hilda, dia baru menyadarinya setelah hampir dua bulan Hilda tinggal bersama mereka, yaitu Hilda yang selalu memasak dengan menggunakan daster berkancing depan, Louis memperhatikan gerak d**a Hilda dan dia ketahui bahwa d**a Hilda tidak tertutupi apapun di dalamnya. Dia menegang hanya melihat itu dan dia tersiksa karena tidak dapat menyalurkan hasratnya menyentuh Hilda. Louis pun tidak pernah bisa berlama-lama berada di dapur. (p) …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN