Obsesi 1

1125 Kata
Juan berdiri dan para staffnya berjabat tangan pada Juan sesuai dengan uluran tangan yang Juan berikan pada bawahannya. Hal tersebut untuk membuat sebuah relasi yang baik diantara ruang kerja mereka. Mereka adalah tim yang sudah seharusnya berjalan dengan baik dan saling menjaga. “Terimakasih untuk hari ini,” ucap Juan sambil mengulurkan jabat tangan pada anggotanya. Juan juga tersenyum pada mereka satu persatu. Setelah itu barulah dia keluar dari ruangan rapat pergi menuju ruangan pribadinya karena belum waktunya untuk pulang pada hari itu. Juan memang dikenal sebagai teladan yang baik untuk para juniornya dan bawahannya. Juan juga dikenal orang yang rendah hati, ramah, dan dermawan, perbuatan baiknya menutupi catatan buruknya pada 18 tahun silam, walau pada 18 tahun yang lalu tidak terbukti jika dia terlibat dalam pembantaian keluarga kakaknya sendiri karena kejadian naas itu hanya menunjukkan bahwa itu adalah murni sebuah kecelakaan yang terjadi menimpa keluarga kakaknya tersebut. Tok tok tok “Masuk!” “Pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak,” kata ajudan Juan. “Suruh dia masuk saja,” perintah Juan. Ajudannya itu pun mengangguk dan keluar lagi ruangan wali kota itu. Tidak lama setelah ajudannya keluar Juan mendapati salah satu mata-matanya masuk ke dalam ruangan. “Ada informasi apa?” tanya Juan langsung. “Orang suruhan Nyonya Billa dan Tuan Fikra tidak bisa membawa Aliana Tuan,” ucap orang itu memberitahukan Aliana dengan suara berbisik membisikkan informasi itu tepat di samping teling Juan. Mata Juan menajam dengan wajah dingin mengeras. “b******k, mereka terlalu lembek sekarang dengan keluarga itu. Aku tidak sabar untuk mendapatkan anak itu, persiapan untuk menjemputnya lagi,” perintah Juan pada orang kepercayaannya itu. Orang itu menganggukkan kepalanya. “Apa ada lagi Tuan?” tanyanya melihat Juan seperti masih memikirkan sesuatu yang lain. “Ada,” jawab Juan lalu dia tersenyum miring dengan mata tajam terbit di wajah keriputnya itu. Sedangkan orang itu menunggu Juan melanjutkan ucapannya. “Saat ini Hasbian dan Annie sedang tidak ada di kota ini, jadi tidak ada yang akan membantu anak itu untuk berlindung dari para petinggi perusahaannya sendiri kali ini. Utus para komisaris Yaksa yang bekerja sama dengan kita untuk mendatangi kembali kediaman Hasbian, jumpai anak itu dan paksa dia untuk mengaku, berbicara siapa dia sebenarnya,” titah Juan pada orang kepercayaannya itu. Dia tersenyum senang karena dia yakin rencananya kali ini akan lebih lancar dan berjalan dengan semestinya. “Baik Tuan laksanakan!” katanya. “Saya permisi Tuan,” pamitnya dari hadapan Juan. Juan mengangguk merespon orangnya itu keluar dari ruangannya, kantor wali kota. Nyieet cettak Pintu tertutup dan tinggallah Juan sendiri di ruangannya. Dia merasa kecewa karena keinginannya untuk mendapatkan anak bungsu Yaksa tertunda, disaat dia sudah tidak sabar untuk mendapatkan semuanya, tubuh, harta, dan kedudukan di mata seluruh direksi Yaksa. Dia adalah pahlawan. Tok tok tok! Ketukan keras terdengar lagi dari pintu utama ruangan Juan. “Masuk!” perintah Juan. Seseorang berpakaian formal, berjas abu-abu dan celana bahan senada masuk ke dalam ruangan Juan. Pria itu tampak memiliki tubuh tegap dan hiasan garis wajah yang lembut. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan dengan pelan dan santai sambil tersenyum memandang Juan yang masih duduk di kursi kebesarannya tapi matanya fokus pada berkas yang ada di atas meja. Pria itu cemberut karena Juan mengabaikannya, tidak melihatnya masuk ke dalam ruangan. “Ada informasi apa?” tanya Juan tapi matanya tidak melihat kearah orang yang berdiri di seberang mejanya. “Sayang…,” panggil orang itu mendayukan nada merajuk karena Juan tidak melihat dirinya masuk ke dalam ruangan. Mendengar suara itu Juan langsung mendongakkan kepalanya melihat orang itu. Wajah yang tadinya datar berubah menjadi tersenyum bahagia, Juan langsung memutar kursinya ke samping dengan merentangkan tangannya membuka ruang untuk orang itu mendekat padanya. “Lulu-ku sayang…,” panggil Juan dengan riang. “Kemarilah, datang pada suamimu. Aku merindukan Lulu-ku,” ucapnya pada pria itu. Pria yang dipanggil Lulu oleh Juan langsung tersenyum bahagia dan sedikit langkah berlari menghampiri Juan dan masuk ke dalam rentangan tangan Juan yang masih duduk di kursi kebesarannya. Lulu kemudian duduk di pangkuan Juan, tanpa Juan merasa keberatan ataupun marah dengan perlakuan Lulu padanya. Juan mendusalkan wajahnya pada d**a Lulu yang terasa nyaman untuknya. Kedua tangannya melingkari pinggang ramping Lulu dengan posesif. “Kamu kemana saja sayang? Hmm? Aku merindukanmu,” ucap Juan masih sambil mendusalkan wajahnya pada d**a Lulu. Lulu adalah pria manis salah satu rahasia Juan. Lulu adalah kekasih Juan yang lain, pria manis itu selalu menjadi tempat berkeluh kesah Juan dan tempat Juan bermanja. Juan mencintainya begitu pula Lulu. Lulu dengan nama lengkap Lui Abraham. Sama seperti Nurse Jessica. Lulu juga berharap Juan berubah dan seutuhnya menjadi miliknya sendiri dan mereka hidup benar-benar menjadi keluarga yang seutuhnya. Tapi Lulu tidak bisa egois memaksa kehendaknya untuk memiliki Juan seutuhnya sedangkan kehidupan Juan sebelum bertemu dengannya sudah seperti saat ini. Tepat tiga tahun yang lalu. Lui Abraham adalah seorang mahasiswa jurusan teknik mesin melanjutkan sekolah khususnya semasa tingkat STM. Dapat dikatakan Lui adalah pria termanis angkatan saat ini. Lui itu anggun, manis, cantik, berbadan ramping tapi tegap dan tutur kata saat berbicaranya yang sopan. Dia ramah membuat orang mudah jatuh cinta padanya. Dia juga berteman dengan siapa saja, dia juga pintar dan mudah belajar mendapatkan ilmu dari mana saja termasuk dari teman-temannya. Lui tidak memiliki kesulitan pada masa itu, dia mendapatkan kasih sayang dari keluarga dan juga lingkungannya, dia pertemanannya pun dia mendapatkan teman-teman yang baik padanya. Keluarga Lui pun berasal dari keluarga berada yang membuat Lui tidak perlu memusingkan tentang keuangannya, setidaknya sampai keluarganya tiba-tiba hancur karena sebuah perselingkuhan sang kepala keluarga dengan sekretaris kantornya. Bukan sekretaris tapi lebih tepatnya asisten, asisten yang selalu menemani sang papa untuk bekerja, membantunya, dan melayani sang papa. Kemanapun sang papa pergi maka sang asisten ada di dekatnya. Tidak ada kecurigaan karena keluarganya pun mengetahui sang asisten yang juga masih keluarga dengan hubungan yang erat dengan sang mama. Asisten itu bernama Hilda, Hilda adalah keponakan Ayunda sendiri, mama Lui. Hilda adalah anak dari kakak sulung Ayunda. Hilda bekerja pada Louis langsung setelah dia lulus dari bangku perkuliahannya. Ayunda senang Hilda bekerja pada Louis, dan dari sana dia bermaksud Hilda dapat mengawasi Louis juga. Ayunda pun merasa pekerjaannya juga berkurang sejak Hilda bekerja pada Louis karena Hilda banyak membantu pekerjaannya, menyiapkan segala macam keperluan Louis di kantor, bagi Hilda itulah tugasnya. Kedudukan Hilda di kantor itu tinggi dan gajinya pun tinggi. Ayunda yang merasa terbantu dengan bekerjanya Hilda pada suaminya pun berinisiatif untuk Hilda tinggal bersamanya saja di rumah besar mereka. Ayunda sebagai tante yang baik tidak tega melihat Hilda harus tinggal di kostan tempat tinggalnya semasa kuliah. Ayunda pun membawa Hilda untuk tinggal bersama. Semenjak itu pekerjaan Ayunda di rumah pun banyak terbantu oleh Hilda karena Ayunda tidak pernah benar-benar mempekerjakan asisten rumah tangga untuk mengurus pekerjaan rumah tangganya. (o) …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN