Yang Tersembunyi

1147 Kata
“Ah iya kau tidak ada kelas hari ini? Biasanya jam segini kamu sudah di kampus, tumben sekali hari ini tampak santai berbincang dengan Aliana,” sindir Erisa sambil tersenyum menggoda Brian. “Pesanmu begitukan tadi pagi,” jawab Brian mengingatkan Erisa dengan amanah yang Erisa berikan padanya sebelum berangkat ke kampus. “Ya… tapi aku tidak memintamu untuk bolos kelas hari ini Bri.” “Kebetulan dosen hari ini tidak masuk jadi apa salahnya aku bersantai sebentar.” “Hmmh terserah padamu lah. Huh…. aku bosan berada di rumah terus, oh iya apa Aliana tidak merasa bosan setiap hari berada di rumah ya, hah untung kamu ke sini Bri jadi bisa menemani Aliana setidaknya sampai aku pulang tadi.” “Ya, kamu harus memberikanku sesuatu sebagai imbalannya,” ucap Brian sambil tersenyum penuh makna. “Apa?! Jangan macam-macam! Kemarin sudah kuberikan padamu jangan minta lagi!” kata Erisa dengan meninggikan suaranya, dia juga sedikit memundurkan badannya ke belakang member isyarat dia menjauh dari Brian yang masih menatapnya penuh makna. “Ayolah Risa…, aku tidak minta macam-macam kok hanya satu macam aja.” Brian memajukan tubuhnya mencoba mendekati Erisa yang masih memandangnya dengan senyuman mengejek. “Bri…!” teriak Erisa dengan nada mendayu. “Apa sayang…?” balas Brian yang juga bernada sama dengan Erisa tadi. “Ish jangan mengikutiku!” bentak Erisa kesal dengan wajah cemberut. Brian terkekeh melihat reaksi Erisa, wajah lembutnya memerah karena digoda oleh Brian. Dia ingin menggoda Erisa lebih lanjut tapi baru ia ingin menggerakkan bahunya, dia ingat punggungnya. Luka pada punggungnya tadi masih basah dan itu dapat mudah menembus baju kemeja yang dia kenakan saat ini, kemeja itu pun milik Aliana. Entahlah Brian tidak tahu alasan Aliana memiliki kemeja pria dengan seukuran dengan tubuhnya, tapi setidaknya itu dapat menjadi pakaiannya untuk saat ini. “Kenapa melamun? Kamu sedang banyak pikiran ya?” tanya Erisa tiba-tiba, dia melihat Brian seperti sedang memikirkan sesuatu terlihat dari Brian yang suka tiba-tiba diam dan termenung. “Huh? ah tidak, aku hanya merindukan Ayah dan Bunda saja. Mereka lama sekali kalau pergi liburan, aku harap saat pulang mereka tidak membawa kabar bahwa Ren akan memiliki adik, karena dia tidak akan bisa menjadi kakak yang baik sepertiku hahah,” tutur Brian dengan bumbu kebohongan dia pun terkekeh mengingat tingkah kekanakan adik bungsunya, Ren. Erisa memukul pelan bahu Brian. “Jangan begitu, bukankah bagus kalau kamu memiliki adik lagi dan Ren punya adik, rumah kalian pasti akan sangat ramai. Tidak seperti di rumah ini, rumah ini sangat sepi tapi aku bersyukur aku punya adik seperti Aliana yang cukup berisik, jika tidak rumah ini akan benar-benar menjadi kuburan orang-orang yang masih hidup saking sunyinya,” tutur Erisa menjelaskan, dia pun tersenyum mengingat kejadi yang tadi dia saksikan yaitu pertengkaran Brian dan Aliana yang menurutnya cukup lucu dan menghibur. “Aku maunya bikin adik bukan dapat adik,” celetuk Brian tiba-tiba dan mendapat timpukkan manja dari Erisa di bahunya. “Mulutmu itu pak dokter,” sindir Erisa. “Mulut apa otakku?” tanya Brian memancing Erisa. Brian berdekatan dengan Erisa bawaannya m***m, selalu begitu. “Otak dan mulutmu sama saja.” “Tapi enakkan?” goda Brian pada Erisa. “Sudah! Jangan tanya-tanya lagi!” kesal Erisa, dia mencoba menutupi wajahnya yang memerah, dia paham benar dengan apa yang Brian ucapkan dari tadi. “Dih gitu aja ngambek,” goda Brian lagi pada Erisa. “Diam Brian…!” pintar Erisa. Brian malah tertawa melihat reaksi Erisa. “Tapi jika terjadi sesuatu pada adikmu itu bagaimana?” tanya Brian. Erisa tidak menjawab pertanyaan Brian dengan cepat, dia tampak berpikir untuk jawaban dari pertanyaan mudah yang Brian berikan padanya. Di tempat lain dari kota yang sama tempat Brian dan Erisa berada. Juan sedang mengadakan rapat dengan staff kantornya. Dia baru saja datang tapi tidak seperti yang lain datang dari rumah dinas yang sudah disediakan, Juan datang dari rumah pribadinya yang terletak di luar kota. “Bagaimana Pak dengan usulan pembangunan pelabuhan baru oleh perusahaan Kargona untuk membantu membuka lapangan kerja dan juga perekonomian daerah kita?” Pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang penyampai materi yang memang harus dibahas dalam pertemuan itu. “Kita harus mengkaji ulang, walau itu terlihat menguntungkan, kita tidak tahu tentang dampaknya. Bisa terlihat memiliki dampak kecil diawal tapi kita tidak dapat memperkirakan dampak masa panjangnya jika kita tidak mempelajarinya lebih lanjut untuk memprediksi dampaknya,” ucap Juan tegas merespon mengenai proposal yang belum sempat dia baca itu. Para staff mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh pimpinan mereka. “Oh… baiklah Pak, ada lagi yang penting Pak.” “Bacakan,” perintah Juan pada penyajinya. Penyajinya itu tersenyum dan mulai membacakan kembali isi. “Proposal nomor 15, fasilitas umum. Taman kota dan ruang terbuka untuk kota, di sepanjang jalan Kenangan Kartini menuju M. Boya….−“ Juan dan yang lain mendengarkan dengan seksama rincian dari proposal yang dibacakan itu. Proposal itu sudah dipadatkan untuk mendapatkan rincian dan garis besar yang memang benar-benar harus dibahas pada saat itu juga. “Begitu Pak,” ucap sang penyaji mengakhiri pembacaan proposal yang baru saja dia bacakan di depan Wali Kota dan wakil serta staff. “Sebenarnya ruang terbuka itu sudah ada, taman kota juga sudah ada dari dulu sebagai fasilitas umum. Tapi untuk saat ini memang tidak terurus saja Pak.” Informasi tambahan yang diberikan sang wakil pada wali kota. Informasi itu sangat berguna karena dengan begitu pengeluaran dana yang diperkirakan akan dikeluarkan tidak sebanyak jika membuat ulang fasilitas umum berupa taman kota tersebut. Dengan begitu setidaknya hanya akan keluar setengah dari dana yang dibutuhkan dan jangka waktu yang juga singkat mengingat fasilitas umum itu hanya membutuhkan untuk diperbaiki dan diurus kembali dengan baik. Sepanjang pembacaan proposal dan pembahasan serta mendiskusikannya, diambillah beberapa proposal yang akan diproses dengan cepat untuk dijalankan dan membutuhkan pembahasan lebih lanjut lagi. “Baiklah dari diskusi tadi maka sudah diputuskan ada tiga proposal yang akan lanjut ke tahap perincian diskusi pada pertemuan berikutnya. Yaitu, taman kota fasilitas umum sepanjang jalan Kenangan Kartini sampai M Boya. Pembersihan danau Raja Sembilan. Dan Program sehat setiap hari.” Penyaji menutup map berisi catatan diskusinya. “Baiklah segitu dulu untuk diskusi pada hari ini dari saya.” Pamitnya pada seluruh anggota rapat. “Baiklah pada Bapak Juan apakah masih ada informasi tambahan yang ingin disampaikan?” tanya moderator member isyarat pada Juan, dia mempersilahkan Juan jika ada yang wali kota itu ingin sampaikan lagi. Juan tersenyum lembut pada moderator cantik itu. “Tidak cukup untuk hari itu saja dulu, kita masih ada rapat berikutnya untuk membahas rincian dari proposal-proposal itu,” ujar Juan menolak untuk memberikan pembahasan lebih lanjut pada anggota rapatnya. “Baiklah Pak. Kesimpulan sudah disampaikan oleh penyaji untuk itu saya sebagai moderator mengakhiri rapat pada hari ini, saya ucapkan terimakasih dan maaf untuk segala kekurangan yang berasal dari saya sendiri. Selamat siang.” Moderator menutup rapat dengan sopan pada anggota rapat terutama pada ketua rapat mereka. (n) …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN