Menuju Akhir

1146 Kata
“Bagus juga biar ada yang jaga,” kata Erisa setuju dengan keputusan Andrean tadi. Sunyi beberapa saat berikutnya. Tapi tiba-tiba suara Aliana keluar setelah kebisuaannya. “Tidak perlu, jangan menginap,” seru Aliana. Andrean menoleh sebentar kepala Aliana, begitupun Erisa yang menatap penuh tanya pada sang adik tapi Brian tidak peduli, dia tetap diam menikmati waktu perjalan pulang mereka. “Kenapa?” tanya Andrean meminta alasan pada Aliana. “Tidak perlu saja,” jawab Aliana singkat. Aliana jadi lebih banyak diam, dia menjadi pasif setelah perkataan Brian yang sudah jelas sangat menyinggung perasaannya. Aliana tidak ingin bicara lagi rasanya. Bahkan dia tidak tertarik untuk bertengkar dengan Andrean yang biasa mengundang pertengkaran dianatara mereka berdua. Sekitar 40 menit perjalanan pelan dengan kendaraan mobil, mereka sampai di kompleks perumahan tempat tinggal tiga orang dari empat orang yang ada di dalam mobil itu. Ketika mobil sudah masuk ke pekarangan rumah dan berhenti tepat di depan garasi, Aliana langsung saja turun keluar dari mobil dan menuju bagasi belakang. Andrean yang paham pun langsung membuka kunci bagasi membiarkan Aliana mengeluarkan plastik-plastik belanjaan mereka tadi. Aliana bekerja dalam diam mengangkut seberapa dia bisa untuk membawa kantung plastik yang berukuran besar-besar itu dengan tangannya ke dalam rumah dengan gerakan yang harus cepat karena cuaca berangin dan gerimis pun mulai turun membentuk buliran air halus-halus melayang di udara dan jatuh ke tanah, jumlahnya tidak terhitung banyaknya. Sedangkan penyebab Aliana jadi diam seperti itu hanya memandang Aliana dalam diam, walau ada perasaan bersalah karena telah membentak gadis itu dan juga menyalahkannya dengan keadaan yang terjadi saat ini. Brian, dia sadar keadaan ini bukan salah Aliana, bahkan dia tidak tahu menahu dimana letak salahnya. Dia terlahir dari keluarga Yaksa juga bukan karena keinginannya, itu semua takdirnya dan penyebab orang tua dan suadara Aliana meninggal saja adalah orang tuanya sendiri. “Kalau hujan lebat mala mini, aku akan memani kalian berdua,” seru Brian tiba-tiba saat akan mengangkat katung plastik yang tersisa dari angkutan Aliana tadi. “Mbak Salsa gak pulang emangnya?” tanya Erisa. Salsa, wanita itu saat ini sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang dosen pengganti sekaligus menangani pekerjaan kedua orang tuanya yang tertinggal, yaitu rumah produksi cemilan berbahan dasar jagung. Dua restoran pun juga menjadi tanggung jawab Salsa sebenarnya, tapi masalah restoran sedikit lebih ringan sebab ada manager yang membantu mengaturnya dan akan melapor setiap hari padanya. Sedangkan Brian, dia punya tugas membantu sang kakak, itu dia lakukan sekali-sekali. Dia kurang tertarik pada bisnis, oleh karena itu dia hanya membantu bukan mengambil alih walau dia seorang anak laki-laki. “Engga, Mbak Salsa sibuk sama rumah produksi hari ini sama besok. Bahkan jadwal besok paginya dia harus ngisi seminar di kampus soal manajemen bisnis masa kini,” jelas Brian. “Ga kerepotan apa Mbak Salsa? Sibuk banget dia, harusnya kamu bantu kasian dia nanganin sendirian,” omel Erisa pada Brian saat mereka masih berjalan beriringan memasuki rumah melalui pintu utama rumah yang terbuka oleh Aliana tadi. “Aku bantu kok, cuma gak bisa semuanya. Aku gak tertarik sama bisnis,” tutur Brian. “Iya deh Pak dokter, kamu juga bakal siap-siap koas ya?” Erisa menaruh plastic yang dia bawa ke atas meja panjang atau meja makan dan meja yang biasa dibuat menjadi meja kumpul keluarga, hal yang sama dilakukan oleh Brian. “Kamu juga kalau kamu lupa,” ingat Brian. “Kita bentar lagi lulus dan kerja, gak ada niatan nikah kamu?” tanya Brian tiba-tiba. “Uhuhk!” Aliana tidak sengaja mendengar pertanyaan Brian tadi pun langsung terbatuk. Dia sudah merapalkan kalimat bahwa dia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Brian dan dia tidak cemburu pada Erisa. Tapi tetap saja dia sedikit kesal dan sedih, mungkin itu yang Aliana rasakan tapi dia sangkal. “Kenapa kamu?” tanya Andrean yang memang sudah ada di dalam rumah tadi mengikuti langkah Brian dan Erisa di belakang dua orang itu. “Tersedak ludah sendiri,” jawab Aliana terdengar tak acuh. “Bisa gitu ya?” tanya Andrean tapi dengan suara pelan. “Bukan karena cemburu?” tanya Andrean lagi dengan suara yang lebih kecil terbilang berbisik pada Aliana. Aliana mendelik sinis pada Andrean. “Aku lagi marah ya,” ucap Aliana asal. “Jangan ajak aku nonton lagi!” kata Aliana dnegan sedikit lebih keras. Dia sedang berkegiatan memindahkan isi kantung plastik yang sudah dibawa ke dalam rumah untuk ditata ke dalam kulkas. “Iya iya, nanti aku ajak ke Paman Juan aja,” ucap Andrean asal. “Mau dikebiri Papa? Atau disembelih Mama?” pertanyaan itu Aliana lontarnya dengan nada kesal pada Andrean. “Bilang aja takut,” tuding Andrean sambil mencibir. “Tidak tuh,” sanggah Aliana santai. Aliana tetap melanjutkan pekerjaannya membereskan barang belanjaan tadi menyimpannya ketempat yang seharusnya benda-benda itu diletakkan. Sedangkan Erisa dan Brian, Aliana tidak melihat ke belakang untuk melihat kegiatan kedua orang itu yang nyatanya sedang duduk mengobrol di meja makan. “Al?! kita makan di luar saja malam ini kamu mau?” tanya Erisa pada Aliana yang sekarang sedang menyimpan mie instan miliknya ke dalam rak makanan. Dahi Aliana mengeryit dan alis menukik tanpa menoleh ke belakang. Lalu kemudian dia memutar tubuhnya untuk melihat Erisa yang tadi mengajaknya untuk makan malam di luar yang istirlahnya dinner. “Gak Mbak, Al di rumah aja!” balas Aliana dengan suara sedikit lebih keras. Dia malas ikut dan juga malas mendengarkan ucapan pedas Brian lagi yang tentu saja selalu tertuju padanya. Laki-laki rumpi satu itu akan menggosip tentangnya setelah ini karena dia menolak ajakan dinner Erisa. “Yakin kamu?” tanya Erisa lagi memastikan pada Aliana dengan keputusan adiknya itu. Aliana sudah berbalik melanjutkan pekerjaanya dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Andrean memperhatikan percakapan dua orang kakak beradik itu dengan seksama. “Mmm, aku masak makanan aja di rumah. Kalau Mbak mau makan di luar gak papa kok,” tutur Aliana tanpa mengalihkan perhatiannya melanjutkan pekerjaannya menata cemilan yang tadi dia ambil. “Dia gak mau ikut jangan dipaksa, biar kita aja akukan gak masak juga di rumah,” sela Brian duluan sebelum Erisa kembali memaksa sang adik ikut dengan mereka makan di luar. “Ok deh.” Kemudian Erisa mengalihkan pandangannya kearah Andrean yang sedang memperhatikan Aliana dari tempat duduknya di pantry dapur. “Kamu ikut kami And?” tanya Erisa mengajak Andrean. Andrean menoleh melihat Erisa dan menatapnya dengan penuh tanya. “Tidak Mbak, makasih atas tawarannya. Saya di sini aja, makani masakan Aliana,” jawab Andrean santai sambil melempar senyumannya pada Erisa. “Oh yaudah kalau gitu.” Lalu Erisa menoleh pada Brian lagi. “Bri kita berangkat sekarang aja atau nanti?” tanya Erisa pada Brian yang ternyata sedang menatap punggung Aliana yang saat ini sedang memindahkan buah-buahan yang tadi cukup banyak dia beli untuk kemudian dia cuci lalu di simpan ke dalam lemari pendingin. “A-ah, ya sekarang saja.” Respon Brian agak terbata karena dia tadi memperhatikan Aliana tanpa menyimak Erisa yang mengajaknya berbicara. (z) …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN