Pengungkapan

1158 Kata
“Kamu lagi banyak pikiran ya?” tanya Erisa. Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil Brian sedang di perjalanan menuju tempat makan yang diinginkan Erisa saat ini. Tanpa menoleh Brian menjawab, “tidak juga cuma.” “Tapi kamu kaya banyak melamun gitu,” tukas Erisa. “Tidak juga.” Jawaban Brian singkat padat dan jelas. “Kota kita ini aman banget ya perasaan, gak ada kerusuhan kasus tentang pembunuhan dan kekerasan juga bisa terhitung sangat jarang.” Brian buka suara dengan membahas kota tempat mereka tinggal itu yang seakan tidak memiliki masalah karena terbilang aman dan sejahtera dan damai. “Itu kata kamu, sebagian aja. Kebanyakan kasusnya tidak diangkat ke media kata Andrean. Aku bahkan baru tau mahasiswa dibeberapa kampus ada yang hilang dan ditemukan sudah menjadi mayat di luar kota. Oh iya ada juga yang dari kampus kita! Itu nyeremin sih menurut aku, ada anak SMA juga katanya meninggal sehabis melahirkan tapi anaknya gak ada di lokasi yang ditemukan, dan SMA anak itu SMA tempat ya SMA kita dulu,” papar Erisa pada Brian. Ada nada ketakutan saat dia menjelaskannya pada Brian, informasi itu seperti tidak disebar luaskan tapi tetap ada. Keberadaan berita itu ada dan kejadian itu benar-benar terjadi. “Jangan takut kamu kan ada aku yang jagain,” seru Brian sambil tersenyum menoleh pada Erisa sebentar kemudian kembali fokus pada jalanan. Erisa juga tersenyum manis membalas senyuman Brian tadi. Tidak jauh dari mereka saling menoleh dan melempar senyuman, di sebuah ruas jalan yang lain sebelum masuk ke dalam terowongan ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam sebuah mobil BMW di depannya dengan keras begitu keluar dari terowongan dan terserat sepanjang 15 meter setelah keluar dari terowongan. Brakkkk! Citttt! Decitan rem mobil yang membuat ban dan aspal jalanan bergesekan membuat sebuah suara pemekikan nyaring di ruas jalan itu. Mobil-mobil di belakang mobil hitam yang menabrak kab belakang mobil bermerk BMW di depannya menjauh bahkan berhenti agar kecepatan mereka tidak mendekati lokasi terseretnya dua mobil itu. Asap mengepul keluar dari terowongan dan juga dari mobil yang sudah terhenti karena menambrak dinding beton penahan tanah di samping jalan. “Ada kecelakaan.” Orang-orang sibuk berhenti dan ada juga yang lewat saja menjauhi lokasi kejadian, salah satu mobil yang menjauh adalah mobil Brian. “Bri kenapa gak diliat dulu mana tau korbannya butuh bantuan medis segera Bri…!” rengek Erisa sambil sekali-sekali melihat kaca mobil bagian belakang untuk melihat lokasi kejadian tadi yang mulai mereka jauhi. “Kamu tidak lihat?” “Apa?” tanya Erisa. “Mobil tadi seperti mobil orang penting dan mobil itu berbahaya untuk didekati,” tutur Brian santai. “Yang benar kamu? Tapi mereka pasti butuh bantuan Bri!” ujar Erisa masih kokoh membujuk Brian. “Kita memang calon tenaga medis tapi untuk kali ini kamu tidak membantah dan bersikukuh untuk membantu, aku tidak mau kamu malah menyesal setelahnya,” seru Brian dengan nada serius dan tatapan yang tajam fokus pada jalanan di depannya. Erisa menatap Brian dengan agak takut pasalnya Brian tidak pernah menunjukkan sikap dinginnya seperti itu padanya. Erisa memilih diam selama perjalanan mereka. “Maaf,” ucap Brian pelan. “Gak papa,” balas Erisa kemudian. Tapi setelahnya Erisa tetap diam saja karena merasa aura Brian saat ini tidak sedang baik-baik saja, sebenarnya dia sudah merasakannya sejak Brian membentak Aliana sebelumnya. Berbeda dengan suasana diam Brian dan Erisa. Di rumah Aliana dan Andrean malah berisik dengan Andrean yang mengganggu Aliana sedang memasak. Aliana sedang fokus pada bawang yang sudah dia kupas sebelumnya dan memotong cabe besar yang dia butuhkan untuk pelengkap masakannya. “Al…, masak yang enak ya… itung-itung belajar jadi calon istri aku hahaha!” Terdengar gelak tawa Andrean setelah dia mengucapkan gombalannya pada Aliana. “Aliana? jawab Eh!” tegur Andrean melihat Aliana tidak mengindahkan gombalannya dan terkesan mengabaikan keberadaannya yang duduk di ujung pantry tempat Aliana sedang fokus mencacah bawang. “Mau aku cacah juga mulut sama lidahnya?” tanya Aliana dengan mengacungkan pisau yang dia pegang bertujuan agar Andrean melihatnya. “Dih serem. Tapi beneran Al masa mau masak yang tidak enak, mana bisa aku makan. Lidahku ini sulit menerima makanan yang tidak enak di lidah,” tutur Andrean berakting dengan gayanya. “Gayaan banget ya lidahmu, mau aku potong tidak? Biar lidahnya bisa menerima makanan apa saja,” tutur Aliana lagi tapi kali ini tidak mengacungnya pisaunya ke atas lagi, dan kini dia sedang memotong cabe hijau. “Duh serem banget sih mainan kamu Al. Jangan serem-serem nanti Pamanku takut sama kamu.” “Andrean! Ish beneran ya aku potong lidahnya!” kesal Aliana dia mendelik tajam pada Andrean yang sedang nyengir kuda padanya. “Jangan galak-galak juga Al. Hahaha!” Tawa Andrean tidak Aliana perdulikan, dia kembali fokus pada masakannya yang saat ini dia memecah lima butir telur dan menggocokkan lepas. “Kamu mau bikin apa memangnya?” Pada akhirnya pertanyaan Andrean cukup normal untuk Aliana dengar saat ini. “Telur orak arik rempah,” jawab Aliana singkat dan tangannya masih mengocok telur dengan gerakan cepat. “Kenapa pakai bawang cabe dan segala macamnya itu?” tanya Andrean. “Kan tadi aku sudah bilang pakai rempah, ya rempahnya itu sederhana aja,” ucap Aliana sedikit nada kesal. “Sudah diam! Bicara lagi aku tidak kasih makan kamu!” tegur Aliana saat dia menghentikan gerakan tangannya dia melihat Andrean akan membalas ucapannya. Andrean bungkam setelah ditegur Aliana tadi, dan Aliana merasa tenang dapat fokus dengan masakannya. Masakannya sederhana tapi kalau diajak berbicara yang membuatnya kesal dia bisa tidak fokus sendiri dengan masakannya dan bisa berakhir dia mengacaukan masakannya sendiri. Aliana menyatukan telur kocoknya, bawang yang sudah dia cacah, cabe yang sudah dia iris, garam dan sedikit penyedap. Kemudian memanaskan teplon yang sudah diberi sedikit minyak. Serasa cukup Aliana memasukkan telur yang sudah dia campur tadi, mendiamkannya sebentar baru kemudian dia masuk hancur telur yang sudah mulai matang sebagian itu. Aliana asik dengan mengorak-arik telurnya dalam diam. Masakan sederhana lah yang dapat dia olah saat ini karena yang biasa memasak makanan di rumah itu adalah mamanya dan dia hanya sering membantunya saja. Setelah dirasa cukup benar-benar matang, Aliana mematikan kompor dan menuangkan telur orak ariknya ke dalam sebuah piring. Kemudian Aliana mengambil nugget kemasan yang tadi mereka beli di supermarket, mengambil beberapa butir nugget untuk dia goreng. Aliana juga memasak udang rebus sebagai kuah untuk luak makannya. Semua terhidang beberapa saat kemudian di atas meja panjang ruang makan sekaligus ruang bersantai. “Hambar sekali ya makanannya tidak ada yang menyelekit,” protes Andrean sambil menatap masakan yang sudah disajikan oleh Aliana tadi. Aliana mendelik tidak suka, menatap Andrean cemberut. “Ih sumpah ya aku kesal sekarang. Kalau tidak suka tidak usah makan! Jangan dihina masakanku, masih syukur aku masih bisa makan saat ini,” ucap Aliana dengan nada kesalnya. “Aku tidak nyuruh kamu tinggal dan makan masakanku ya! Kenapa tadi kamu tidak ikut ajakan Mbak Erisa? Makan enak kamu kalau ikut mereka tadi.” Andrean diam melihat kekesalan dan kemarahan Aliana. (z1) …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN