Hasrat Jaun

1152 Kata
“Bukankah kau memiliki keponakan yang masih muda, seharusnya dia yang akan menjadi pewarismu bukan?” tanya Billa. Billa sudah jauh dari sebelumnya mengetahui fakta bahwa Juan memiliki seorang keponakan yang saat ini sudah dewasa dan mulai dekat dengan Aliana. Dia dan suaminya melihat kedekatan Aliana dengan keponakan Juan dan membuat anak keduanya uring-uringan mengetahui Aliana dekat dengan pria lain. Itu menjadi drama dan tontonan untuk para orang tua. “Ya, hanya saja dia tidak menurut padaku. Lagi pula bukankah lebih baik aku memiliki keturunan sendiri yang dapat mewarisi semuanya. Kurasa umurku sudah pas untuk mendapatkan pewaris, jadi kalian aku tugaskan untuk mendapatkan calon istri pilihanku itu. Jika dia yang menjadi istriku maka semua hartanya akan menjadi milikku juga.” Juan sudah sangat percaya diri dia akan mendapatkan anak bungsu keluarga Yaksa untuk dijadikannya istri. Jaun bukan mencintai Aliana tapi nafsunya sudah menguasai dirinya, keinginannya sekecil apapun harus menjadi nyata bagimana pun cara. “Sayang, aku sedikit tidak rela jika Juan menikah dengan Aliana. Kasian anak bujang kita, dia pasti galau lagi. Kemarin lihat Aliana dekat dengan Andrean saja dia uring-uringan,” celetuk Fikra sadar akan perubahan sikap anak keduanya. “Kamu tau Bri uring-uringan gara-gara Aliana?” bisik bertanya Billa pada sang suami. “Iyalah.” Jawaban singkat itu sudah menjawab pertanyaan Billa, dan sang istripun paham. “Apa kami menolak untuk menjalankan misi ini?” tanya Billa pada Juan yang memperhatikan percakapan bisik-bisik suami istri itu. “Aku tidak pernah menerima penolakan. Oh ya rencana kemarin sempat gagal, apa aku harus mengulangi rencana itu dengan sedikit bukti yang tidak dapat dibantah lagi oleh Hasbie. Bagaimana menurut kalian?” tanya Juan. “Tapi ini bukankah keterlaluan jika kau memaksa anak yang baru saja memiliki KTP itu untuk menikah denganmu yang bahkan memiliki umur lebih dari setengah abad? Perbedaan umur kalian itu sangat tidak bisa ditoleransi.” Fikra sedikit emosi juga dengan gubernur tua ini, niatnya untuk menikahi Aliana sangat tidak bisa diterima. Dia seorang gubernur, dia seorang tokoh dimasyarakat dan itu sangat tidak baik untuk dijadikan pedoman sebagai kepala daerah. “Kau pikir aku akan mengumumkan penikahan ini?! Aku tidak sebodoh itu, periode masa jawabanku masih ada selama tiga tahun jadi aku tidak akan membuat nama baikku buruk dengan menikah dengan anak itu. Aku akan menikahinya tapi secara siri agar aku bisa mengendalikannya,” tutur Juan masih pada pendiriannya. Tadi hanya Fikra yang emosi dengan niat Juan ingin menikah dengan Aliana sekarang Billa lebih emosi lagi mendengarnya. “Tap/” “Aku mengundang kalian ke sini untuk menjalankan tugas bukan untuk berdiskusi apalagi membantah perintahku, ingat kalian itu penjahat yang tidak memiki hati, aku bisa saja membuat kalian masuk penjara atau aku akan menghamili anak pertama kalian yang cantik itu!” ucap Juan memoting perkataan Billa yang hendak berbicara tadi dengan penuh penekanan. Pasangan suami istri itu terdiam mendengar ucapan Juan yang penuh dengan penekanan. Masing-masing dari mereka sedang berpikir bagaimana caranya agar mereka tidak menjalankan tugas itu sedangkan mereka tetap aman apalagi ancaman dari Juan tadi tidak main-main ingin menghamili anak pertamanya, yaitu Salsa. “Jangan pernah menyentuh anakku, karena aku tidak akan memberikan ampun padam!” ancam Billa, dia geram dengan posisinya yang tidak dapat berbuat apa-apa seperti ini. Dia tidak bisa membantah apalagi menolak tugas yang diberikan Juan karena kondisinya yang tersepit. Dia tidak bisa mundur dan tidak baik untuk maju. “Kalian tidak bisa bernegosiasi denganku, aku tidak terima penawaran. Tugas kalian bawa anak itu, aku akan menikah langsung dengannya saat kalian sudah membawanya padaku. Atau jika kalian menolak aku akan menghancurkan kalian,” titah Juan dengan ancaman andalannya. Dia memperlihatkan senyuman miringnya, dia bahagia melihat wajah tertekan pasangan suami istri yang tengah duduk di sopa ruangannya itu. Mereka masih terdiam, pilihan terberat tapi keburukan jika mereka menolak perintah lebih besar efeknya pada kehidupan mereka. Fikra menggenggam tangan Billa dengan erat, dia memberikan kekuatan pada sang istri sekaligus dia menguatkan dirinya sendiri. “Terpaksa kali ini Bri sakit hati dengan keputusan kita,” ucap Fikra lirih pada Billa. “Aku tidak ingin Salsa terkena imbas dari perbuatan masa lalu kita.” Billa menengok ke samping memperhatikan suaminya yang juga tengah menatapnya. “Maafkan aku,” ucap lirih Fikra. “Aku paham tapi apakah tidak sebaiknya kita memikirkannya dulu. Aliana, anak itu juga akan dalam bahaya. Kau taukan dia sudah sangat menderita tidak melihat orang tuanya untuk mengiring dia tumbuh dewasa, aku merasa bersalah padanya.” Billa berucap dengan lirih dan terlihat jelas dengan guratan sedih dan menolak pada wajahnya. “Untuk sekarang dan kali ini, kita ikuti saja dulu rencananya tua Bangka ini,” bisik Fikra.  Mereka berdua sama-sama tidak memilik rencana cadangan dan mereka sama-sama tidak tahu akan berbuat apa selain mengikuti perintah dari Juan. “Demi anak kita, aku mohon untuk menurutlah padaku kali ini. Kita bisa menyelesaikannya, kita harus egois untuk kali ini,” tambah Fikra lagi dengan gumaman kecil memnatap wajah rasa bersalah istrinya. Terlihat Juan menunggu dengan tidak sabar respon suami istri yang beberapa menit tenggelam dalam tatap menatap mereka. Sedangkan Billa terlihat menarik nafas kasar dan menghembusnya dengan pelan. Dia memejamkan matanya sebentar dan melihat kearah lain. Dia terlihat beberapa kali menunduk dan menghela nafas hingga akhirnya barulah dia menoleh ke depan lagi untuk membalas tatapan Juan. Tatapan Billa terbilang tajam dan serius, wajah datar tanpa ekspresinya sangat mengintimidasi. Wajah serius itu terlihat menabung emosi yang sangat menggebu di dalamnya. Tapi Juan tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan itu, dengan santai dia pun membalas tatapan itu dengan senyuman miring dicetak dibibirnya. “Ahh…. Baiklah…,” desah panjang Fikra mengalihkan perhatian Juan pada Billa. Fikra menoleh dan menatap pada Juan yang perhatiannya teralihkan untuk balas menatap laki-laki berwajah tampan dengan garis wajah dihiasi banyak bulu wajah itu. Kemudian terlihat tercipta sebuah senyuman di wajah tampan Fikra, senyum miring hanya salah satu sudut bibir yang terangkat menandakan sebuah senyuman. “Kami akan menjalankan tugas darimu ini, tapi kami memiliki persyaratan dan perjanjian. Ingat bukan hanya kau yang memiliki barang bukti untuk menghancurkan kami. Kami ini ya... bisa kau bilang adalah pesuruhmu maka kami juga memiliki bukti untuk menghancurkanmu, maka dari itu kami akan menyelesaikan tugas ini tapi hancurkan dulu barang bukti yang kau pegang.” Ucapan Fikra tidak main-mian, nada bicaranya diujung kalimat berubah menjadi dingin dan menyeramkan. Tatapannya pun yang semula santai berubah menjadi serius dan menyeramkan dengan sorot mata yang tajam. Fikra mnyilangkan kakinya dan menyandarkan punggungnya ke belakang sandaran sopa, satu tangannya diletakkan di belakang sandaran punggung sang istri. Terlihat Juan juga tetap santai dan sedikit terkekeh. “Orang egois ini apa dia mau,” batin Billa. “Kalian mencoba bernegosiasi denganku. Apakah ucapanku sebelumnya tidak jelas? Aku tidak akan menerima negosiasi,” ucap Juan yang jelas saja itu artinya dia menolak penawaran Fikra. Fikra tersenyum. “Baiklah, aku akan membawa anak itu menjauh darimu kami akan berbalik melindunginya. Gampangkan?” ancam Fikra dengan senyuman yang tidak kalah menyebalkan bagi Juan untuk dia lihat.  (g) …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN