Kekesalan Andrean

1149 Kata
23 Prize Show Betapa kesalnya Andrean pada Aliana yang mengerjainya dengan menyeduh kopi di dalam mulut seperti seseorang yang tidak memiliki gelas atau cangkir sebagai wadah untuk menyeduh kopi di rumahnya tapi dia ingin meminum kopi sehingga menyeduh kopi langsung ke dalam mulut. Kebodohan semacam apa yang Andrean lakukan sehingga dia dengan mudahnya menurut dengan perkataan Aliana. Jika kopi itu manis maka tidak terlalu masalah untuk Andrean tapi masalahnya kopi yang Aliana recoki padanya adalah serbuk kopi yang mengeluarkan rasa sangat pahit. Melihat wajah tersiksa akibat kebodohannya sendiri, Aliana tertawa bahagia. Andrean jadi bertanya-tanya, “apakah lambang kebahagiaan sekarang ini sudah berubah menjadi sebuah kebodohan? Maka itu artinya kebodohan sama dengan kebahagiaan.” “And,”panggil Aliana. Andrean pun mengangkat kepalanya untuk melihat Aliana yang duduk di depannya di pentry dapur yang sama. “Mmm kenapa?” tanya Andrean pasalnya Aliana tidak melanjutkan ucapannya. “Mau mencoba trobosan baru tidak?” tanya Aliana sambil tersenyum mencurigakan dimata Andrean. Tapi Andrean tidak peduli tatapan itu, baginya tidak ada yang membahayakan yang dapat Aliana lakukan beda cerita jika yang di depannya saat ini adalah pamannya dengan tatapan mencurigakan seperti itu maka barulah Andrean akan waspada bila perlu dia akan menodongkan pistol atau sederhananya pisau dapur saja dulu. “Trobosan apa?” tanya Andrean dan Andrean menatap curiga Aliana yang berdiri di seberang meja pantry. “Cara meminum kopi tanpa mengotori gelas atau saat kamu ingin minum kopi tapi kamu tidak punya gelas,” papar Aliana dengan senyuman manisnya. Sangat manis sampai Andrean tidak butuh gula jika meminum kopi saat ini seperti yang disebutkan oleh Aliana tadi. Mana ada yang seperti itu, kalau pahit ya rasanya pahit saja, tinggal seberapa tahannya kamu dengan rasa pahit itu. Apakah kamu seorang yang pecinta kopi yang membuat kamu tidak masalah dengan rasa pahit karena menurutmu lebih pahit kehidupanmu dari pada rasa kopi itu, mungkin saja begitu. Tanyakan saja pada Andrean pecinta kopi tapi kopi manis bukan kopi pahit. “Kenapa begitu? Memangnya bisa? Atau jangan-jangan permen kopi yang dicairkan dengan air liur di dalam mulut lalu barulah menelannya jadi seperti meminum kopi juga, iyakan? Sudahlah jangan mengerjaiku atau memberikan informasi yang sudah aku tau,” sela Andrean, dia seperti mengetahui apa yang dipikirkan Aliana dan dia merasa bangga sudah dapat menebak jalan pikir Aliana. Menurutnya dia sudah benar, maka biarkan begitu, dan biarkan Andrean bahagia dengan jalan pikirannya yang artinya dia bahagia dengan caranya sendiri. Aliana merotasi matanya dan helaan nafas putus asa menurut Andrean membuat Andrean bahagia mendengarnya. “Sok tau sekali sih, kalau aku kasih permen bukan minum namanya tapi mamam.” Aliana mengambil satu toples kaca berisi serbuk berwarna coklak hitam dari lemari di atas meja masak dapur tepat di depan wajahnya. Andrean diam saja melihat apa yang Aliana lakukan dan memperhatikan gerak gerik Aliana. Aliana mengambil sendok dan menyiapkan satu teko air di dekatnya. “And, aku boring kita main yok.” Kalimat singkat yang Aliana ucapkan dengan senyuman polos penuh harap pada Andrean. Perasaan Andrean tidak enak jika sudah begini, jarang-jarang dia melihat tatapan penuh harap Aliana ditunjukkan pada orang lain terlebih ini dirinya. “Bukankah ini aneh?” gumam Andrean, senyuman yang Andrean tunjukkan adalah senyuman masam penuh kecurigaan. “Yasudahlah, bodo amat. Ayok!” ungkap pasrah Andrean tapi dengan semangat penuh keyakinan pada dirinya bahwa dia akan terkena sesuatu setelah ini. “Eh tunggu, tapi main apa?” tanya Andrean. Bodoh baru bertanya setelah dia menyetujui ajakan Aliana. Anak laki-laki berusia 21 tahun itu harap-harap cemas memperhatikan senyum Aliana yang tadinya manis malah berubah menjadi senyum lebar yang mengerikan dan disertai dengan kekehan kecil yang lebih mirip cekikikan. Kan Andrean jadi meremang parno. Dalam sekejap raut wajah Aliana yang tadi senyum mengerikan berubah menjadi wajah bingung tapi berpikirnya. “Mmm main lempar lembing susah gimana kalau bermain di dart board? Kebetulan itu ada.” Telunjuk Aliana mengarah pada salah satu sudut dinding dapur yang menunjukkan sebuah papan berbentuk lingkaran dengan garis berwarna di dalamnya. Di sebelahnya terdapat panah lempar berukuran kecil berwarna merah. Andrean baru menyadari keberadaan benda itu di situ, di ruangan dapur lebih tepatnya. Andrean tidak menyukai olah raga lempar melempar ataupun permainan lempar melempar karena yang dia lakoni adalah perkelahian atau sebutan yang lebih elitnya tinju dan karate, dan untuk gulat dia kalah bodi, jadi dia hanya punya teori dan sedikit kemampuan tapi tidak dengan keahlian. Hari ini Andrean merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah mau mencoba keahlian lain dalam bela diri, setidaknya dia harus ahli dalam panahan dan menembak. Padahal itu akan berguna untuk berburu ataupun memang harus menggunakan senjata itu. Walau untuk menembak dia ahli karena dia pun belajar menembak, tapi tetap saja menembak dengan melempar ataupun memanah itu berbeda dan butuh keahlian yang berbeda pula. Besicnya sama menggunakan alat dan membidik musuh dari jarak jauh, tapi cara kerja dua alat dari dua olahraga tersebut berbeda. “And?! Andrean! Kamu melamun?” panggilan Aliana mengejutkan Andrean, dan Aliana menatap Andrean dengan tatapan bertanya. “Huh? tidak?” respon Andrean malah bernada tanya, dia meragukan jawabannya sendiri sepertinya. “Kamu tidak bisa panahan ya?” tebak Aliana sambil menatap curiga Andrean, tapi senyuman Aliana mulai terbit, itu yang Andrean benci. Senyuman mencurigakan. Hati Andrean langsung gaduh sebabnya Aliana menebak tepat pada sasarannya. “Ouh! Tidak! Tentu saja tidak! Ayo, anak kecil duluan,” pinta Andrean mempersilahkan Aliana yang duluan memulai permainan. Andrean sudah berdiri mendahului Aliana untuk menghampiri sport yang tepat untuk memulai permainan. Aliana berdecih sambil memperhatikan gerak gerik Andrean dengan seksama. Lalu Aliana mengikuti langkah Andrean yang sudah berada di posisi tepat satu langkah di depan papan sasaran lemparan. “Kita harus melempar bersamaan untuk memulai permainan menentukan point siapa yang mendekati,” jelas Aliana, membuat Andrean menegang tapi juga tertantang. Andrean melangkah mendekati Aliana, berdiri dengan posisi sejajah beriringan. Mereka berdua masing-masing memegang anak panah satu dan dalam hitungan ketiga dalam jarak yang sudah ditentukan. Mereka berdua melempar secara bersamaan, tujuan mereka melakukan itu adalah untuk menentukan siapa yang akan melempar anak panah duluan untuk mencapai skor nol tersebut. “Jangan nangis jika kalah,” sindir Aliana sebelum mereka memulai lemparan pertama mereka, hanya dengan suara kecil dia juga terkekeh melihat Andrean yang sepertinya sudah siap untuk mengalahkannya dalam permainan. “Oh iya Kakak mau mencoba di tusuk benda kecil ini? Darts ini aku tidak tau akan mendarat dimana nantinya, entah darts ini akan mendarat cantik di dart board dengan benar atau malah menyasar ke tempat yang lain,” tanya Aliana sambil mengacungkan panah kecil yang dia pegang. Andrean malah tertawa setelah mendengar peringatan dari Aliana tadi. Dia menganggap Aliana hanya berbicara bualan menggertaknya agar dia gentar dan merasa takut. “Tidak ada yang harus kutakutkan, kita melempar bersama, aku juga tidak tau dimana akan mendarat anak panah ini,” ucap Andrean dengan mantap membalas Aliana, dia teguh mempetahankan posisi tempat dia berdiri saat itu tepat di samping dart board. Menurut Aliana itu cukup berbahaya dan bernyali. (a) ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN